The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Kepercayaan bagian 3


__ADS_3

“Bolehkah aku duduk bersamamu?” pinta Chio tiba-tiba berada disampingnya hingga membuatnya sedikit terkejut.


“A'ahh ...  yah ... tentu saja,” jawabnya sedikit canggung.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Chio kemudian duduk disebelahnya.


“A'ahh ano ... aku sedang mengajari mereka mancing ulat naga.”


“Mereka?”


“Maksudku Zen, haruka, dan Naoto,” jawab Akira seraya menunjuk mereka yang sedang asik berduduk bersama di tanah.


“Oh ...”


“Kau mau mencobanya?”


“Tidak-tidak aku sama sekali tidak tahu caranya.”


“Baiklah,” jawab Akira singkat, “ayolah Akira cari pembicaraan lain,” sambungnya dalam hati.


“Anoo ...” mereka serentak.


“Ehh ... kau saja,” ucap Akira lebih dulu.


“Tidak kau saja duluan.”


“Emm ... aku turut berduka cita tentang Ken yang sudah meninggal, dan aku juga meminta maaf tentang ingatanku yang berubah menjadi Ken hingga membuat kita semua salah paham.”


“Kebetulan sekali aku juga ingin membahas itu he he ...” Chio tersenyum lebar.


Akira juga ikut tersenyum. “Benarkah? kalau begitu hal seperti apa.”


Chio sedikit ragu. “Apa kau yakin mau mendengarnya, hanya saja ini tentang Ken yang tidak kau kenal.”


“Justru aku ingin tahu banyak tentangnya, apa lagi saat ingatanku berubah menjadi sosoknya, banyak hal yang masih tidak aku ketahui, aku merasa beruntung jika kau mau menceritakannya padaku,” jawab Akira meyakinkan.


Wajar dia juga penasaran tentang siapa Ken sebenarnya, apa lagi mereka mengatakan bahwa wajahnya sangat mirip hampir tidak ada bedanya.


Entah kenapa Chio mulai sedikit menerima kehadiran Akira yang seolah menggantikan kebaradaan Ken, walaupun begitu dia tidak bisa menyamakannya apa lagi membandingkan dengan Akira.


Chio pun menceritakan tentang kehidupan Ken yang tidak seberuntung orang lain, Akira pun sangat serius mendangarkan itu, dia bahkan sesekali bertanya kepada Chio menganai alasan-alasan kenapa Ken bisa hidup bersama kakek dan neneknya, dan kenapa Ken bisa berubah setelah sepeninggal sang kekek, Chio nampak sangat senang ketika Akira mau mendengarkannya hingga sesekali mereka tertawa bersama ketika menceritakan kekonyolan Ken.


Setelah selesai bercerita adahal yang mengusik hati Akira yaitu tentang kakek Ken. “Apa menurutmu kakek Ken benar-benar tersesat ke tebing, aku tidak tahu letaknya, namun Ayumi bilang itu cukup jauh dari rumah Ken.”


“Apa Ayumi sudah menceritakan semuanya?”


“Tidak, dia hanya bercerita sedikit, kau tau kan bagaimana perempuan saat dia bercerita, dia pasti akan banyak menceritakan tentang dirinya dan apa yang dia lihat aha ha ha ...” Akira tertawa sedikit keras.


“Aha ha ha ... yah kau benar sekali aku bahkan sering pusing di buatnya.” Saat itu Mereka terlihat semakin dekat.


“Mangenai yang kau tanyakan, aku sedikit ragu akan hal itu, akan tetapi yang kutahu sajak kecil Ken selalu di ajak kakek dan neneknya untuk pergi ketebing menghiburnya, jadi aku rasa ... kakek memang sengaja ke sana untuk menganang akan hal itu. Bagaimana menurutmu?” ucap Chio tiba-tiba meminta pendapat.


Mendengar itu Akira sedikit bingung untuk menjawab hingga membuatnya terdiam sejenak. “Aku rasa ... apa yang kau katakan ada benarnya, kerna saat seseorang sudah tua mereka akan lebih mengingat tentang kenangan masa mudanya, yah walaupun mereka adalah seorang yang pelupa, namun ingatan lama akan selalu terjaga.”


“Yah kupikir juga begitu.”

__ADS_1


“Jadi apa kau memberi tahunya akan hal itu, aku pikir itu pasti akan membuatnya sedikit mengerti bahwa itu adalah kehendak kakeknya sendiri, namun yang terjadi selanjutnya adalah murni kecelakaan.”


