
Setelah selesai melakukan rapat, siangnya Akira dan lainnya pergi menemui Kanzo. Dalam perjalanan mereka, seperti biasa para penduduk selalu membagi-bagikan makanan ringan, baik itu kue maupun minuman, hanya saja kali ini di jalanan tampak sepi, kerna beberapa dari mereka sudah kembali kepekerjaan masing-masing.
Disaat Akira asik berbincang dengan Chio yang berada di belakang Ayumi dan Shiro, seorang wanita tua berjalan menghampiri mereka dan menyodorkan nampan dari anyaman bambu. Di nampan itu terlihat banyak kue berbentuk gegatas berlumur gula putih yang legit.
Akira pun menoleh ke arah wanita tua itu dan melihat wanita itu terus menggerakkan bibirnya seperti berucap sesuatu. “Terima kasih Nek,” ucap Akira sedikit heran seraya mengambil perlahan.
Wanita tua itu pun hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum dan tak sengaja suaranya bernyaring. “ ... Muhammadur Rasulullah ...” ucapnya hendak berjalan pergi.
Akira seketika tersentak dan menyadari bahwa orang itu adalah orang yang pernah juga menyodorkan kue gegatas kepadanya. “Tunggu Nek!”
“Hemm ... apa kau mau lagi?”
“A’ahh ... tidak aku hanya ingin bertanya apa yang sedang di baca Nenek?” tanya Akira seraya tersenyum.
Nenek itu heran. “Baca ... oh maksudmu yang sedang aku ucapkan dari tadi?”
“A’ahh ... aku merasa yakin mengetahui itu.” Chio, Ayumi dan Shiro ikut berhenti ketika mendengar Akira sedang berbincang dengan seseorang.
“Itu adalah kalimat yang di ajarkan tetua, dia bilang peninggalan Thalib di negeri ini,” jawabnya.
Chio berjalan menghampiri. “Maksud Nenek bacaan yang tertulis di peta Thalib,” sahut Chio.
Wanita itu menggeleng. “Peta ... aku tidak tahu soal itu, tetua cuma bilang itu adalah cara Thalib untuk mengingat tuhannya.”
Akira tersenyum. “Apa Nenek tahu arti dan maksud kalimat itu?”
Melihat Akira yang tersenyum, wanita itu merasa melihat seseorang yang tahu semua tentang itu. “Kalian ini siapa?”
Chio ikut tersenyum. “Kami hanya orang biasa Nek, sama seperti Nenek yang beragama seperti Thalib kami juga adalah seorang muslim.”
Ayumi ikut menghampiri. “Yang Nenek dari tadi baca pasti seperti ini ‘Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah, Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Alaa Aalihi Sayyidina Muhammad’ betulkan Nek.” Wanita itu sedikit tak percaya kerna yang di ucapkan Ayumi terdengar lebih jelas dan bagus.
“Itu adalah kalimat Syahadat dan juga Shalawat kepada Nabi kita Muhammad,” Akira langsung memeluknya membuat wanita itu terkejut, “nenek sangat luar biasa, dalam keadaan seperti ini, mulut nenek tak pernah berhenti membaca kalimat itu, tidak seperti kami yang masih muda yang justru sangat pelupa, terima kasih Nek sudah mengajarkan kami hal yang berharga.”
Mendengar Akira berucap seperti itu dia pun ikut memeluknya, Chio dan Ayumi hanya bisa tersenyum haru, sedangkan Shiro dia malah memakan kue milik wanita itu di sebelahnya.
__ADS_1
“Kalian mau kemana?” tanya wanita itu setelah melepas pelukannya.
“Kami ingin menemui tetua,” jawab Ayumi.
“Kebetulan sekali aku boleh minta sampaikan sesuatu padanya?” balasnya dan Ayumi mengangguk.
“Sudah lumayan lama putriku pergi ke negeri tetangga, namun sampai sekarang tidak ada kabar darinya, tidak hanya anakku beberapa warga yang pergi ke sana juga belum ada yang kembali, aku sudah menanyakan hal ini pada tetua, namun sepertinya dia melupakannya. Jadi ... apa kalian bisa memberi tahukannya lagi,” ucap wanita itu memberi tahu dengan perasaan khawatir.
Mendengar itu Akira dan lainnya seketika heran dan penasaran apa yang sedang terjadi. “Baiklah Nek, kami akan segera menanyakannya pada tetua,” jawab Chio.
Wanita itu mengangguk dan segera bepaling pergi. “Cih ... sudah kuduga si Kimichi itu tidak beres,” ucap Shiro sambil terus makan kue yang terkumpul.
“Bukan Kimichi tapi Daichi,” bantah Ayumi.
