
“Seperti itulah kejadiannya, sampai sekarang aku selalu memikirkan nasib ayahku, meskipun begitu aku juga berusaha mengikhlaskannya,” ucap ayumi selesai bercerita.
“Maaf Ayumi, aku tidak tahu harus berkata apa soal ceritamu ini, tapi, emm ... mengikhlaskan dan melupakan ya ..." ucap Akira seperti mengingat sesuatu.
"Mengikhlaskan tidak bisa disamakan dengan melupakan begitu saja!" ucap Akira tiba-tiba.
"Hemm ..." Ayumi menatap heran.
"Maksudku, ketika kau berusaha untuk melupakan sesuatu hal artinya kau menganggap itu sesuatu yang tidak baik dan hanya akan membawa dampak buruk saja jika terus diingat, tapi berbeda jika kau mengikhlaskan, itu artinya kau telah merasa bahwa semua ini pasti memiliki hikmahnya sendiri, dibalik itu semua kau merasakan ketenangan yang berarti. Dan kau sudah pasti bisa untuk melihat kedepan dan bisa mengambil pelajaran dari masa lalu."
"Akan tetapi itu hanya pendapatku sih he he ... namun yang bisa kulihat darimu adalah, kau wanita yang kuat dan mulia,” jawab Akira seraya tersenyum menatapnya.
Ayumi tersentak mendengar ucapan Akira. “Ha ha ... kau ini memang mirip dengan Ken yang tak bisa memberikan nasihat kepada seseorang yang curhat padanya.”
“Ehh benarkah, Chio juga pernah bilang begitu, namun Ken sepertinya lebih baik dari padaku. Ahh … aku benar-benar pembicara yang buruk aha ha ….”
“Tapi aku yakin tidak hanya aku yang menyukaimu begitu, Chio pun pasti suka sikapmu itu,” jawab Ayumi.
“Hemm …” Akira heran.
“Kau itu pendengar yang baik Akira, Aku dan Chio menyukai sifatmu itu yang berbeda dari Ken, kau dan dia sama-sama memiliki kelebihan yang berbeda,” ucap Ayumi tersenyum menatapnya.
Akira terperangah mendengarnya. “Terima kasih Ayumi, eh tunggu dulu kau bilang tadi suka, hmm … di duniaku jika ada wanita yang bilang suka mungkin dia juga jatuh cinta aha ha ha ….”
“Bukan bukan bukan … maksudku ini berbeda,” ucap Ayumi seraya menggeleng.
“Aha ha ha … iya-iya aku cuma bercanda, mana berani aku dengan Shiro yang jadi calonmu itu.”
“tidak! Shiro itu sudah seperti kakak bagiku dan juga sebagai teman seperti kalian.”
“Ehh … bukannya dalam ceritamu tadi, kalian nampak mesra di daerah sebelah itu,” ucap Akira menyudutkannya, Wajah Ayumi memerah malu dan tak bisa menjawab apa-apa, sedangkan Akira terus mentertawakannya.
“Cih … dasar kau Akira!” ucap Shiro sedikit tersenyum sambil berbaring medengarkan mereka
Seperti biasa Shiro selalu bangun dari tidurnya ketika Ayumi yang mendapat giliran berjaga, meskipun itu diwaktu pagi, tetap saja Shiro merasa khawatir.
__ADS_1
“Wah … sepertinya burung yang kita panggang sudah matang,” ucap Akira membuat Shiro penasaran dan melihat kearah mereka.
“Kau mau coba Ayumi?” ucap Akira seraya memberikan daging burung itu.
Ayumi memakannya namun terasa tidak enak kerna tidak berasa apa-apa.
“Cih … dasar kalian berdua ini, jadi mau kalian makan berduaan saja ya, heh … serahkan setangahnya untukku maka aku akan berikan garam ini pada kalian,” ucap Shiro mengahampiri mereka dan membawa garam.
“Cih ... tidak bisa di maafkan, dia menguasai semua garam itu Ayumi, apa yang harus kita lakukan,” ucap Akira.
“Tidak perlu kita berikan, meskipun tidak berasa apa-apa masih mending dari pada kita memakan semua garam itu,” ucap Ayumi pada Shiro.
“Cih … dasar calon istriku memang sangat pintar.”
“Calon istri? kalian sedang membicarakan apa?” tanya Chio yang terbangun seraya mengucek mata.
Melihat Chio yang terbangun membuat mereka segera memakan dan menyembunyikan burung panggang itu, sedangkan mulut mereka penuh. Chio yang melihat mereka bertingkah aneh membuatnya segera beranjak mengahampiri.
“Ap-apa yang kalian makan!?” tanya Chio sangat penasaran kerna melihat kedua pipi mereka menggelembung.
“Akira jawab! Kalian sedang menyembunyikan apa?” ucap Chio lagi sedang Akira menggeleng dengan mulut penuh.
