
Kini pagi pun menjelang kembali, cahayanya yang hangat menembus lobang langit-langit rumah dan mengenai Rin yang masih tertidur, sedangkan Akira terlihat segar bugar kerna sudah lama bangun.
Rin duduk dan memandangi Akira yang asik melipat pakaiannya. “Di mana Harley?” tanya Rin ketika menyadari Zinan tidak ada di sana.
“Maaf jika gara-gara aku kau terbangun,” ucap Akira merasa tak enak dan Rin menggeleng.
“Harley sedang mencari makanan untuk kita, tidak lama lagi mungkin dia akan kembali,” sambungnya.
“Apa dia tidak apa-apa berkeliaran seperti itu?” Rin terlihat cemas.
“A’ahh ... aku sudah melarangnya, namun dia bilang tidak apa-apa, dia juga bilang kalau punya cara agar tidak dikenali,” jawab Akira memasukkan bajunya ke tas.
“Begitu ya,” jawabnya seraya mengucek mata.
“Cuci muka dulu sana, liat kamu ileran,” tunjuk Akira sambil tersenyum.
Seketika itu wajah Rin langsung memerah dan mengelapnya dengan alas shalat yang Akira selimutkan padanya.
“Ja ... a’ahh ....” Akira ingin melarangnya, namun tak sempat.
Rin memandang selimut itu dan lagi-lagi wajahnya memerah seketika menunduk. “Maaf! Aku tak sengaja, habisnya kau sih yang menyelimutkan ini padaku.”
“A’ahh ... aku yang salah, habisnya aku juga tak tahan melihatmu tidur tanpa selimut begitu,” jawab Akira tersenyum seraya menggaruk belakang kepalanya.
Rin langsung menutup wajahnya dengan selimut itu. “Di mana kau bisa mendapatkan air?!” teriak Rin namun tidak jelas kerna bertutup selimut.
“Hah ...”
“Aku bilang di mana kau mendapatkan air?!”
“A’ahh ... pergilah ke belakang, di sana ada sumur dan airnya cukup bersih.”
Rin langsung berlari keluar membawa selimut itu. “Apa aku salah bicara ya, huh ... aku masih jadi pembicara yang buruk,” ucap Akira tertunduk lesu.
“Akira! Kemarilah!” teriak Rin tiba-tiba membuat Akira segera berlari menyusulnya.
“Ada apa Rin?” tanya Akira pada Rin yang sedang terpaku melihat ke depan.
Akira pun mengalihkan pandangan dan melihat batapa luasnya negeri itu hingga terlihat banyak bangunan sejauh mata memandang, tidak hanya ke depan ke kiri dan kanan pun sama, bahkan di berbagai tempat masih terlihat jelas bahwa banyak bangunan yang hendak di bangun.
“Lihat di sana Akira, banyak para pekerja yang sedang membangun, dan mereka semua adalah para tahanan!” ucap Rin membuat Akira menyipitkan matanya untuk melihat.
“Maaf aku tidak begitu jelas melihatnya.”
Akira terlihat kesal hingga mengepalkan tangan terus memandang para pekerja yang ada di mana-mana.
__ADS_1
“Namun jika itu benar, maka artinya para tahanan itu di jadikan budak pekerja,” ucapnya memandang Rin, membuat Rin tak kuasa menahan tangis.
“Bagaimana nasib yang lainnya dan teman-temanmu.”
“Aku juga tidak tahu, dan bagaimana caranya kita bisa menemukan mereka,” jawab Akira menundukkan kepala dengan kedua tangan mengepal.
“Jangan terus melihat jika kalian berakhir dengan tak tahan melihatnya,” ucap Harley berada di belakang mereka.
Akira berpaling dan segera berjalan menghampiri. “Harley, kita harus segara mencari mereka, kalau kita tidak bergerak sekarang, mereka akan segera dijadikan budak pekerja!”
“Rin, kau juga, kita harus segara menyelamatkan keluargamu, maka dari itu, tolong segera kemasi barang-barang, kita akan segera berangkat,” ucap Akira tergesa-gesa.
“O’oh baiklah,” jawab Rin sedikit kaget.
Harley menatapnya. “Apa kau sudah memutuskan siapa yang lebih dulu diselamatkan?”
Akira heran. “Bukannya sudah jelas, kalau kita harus menyelamatkan mereka sekaligus.”
“Sekaligus ya, jadi bagaimana kau melakukannya?”
“Ya ... apa pun itu yang penting bisa menyelamatkan mereka,” jawab Akira dengan mudahnya.
“Harley, kita harus segera pergi sekarang juga!” sambungnya mendesak.
“Hah ... tenanglah dulu, kita tidak bisa asal berangkat saja tanpa pemikiran yang matang,” jawab Harley mencoba menenangkan.
“Kau pikir kau bisa menyelamatkan mereka dengan mudah, yang benar saja! Jika kami menurutimu yang seperti ini, bisa-bisa kita semua akan tertangkap lagi!” Harley memarahinya.
