
.
.
---
Ditengah Lucy bermain bersama para peri yang selalu menemaninya, Lucy sempat melihat kearah Kendric yang terlihat seperti berbicara dengan seseorang---tapi siapa?
Rupa wajahnya terlihat mengkabur, seakan ada penghalang sihir yang menghalang penglihatannya.
Sepertinya, kau semakin perduli dengannya, Robin?
"Tyrsha."
Hai Robin, aku datang untuk menemanimu. Apa aku boleh bermain denganmu?
"Tentu saja, aku akan sangat bahagia jika kau mau menjadi temanku."
Syukurlah ....
Lihat lah hutan ini, banyak roh suci beragam bentuk dan jenis ras nya. Lucy tidak begitu paham mengenai kaum mereka hanya sebagian saja yang dia ketahui itupun jika mereka memperkenalkan diri.
Yang paling Licy suka adalah roh jamur dari kaum Pooka, yang sedang duduk dibawah pohon Maple bersama rekannya sedang membaca buku sihir berukuran mungil. Benar-benar sangat lucu bahkan rasanya ingin sekali Lucy bawa mereka ke Castle nya.
Bahkan ada seekor naga kecil yang dapat memanipulasi dirinya dengan tumbuhan di sekitarnya, dan yang membuat Lucy gemas saat naga itu sedang menyerupai daun Maple yang baru saja terbang memutarinya, kemudian mendarat diatas jamur bermain bersama yang lain.
Oh, mereka sangat menggemaskan. Kira-kira jika mereka Lucy bawa pulang reaksi seperti apa yang akan Ayah dan Kakak nya tunjukan.
Lucy berani jamin, ibu dan Aletha langsung mengakui mereka sebagai rakyatnya. Tanpa sadar Lucy tertawa memikirkan wajah bodoh yang akan di tunjukan Kakak nya, jika Aletha memohon untuk mereka dianggap menjadi bagian Darkness World.
Habisnya Kakaknya tidak terlalu suka kaum kecil yang banyak bicara seperti Queen Olyfia.
Hingga Lucy tertarik dengan seekor kupu-kupu berwarna hitam ke'unguan. Seakan telah terpesona dengan bentuk nya yang menarik, Lucy berjalan mengikuti kupu-kupu itu.
Dan saat Kupu-kupu itu diam di atas batu yang ada di sungai---Lucy mencoba meraihnya berharap roh indah ini mau bermain bersamanya juga.
Namun ....
Keturunan Robin telah lahir.
"Eh?"
Saat suara menyeramkan itu melirih, tiba-tiba saja aura di sekeliling Lucy berubah menjadi sekumpulan kabut hitam dan beberapa sihir yang begitu menyesakkan batin Lucy.
Dan seketika Kupu-kupu barusan berubah menjadi seekor siluman anjing besar dengan beberapa pola sihir. Seakan manna Lucy terhisap kedalam pola sihirnya, Lucy tak mampu bergerak ataupun mengeluarkan sihirnya.
Sebenarnya mahluk apa ini? Dan saat itu Lucy sadar dengan yang dikatakan Kendric. Sekarang dia sudah berpisah dengannya, ia tidak tahu dimana ini mengingat ia hanya terfokus kepada kupu-kupu tadi jadi tidak mengenali lingkungannya.
lalu apakah Kendric akan datang?
Siluman itu membuka rahangnya selebar mungkin, membuat bola sihir berwarna ungu dan akan segera membidik Lucy yang tepat di hadapannya.
"Kyaaaa!!"
Robin!
Tyrsha datang tepat waktu dan dengan cepat melindungi Lucy dengan lingkaran api berwarna biru, sebagai kaum salamander hal itu bukan sesuatu yang aneh karena mereka pengguna sihir api.
Untungnya sihirnya mampu menahan serangan dari siluman itu, tapi sepertinya roh suci di hadapannya baru saja terkena kutukan.
Robin kau baik-baik saja?
"Terimakasih, biar aku selesaikan ini dengan sihi---akh!"
Lucy tiba-tiba saja merasa pusing dan kepalanya menjadi sakit saat dia ingin melepaskan diri menggunakan kekuatan manna nya.
