
Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken, namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.
"Cih ..." kata seorang laki-laki memukul tembok dan sedang memperhatikan mereka bertiga. "Tidak kusangka, bukan hanya Ayumi yang dia kenal bahkan Chio pun tak luput darinya, apa lagi yang dia tahu," sambungnya merasa heran.
Kemudian dia melihat tiga orang anak-anak yang tengah bermain, satu di antaranya adalah perampuan.
"Hey! bocah, kau bisa membantuku?"
Mereka menoleh. "Oh kak Shiro ada apa?" tanya salah satunya.
"Tolong kau panggil orang itu suruh dia ketampat ini dan jangan sebut namaku." jawab Shiro menunjuk Akira.
"Itu kan kakak Ken, kenapa tidak kakak sendiri aja yang manggil."
"Cih ... sudah gak usah banyak tanya lakukan saja," jawab Shiro tegas.
"Oke siap bos, upah?" Ketiga anak-anak itu serantak menjulurkan tangan.
"Eh apa? ya ampun ... kalian bertiga cuma kusuruh panggilkan dia ke sini itu saja."
"Elehh ... kakakkan orang kaya di desa, masa jadi orang pelet," balas anak perampuan seolah mengejek.
Shiro merogoh sakunya. "Baiklah ini bagi tiga." Dia melemparkan satu koin.
Salah satu anak tersebut menangkap. "Ehh mungkinkah ini ...." Dia membuka talapak tangan secara perlahan.
"Hhaahh ...!" ketiga anak itu serentak setelah melihat satu koin yang sangat usang.
"Apa-apaan ini kak?!" ucap salah satunya.
"Bukankah ini koin yang berdaki!" sahut bocah perampuan itu.
"Yahh ... sepertinya koin ini sudah lama bertapa di dalam sakunya," jawab salah satunya lagi dengan ingus yang menjulur.
"Ap-apa? kalian ...!" Shiro sangat geram, namun dia mencoba menahannya.
"Huhh ... baiklah nah ini," ucapnya kemudian memberi masing-masing tiga koin.
"Nah gini dong, baiklah akan kami laksanakan Kak!"
"Aku Zen yang hebat ...!" teriaknya dengan bergaya, di keningnya ada bekas luka yang menandakan dia adalah anak yang gak bisa diam.
"Aku haruka yang cantik!" Dia juga bergaya sangat imut dengan jari membentuk gunting mengerahkannya ke Shiro, terlihat dari senyumnya yang lebar, satu gigi setengah patah bagian kiri atas.
"Aku Naoto yang jenius he he ... he he ..." Dia juga bergaya seperti orang cerdas dengan menempelkan jari ke dagu, namun ingus yang keluar merusak gayanya.
"Kami bertiga akan segera melaksanakan dengan cepat!" ucap mereka serentak.
"Yah yah ... pergilah cepat," jawab Shiro tidak peduli sambil melambaikan tangan tanda mengusir.
Tiga anak itu langsung pergi berlari dan Shiro hanya tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Akira dan Chio saat itu mereka sudah selesai membantu Ayumi berbelanja, kemudian Ayumi juga ikut membantu Chio untuk memilah dan memilih barang-barang yang telah dibuang di pasar.
Nampak beberapa orang berlalu-lalang didekat mereka, suara pedagang masih terdengar ramai menjajakan jualan, ada yang tengah sibuk dan ada juga yang bersantai, aroma wangi dan bau tercampur dimana-mana, namun semuanya adalah hal yang biasa.
Saat itu Akira sedikit berada jauh dari Ayumi dan Chio. "Kak Ken," panggil Zen berbisik sedang bersembunyi dibalik meja penjual buah-buahan.
Akira mencari asal suara dan menemukan mereka bertiga."Oh kalian ada ap ..." jawabnya bersuara nyaring.
"Ssuutt ...! jengan keras-keras kak."
"Iya ada apa?" jawabnya ikut berbisik.
"Sini-sini," pinta Zen.
Akira melihat ke arah Chio dan Ayumi sedang sibuk dengan barang-barang itu, setelah merasa yakin mereka tidak akan melihatnya dia pun berjalan menuju anak-anak itu.
"Iya ada apa, dan kenapa kalian memanggilku berbisik seperti itu?" tanyanya merasa heran.
"Anu ada yang nyuruh kami buat manggil Kakak," jawab Haruka.
"Iya, orang itu ada di sana." Naoto menunjuk tempat Shiro berada.
Akira merasa penasaran dengan orang yang menyuruh ketiga anak itu untuk memanggilnya, tanpa pikir panjang dia pun mengikuti kemauan mereka.
"Baiklah kalian bertiga antarkan aku ketampatnya."
"Baik kak, ikuti kami," jawab Zen berlari lebih dulu.
"Itu kak orangnya." Zen menunjuknya.
"Kalian diam di sini biar aku yang menemuinya." Akira khawatir kalau terjadi sesuatu dengan anak-anak itu.
Akira berjalan perlahan memasuki gang yang terlihat gelap dan buntu, matanya tak lepas terus memandang orang itu yang sedang bersandar di dinding, dia tidak tahu bahwa itu Shiro.
Akira berusaha memperjelas penglihatan dan pendengarannya yang terganggu oleh gelap dan ramainya pasar, hingga akhirnya sedikit cahaya perlahan menembus kegelapan dan tepat menerangi wajah Shiro.
"Huhh ... ternyata kau Shiro aku kira siapa? bikin takut saja," ucapnya merasa lega, "ada ap ...."
"Cih dasar!" ucapnya pelan, namun terdengar.
"Apa maksudmu berucap seperti mau ngajak berkalahi lagi hah ... itu kah yang kau inginkan, makanya kau memanggilku ke sini!" teriak Akira.
