
Perjanjian itu pun disepakati oleh Raja Nashif dan Pangeran Sayyid, sehingga para muslim menjadi damai kembali dan terbangunlah desa Tasu’a ini di bawah kepemimpinan pangeran Sayyid yang aku pimpin sekarang,” ucap wanita muda yang mengaku sebagai ibunda Daichi itu.
“Itu artinya pangeran Sayyid benar-benar mengorbankan haknya sebagai pemimpin ya Nyonya?” tanya Akira.
Dia tersenyum. “Panggil saja aku Ummi.”
“A’ahh baiklah Ummi,” jawab Akira.
“Perjanjian Tasu’a di buat oleh Sayyid untuk melindungi orang-orang muslim dari ketidakadilan raja Nashif, peraturan kepemimpinan yang sangat merugikan membuatnya terpaksa mengorbankan kepemimpinannya untuk membuat kesepakatan terjalin, itulah keinginan yang di idam-idamkan oleh Nashif dan keluarganya agar Sayyid bisa berhenti ikut campur masalah kerajaan.”
“Kalau begitu keturunan dari Sayyid pun tidak bisa menjadi raja selanjutnya kerna perjanjian tersebut, apa benar begitu Nyo … eh Ummi?” tanya Chio.
“Seperti itulah yang terjadi, selama beberapa genarasi ini yang selalu memimpin adalah keturunan Nashif,” jawabnya.
“Ya ampun … sangat disayangkan hal itu bisa terjadi, siapa sih yang membuat peraturan itu, dan … jadi itu masih berlaku sampai sekarang?” sahut Harley.
“Peraturan itu sudah lama dibuat, tepatnya itu terjadi kerna sebuah kerusuhan yang membuat anak pertama raja terbunuh oleh adiknya sendiri. Dahulu dua pengeran memperebutkan gelar seorang raja hingga terjadi perang antara keduanya, itulah yang membuat sang kakak terbunuh,” ucapnya bercerita.
“Lalu bagaimana peraturan itu terbentuk?” tanya Chio.
“Hatinya tergerak dan menyesali kejadian itu, dia pun mengatahui kalau sang kakak memiliki anak yang sudah remaja, dia pun menyerahkan kerajaan itu kepada anak kakaknya, dan membuat peraturan tersebut, nyatanya peraturan itu masih berlaku saat kepemimpinan Nashif,” jawab ummi.
“Cih … peraturan itu hanya penuh kekurangan.”
“Tidak, bukan peraturannya, raja dahulu itu membuat peraturan ini agar tidak lagi terjadi perebutan kekuasaan, namun sayangnya mereka yang mewarisi itulah yang gagal memahami, dan menganggapnya sebagai hak penuh atas apa yang mereka miliki,” sahut Akira.
“Apa yang Akira katakan benar, contohnya apa yang dilakukan Pangeran Sayyid sebagai pelengkap dari kepemimpinan raja Nashif, hal seperti itulah yang di maksud dengan peraturan tersebut,” balas Ummi.
“Ummi bilang ummi adalah ibunda dari pangeran Daichi, lalu kenapa Daichi menjadi raja di negeri Sabbat dan bisa tinggal di istana, sedangkan dia adalah keturunan Pangeran Sayyid?” tanya Chio
__ADS_1
”Mengenai Daichi, dia sama sekali tidak tahu tentang itu semua, sejak kecil dia dibawa oleh Akiyama untuk tinggal di istana bersama ayahnya yang dulu juga memimpin di negeri Sabbat. Aku juga tidak tahu kenapa dia dan ayahnya bisa mendapatkan hak untuk memimpin negeri Sabbat.”
Akira nampak sangat penasaran soal Daichi dan ibunya. “Lalu …”
“Lalu bagaimana dengan perjanjian itu sekarang?” Potong Chio tiba-tiba.
Ummi menggeleng. “Desa Tasu’a sebagai bagian dari negeri telah dilupakan, desa ini bahkan tak lagi diperhatikan, semua orang berhak memilih sudah jadi angan-angan, para muslim pun kembali tertindas, meskipun beberapa dari mareka berasal dari luar, tetap saja hukum itu mengikat mereka ketika mereka tinggal di negeri ini, perbudakan pun sudah jadi hal biasa, perjanjian damai hanyalah mimpi belaka,” ucap Ummi.
“Cih … Ummi tinggalkan katakan saja pada kami, apa perjanjian lama itu juga bisa digunakan sebagai senjata untuk merubah negeri sekarang?” sahut Shiro.
Chio seketika tercengang. “Ha ha ha … astaga ternyata seperti itu,” ucapnya tertawa sendiri.
