
Pagi hari kedua belas Akira berada di desa ini, kini mereka telah mengadakan rapat bersama dirumah Ken yang Akira tempati menganai cerita legenda Thalib sang musafir yang terkenal di desa seribu patung. Saat itu Chio lebih dulu berdiri di depan sebuah papan tulis yang mereka buat seadanya.
“Sesuai janji kita bersama, hari ini adalah rapat pertama kali kita untuk membantu Akira menemukan bulan Ramadhan di dunia ini, dan juga sesuai kesepakatan kita bersama, kita harus merahasiakan siapa sebenarnya Akira dan tetap memanggilnya Ken saat di depan orang-orang." ucap Chio.
"Namun sebelum itu mari kita kasih tepuk tangan pada Shiro yang datang lebih dulu dari kita semua,” sambungnya seraya memulai bertepuk tangan diikuti Ayumi dan Akira.
“Cih ... aku cuma tidak sengaja!” jawab Shiro membantah.
“Kau luar biasa Shiro, aku bangga padamu, kau terlihat sangat bersemangat, buktinya kau sudah menyiapkan lebih dulu sebelum kami datang,” sahut Ayumi tersenyum menatapnya membuat Shiro terpesona.
“A’ahh ... terima kasih bro,” ucap Akira menengoknya kerna terlindung oleh Ayumi.
“Cih ... sudah kubilang tidak sengaja!” teriak Shiro lagi kerna Akira merusak suasana.
“Bukankah kau sudah di ajarkan cara menggunakan jam matahari Shiro?” tanya Chio.
“Cih ... mana mungkin aku mengerti soal itu, dari pada aku terlambat lebih baik aku pergi lebih pagi dari kalian, namun yang tak bisa aku terima adalah, kemana saja kau pergi Aira! seharusnya kau sudah lebih dulu menyiapkan semuanya!” jawab Shiro seraya berdiri dan menunjuk-nunjuk Akira.
“A’ahh ... maaf-maaf, aku nginap dirumah Chio bro,” balas Akira.
“Hahh ... dari pada kita begini, sebaiknya kita mulai saja rapat kita,” ucap Chio tak bersemangat kerna melihat mereka berdua yang seperti itu.
“Baiklah, Shiro kau kembali duduk yang benar!” pinta Chio tegas.
“Cih ...” Shiro segera duduk kembali.
Chio pun segera memulai. “Sesuai dengan apa yang kita tahu, satu bagian cerita Thalib sang musafir menyebutkan sesuatu yang sangat berhubungan dengan Islam yang Akira dan Ayumi anut, disitu menyebutkan tentang suatu ibadah yang dilakukan lima kali sehari dan semalam yang juga dilaksanakan oleh Akira. Untuk lebih lanjut kita beri kesempatan untuk Ayumi yang akan menceritakan kisahnya secara rinci,” ucap Chio seraya mempersilahkan Ayumi maju ke depan dan bergantian duduk.
“Bismillahirrahmanirrahim, saat itu Thalib telah sampai didesa Sabbat, desa yang makmur dan sejehtera dengan kehidupan warganya yang hebat dalam pandai besi. Saat itu tengah musim dingin dan Thalib sedang berjalan keliling desa, suasana yang sangat dingin membuat Thalib singgah didekat seorang pandai besi yang bertubuh kekar dan tegap, saat itu dia sedang membuat sebilah pedang. Thalib duduk disebuah kursi panjang disebalah kanan pandai besi itu, suara tong ... tong ... teng ... terdengar nyaring di telinga Thalib, namun itu tidak membuatnya beranjak pergi dari tempat itu kerana rasa nyaman hangat dari api yang membara di dekatnya. Seperti biasa Thalib mengeluarkan bukunya yang berharga dari tas kebanggaannya yang berwarna hijau tua.“ Ayumi bercerita.
“Ano ... Ayumi, menurutku kau bisa menyingkatnya agar tidak panjang,” potong Chio.
“Cih ... kau ini, apa kau tidak bisa diam dan dengarkan saja, menurutku itu sudah sangat bagus,” sahut Shiro.