“Tidak, aku tidak pernah sempat mengatakan hal itu bahkan sampai dia sudah tidak ada, seandainya dia sekali saja mau mendengar mungkin aku akan bisa, akan tetapi dia bukan tipe orang yang suka mendengar dia selalu saja mementingkan dirinya dan emosinya, sehingga yang terjadi dia selalu mengalami masalah sendiri.”


“Yah aku sedikit paham mengenai Ken, akan tetapi, yang aku lihat darinya adalah ... dia orang yang sangat penyayang terhadap kakek dan neneknya! bahkan dengan kalian semua! itu terlihat dari sifatnya yang bertingkah kuat, dan itu pasti dia lakukan untuk melindungi kalian! aku benar-benar bangga sekaligus iri padanya.”


Perkataan Akira itu telah melunakkan hatinya dan mulai percaya bahwa Akira bukanlah orang yang berniat jahat terhadap mereka semua, dan itu sangat jelas dari sikap yang Akira tunjukkan pada mereka semua.


“ 'Aku Percaya' itu kalimat yang aneh ya?” ucap Chio tiba-tiba sedikit tertawa, sedang Akira dia nampak terkejut dan bingung apa maksudnya.


“Habisnya, kalau kau memang percaya pada seseorang tidak perlu mengucapkannya begitu. Sama saja 'aku percaya pada angin'," sambung Chio melihat ke depan.


“Emm ... maksudmu orang-orang bilang percaya kalau mereka sedang dilanda kebimbangan?" jawab Akira juga ikut menatap ke depan.


“Bukan berarti aku bilang kalau percaya berarti adalah sebuah kebohongan. Maksudku 'aku percaya' seperti kalimat harapan yang terlahir dari 'aku ingin percaya'.” Chio sedikit tersenyum menatapnya.


Mendengar pernyataan itu Akira pun mengerti bahwa Chio ingin mempercayainya sehingga dia pun tersenyum haru sambil menatap Chio. “Terima Kasih Chio.”


“Ehh tunggu dulu, rasanya aku pernah dengar kalimat ini, tapi dimana ya,” ucap Akira berusaha mengingat-ingat.


“Ehh apa? padahal aku sudah memikirkan ini cukup lama hahh ...” Chio tertunduk tak bersemangat.


“Ahh sekarang aku ingat, Saturo Fujinuma dari anime kota tanpa adanya diriku, ha ha ... kau telat,” ucap Akira mentertawakan, dan Chio masih tak bersemangat.


“Akira! Apa kah waktunya sudah sampai!” teriak Ayumi dari jauh berlari ke arah mereka.


“Ayumi?” ucap Chio terperangah menatap dari kaki sampai kepala Ayumi.


“Chio?” ucap ayumi sedikit Khawatir.


“Kau sudah berubah ya Ayumi bahkan saat ini kau kelihatan lebih cantik,” ucap Chio menatapnya bangga.


“Wah kau hibat juga ya dalam memuji wanita, lihatlah wajahnya sampai memerah,” sahut Akira mengejek mereka.


“Tidak-tidak bukan itu, hanya saja aku belum pernah melihat perempuan di desa menggunakan itu untuk menutup kepalanya,” balas Chio membantah.


“Chio, aku ingin meminta maaf lagi soal yang ke ....”


“Tidak apa-apa Ayumi, aku sudah melupakan itu, lagi pula tidak ada untungnya bagi kita jika terus-terusan seperti itu, sudah saatnya kita saling mempercayai,” potong Chio menatap mereka berdua.


“Iya Ayumi, benar apa yang dikatakan Chio, lagi pula aku dan dia sudah berteman,” sahut Akira


“Sejak kapan?” balas Chio menatap sinis.


Akira tersentak. “A'ahh ... baiklah kau benar, kalau begitu kenalkan, namaku Muhammad Akira!”  Akira secara sepontan mengajaknya bersalaman.


Seketika itu juga Chio menyambut tangannya dan bersalaman, “Chio, namaku Chio!” jawabnya tersenyum


“Nah sekarang kita berdua sudah berteman, ingat jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan padaku Chio.”


“Yah kau juga Akira!”


Melihat keduanya seperti itu membuat Ayumi merasa senang sekaligus terharu. “Oh iya, ada apa Ayumi kenapa kau ke sini?” tanya Akira.


“Ano ... aku hanya ingin tahu apakah waktu Shalat sudah tiba?” jawab Ayumi bertanya menjadikan Chio heran dan penasaran.

