The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Ken bagian 3


__ADS_3

“Tahan dia kawan-kawan, kita buat dia hari ini sadar dengan siapa dia berurusan,” ucap Guni menyeringai.


Ken ditahan oleh kedua teman Guni hingga sulit untuk melawan. “Apa kau tidak berani melawanku sendirian, heh ... dasar pengecut!” teriak Ken memancing emosinya.


“Untuk apa anak kakek yang malang, bukankah ini akan jauh lebih mudah untuk menghajarmu,” jawab Guni menyeringai dan Ken hanya bisa menatap marah.


Entah apa yang dia pikirkan tiba-tiba Ken malah tersenyum seolah menyadari sesuatu. “Guni-Guni kau memang orang yang lemah ya, aku kaget saat kau pukul tadi hingga membuatku terjatuh, aku pikir itu akan sakit, ternyata tidak berdampak sama sekali,” jawab Ken sambil menggelengkan kepala.


“Oh ya, kemarin kau telat bekerja dan beralasan ibumu sakitkan, sebaiknya kau segera pulang, nanti ibumu kesusahan mencarimu anak manja,” sambung Ken tersenyum memandang Guni.


“Diam kau bodoh!” teriak Guni seraya memukul membuat Ken tertunduk.


“Aha ha ha ... astaga kau yakin ingin menghajarku sendirian, kenapa tidak bersama dengan temanmu saja, kalau cuma kau, ini tidak berasa, yang kutakutkan, nanti tuh tangan kenapa-napa dan malah minta di urut sama ibumu anak manja.” Mendangar perkataan Ken membuat Guni bertambah marah hingga memukul Ken berkali-kali.


“Aku bilang diam sialan! Dasar anak si kakek pikun!”


Mendangar ucapan Guni yang menghina kakeknya menjadikan Ken sangat marah, itu terlihat dari wajah dan tatapan tajamnya kepada Guni.


Guni yang melihat akan hal itu membuatnya tersadar bahwa Ken akan marah jika seseorang menghina kakeknya.


“Ada apa Ken, apa ucapanku tentang kakekmu yang gila itu membuatmu marah?” tanya Guni tersenyum menyeringai.


“Tutup mulutmu, jika kau menghina Kakekku lagi kau tidak akan kumaafkan,” jawab Ken menatap tajam.


“Aha ha ha ... kalian ingat saat kita melihat Kakeknya yang pikun dan gila itu tersesat, aku ingin sekali membantunya pulang ke rumah, tapi ketika melihat wajahnya aku malah merasa kesal dan ingin mengerjainya.”


“Astaga apa kau lupa bukankah dia saat itu bertanya kepada kita, dan kau malah mendorongnya sampai terjatuh.”


“Iya nih Guni gimana sih parah parah parah!”


"Hey Ken kanapa kau tertunduk begitu, apa kau merasa menyesal kerna berurusan denganku, ingat ya jika kau ingin kakekmu baik-baik saja maka biarkan kami menghajarmu di sini he he he ..." ucap Guni berbisik ditelinga Ken.


"Yah kan jauh lebih baik, paling cuma beberapa hari kau terluka akan sembuh, tapi jika itu kakekmu aku tidak tau." Guni terus berbicara seolah mengancam akan melakukan sesuatu terhadap kakeknya.


Ken yang terus tertunduk seketika itu tiba-tiba melompat dan berpijak dikedua perut teman Guni yang menahannya, dengan pijakan itu dia dorong tubuhnya ke depan dan mengayunkan pukulan kepada Guni yang asik tertawa, kedua temannya pun terjatuh tak bisa menahan.


Pukulannya tepat mengarah ke wajah Guni dan secara bersamaan menghampaskan kepala dan tubuh Guni ke tanah. Guni yang tertelentang dan tak lagi bisa bergerak kerna Ken duduk di atas tubuhnya serta terus memukulnya bertubi-tubi tepat diwajah.


kedua teman Guni yang melihat kejadian itu terperangah ketika melihat Ken yang terus memukul membabi buta bahkan disaat guni yang sudah tergelitak tak sadarkan diri.


“Kurang ajar!” teriak salah satu temannya tersadar dan berlari menerjang membuat Ken tersungkur, kemudian salah satunya lagi ikut berlari mengahampiri dan ingin mengoroyoknya dengan memukul dan menandangi.


