The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Mengungkap Rahasia Bagian 3


__ADS_3

Setelah penangkapan yang dilakukan Rafu dan beberapa pengawalnya, Akira dan lainnya dibawa kesuatu bangunan yang ada ditengah desa, bangunan ini terlatak di belakang dinding tempat biasa mereka melakukan upacara, bangunan ini membelakangi tengah desa tempat upacara itu. Tempat ini tidak lain adalah sebuah penjara yang mereka gunakan untuk orang yang berbuat jahat di desa.


Mereka semua pun dimasukkan pada satu kurungan khusus dan terbuka, agar selalu dapat diperhatikan oleh para penjaga. Saat itu rafu tidak ikut dan hanya pengawalnya saja yang mengantar mereka.


“Cih ... ini semua gara-gara kau Aira! Kalau saja kau tidak menyeret kami dalam masalah ini, kami pasti akan baik-baik saja,” ucap Shiro marah.


“Maafkan aku, aku tidak tau kalau kejadian seperti ini akan terjadi,” jawab Akira.


“Apa maksudmu bicara begitu Shiro, ini semua sudah jelas kesalahanmu, jika kau tidak mengucapkan namanya waktu itu semua ini tidak akan terjadi,” sahut Chio.


“Cih ... apa kau tidak dengar apa yang dikatakan utusan kedua itu menyebutkan soal penganiayaan yang dilakukannya, itu artinya kita jadi seperti ini karenanya,” jawab Shiro.


“Sudah kalian jangan saling menyalahkan, utusan tetua tadi juga menyebut kita pemberontak, tapi kita tidak tahu pemberontakan seperti apa,” sahut Ayumi.


“Sudah jelas soal agama kalian yang baru itu, dan ini kerna Aira yang mempengaruhi kalian semua,” ucap Shiro membuat Akira berubah marah dan berdiri mengahadapnya.


“Apa maksudmu bicara seperti itu, kau mau menghinaku,” jawab Akira menatap tajam.


“Cih ... iya memang kenapa, kau mau berkalahi denganku, ayo sinih maju kalau berani,” pancing Shiro.


Akira sangat kesal dan kemudian mendorong Shiro. “Cih ... cuma bisa mendorong ya ha ha ... sinih biar kupukul wajahmu!” teriaknya seraya melayangkan tinju, namun Chio dan Ayumi segera melerai.


“Apa-apaan kalian ini, kita sedang dalam masalah besar, tidak ada gunanya jika kita bertengkar,” ucap Chio terlihat kesal pada mereka.


“Chio benar! Kalian seharusnya malu dan berpikiran lebih baik,” sahut Ayumi.


“Mereka benar Shiro, maafkan aku telah berbuat kasar, aku akui semua ini kesalahanku, aku akan mencoba memikirkan cara agar kita bisa kabur dari sini,” ucap Akira merasa bersalah.


“Cih ... kita tidak akan bisa kabur dari sini! Dasar Aira bodoh!” ucap Shiro nada mengejek.

__ADS_1


Mendengar itu Akira malah maju dan ingin memukul Shiro, begitu juga sebaliknya dengan Shiro yang terlihat sangat kesal.


*Pok pok pok ...


Rafu datang bertepuk tangan melihat kelakuan mereka. “Ha ha ... astaga kupikir kalian teman dekat, ternyata hanya kerna masalah ini kalian semua sudah bertengkar,” ucapnya.


“Apa maksudmu menangkap kami semua dan dipenjara seperti ini?” tanya Chio.


“Loh bukannya kalian sudah tahu apa yang telah kalian lakukan, yang ini telah melakukan pemukulan terhadap empat orang dan kalian yang lain adalah pemberontak desa,” ucapnya seraya menunjuk mereka.


“Pemukulan, pemberontak, apa yang kau bicarakan kami tidak melakukan apa-apa! lagi pula tidak ada buktinya, kau cuma asal bicara,” ucap Ayumi.


“Benar aku tidak pernah melakukan pemukulan terhadap siapapun, ini jelas salah,” sahut Akira.


“Aha ha ha ... apa kau ini lupa dengan Guni yang kau hajar sampai bebak belur dan tiga orang lainnya saat kau mau pulang kerumah, mereka semua datang padaku dan melaporkannya.” jawab Rafu membuat Akira dan yang lainnya diam.