“Shi-Shiroo!” ucapnya kaget melihat mulut Shiro yang lebih penuh dari mereka.
...●●●●...
Suasana senja yang sejuk berangin adalah suasana yang begitu nyaman bagi Akira dan lainnya yang sedang memandang dari atas perbukitan sambil tersenyum melihat sebuah gerbang desa Sabbat. Gerbang itu terbuka lebar dan banyak para panduduk yang telah kembali pulang bekerja dari persawahan mereka, sengat jelas Akira dan lainnya melihat pemandangan padi, gandum, jagung dan berbagai sayuran dan buahan lainnya dari atas bukit itu.
Terlihat juga walau sedikit samar para warga yang kembali masuk kedalam gerbang tengah memberi sesuatu kepada dua orang penjaga gerbang, bahkan tidak hanya satu orang warga melainkan hampir semua warga yang kembali pulang memberi sesuatu kepada dua penjaga itu.
“Kalian melihatnya?” tanya Chio.
“Yah … cukup jelas, tidak salah lagi kita telah sampai di negeri Sabbat,” jawab Akira.
“Tidak disangka! Kita berhasil menuju negeri sabbat hanya dalam waktu lima hari, dan sekarang adalah hari Ahad memasuki malam senin,” ucap Ayumi.
__ADS_1
“Cih … dasar, ternyata kalian berhasil juga bertahan hidup,” sahut Shiro sedikit tersenyum.
“Apa kau bilang!” teriak Chio.
“Ahh … lebih baik kita segara menemui mereka, aku sudah sangat lelah ingin beristirahat dan tidur,” potong Shiro seraya menjalankan kudanya.
“Tunggu dulu Shiro, bagaimana jika mereka malah curiga dan menanyakan macam-macam pada kita.” Ayumi Khawatir.
“Tidak apa-apa! Kita akan mengatakan yang sejujurnya,” sahut Akira lebih dulu melajukan kudanya berlari.
“Ehh … tunggu aku Akira!” teriak Chio juga ikut menyusul.
“Cih … dasar, mentang-mentang sudah bisa berkuda, dia main pergi lebih dulu saja,” ucap Shiro sedikit tersenyum, “Ayumi, kau duluan,” pintanya dan Ayumi mengangguk.
Akira dan lainnya pun segera pergi ke arah gerbang tersebut untuk menemui dua penjaga. dari jauh terdengar langkah kuda banyak berlari dan itu di dengar oleh seorang penjaga gerbang berambut pirang.
“Wah … lihat-lihat ada banyak pengandara kuda yang datang kesini!” ucap laki-laki itu.
Seorang laki-laki disebelahnya mencoba menyipitkan matanya untuk melihat Akira dan yang lainnya. “Apa kita harus menyembut mereka dengan baik dan ramah Gozali!?” tanya seorang berambut pirang itu.
Gozali tersenyum. “Hemh … sesuai peraturan Hozy, kita akan menanyakan banyak hal pada mereka,” ucapnya seraya menghantakkan tombak ditangannya.
“Lagi … hmm … padahal aku ingin kenal dengan mereka dan bisa lebih dekat, dengan begitu kita bisa ikut mereka dan bisa berhenti jadi penjaga yang hanya terus berdiri seharian di sini. muehehe … rasanya pasti menyenangkan,” ucapnya seraya tertawa aneh sendiri.
Gojali manatapnya tajam dan membuat Hozy kaget “Peraturan adalah peraturan!” ucapnya tegas.
“Hemm … ya ampun … kau ini selalu saja taat peraturan, setidaknya bersenang-senanglah sedikit,” Hozy malah lesu bertumpu pada tongkat tombak yang dia miliki.
Saat Akira dan lainnya hampir sampai Gojali nampak tak peduli sedangkan Hozy dia justru kesulitan untuk berusaha tak peduli, kerna saat dia melihat jelas wajah Akira dan lainnya yang tersenyum hangat dan bersemangat semakin jelas mendakat membuat rasa penasaran dan senang menggebu-gebu dihatinya.
Chio yang ternyata lebih dulu sampai di depan mereka segera turun dan mengangkat tangan kanannya menyapa. “Assalamualikum!” teriak Chio bersemangat.
Akira dan Ayumi seketika kaget mendengarnya. “Chio!” teriak mereka serempak, sedangkan Shiro menggeleng dan menghela nafas.
Gojali dan Hozy justru lebih parah kedua mulut mereka menganga mendengar ucapan Chio. “Waalaikum salam,” jawab keduanya pelan sekaligus heran tak percaya apa yang barusan mereka dengar.
__ADS_1
Kini giliran Akira, Ayumi, Chio dan Shiro yang dibuat kaget sekaligus tak percaya. “Eehhh …” teriak mereka sedangkan Shiro tersenyum.
-Bersambung-