Jangan gunakan kekuatan mu Robin. Sejak tadi Roh jahat ini menyerap banyak kekuatan manna mu, terlebih kau memiliki sihir spesial sehingga kekuatan mu bertolak belakang dengan sihir jahat ini.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebenar mahluk apa ini?"
Melihat dari api jiwa nya, hewan ini adalah kupu-kupu berjiwa kaum Leprechauns. Tapi sepertinya roh suci ini telah menjadi roh jahat akibat kutukan.
"Kutukan?"
Semacam sihir gelap yang di gunakan untuk mengendalikan pikiran roh suci. Tapi hanya ada dua kemungkinan, pertama roh suci ini telah kehilangan cahaya bintangnya atau karena----dia roh yang dijadikan bahan penelitian sihir oleh mereka?!
Lucy masih belum terlalu mengerti, tapi setidaknya yang dia tahu roh suci di hadapannya sedang tersiksa akibat sihir gelap itu. Lucy tahu betul saat dia bisa mendengar suara hewan kecil itu tengah memohon pertolongan kepadanya tapi tindakannya bertolak belakang.
"Apa ada cara lain untuk menolongnya?"
Sampai saat ini, roh suci yang telah terkutuk tidak pernah bisa kembali menjadi murni jika tidak----
"Tidak apa?"
Jika kita tidak membunuhnya ...
lucy tidak akan setega itu untuk membunuh mahluk kecil yang sejak tadi berusaha memohon pertolongan kepadanya, apa Tyrsha tidak bisa mendengarnya?
"Tyrsha, awas!"
Lucy menghempas tubuh Tyrsha yang mungil dengan tangannya sehingga Tyrsha terjatuh ke tanah, sedangkan Lucy harus terluka akibat cakaran siluman itu pada lengannya.
__ADS_1
Robin!
Hari ini Molie tidak ikut dengan Lucy karena ia pikir, jalan-jalan di sekitaran manusia tidak akan membahayakan dirinya. Apalagi Kendric ikut dengannya, ia tidak tahu bila hal ini akan terjadi.
Meski Lucy tahu, Molie akan merasakan bahwa Tuan nya tengah dalam bahaya. Tapi kedatangannya juga akan memakan waktu banyak, sekarang apa yang harus dia lakukan?
Robin !!
Tyrsha terkejut saat dari arah belakang kabut hitam langsung menyelimuti Lucy dan seketika Lucy jatuh kedalam sungai yang terasa dalam, padahal tadi kakinya masih berpijak pada dasar sungai yang hanya sebatas lututnya.
Sepertinya perbedaan kekuatan Tyrsha dengan siluman itu sangat jauh berbeda, sehingga hutan ini di penuhi dengan aura negatif nya.
Aku harus segera menemui Baginda, jika tidak Robin dalam bahaya!
Tyrsha terbang dengan sangat cepat untuk menemui Kendric, berharap Maharaja nya akan menyadari situasi genting ini juga.
...---. o 🍁 o .---...
Dingin!
Disini begitu dingin, hingga terasa ingin membekukan seluruh tubuh Lucy, lalu memecahbelahkan tubuhnya menjadi kepingan es. Lucy menggigil setengah mati menahan hawa gelap yang menyelimuti dirinya.
Saat dia membuka matanya semua menjadi gelap, beberapa bayangan hitam muncul mengelilingi Lucy. ini seperti mimpi buruk untuknya saat sekumpulan bayangan itu memutar memori kelam yang begitu menakutinya.
Aku benci dirimu!
"Tidak ...."
Menghilang lah, Lucy!
"Tidak, hentikan ...."
Kenapa kau tidak mati saja?! Apa kau pikir, aku mencintaimu?
"Hentikan, hentikan semua ini."
Lucy berlari tanpa arah, mencoba melepaskan diri dari penderitaan yang selalu menghantui setiap malamnya. Seakan dia adalah buronan dan seakan dia adalah Putri yang tertawan, semua terasa menyiksa bagi Lucy.
Apa ini mimpi? Apa ini sungguh ilusi yang di buat siluman tadi? Siapa saja, adakah seseorang yang mampu membawanya keluar dari kesengsaraan ini.
"Ahaha ..., kau pikir, kau bisa lari Lucy?"
