
Sofia serta Killian terlihat membantu Lucy memilih beberapa rangakaian bunga yang pas untuk ia letakan di meja tamu terhormat. Beberapa kali Sofia terlihat bertengkar dengan Killian karena berbeda pendapat.
"Paman Kaisar sangat cocok dengan warna merah dan Emas, karena itu ciri khasnya."
"Hei bodoh, Yang menikah itu bukan Paman Kaisar saja tapi Uni Lucy juga. Singkirkan---warna putih dan lilac adalah paling cocok dengan pesona Uni"
"Tidak! Pernikahan Paman dan Bibi harus warna cerah seperti ini."
"Killian!"
"Kak Sofia!"
"Hei berhenti bertengkar, kalian sangat tidak membantu Uni Lucy memilihnya." Aletha datang membawa nampan berisikan teh herbal.
"Biarkan kak, aku juga ingin tahu pendapat mereka."
" Lucy jangan terlalu memaksa diri, kau sampai meminta pelayan membuatkan teh herbal untuk mu. Biarkan Sylvia dan utusan Kendric saja yang mengurusnya, pengantin cantik seperti mu harus duduk manis dan banyak beristirahat."
"Kakak jangan khawatir, ini hanya sebentar saja."
"Kau yakin? wajah mu sudah sangat lelah, apa kau tidak tidur lagi?"
"Aku perlu menghapal beberapa prosedur pelantikan Dewi ku dan pernikahanku kak."
"Ayolah, pelantikan Dewi bukan hal yang seserius itu. Kau tidak akan di suruh melakuakn hal yang berat."
"Aku tahu, tapi aku tidak mau membuat kesalahan, kesan ku haruslah baik di mata kaum Imorrtal." Lucy menyeruput Teh nya.
"Tapi kau terlalu memaksakan diri."
"Hem, sebenarnya belakangan ini aku memang mudah kelelahan dan beberapa kali kepalaku pusing setiap melihat laporan dan beberapa berkas yang harus di selesaikan."
"Lucy, hari besar mu empat hari lagi. Tolong jaga kesehatan mu."
Lucy tahu mereka akan khawatir, apalagi progres perencanaan acara telah memasuki 98% dari yang di harapkan. Ketika semua urusan sudah hampir selesai, sekarang yang membuatnya kepikiran adalah kondisi tubuh yang justru malah lebih rentan.
"Kakak tidak perlu khawatir aku bisa menjaga diri. Em, Akhir-akhir ini aku tidak melihat Ayah dan Ibu?" Lucy mencoba mengalihkan topik.
"Apa kau lupa lagi, Ayah dan Ibu sedang mengunjungi kediaman Crownsiamoer di Australia. Mereka kan memutuskan akan tinggal di bumi seminggu setelah pernikahan mu."
"Oh ya ampun, aku lupa lagi."
"Kau harus istirahat, nanti aku bantu memilih karangan bunganya. Apa perlu aku panggilkan Alchemist untuk mu?"
"Tidak perlu kak"
"Uni bagaimana jika makan dulu. Kemarin pelayan bilang kepadaku, beberapa hari ini Uni tidak makan dengan baik. Tadi pagi saja Uni hanya minum teh saja kan?"
"Baiklah, aku akan makan terlebih dahulu."
Sofia meminta pelayan menyajikan makanan. Sedangkan Lucy terlihat enggan menyentuh olahan daging di hadapan nya, ia memutar pisau makan dan garpu dengan perasaan ragu, kemudian meletakan nya lagi.
"Ada apa Uni?"
"Em, kurasa aku akan memakan nya nanti. Selera makan ku saat ini sedang kurang baik."
"Tidak Bibi harus makan." Ujar Killian.
"Aku janji akan segera memakannya."
"Kau, pastikan Bibi ku untuk memakan kudapan dan sup. Mungkin makanan ringan dan hangat jauh lebih baik, nanti tolong sajikan jika Bibi sudah di kediaman nya." Killian terlihat memerintah kepada kedua pelayan di belakang mereka.
"Baik Pangeran."
"Aduh, kenapa imut sekaki sih keponakan ku ini."
Lucy mencubit gemas pipi Killian. Ia tahu walau si pangeran sangat dingin dan jarang menunjukkan senyumnya, tapi ia selalu ramah terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarannya. Persis seperti Welliam----pikir Lucy.