“Cukup sampai di situ!” teriak Chio serta melimpar jaring menangkap keduanya,  sedangkan di sisi lain Shiro tengah berlari dan menerjang keduanya hingga membuat mereka terjatuh bersama.


“Gawat itu Shiro, kita tidak akan bisa melawannya, kita harus kabur.”


“Bagaimana dengan Guni kita harus membawanya.”


“Terserah kau saja tapi aku tidak ikutan,” ucap temannya kemudian berlari bersama meninggalkan Guni.


Chio pun menghampiri Ken yang sedang duduk dan mengulurkan tangan. “Kau tidak apa-apa Ken?”

__ADS_1


“Cih ... apa yang kau lakukan Ken, apa kau ini berniat membunuhnya!” teriak Shiro berada di depan Guni yang tergelitak di tanah.


“Kalian berdua tidak akan pernah mengerti,” ucapnya pelan dan berlari pergi.


“Ken!” panggil Chio ingin menyusul, namun Shiro segera menahan.


“Biarkan dia pergi!” ucap Shiro menghadang.


“Aku tau apa yang telah terjadi dengan Ken, kerna aku juga pernah mengalami ini, saat itu aku tidak sengaja mengejeknya dan juga kakeknya, tapi untunglah aku kuat, jadi aku berhasil selamat,” sambungnya bercerita singkat.


“Apa maksudmu?” tanya Chio merasa heran tidak mengerti.


“Mereka telah membangunkan sisi lain Ken!” jawabnya menatap tajam.


Sebenarnya Ken adalah orang yang baik dan teladan, dia selalu perhatian terhadap kakek dan neneknya, dan juga dengan orang lain, dia tidak akan marah ketika orang lain tidak mengusik kehidupan kakek dan neneknya, namun jauh didalam dirinya ada amarah bagai sebuah bom yang memiliki sumbu, siap meledak untuk menghancurkan, dan kali ini sebuah kejadian yang dilakukan Guni telah memantik api disumbu tersebut.


Setelah kejadian itu Ken segera pulang ke rumahnya dan menemukan kekek sedang tertidur diranjang, akan tetapi, dia dibuat kaget ketika melihat seisi rumahnya berantakan.


Dia segera menuju sang kakek dan membangunkannya. “Kakek! Kakek!” panggil Ken membuatnya terbangun.


“Ini kenapa rumah kita bisa berantakan begini, Apa kakek mau mencari sesuatu!” sambungnya sedikit nyaring.


“Bukan itu gara-gara ayam masuk lagi ke rumah kita, kakek ingin mangusirnya, tapi ia malah terbang ke sana kemari.”


"Kan sudah kubilang untuk menutup jendela agar ayamnya tidak masuk rumah."


"Maafkan Kakek, Kakek lupa."


“Apa kamu sudah beli buah yang kakek minta?”


“Hiss ... aku lupa bawa uang jadi nanti saja, aku sedang lelah Kek, dan sekarang aku harus membereskan semua ini,” ucapnya nada tinggi.


“Nanti setelah itu tolong kamu belikan ya,” ucap kakeknya, namun Ken diam tak menjawab.


...●●●●...


Keesokan harinya Ken berangkat lebih pagi-pagi sekali dan bahkan tidak membangunkan kakeknya terlebih dulu, akan tetapi seperti biasa dia sudah menyiapkan semua keperluan kakeknya, tentunya untuk sarapan pagi.


Ken mengunci semua pintu rumahnya seperti biasa tetapi kali ini dia sedikit merasa ada yang kelupaan, namun entah apa yang dia pikirkan hingga segera mengunci pintu dan secepatnya pergi menuju rumah sang bibi.


“Bi ini seperti biasa masakin makanan untuk kakek,” pintanya menyodorkan sejumlah uang.


“Aku tidak tau lagi harus berbuat apa setelah ini, aku sudah dikeluarkan dari pekerjaanku yang biasa.”


“Kenapa bisa begitu, bukannya kamu sangat rajin.”


“Semua patung ditempatku berkerja pecah semua, akibatnya aku di pecat, tapi sekerang aku mau cari kerjaan lagi, jadi mohon do’anya ya Bi.”