Akira dan lainnya menatap heran. “Maksudmu?” tanya Harley.
“Jika perjanjian Tasu’a tidak lagi mereka berlakukan dimasa ini, maka hak kepemimpinan keturunan pangeran Sayyid akan kembali, lebih tepatnya pangeran Daichi seharusnya mendapat gilirannya untuk menjadi raja di masa sekarang,” ucap Chio bersemangat.
“Tapi, jika kita berhasil membuat mereka terpojok dengan fakta ini, mereka bisa saja lebih memilih memberlakukan kembali pernjanjian itu, dengan demikian apa pun yang mereka pilih, perbudakan dan penindasan ini akan tetap di hentikan,” sambungnya membuat Akira dan lain pun mengerti, sedangkan Ummi dia tersenyum bangga.
“Kami tidak punya cukup waktu untuk melakukan itu, selama ini kami juga berada dalam masalah, kami harus membuat desa ini tetap aman dan sejahtera meski tidak ada bantuan dari kerajaan,” jawab Samih.
“Begitu ya.”
“Maaf Ummi, apa Daichi tahu kalau Ummi ada di sini?” tanya Akira.
Wajahnya berubah sedih. “Sebenarnya … bukan hanya masalah yang disebutkan Samih saja, malaikan untuk tetap menyembunyikan keberadaan desa ini agar tidak diketahui, dan itu berhubungan langsung antara perpisahanku dengan Daichi,” jawabnya membuat mereka semua terkejut.
“Apa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?” balas Akira.
“Saat itu Daichi masih sangat kecil, kami tinggal berdua di desa ini, semua orang masih berpegang teguh dengan perjanjian Tasu’a, sampai suatu hari Akiyama datang membawa kabar bahwa raja akan menghancurkan desa ini, dia bilang satu-satunya cara untuk menyelamatkan kami semua dan desa itu adalah membawa Daichi ke istana, dia memberi dua pilihan, membiarkan desa ini hancur dan semua orang akan terbunuh, atau berpisah dengan Daichi dan desa ini akan dilupakan selamanya, namun semua orang tetap hidup,” ucapnya bercerita.
__ADS_1
“Jadi apa itu alasan Ummi sampai rela berpisah dengan Daichi?!” sahut Akira sedikit keras.
“Akira …” Chio menatapnya.
Akira tertunduk. “Maksudku apa tidak ada cara lain,” ucapnya pelan terlihat sangat sedih.
“Aku sama sekali tidak tahu apa alasan raja memerintahkan Akiyama untuk mengahncurkan desa ini, dan aku pun tidak mengerti kanapa harus Daichi yang menjadi kunci keselamatan kami, dia sama sekali tidak menjelaskan apa-apa! Namun yang pasti kami semua terdesak, para tentara kerajaan sudah siap dengan senjata mereka, tidak ada pilihan lain selain merelakan diriku berpisah dengan Daichi dan menyelamatkan semua penduduk di desa ini, aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya, kerna saat itu dia tertidur pulas tanpa tahu apa-apa,” jawabnya meneteskan air mata.
“Dan sekarang mungkin ... dia mengira ibunya sudah meninggal dunia,” sambungnya tertunduk sedih.
“Tidak mungkin!” balas Akira penuh yakin.
“Aku yakin Daichi juga berusaha mencari tahu keberadaanmu,dia pasti sangat merindukan Ummi! maka dari itu tolong serahkan ini kepada kami, kami akan mencari caranya, apa pun itu,” sambungnya membuat Ummi tersenyum haru.
“Semanjak dia tinggal di istana aku tidak pernah bisa bertemu, dan aku pun tidak bisa menemuinya lagi kerna harus terus menyembunyikan keberadaan kami, tapi mendengar kabarnya saja itu sudah cukup bagiku, dan sekarang apa lagi dengan kalian semua yang ada di sisinya.”
“Ummi tenang saja kami akan memberitahukan ini pada Daichi, bagaimana pun caranya kami juga akan mempertemukan kalian kembali,” balas Chio.
"Tarima kasih untuk kalian semua, aku sangat bersyukur atas itu."
“Cih … tugas kita malah bertambah lagi,” sahut Shiro.
"Shiro!" teriak Akira dan Chio.
“Yah itu sebagai balasan kerna kau mencuri buah jambuku,” jawab Ummi meledeknya.
“Ap-apa! Tapi … aku baru saja mau memintanya padamu.”
“Sudah terlambat …” balasnya lagi.
__ADS_1
“Ap .. Cih,” jawabnya memalingkan wajah dan ditertawakan mereka.
-Bersambung-