"Pokoknya, Bibi harus menepati janji dan makan lah walau hanya sedikit. Jika paman tahu dia pasti akan menghukum pelayan yang melayani Bibi."
"Iya, Uni harus tetap sehat. Kami akan sedih jika Uni sampai sakit." Sambung Sofia.
"Baik Pangeran dan Tuan Putri ku." Lucy mengacak-acak rambut Killian gemas dan mengusap sayang wajah Sofia.
"Oiya, aku mendapat kabar dari Sylvia, katanya kau masih mengabaikan surat dari Baginda."
mendengar itu, seketika mood Lucy menjadi berubah dan semangatnya mendadak hilang. "Ah, Bisakah kakak membantu ku untuk mengelak nya."
"Ada apa? Kalian bertengkar?"
"Tidak. Kami tidak bertengkar, hanya saja..., rasanya aku sedikit kesal setiap melihat surat milik Kendric. Padahal isi suratnya tidak ada yang aneh. Aku juga kurang tahu dengan diriku----Tapi, entah mengapa aku jadi kurang bersemangat saja jika membahas Kendric, bahkan aku sampai meminta percobaan gaun di undur dan meminta Kendric untuk tidak perlu hadir."
"Kau baik-baik saja kan?"
"Seperti yang kakak lihat. Mungkin karena aroma Kendrick terlalu melekat di suratnya jadinya aku sangat sensitif dengan baunya."
Aletha mendelik bingung, begitu juga dengan Sofia dan Killian. Apa karena kaisar dewa itu sangat bau? Pikir mereka, padahal jika mereka bertemu tidak ada yang aneh dengan aroma Kendric. Malah terbilang sangat nyaman apalagi bagi Killian dan Sofia yang memiliki gen demon lebih daripada Lucy. Sehingga aroma apapun akan tercium lebih sensitif dari Uni nya.
"----Baiklah, anggap saja seperti itu. Sekarang istirahat lah. Aku akan mengirim surat untuk Baginda Kendric, menggantikan mu."
__ADS_1
"Terimakasih kak," Lucy bangkit dan kembali ke kediaman nya di istana Litch.
Dan seperti yang di jadwalkan, besoknya Lucy pergi ke Imorrtal lebih tepatnya istana kekaisaran Skylicht Kingdom. Pada salah satu ruangan di istana utama, Sylvia sudah datang membawa gaun pengantin Lucy untuk ia coba dari butik Amoirella.
Gaun berwarna putih salju dengan model press body dan pada bagian lutut gaun itu mekar lebar serta memanjang dengan indah. Di bagian atas hanya sebatas dada, dan untuk bagian pundak serta tangan akan di balut tile transparan berwarna putih dengan beberpa mutiara serta permata biru di payet membentuk bunga di sekitaran pundak hingga ke lengan.
Ardela seorang dewi Musim semi merupakan perancang busana ternama di Imorrtal----bahkan untuk bisa mengenakan hasil desain nya saja kau perlu membokingnya 15 bulan sebelum cara pernikahan tapi Kendric menghubunginya satu bulan sebelum cara mereka. Hasilnya dia harus membuat dengan mengejar datline yang di berikan apalagi gaun nya akan di kenakan oleh seorang calon Maharani.
"Bagaiman Yang Mulia, apakah ada yang perlu di perbaiki?"
Lucy memperhatikan dirinya di cermin dengan gaun pengantin yang sudah ia kenakan di bantu oleh Sylvia dan Ardela. karena saat ini Aletha tidak bisa ikut dengan nya, ia perlu memanggil Sylvia untungnya ia sedang senggang dan tidak ada jadwal apapun di akademi.
"Tolong kurangi di bagian permata dan hiasan di pundak ku. Kau bisa menambahkan beberapa mutiara dan hiasan bunga dari kain sutra di ujung roknya sampai ke lutut saja, untuk warnanya ku serahkan padamu saja."
"Baik, apakah ada lagi yang mau di perbaiki, Yang Mulia"
"Hem----sepertinya jahitan di bagian pinggang sampai ke punggung dikurangi saja. Rasanya jahitannya terlalu ketat dan menekan perutku sehingga terasa kurang nyaman."
"Jahitan pinggang?" Ardela melihat catatan ukuran gaun.