“Baiklah itu sudah pasti, kalau hari ini kamu balum dapat kerja, nanti Bibi minta bantuan sama Osama, dia pasti tau pekerjaan apa yang pas buat kamu.”


“Iya Bi terimakasih banyak sekarang aku berangkat dulu.” balas Ken kemudian pergi.

__ADS_1


...●●●●...


"Huh ... astaga susah sekali mencari pekerjaan apa lagi dengan wajahku yang masih terluka, orang-orang takut kalau aku adalah orang yang suka berbuat masalah," ucap Ken terus berjalan menyusuri pasar.


disaat mulai putus asa, dia pun melihat sebuah papan pengumuman yang tertulis didepan kedai ramen, seketika itu dia segera mengahampiri dan membaca isi pengumuman itu.


"Dibutuhkan seorang pekerja laki-laki atau perempuan yang bertugas melayani para pengunjung, syarat dan ketantuan tidak berlaku," ucap Ken membaca tanpa pikir panjang dia segera memasuki kedai untuk bertanya.


"Maaf Paman apa saya bisa bekerja disini," ucapnya tanpa basa basi.


"Apa kau yakin mau bekerja disini?"


"Iya Paman tentu saja saya sangat mau!" jawab Ken bersemangat, mendengar perkataan Ken begitu, seketika dia memperhatikan setiap sudut pandang tubuh Ken.


"Baik! kau diterima!" ucapnya dengan lantang.


"Sungguh Paman, apa tidak apa-apa dengan wajahku yang seperti ini."


"Kenapa, ada masalah?"


"Tidak, maksudku beberapa orang malah menolakku kerna melihat wajahku yang terluka, mereka semua beranggapan bahwa aku pasti akan membuat masalah."


"Justru ini lah yang bagus, kerna kau pasti siapkan jika ada preman yang mau buat masalah di kedai ini."


"Ohh ... begitu ya, tentu tuan saya sangat siap untuk menghajar mereka, siapa pun yang berbuat masalah pada para pengunjung dan kedai ini akan aku habisi mereka tuan." Ken berteriak membuat para pengunjung memandangnya dan mereka semua malah bersorak gembira bersama kerna merasa dilindungi.


"Bagus! sekarang kau bisa bekerja langsung hari ini, tenang kita cuma buka sampai siang hari jadi besok kau baru bekerja mulai pagi."


"Baik tuan akan saya laksanakan," ucap Ken penuh semangat, namun ketika siang tiba dan kedai tutup.


"Akhh ... lelahnya, kalau setiap hari begini bisa-bisa aku terkapar kelalahan," ucapnya tersandar di depan kedai.


"Ha ha ha ... gimana apa kau yakin mau lanjut atau malah nyerah?" tanya sang majikan.


"Tentu saja tidak tuan, saya akan selalu siap setiap hari," jawab Ken berusaha untuk semangat.


"Bagus! ini upahmu hari ini," balasnya menyerahkan uang, "di sini kau digajih setiap hari, maka dari itu kau harus rajin bekerja."


Ken mengambilnya. "Terima kasih banyak tuan saya pasti akan terus bekerja di sini, kalau begitu saya izin untuk pergi," jawabnya dan mendapat anggukan dari majikannya, kemudian Ken pun berjalan pulang.


"Pas bangat buat dibelikan buah untuk Kakek, kemarin aku lupa dan tak punya uang, semoga Kakek suka, sekaligus memberi tahu kalau aku ganti pekerjaan."


Setelah membelikan semua uang itu untuk buah-buahan, Ken segera pulang ke rumah dengan harapan kakeknya merasa senang akan apa yang dia lakukan.


"Kakek! aku ada kabar gembira untuk Kakek!" teriaknya di depan pintu dan segera masuk.


Tetapi kakeknya malah tidak ada lagi diranjangnya, hal itu membuatnya sedikit kaget. "Loh Kakeknya ke mana? atau mungkin lagi di dapur kaya kemarin."


"Kakek aku bawa buah nih, banyak sekali, semuanya hanya untuk Ka ... kek ..." ucapnya yang bersemangat seketika berubah terperangah ketika melihat pintu belakang terbuka lebar.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2