__ADS_1


“Sholat apa yang sedang mereka bicarakan,” ucap Chio dalam hati merasa penasaran.


“Bukankah aku sudah mengajarkannya padamu?” balas Akira.


“Aku sedikit lupa caranya bagaimana.”


“Iya juga sih, di dunia yang tak menganal apa itu jam, memang sulit sekali menentukan waktunya.”


“Jam?” seru Chio tambah kebingungan.


“A'ahh ... pas sekali, aku yakin kau pasti akan tertarik akan hal ini,” ucap Akira menetapnya bersemangat.


Akira kemudian berjalan ke depan dan mengambil sebilah ranting, setelah itu dia berjongkok dan manatap matahari yang sejajar dengan dirinya, merasa kurang pas dengan tubuhnya, kemudian dia beralih ke samping lalu menggambar sebuah lingkaran.


“Apa yang sedang kau gambar Akira?” tanya Chio.


“Tunggulah sebentar, tinggal menulis angka satu sampai duabelas,” jawab Akira membuatnya bertambah bingung.


“Yosh ... selesai!” seketika itu Akira menancapkan sebilah ranting itu ditengah-tengah angka layaknya jarum jam.


“Jadi Ayumi sekarang waktu menunjukkan jam berapa?” tanya Akira menatap Ayumi.


“Sekarang udah jam sebelas yah?!”


“A'ahh ... benar sekali!”


“Jadi apa waktunya sudah tiba?”


“Aku rasa belum, namun yang pasti jika bayangannya sama panjang dengan bilah ini maka waktu Shalat Dzuhur sudah tiba, jadi sebentar lagi Ayumi.”


“Tunggu sebentar, apa maksudmu angka-angka ini menunjukkan bilangan waktu tersebut, dan bayangan yang dihasilkan oleh bilah ranting ini menjadi penunjuknya?” sahut Chio sedikit mengerti.


“A'ahh ... benar sekali Chio, bilah yang kutancapkan ini akan membentuk bayangan, nah bayangan ini bisa kita sebut dengan jarum jam, yaitu sebuah penunjuk waktu itu sendiri, orang menyabutnya jam matahari.”


“Jam matahari?”


“Yah ini adalah sebuah cara sederhana untuk mengatahui waktu berdasarkan bayangan yang ditimbulkan oleh cahaya matahari, cara ini adalah yang paling umum dikenal memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar yang ditandai dengan jam-jam dalam suatu hari.”


“Ohh ....”


“Hanya saja pengatahuan yang kumiliki sangat terbatas soal ini, aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini sudah benar atau tidak, apa lagi jika waktu malam tiba ini sama sekali tidak bisa digunakan, tetapi, dengan ini aku bisa mengira-ngira kapan waktunya sholat, walaupun harus sedikit lewat dari waktu tepatnya,” ucap Akira nampak sedih, dan Ayumi pun ikut sedih.


“Aku rasa ini adalah hal yang luar biasa Akira, aku bahkan sama sekali belum pernah tahu akan hal ini, dan saat ini aku mulai bertambah yakin bahwa kau memanglah orang yang bukan dari dunia kami, maka dari itu tolong ajari aku semua yang kau tahu tentang duniamu!” balas Chio sangat bersemangat dan penasaran.


Wajar jika dia bersifat begitu. Chio adalah orang yang ingin tahu banyak hal, dia orang yang cerdas dan memiliki keterampilan yang luar biasa, sifat yang ingin tahu segalanya membuatnya menjadi seorang yang rakus akan ilmu pengetahuan.


“A'ahh ... tentu saja, aku benar-benar terkejut dengan kemampuan daya pahammu padahal aku belum menjelaskan secara rinci, tapi hebat kau bisa langsung paham.”


“Oh ya aku dari tadi dengar kalian bilang waktu sholat, maksudnya apa?” tanya Chio menatap mereka berdua.


Ayumi dan Akira saling menatap. “Ikutlah bersama kami sebentar, kau tidak lagi sibukkan?” jawab Akira beralih menatapnya.


“Ehh tapi untuk apa?”


“Sudahlah ikut saja, menjelaskan saja aku rasa tidak akan cukup, dan lagi pula waktu Dzuhur hampir tiba, jadi kau bisa melihat sendiri.”

__ADS_1


“Baiklah,” ucap Chio heran, kemudian Akira berjalan lebih dulu dan disusul mereka.


-Bersambung-


__ADS_2