"Apa kau salah mengukurnya Ardela?" Ujar Sylvia.
"Tidak kok, ini sesuai dengan ukuran saat awal fetting satu bulan lalu."
"Sepertinya berat badanku naik."
"Hem, padahal Yang Mulia saja jarang makan selama dua minggu ini. Bagiku tidak ada yang berubah dari anda." Ujar Sylvia menganalisa.
"Jangan khawatir Yang Mulia, anda tetap cantik dan tubuh anda akan selalu ideal bagi kaum wanita. Saya akan coba memperbaiki ukurannya agar terasa nyaman untuk anda."
"Kalian terlalu berlebihan memuji ku. Tapi aku ucapkan terimakasih. Dan ku harap ini tidak terlalu membebani mu, Ardela."
"Jangan khawatir, kami di bantu oleh para Fairy sehingga pekerjaan kami sangat mudah dan akan siap sesuai acara besar anda. Ah! saya sangat senang bisa merancang gaun pengantin anda Yang Mulia."
"Aku juga sangat senang dengan hasil karyamu, kau sudah sangat bekerja keras."
"Sebuah kehormatan bagiku bisa melayani anda, Yang Mulia."
Setelah membenahi diri dan Ardela kembali undur diri. Lucy memilih duduk di kursi istana sembari memijat sedikit kepalanya. Sejak tadi pagi tubuhnya semakin parah saja, padahal sebelumnya untuk beraktivitas saja sudah cukup melelahkan apalagi ia sangat tertekan dengan semua hal yang punya aroma kuat sampai rasanya ia mual.
Sehingga Lucy lagi-lagi harus memakan salad buah dan teh hangat saja sebagai sarapannya, dan menyampingkan olahan daging kesukaan nya.
"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja? Apa mau saya panggilkan Alchemist istana?" Sylvia terlihat cemas melihat Lucy menjadi pucat.
"Sepertinya begitu, Baiklah Tolong Panggil-----"
"Yang mulia!" Sylvia memegang kedua lengan lucy saat ia hampir kehilangan keseimbanganya saat hendak bangun. "Tolong duduk kembali, saya akan memanggil Mery."
Mery meminta izin untuk memeriksa Lucy. Beberapa kali ia menyentuh perut Lucy dan sesekali memeriksa denyut nadinya saat di rasakan terdapat gejolakan manna yang tidak beraturan dari dalam diri Lucy.
"Yang Mulia, sepertinya untuk dua hari kedepannya biar saya yang mengurus sisa keperluan pernikahan dan pelantikan anda." Ujar Sylvia sembari menyiapkan teh untuk Mery dan Lucy.
"Lady Sylvia benar. Tolong kurangi aktivitas anda, tidurlah lebih awal dan jangan terlalu memikirkan hal yang bisa membuat anda cemas."
"Baiklah, Aku akan menyerahkan beberapa hal mengenai acara ku kepada mu, dan fokus menyelesaikan sisa berkas wilayah bulan, jika waktu tidur ku di perbanyak semua akan baik-baik saja. Benar begitu Mery?"
"Benar, tapi tetap saja, di awal kehamilan anda---apalagi pada usia kandungan yang masih terhitung 10 minggu ini sangatlah rentan jika melakukan aktivitas berat Yang Mulia."
Sylvia yang tadi sedang menuangkan teh hangat ke cangkir milik Lucy mendadak diam dengan teh yang sudah meluap. Sedangkan Lucy mencerna ucapan Mery yang terdengar masih sangat asing untuk nya.
"Sylvia, teh nya meluap." Ucap Lucy tanpa mengalihkan pandangan nya
"Ma--maaf, Yang Mulia."
"Mery, kau tidak salah memeriksa bukan?"
Mery---wanita paru baya itu meraih tangan sang rembulan dengan menunjukkan senyum terhangat nya kepada ibu muda tersebut.
"Saya mengucapkan selamat untuk kehamilan anda, Yang Mulia. Tolong jaga kesehatan anda dan calon bayi sampai hari besar tiba, kami bangsa Imorrtal telah lama menanti kehadiran anda sebagai Maharani dan juga Rembulan di dunia ini."
Lucy menatap tidak percaya dengan ucapan selamat dari Mery. ia menutup mulutnya membungkam perasaan euphoria kebahagiaan hingga rasanya ingin sekali ia menangis.