Lucy berhenti dan berdiri menegang, saat sosok itu kembali muncul di hadapannya. Benar, sosok wanita yang begitu sama persis dengan Lucy atau bisa dikatakan bahwa dia adalah bayangan diri Lucy.
Entah ini bagian dari halusinasi siluman itu atau memang sosok itu sungguh nyata. Mata wanita itu yang berwarna merah sepekat darah, menatap tajam hingga membuat Lucy tak mampu berkutik.
Saat wanita itu melangkah maju, rasanya ada serantai yang melilit tubuh Lucy. Apalagi saat sosok Dark Lucy kian mendekatinya, tubuh Lucy semakin berat.
"Jika kau tidak bisa menyelesaikan masalah kecil ini, berarti kau sangat tidak berguna Lucy. Bukankah sudah kukatakan, untuk melupakan dirinya?"
Sosok itu menyentuh dagu Lucy yang mulai berkeringat dingin.
Seketika Lucy merasakan sakit pada lehernya seakan dirinya tengah tercekik di hadapan sabit kematian. Sebenarnya siapa wanita di hadapannya? Kenapa dia begitu mirip dengannya?
Lucy terduduk menahan sakit saat rantai itu memaksanya untuk bertekuk lutut. Perlahan seluruh tubuhnya mulai membeku, akh! ini begitu sangat menyakitkan.
Lucy menatap bayang itu yang masih berdiri menatap dirinya dengan tatapan dingin.
Perlahan kegelapan menelannya dalam batin kebencian serta ketidak berdayaan nya seorang Lucy, dalam memilih seseorang yang bisa ia andalkan dan ia kasihi. Tubuhnya tenggelam dalam lautan dalam, penuh keputusasaan tanpa ada sebuah cahaya yang menyinarinya.
"Lucy!"
Di tengah kehampaan dan kegundahan dalam kegelapan, suara panggilan lembut itu menghangatkan batinnya yang hampir membeku untuk seseorang.
Kehadiran sebuah cahaya yang mampu menembus barisan benteng kegelapan membuat Lucy sadar akan harapan yang sempat hilang, tapi ia terlalu dalam untuk jatuh, ia juga terlalu dalam untuk tenggelam sehingga dirinya masih terjebak untuk meraih secercah cahaya kehangatan itu
...Saat harapanmu tak lagi sama dengan keinginannya, kau boleh pergi. ...
...Menarik perlahan jemari mu yang berusaha menahannya untuk tetap di sisimu. ...
...Lalu menghilang lah dari kehidupannya seperti buih lautan yang membawa kekosongan pada jiwamu, kau tidak perlu menyalahkan takdir. ...
...Karena aku berjanji untuk mengabulkan semua harapanmu itu, mengisi kembali kekosongan di hatimu dengan harapan baru kepadamu .......
Tiap-tiap barisan kalimat itu, mengingatkan Lucy pada sesosok misterius yang selalu ada untuknya. Mungkinkah ....
Lucy mengangkat tangannya, mencoba meraih cahaya sehangat mentari yang mulai terasa dekat kepadanya. Akankah dia yang menjadi pangeran untuknya, membawanya keluar dari jurang kegelapan ini?
Disaat itu juga sebuah tangan berhasil meraih dan menggenggam erat tangan Lucy, menarik dirinya keluar dari mimpi buruk ini.
Bukan! ini bukan ilusi. Tapi Kendric benar-benar berhasil menarik keluar Lucy dari lingkaran sihir siluman itu, hal pertama yang Lucy lihat dari pria itu adalah mata merah nya yang begitu indah.
Seakan ia merasa lega, Lucy mulai tak sadarkan diri-----sembari mencengkram kuat Kendric yang mendekap nya.
"Jangan pergi ..., jangan tinggalkan aku sendiri----Kendric."
Suara lembut yang begitu terdengar menderita direlungan kesadarannya, membuat Kendric goyah serta mendekap erat sosok Lucy di pelukannya. Ia tatap wajah Lucy yang tak sadarkan diri, memberikan kehangatan sebisa yang ia mampu kepada seorang gadis yang hampir putus asa melihat masa depan.
"Lucy, sudah kubilang tetap di sisiku ...."