“Yah lanjutkan seperti itu saja Ayumi, aku rasa dengan begitu kita bisa lebih mudah memahami ceritanya,” sahut Akira menatap Chio.
“Oh baiklah jika begitu, lanjutkan Ayumi,” pinta Chio.
Ayumi pun melanjutkan. “Emm ... Dia pun mengeluarkan pena kayunya dan menulis catatan harian, tiba-tiba sang pandai besi itu menghampirinya dan memberikan roti serta segelas minuman hangat.
__ADS_1
Thalib menerimanya dengan senang hati dan berkata. ‘Apa aku mengganggumu?’
‘Tidak aku senang jika ada orang yang melihatku bekerja,’ jawab pandai besi itu.
Thalib berkata: ‘Desa ini sangat indah dan orang-orangnya sangat baik dan dermawan.’
‘Yah itu sudah jadi kebiasaan kami, paraturan desa ini juga sudah mengaharuskan itu untuk selalu saling membantu. Oh ya, aku dengar kau orang luar desa yang diterima disinih?’ Pandai besi itu bertanya.
'Iyah, terima kasih kalian sudah menerimaku disini,’ kata Thalib.
‘Kamilah yang berterima kasih, kerna setiap ada orang luar desa yang datang kemari mereka selalu membawa hal baru untuk desa kami,’ kata pandai besi.
Saat itu mereka sangat asik berbicara dan bercanda tiba-tiba beberapa warga desa berjalan melalui mereka dengan membawa banyak makanan di sebuah nampan. Para warga desa itu singgah dan menyudurkan nampan itu kepada Thalib dan pandai besi.
‘Ambillah,’ kata pandai besi.
Thalib pun mengambil satu disetiap para warga yang memintanya untuk mengambil satu makanan di nampan itu, Thalib hanya mengambil kue-kue yang tersedia, dan dilihat heran oleh pandai besi, padahal disana terdapat berbagai macam daging hewan.
‘Kalian semua sangat rajin melaksanakan peribadatan yah,’ kata Thalib.
‘Didesa nanjauh dari sini ada yang melaksanakan ibadah mereka selama lima kali dalam sehari, ini tidak ada apa-apanya dengan mereka,’ jawab pandai besi menatap jauh kedepan.
Saat itu Shiro dan Chio bersikap biasa saja akan tetapi beda dengan Akira yang terperangah takjub.
“Kalau begitu selanjutnya Shiro yang akan memberi tahu kita menganai cerita selanjutnya tentang Thalib, berhubung Ayumi hanya ingat satu saja maka Shiro yang akan mencaritakan semuanya. He he ... ayo Shiro cepat, kau lagi yang berdiri,” pinta Chio kemudian Ayumi pun duduk, sedangkan Akira dia nampak masih terdiam seolah memikirkan sesuatu.
“Cih ... kenapa harus aku semuanya,” ucapnya pelan sambil maju kedepan.
“Emmm ... yang diceritakan Ayumi tadi adalah bagian kedua dari cerita itu, sebenarnya ada dua bagian lagi, dua bagian ini menceritakan tentang jalan yang dilalui Thalib dan juga tentang desa itu sendiri,” ucapnya malas.
“Yah akan tetapi aku sama sekali tidak ingat semuanya jadi untuk sekarang itu saja, selanjutnya kita serahkan ke Aira yang akan mencari tahu jalannya,” sambungnya dengan wajah datar dan kembali ingin duduk, akan tetapi, sebuah penghapus yang terbuat dari buntalan sisa kain yang dijahit melayang kewajah Shiro membuatnya terjungkal, saat itu Chio langsung melompat ketubuhnya dan mengunci leher Shiro.
Saat itu Ayumi juga ikut memukul tubuh Shiro dengan sebuah bilah panjang. “Kau ini niat membantu atau tidak, mana kemampuan mengingatmu yang kuat itu!” teriak Chio seraya mengosok rambut Shiro.
“Mana mungkin aku mengingat semuanya! lagi pula aku sudah tidak tertarik dengan cerita itu!” teriak Shiro sambil meronta, namun Ayumi malah menusuk-nusuk dengan bilah itu di bagian perut membuat Shiro berteriak tertawa keras.