"Yang Mulia, saya turut bahagia dengan kabar ini." Sylvia tersenyum senang.
"Apakah perlu saya mengabari Baginda?"
"Tidak. Bisakah kalian tetap merahasiakan nya, baik kendric ataupun keluarga Lucifer Kingdom."
"Kami mengerti, kalau begitu saya mohon undur diri Yang Mulia."
"Terima kasih."
...----- ⋆ ˚。⋆୨୧˚ 🍁 ˚୨୧⋆。˚ ⋆ -----...
Di lain sisi, lebih tepatnya pada ruangan kebesaran Kaisar langit. Terjadi keanehan yang di rasakan tujuh Dewa merupakan seorang mentri serta Robert---melihat Kendric, sudah lebih dari dua jam hanya berjalan mondar-mandir, sesekali kembali duduk dan terkadang kembali berdiri hingga membuat para mentri spontan bangkit dari kursi mereka, seakan menunggu Intruksi.
Tapi Kendric masih diam----terkalut dalam masalah pribadinya. Beberapa kali terdengar ia mengetuk meja dengan gelisah. Berdecak kesal dan bergumam tidak jelas. Apa mungkin hasil laporan pada pembahasan rapat sebelumnya tidak begitu memuaskan?
"Apa memang dia sesibuk itu, hah?" Kendric menghempas dua surat yang datang dari Lucifer Kingdom sehari yang lalu.
__ADS_1
Benar, satu surat berasal dari Lucy yang tiba lebih dulu---memintanya untuk tidak datang saat ia mencoba gaun.
Dan satunya lagi dari Aletha yang datang terlambat pada malam hari, di surat itu Aletha memintanya untuk tidak mengirim surat secara terus menerus kepada Lucy karena itu membuatnya tidak nyaman. Memangnya kesalahan nya dimana? Apa salah jika dia ingin tahu kabar Mate nya?
Sejak terakhir kali mereka bertemu sikap dan tingkah laku Lucy memang sudah aneh seminggu ini. Lucy jarang membalas suratnya dan terkadang hanya di biarkan begitu saja tanpa berniat membukanya, Sylvia juga bilang Lucy selalu mengganti topik jika menanyakan, kapan balasan surat untuk dirinya bisa di kirim. Padahal sebelumnya ia berjanji akan membalasnya.
Beberapa kali mereka bertemu secara kebetulan ketika ia menemui Welliam, tapi setiap ia ingin mendekat, Lucy akan menutup mulutnya dan berlari menjuhinya seakan ia enggan untuk bertemu dengan nya.
"Di mana kesalahan ku?"
Ketujuh mentri dan Robert saling melirik dan mencoba mendekatkan diri kepada Kendric. Tadinya mereka berniat meninggalkan ruangan karena rapat urusan wilayah telah berakhir tapi sepertinya masalah Kaisar langit ini jauh lebih berat.
"Kaisar, apakah ada masalah?"
"Atau anda kurang puas dengan hasil rapat tadi?"
"Bukan. Ini bukan mengenai urusan internal kekaisaran."
"Kalau begitu ceritakan lah, siapa tahu kami bisa membantu."
Awalnya Kendric ragu tapi ia juga tidak bisa menemukan titik terangnya. Alhasil ia mengutarakan pikiran nya lagipula mereka itu senat penasehat Kaisar, jadi tidak masalah jika ia meminta masukan atau pendapat.
Kendric menarik kursinya dan duduk mendekat kearah mereka yang sangat antusias."Dengar, ini adalah masalah yang berat mengenai Mate ku."
"Maharani? Ada apa dengan beliau?"
"Aku tidak tahu. Tapi seminggu terakhir ini sikap nya sangat aneh, seakan ia menjauhiku. Aku tahu dia sibuk dan menyuruhku untuk tidak menemuinya tapi kenapa juga dia harus mengabaikan surat ku, bahkan hari ini saja dia memintaku untuk tidak ikut melihatnya mencoba gaun pengantin."
"Apa anda membuat kesalahan Yang Mulia?"
"Kurasa tidak."
"Bagaiaman dengan Lord besar Fedrick? Siapa tahu dia menghalangi surat anda."