"Baginda, sepertinya mahluk ini sudah tidak bisa kita tolong. Sihir gelap yang mengendalikannya mulai tak terkendali, jika kita biarkan semua mahluk Alheim akan terkena kutukan juga."
Robert yang sedang menghadang Siluman itu mencoba cara menjinakkan kutukannya dan berusaha mungkin menahannya agar tidak melukai Maharaja nya.
"Menyingkir."
Robert yang merasakan kekuatan magis besar dari Tuan nya mulai memenuhi seluruh hutan, memilih menyingkir dan membiarkan siluman itu berlari mengarah Kendric. Sepertinya kematian dari siluman itu akan segera tiba.
__ADS_1
Dewa Hañnës, tidak kah sangat bahaya jika membiarkan Siluman itu menyerang Arlpha?
"Tyrsha, apa menurutmu Yang Mulia begitu lemah?"
Tyrsha diam, sangking khawatirnya dia sampai lupa siapa Kendric di muka Bumi serta seluruh tatanan alam ini.
Saat siluman anjing itu melompat bersiap menerkam mereka, mata Kendric langsung berkilat tajam serta menyalak. Sehingga siluman itu langsung terbakar menjadi abu beserta tulang belulangnya.
"Beraninya Octopus, menggunakan roh suci sebagai uji cobanya dalam menyerang Maharani ku!"
Kemdric murka saat telah ia dapatkan petunjuk siapa yang merubah roh suci ini menjadi mahluk rendah seperti Ayakashi.
"Robert! Segera temukan buku itu, aku mengizinkan kekuasaan mu sebagai Hañnës untuk mencari dalangnya! Dan juga katakan kepada Carina Lucy ada padaku."
"Keinginan mu adalah perintah mutlak bagiku , Baginda Arlpha Magharatcha Apollo."
Kendric membuka gerbang portal dimensi, sembari membawa Lucy dalam dekapannya.
Baginda, anda ingin membawa Robin kemana?
"Kenapa kau masih bertanya? Tempat terbaik untuk Lucy adalah bersamaku!" Kendric berjalan begitu saja memasuki portal dimensi yang tak lain adalah Dreamcather Apologiz.
Mungkinkah, Baginda sungguh membawa Robin ke-----
"Kenapa kau masih berisik?! Kediaman Baginda di Imorrtal adalah yang paling aman, lagipula tidak sembarang bangsawan bisa memasukinya termasuk para Tetua Agung. Sebaiknya kau bantu aku untuk menemui Carina, karena aku masih harus pergi ke suatu tempat."
Baiklah----Hm, apa kira-kira aku masih bisa bertemu dengan Robin?
...---.o° 🍁 °o.---...
"Kalau begitu cepatlah tumbuh dewasa, Tuan Putriku. Saat waktunya tiba, aku akan datang menjemputmu ...."
.
.
Dalam sayu terpaan sinar matahari yang masuk lewat gorden----Lucy mulai membuka perlahan kedua matanya, menerawang lemah lingkungan di sekitarnya.
Suasana kamar serta lingkungan yang asing membuat Lucy duduk terheran-heran dengan keadaan saat ini. Ruang kamar yang begitu luas serta hangat, membuat raga Lucy menolak untuk turun dari ranjang tidur.
Tapi rasa ingin tahu Lucy mendorongnya untuk mengingat kembi kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri.
Cuit ..., cuit ....
Nyanyian merdu dari seekor burung cemara yang masuk dan bersangga pada pintu jendela, sehingga menarikan gorden merah dalam tarian angin.
Lucy menyentuhkan kedua kakinya pada lantai marmer yang begitu dingin, dia berjalan pelan menuju jendela itu. Mencoba menebak ada dimana dirinya dari kondisi diluar kamar.
Apa dia ada di kediaman Wisteria? tapi tempat ini lebih besar dari kediaman Aletha di Bumi. Bahkan, bisa Lucy tebak bahwa dia berada di dalam sebuah Castle megah dan besar.
Kamar di Castle nya saja tak seluas ini? lalu ada dimana dia sekarang? Lucy membuka lebar pintu jendela itu, sehingga bisa Lucy lihat sekumpulan awan putih tengah bergerak lambat mengikuti putaran waktu.