“Siapa pun namanya menurutku dia itu orang yang mencurigakan, cih ... sebaiknya kita segera pergi menemui Kanzo,” jawab Shiro terlihat kesal.
“Hah ... kau ini setidaknya panggil dia Paman Kanzo,” balas Chio dan mereka pun segera pergi.
Saat sampai di depan rumah Kanzo, ternyata ada Akiyama yang hendak berpamitan di depan pintu, terlhat juga dua pengawal sedang berada di depan anak tangga teras rumah tetua itu. Akiyama pun segera turun setelah melihat Akira dan lainnya datang.
“Kami semua baik-baik saja, bagaimana dengan Paman?” jawab Chio.
“Seperti yang kalian lihat aku sedang segar bugar ha ha ...” balasnya membuat mereka ikut tertawa.
“Oh ya, pengawal serahkan kertas-kertas itu pada mereka!” perintah Akiyama, lalu pengawal itu pun menyerahkan masing-masing satu kertas.
“Jika kalian berniat untuk segera melanjutkan perjalanan ke negeri kami, kalian bisa datang ke istana membicarakannya, berhubung dalam waktu dekat ini kami akan memberangkat yang lain, tidak ada salahnya jika kalian segera memikirkannya,” sambungnya dan mereka tersenyum seraya mengangguk.
"Terima kasih" jawab Akira dan Chio pelan.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi nanti di istana.” Akiyama tersenyum hangat pada mereka lalu berjalan menuju gerbang pembatas.
Mereka semua pun melihat kekertas itu. "Kepada para penduduk yang ingin pergi ke negeri Matahari Ekhad, datanglah ke istana untuk mengisi persyaratan, kami menawarkan perjalanan yang aman,nyaman dan pasti selamat sampai tujuan, tertanda Daichi," ucap Chio membacanya.
Shiro menatap tajam pada Akiyama. “Cih ... dia terlihat sangat mencurigakan,” ucapnya pelan.
__ADS_1
“Hah ... kau ini Shiro, apa dimatamu cuma ada kecurigaan,” jawab Chio merasa lelah.
“Ini seperti biro perjalanan saja,” ucap Akira sambil meneteng kertas itu.
“Maksudmu?” Ayumi heran.
“A’ahh ... sebuah usaha pelayanan untuk melakukan perjalanan, dari sini kita bisa lihat negeri mereka sudah sangat berkembang, dengan memanfaatkan hubungan antar negeri membuat mereka saling menguntungkan,” jawab Akira.
Kanzo datang menghampiri mereka. “Bagaimana, apa kalian semua tertarik?”
“Kami tidak begitu yakin, masih banyak hal yang harus kami ketahui lagi,” jawab Chio terlihat malas.
“Bicara soal ini, saat kami menuju kesini seorang nenek ingin minta sampaikan sesuatu pada Paman,” sambung Chio mulai serius.
“Katanya anaknya sudah lama tidak pulang setelah pergi ke negeri mereka, bahkan tidak ada kabar tentangnya, apa paman mengetahuinya?” sahut Ayumi.
Kanzo menarik nafas dan menghembusnya seolah merasa lelah. “Sebaiknya kita bicara di dalam saja.”
Mereka semua pun mengikutinya dan kemudian duduk bersama dikursi ruang tamu, terlihat juga di atas meja ada secangkir minuman bekas Akiyama.
“Sebenarnya aku sudah tahu masalah anaknya dan beberapa orang lainnya, tapi aku masih tidak begitu yakin kebenarannya.” Kanzo segera memulai berbicara.
“Memangnya mereka pergi kesana untuk apa?” tanya Ayumi.
“Kebanyakan dari mereka adalah seorang pedagang, maka dari itu kata Akiyama beberapa dari mereka tidak kembali kerna ingin menetap di sana, alasannya bermacam-macam, ada yang menikah dan juga masalah pekerjaan. kerna alasan ini aku belum berani menemui nenek yang kalian bicarakan, kutakutkan dia akan sedih ketika tahu anaknya tidak ingin pulang hanya kerna menikah disana.”
“Cih ... apa paman yakin hanya kerna itu?” sahut Shiro.
“Aku sendiri tidak begitu yakin, akan tetapi Akiyama sendiri yang bilang begitu, dia juga akan segera memulangkan mereka yang ingin kembali ke negeri ini,” balasnya sedikit khawatir.
“Maka dari itu kita tunggu saja bagaimana nantinya, apakah dia akan memenuhi janjinya atau tidak, aku juga sudah mengutus beberapa orang untuk melihat keadaan negeri itu,” sambungnya.
“Syukurlah kalau begitu, semoga baik-baik saja,” jawab Ayumi dan mereka semua mengangguk.
-Bersambung-
__ADS_1