“Kau yang lebih tahu dengan teman-temanmu, seharusnya kau percaya bahwa mereka pasti juga tidak akan tinggal diam, mereka juga pasti berpikiran sama, yaitu menyelamatkanmu dan lainnya!” sambungnya meyakinkan.
“Harley benar Akira, kita tidak bisa melakukannya dengan hanya bermodal nekat, kalau kita semua tertangkap, bagaimana cara kita menyelamatkan mereka?” sahut Rin.
Akira terdiam kemudian berpaling kembali menghadap luasnya negeri itu. “Maaf, aku sangat panik ketika mengetahui kalau mereka akan jadi budak pekerja, kalian benar kita harus memikirkan semuanya matang-matang,” Jawab Akira seraya menyapu mata dengan pergelangan tangan.
Akira kembali berpaling menghadap mereka. “Baiklah! kita akan menyelamatkan Chio dan lainnya termasuk keluarga Rin!” ucap Akira kembali bersemangat.
Rin dan Harley tersenyum. “Hah ... seperti bukan dirimu saja, padahal kau orangnya lumayan tenang,” ucap Harley menghela nafas.
“A’ahh ... entah kenapa aku tidak bsa bertindak tenang jika ini menyangkut teman-temanku,” balas Akira.
“Hemhh ... aku sama sekali tidak mengerti dengan dirimu,” balas Harley menggeleng.
“Lebih baik aku makan dulu,” sambungnya berjalan pergi.
Rin dan Akira saling menatap kemudian mengangguk, lalu menyusul Harley menuju halaman depan.
__ADS_1
...●●●●...
Saat itu mereka duduk di bawah pohon makan roti bersama. “Tadi aku sudah menanyakan hal ini padamu, dan sekarang aku akan menanyakannya lagi,” ucap Harley menatap serius kepada Akira, sedangkan Rin menuangkan teh untuk mereka.
“Siapa yang harus kita selamatkan lebih dulu?”
Akira berhenti mengunyah dan memandang ke bawah. “Untuk Ayumi, aku sangat yakin dia baik-baik saja, dan sekarang mungkin dia berada di tempat Daichi."
"Dia adalah raja kota Shukufuku dari negeri Sabbat, kenapa aku bilang begitu karena saat kami pingsan, dia sangat mengkhawatirkan kami semua, meskipun Akiyama selaku menteri yang melakukannya, Daichi pasti tidak akan tinggal diam.”
“Dan jika harus memilih di antara kami siapa yang harus dia selamatkan, dia pasti memilih Ayumi,” sambungnya sangat yakin.
“Lalu bagaimana dengan Shiro dan Chio?” tanya Harley.
“Kalau Shiro sepertinya tidak perlu di cemaskan.”
“Hoo ... kau tidak menyukainya?” tanya Harley.
“Eh apa, tidak maksudku ... dia orang yang kuat pasti dia bisa bertahan dari itu semua, lagi pula tidak akan ada yang bisa melukainya,” balas Akira menyeringai membuat Rin dan Harley sedikit takut.
“Baiklah sudah kuputuskan, kita akan menyelamatkan Chio terlebih dulu!’ sambungnya.
“Apa kau yakin Akira?” tanya Rin.
“Chio itu orangnya sangat cerdas, dia pasti sedang memikirkan banyak rencana untuk bisa kabur atau mencari kami semua, jika kita berhasil bersamanya lagi, maka pencarian yang lainnya pun akan semakin mudah, termasuk mencari tahu keberadaan keluargamu Rin,” jawab Akira tersenyum.
“Baguslah, sekarang sudah diputuskan, kita akan mencari tahu lebih dulu di mana Chio berada!” sahut Harley di angguki Akira dan Rin penuh semangat.
“Oh ya Rin, siapa anggota keluargamu yang lebih dulu kita cari?” tanya Akira.
“Tidak perlu, aku yakin mereka baik-baik saja, dan aku juga sangat percaya dengan Chio, kalau dia akan dengan mudah menyelamatkan yang lainnya, maka dari itu kita fokuskan saja pencarian ini pada Chio,” jawab Rin.
Akira tersenyum memandangnya.
“Terima kasih Rin sudah mempercayakan ini pada kami.”
Lagi-lagi Rin di buat malu hingga kedua pipinya merah merona, seketika itu dia memalingkan wajah dan malah menghadap Harley.
“Rin terima kasih sudah mempercayakan itu padaku,” ucap Harley ikut-ikutan.
“Berisik!” teriak Rin marah pada Harley.
“Apa! Kenapa kau malah bersikap berbeda!” teriak Harley terus mengoceh tak terima sedangkan Rin terus menyuruhnya diam.
Melihat mereka begitu membuat Akira tertawa lalu memandang ke langit. “Chio, Shiro, Ayumi, sebentar lagi kita akan kembali bersama,” batinnya.
__ADS_1
-Bersambung-