Warna jingga yang melukis tiap awannya berasal dari matahari yang bercahaya terang di waktu senja. Tunggu, bukankah harusnya jika seseorang membuka jendela yang dilihatnya adalah pemandangan daratan?
Apa mungkin kamar ini berada di lantai paling atas? Lucy berjalan mendekati pagar pembatas balkon, ia memajukan sedikit tubuhnya ke depan melihat seperti apa dibawah sana.
Dan seketika Lucy menegakkan tubuhnya kembali, bukan lantai kamar ini yang berada di atas. Justru tempat ini yang melayang, oh seberapa besarkan kekuatan seseorang itu hingga mampu melayangkan sebuah Castle?
"Kau sudah bangun."
Lucy menoleh kebelakang, melihat seorang pria hanya mengenakan sebalut pakaian kerajaan berkain putih dengan mahkota daun emas di kepalanya tak lupa aksesoris tambahan dan kain merah yang terlilit di pinggang.
Pakaiannya yang cukup terbuka, menampilkan jenjang dada bidang berototnya yang begitu memabukkan untuk dilihat. Layaknya seorang Dionysus yang berasal dari negeri Yunani, Kendric terlihat sangat mempesona dimata Lucy.
Namun Lucy menjadi tersadar saat melihat warna mata Kendric yang terasa tak asing. Lucy berjalan mendekati Kendric yang bersandar pada kusen pintu.
Salah satu tangan Lucy mengarah ke wajah Kendric----seperti menutupi sebagian wajahnya dari hidung hingga mulut tanpa menyentuhnya.
Dan yang terbingkai hanyalah mata berwarna permata delima, saat itu juga Lucy ingat dengan semuanya. Seperti yang ia duga bahwa pria misterius yang ia temui di hari pernikahan kakaknya dan di peperangan waktu itu adalah Kendric.
Kendric meraih tangan Lucy yang tadi menutupinya, lalu membiarkan tangan itu menyentuh wajahnya dalam kelembutan yang telah lama ia rindukan.
"Apa sekarang kau sudah mengingatku?"
"Kendric, siapa kau sebenarnya?"
Kendric sempat diam sesaat, kemudian mendekatkan dirinya---mengikis jarak yang hanya bersekitar 10 centi dari wanita di hadapannya.
"Aku adalah pria yang ditakdirkan sebagai pasangan Mate mu ...."
Kendric menutup kedua mata Lucy dengan sebelah telapak tangan besarnya, kemudian menciumnya dalam kerinduan yang terbungkam untuk sekian lama.
"Jadi, izinkan aku untuk mencintaimu, Lucy."
Dari celah jemari Kendric, air mata Lucy turun melewatinya---membasahi pipi mulus Lucy. Kendric menyingkirkan tangannya seraya menghapus air mata itu.
Perasaan euphoria yang begitu melonjak dalam hati Lucy membuatnya menangis bahagia, ia juga tidak tahu kenapa dia sampai menangis hanya karena mendengar kalimat sederhana itu.
Apa mungkin Kendric adalah Pria yang seharusnya ia nanti kehadirannya, sebagai kekasih dan belahan jiwa abadinya?
Lalu bagaimana dengan semua yang ia lewati selama Harlie menjadi keterdugaan nya sebagai pasangan Mate nya?
" .... kau boleh menganggap ini sebuah omong kosong. Tapi ingatlah, saat kau telah menemukan pasangan yang ditakdirkan untukmu. Temui lah Ibumu, tanyakan hal yang membuatmu tidak mengerti, termasuk apa yang terjadi pada hidupmu, Lucy."
Mungkin, hari ini adalah maksud dari ucapan Kak Aletha di waktu itu. Bahwa sebenarnya Harlie mungkin saja memang benar, bukanlah Mate ku ....
Apa aku masih bisa merasakan dicintai dan di butuhkan? Jika aku sungguh bisa berharap, dapatkah Dewa mengabulkan harapanku kali ini?
__ADS_1
"Bukankah, aku pernah bilang. Bahwa aku yang akan mengabulkan semua harapan kecilmu itu, bintang fajar ku."
---,' o🍁o ,'---