“Sekarang aku tahu harus bagaimana!” ucap Akira penuh semangat.
Mereka semua menatapnya hening. ”A’ahh ... maksudku aku tau apa yang harus kita lakukan untuk selanjutnya,” ucap Akira menjelaskan.
__ADS_1
Seketika Chio berdiri. “Baiklah selanjutnya giliran Akira untuk memberikan pendapatnya,” ucapnya kemudian duduk kembali bersama Ayumi dan Shiro.
Akira pun maju kedepan walau dengan perasaan gugup. “A’ahh ... anoo ... sebenarnya yang ingin aku katakan adalah tantang cara kita untuk mencari bagian cerita selanjutnya emm ...” ucap Akira kesulitan berbicara.
“Astaga susahnya, benar kata orang hal seperti juga bisa membuat stres,” ucapnya dalam hati.
“Ayolah Akira ini hanya temanmu kau bisa!” sambung dalam hati lagi.
Dia menarik nafas panjang sedangkan mereka yang melihat merasa bingung kenapa Akira terdiam lama, namun beda dengan Ayumi dia justru melakukan gerakan memberi semangat pada Akira dan memberi kode dengan berbicara tanpa suara. “Kau bisa Akira!”
“Yah aku harus berubah!” ucapnya lagi dalam hati.
Akira mengambil kapur dan menggambar enam jalan utama desa di papan tulis, lalu dia juga menggambar hal-hal yang penting di desa itu, seperti enam gerbang di tempat upacara dan juga dinding yang mengelilingi desa itu, dan hal penting lainnya yang dia tandai dengan silang.
“Ini adalah peta yang kubuat berdasarkan hasil dari pengamatanku dan Chio saat mengelilingi desa ini. Masih banyak hal yang kurang, nanti kalian bisa menambahkan sendiri,” ucap Akira terlihat serius.
“Shiro dari mana kau mendengar cerita legenda itu?”
“Cih ... katanya dulu seluruh penduduk desa tau semua akan cerita itu, hanya saja sekarang jika kau menanyakannya maka mereka tidak akan ingat, kebanyakan yang masih ingat hanya orang tua desa ini,” jawab Shiro sedikit malas.
“Tepat! jika kita ingin tahu banyak mengenai legenda Thalib sang musafir itu, maka kemungkinan terbaik para orang tua desa ini pasti masih mengingatnya dengan baik. Cerita legenda itu diceritakan turun-temurun, biasanya para orang tua terdahulu menganggap itu adalah warisan desa,” balas Akira seraya menulis kata orang tua.
“Lalu bagaimana caranya kita mengetahui legenda itu, apa kau berniat untuk menanyakannya ke para orang tua desa ini satu persatu?”
“Kita tidak mungkin melakukan itu, kita akan menanyakannya sekaligus pada mereka,” sahut Chio.
“Cih ... yang benar saja, jadi sekarang kau mau kembali ketempat itu hanya untuk mengetahui cerita legenda yang kita lupakan sendiri?” sahut Shiro bertambah malas.
Akira dan Ayumi terlihat tidak bisa memahami pembicaraan mereka dan memilih untuk diam.
“Kenapa Shiro? Bukankan kalian saat upacara kemarin tidak datang?” tanya balik Chio.
Mendengar ucapan itu Ayumi pun tersentak sadar dan seketika lesu tak bersemangat. “Hahh ... kenapa kita harus kesana lagi?!”
“Cih ... apa boleh buat,” ucap Shiro kemudian berdiri, “tapi kali ini jika kita membagi dua kelompok maka aku akan memilih bersama Aira! dan kau Aira! Kau yang akan menjadi pelayan mereka semua!” ucapnya seketika menunjuk.
Menyedihkan bagi Akira dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, di pikirannya cuma ada kata sekaligus, tempat itu, kesana lagi, dan yang paling membingungkan. “Pelayan!” ucapnya dalam hati menetap Shiro penuh keheranan.
-Bersambung-
__ADS_1