"Cih ... tidak kusangka ternyata kau juga mengetahui tentangku, bahkan kau bertingkah berani seperti Ken yang kukenal padahal selalu kalah. Seberapa banyak lagi yang kau tahu, orang yang ngaku-ngaku Ken," jawab Shiro menyeringai.
"Loh apa maksudmu dengan ngaku-ngaku, aku tau kau kerna kita memang sudah saling kenal dari dulu dan kau sudah jadi musuh babuyutanku."
"Cih ... dari dulu kau bilang! kau baru di temukan Ayumi beberapa hari yang lalu, aku sudah melihat semuanya!" jawab Shiro nada tinggi.
"Apa maksudmu dengan ditemukan?" tanya Akira, "oh maksudmu yang itu, saat aku pingsan dan dibawa kerumah Ayumi, yah saat itu aku tidak tau apa pun yang telah terjadi dengan diriku."
"Khahh! berisik! sudahlah, kau tidak perlu berbohong dan bertingkah seperti Ken, aku tahu semuanya, kau bukanlah Ken yang kami kenal, kau hanya menirunya, Kau ini hanyalah gadungan!" jawab Shiro marah.
__ADS_1
"Woy woy! tenang kawan ada apa? apa kepalamu terbantur dan menjadikanmu lupa ingatan, biar aku lihat sini di mana yang terluka," ucap Akira terdengar mengejek berjalan mendakati Shiro.
"Cih ... berisikk!" Tiba-tiba Shiro marah berlari menyerang dan melompat tinggi dengan tendangan kaki kanan menerjang, Akira refleks menyamping menghindari sebuah terjangan tepat di wajahnya.
Shiro terlihat menyeringai ternyata tendangan itu hanya sebuah jebakan untuk Akira hingga Shiro berbalik berputar menendang lagi dengan kaki kanan yang mengarah ke kepala, lagi-lagi Akira harus menghindar dengan memutar tubuh kesamping.
"Ahh ... melesit ya, ternyata kau memang bukanlah Ken, jika itu Ken dia tidak akan bisa menghindar seperti yang kau lakukan, ternyata dugaanku benar."
"Eh apa? Shiro! sepertinya kau harus diperiksa dulu, kerna kamu benar-benar sudah gila!"
"Aha ha ha ...! kau tau saat mulutmu itu menyebut namaku, aku benar-benar jijik mendengarnya, jadi berhentilah menyebut namaku dan bertingkah seperti Ken!"
Akira hanya terdiam dan melamun mendengar Shiro berucap seperti itu. "Ada apa dengannya, aku pikir dia sedang bercanda agar bisa berkalahi lagi denganku, tapi sepertinya dia sangat serius," ucap batinnya.
"Oh baguslah, teruslah diam disana biarkan aku menendang wajahmu."
Lagi-lagi dia menendang, namun dengan kaki kiri, kemudian Akira tersentak menyadari dan menghindar lagi, tendangan itu mengenai dinding di belakangnya.
"Ternyata pandai sekali kau menghindar ya, bagaimana dengan ini!" teriak Shiro dengan kaki kiri menempel di dinding dan melompat berputar sambil menendang dengan kaki kanannya.
"Gawat!" Akira merabahkan tubuh ketanah untuk menghindari tendangan itu yang mengarah tepat ke dada, setelah tendangan itu melesit, Akira bangkit dengan memutar tubuh sambil menendang kaki kiri Shiro yang sudah berpijak di tanah, sehingga menganainya dan terjatuh.
Setelah melihat shiro terjatuh dia mundur menjaga jarak darinya. "Hentikan ini Shiro! tidak perlu kita lanjutkan, aku tidak mau berkelahi denganmu lagi," pintanya menyuruh berhenti.
"Aku tidak tahu kenapa Shiro berpikiran seperti itu, ini harus dihentikan, kalau tidak bisa habis aku, apa lagi dia sangat serius," gumam batinnya merasa khawatir.
Shiro bangkit berdiri, "Cih ... setelah membuatku seperti ini baru kau bilang berhenti, jangan bercanda!"
"Yahh karena kau terus menyerangku, kau aja yang tidak bisa menghindar." ucapnya malah menyalahkan, "aduh Ken ... seharusnya kau minta maaf bukannya begitu," sambungnya dalam hati.
Shiro terlihat bertambah marah. "Cih ... baiklah aku akan berhenti, tapi setalah pukulanku ini mengenai wajahmu yang pandai berpura-pura itu!" Dia berlari kearah Akira, hingga membuat Akira bersiap dengan kuda-kudanya.
Pukulan demi pukulan terus dilancarkan Shiro, namun Akira selalu bisa menghindar dan menangkis setiap serangan, kemudian Shiro lagi-lagi menyerang dengan tendangan, Akira berhasil menghindar, akan tetapi kakinya menginjak batu dan kehilangan keseimbangan, sehingga membuatnya hampir terjatuh.
Shiro sudah menduga akan hal itu, secara cepat dia sudah tepat berada di depan Akira, Shiro menunduk dengan posisi memukul mengincar bagian bawah rahangnya.
"Kena kau!" Shiro tersenyum menyeringai.
Akira terkejut dan mencoba menutupi wajah dengan mengangkat kedua pergalangan tangannya untuk bertahan, namun itu sia-sia kerna pukulan Shiro tepat berada dibawah dagunya.
"Gawat! tidak akan sempat!" ucap batin Akira
"Shiro! Ken! hentikan!" Tiba-tiba Ayumi berteriak bersama dengan Chio, namun
*Buagkhh ...!
"Arghh ...!"
*Braakkkk ...!
-Bersambung-
__ADS_1