"Sudah dua minggu ini dia di bumi dan akan kembali sehari sebelum acara pernikahan kami."
"Apa mungkin karena upeti maharnya kurang, Baginda? Saya bisa mengaturnya."
"Hei, kau lupa upeti itu sudah sangat menjanjikan bahkan di terima oleh Lord besar Fedrick. 3 tambang permata stone dengan sihir pemurnian terbaik, dan juga 850,000 Yuar Gold----itu setara dengan menghidupi 15 tahun sebuah kerajaan."
Mereka bersembilan yang ada di ruangan itu saling berpandangan, kemudian menghela nafas bersama----menyadari betapa rumitnya memahami wanita ketimbang menyelesaikan masalah internal negara.
"Oh aku ingat, Pangeran Killian bilang, Maharani saat ini memang sedang kesal dan tidak ingin menemui anda dulu." Ucap Robert.
"Kapan bocah itu bilang?"
"Kemarin sore, saat saya mengantarkan surat perjanjian perdagangan kepada Queen Althenia dan tidak sengaja mendengar pembicaraan nya dengan Tuan Putri Sofia."
Lucy tidak mau melihatnya?
Tiba-tiba saja salah satu dewa menepuk tangannya kemudian menatap penuh keyakinan kepada Kendric. "Kaisar, sepertinya ini adalah tahap itu!"
"Apa?"
"Biasanya wanita yang akan segera menikah memasuki tahap dimana perasaannya goyah dan menimbang kembali apakah ia harus menikah atau menundanya karena merasa belum yakin!"
"Ah, aku juga tahu itu. Anak ku 300 tahun yang lalu saat ingin menikah juga merasa sedih dan dilema, bahkan hampir membatalkannya saat acara di mulai."
"Kalau di pikir putrimu dan Putri ku sama-sama beda 500 tahun dengan Mate nya. Biasanya juga wanita yang lebih muda akan sering merasa ragu jika di ajak ketahap lebih serius. Ini juga mengingatkan ku dengan kondisiku dulu"
"Ada apa?"
"Karena dilema, kami dulu harus menunda pernikahan sampai 100 tahun---itupun setelah aku membujuknya dengan pelan-pelan."
"Hem, ini tahap yang sangat mengerikan."
Di saat ketujuh mentri saling berbagi pendapat keluh kesah ada seorang Kaisar yang jauh lebih tertekan dengan pengalaman mereka. Pikiran nya semakin bercabang dengan banyaknya penuturan kalimat Kenapa?! Apalagi Endric mulai berkeringat dingin saat menyadari kesamaan dengan mereka.
Pertama ia dengan Lucy berbeda sangat jauh jika maslah umur. kedua, Lucy juga baru saja terbangun dari tidur panjangnya, ia pasti kembali berpikir bahwa Kendric bukanlah pilihan tepat untuk nya. Ketiga, Lucy menghindarinya dan tak mau melihatnya. Bahkan yang terakhir, ia pernah membaca kiasan di sebuah buku bahwa----seseorang bisa saja berubah setelah mengalami kematian.
Apa mungkin Lucy sudah bosan dan berniat mencari Mate lain mengingat dia masih memiliki gelar Vasellica.
"Baginda anda baik-baik saja?"
"Baginda-------"
"ITU TIDAK MUNGKIN!!"
Kendric tiba tiba saja menggebrak meja, ia mencoba fokus dan mengabaikan semua opini itu dan memilih berjalan meninggalkan ruangan dengan banyaknya pikiran di benaknya.
"Apa menurutmu Maharani menyesal memilih Kaisar untuk menikah dengan nya?"
"Kurasa tidak mungkin. Kau lupa pasangan Mate tidak bisa berpisah, kecuali mereka memutuskan menunda kebersamaan."
"Tapi ada kemungkinan kan, kau lupa Maharani keturunan Bulan?"
Seketika mereka paham dilema apa yang melanda kaisar. padahal tiga bulan ini ia sangat bersemangat walau sesekali memang cerewet karena berkas di meja nya tidak pernah berhenti bertambah.
"Tunggu tinggal dua hari lagi kan pernikahan Kaisar akan berlangsung?" Ujar Robert. dan di tanggapi keringat dingin oleh para mentri----Hei tidak mungkin kan, jika Maharani akan meminta beropisah?
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...