Shiro ingat bahwa Ken pernah menghajar Guni tapi itu bukanlah Akira, sedangkan Chio juga ingat perihal Guni dan juga saat dia menyelidiki kebanaran siapa Akira, yang mana waktu itu Akira telah menumbangkan tiga preman. Sedangkan Akira hanya tahu soal tiga preman waktu itu.


Rafu justru malah tersenyum. “Jadi benar ya kau ini bukanlah Ken,” ucapnya membuat mereka terperangah.


Chio segera mengalihkannya. “Astaga kau ini, apa kau lupa waktu itu kau hampir membunuh Guni hanya kerna dia mengejekmu,” ucapnya sambil merangkul Akira yang kemudian Akira kaget mendengar ucapannya.


Lagi-lagi Rafu malah tersenyum dan masuk kedalam penjara, lalu segera menangkap Ayumi sebagai sandra serta menodongkan pisau kehadapan mereka.


Sontak saja Akira, Chio, dan Shiro dibuat kaget dan tak bisa berbuat apa-apa.


“Ngomong-ngomong wanita ini menanyakan buktikan, nah ... kalian pikir aku tidak tahu semuanya! Aku sudah mendengar percakapan kalian dirumah Osama sedari awal, aku juga tahu bahwa orang ini bukanlah Ken melainkan Akira ha ha ... dasar kalian ini tidak ada gunanya lagi menyembunyikan cepat katakan yang sebenarnya atau kalian mau wanita ini bersimbah darah,” ucapnya membuat mereka semua ketakutan.


“Cih ... benar dia Akira seorang yang sama seperti Thalib sang musafir,” ucap Shiro membeberkannya.

__ADS_1


“Shiro!” teriak Akira, Ayumi, dan Chio.


“Cih ... tidak ada gunanya lagi kita sembunyikan dia juga sudah tahu itu, apa kalian mau melihat Ayumi terluka,” jawab Shiro terlihat kesal pada Akira dan Chio.


“Bagus ... cepat akui semuanya didepan kami agar itu jadi bukti yang kuat,” jawab Rafu.


“Cih ... masalah pemberontakan itu juga benar, Ayumi, Chio, dan Akira mereka bukan penyembah patung melainkan agama yang sama dengan Thalib. Hanya itu yang kutahu jadi lepaskan Ayumi,” ucap Shiro terus mengatakan semuanya sedangkan Akira dan Chio tidak bisa melawan.


Rafu pun melepaskan Ayumi. “Bagaimana kalian sudah mendengarnya?” tanyanya pada penjaga dan pengawal.


Mereka semua mengangguk. “Ha ha ... astaga mudah sekali mendepatkan buktinya,” ucap Rafu seraya pergi keluar dari penjara, “pengawal cepat siapkan tempat untuk persidangan petang nanti, dan untuk kalian siapkan semua pengakuan atas kejahatan kalian jika tidak ingin ada yang terluka,” sambungnya menatap tajam membuat Akira dan yang lain semakin kesal dan marah.


“Pfffftt ... ahha ha ha ...” Tiba-tiba mereka semua tertawa setelah perginya Rafu bersama pengawal lain.


“Ha ha ... astaga lucu sekali kau ini Shiro, peranmu sangat cocok sebagai tukang nyalahin orang,” ucap Chio seraya tertawa bersama mereka.


“Cih ... terserah kalian saja,” ucapnya sedikit kesal dan berpaling.


“Ha ha ... benar Shiro memang hebat,” sahut Ayumi membuat Shiro senyum-senyum.


“Apa lagi Akira, masa dia tadi mau tertawa saat berucap meminta maaf dan menyalahkan diri, melihat raut wajahnya menahan tawa benar-benar aneh,” sambung Ayumi.


“Ah iya yang itu ha ha ...” sahut Chio.


“Be-berisik,” ucapnya ikut berpaling seperti Shiro seraya senyum-senyum sendiri.


“Huh ... setelah ini kita harus melakukan apa,” ucap Ayumi seraya menyapu mata yang berair.


“Seperti yang kita rencanakan sebelumnya dirumah paman Osama, jika kita menghadapi persidangan maka kita akan membeberkan semuanya dihadapan penduduk desa ini, biarkan mereka semua tahu siapa Akira dan Juga tentang agama kita yang sama dengan Thalib sang musafir,” jawab Chio seraya tersenyum begitu juga Akira dan lainnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2