
...--,'•🌷•',--...
...Aku ingin waktu disaat kau selalu bersamaku, tidak akan pernah berhenti....
...-,**•🌷•**,-...
.......
.......
...---...
"Apa aku telah membuat kesalahan? Maaf jika benar, aku hanya ingin tahu tentang dunia ini."
"Kau tidak salah, hanya saja ada beberapa situasi yang menjadi tabu di Imorrtal Lucy."
"Maaf," Lucy terlihat murung.
Kendric tidak bermaksud menyembunyikan kebenaran mengenai Imorrtal ataupun sosok wanita itu. Hanya saja, ia takut jika Lucy tahu itu malah membuatnya pergi darinya.
Ia masih perlu waktu untuk bisa mengatakan yang sebenarnya. Perlahan Ia genggam jemari Lucy menatap lekat mata indah yang menjadi angkasa nirwana.
"Jika sudah waktunya tiba, aku akan menceritakannya kepadamu. Apapun, semua yang ingin kau ketahui mengenai dunia Imorrtal aku pasti akan mengatakannya."
Meski Lucy penasaran, tapi ia tak bermaksud mencaritahu lebih dalam. Hanya saja setiap ucapan Kendric semakin membuatnya berpikir, bahwa ada sesuatu yang sangat dirahasiakan di tempat ini.
Lucy rasa ini aneh, apalagi Tyrsha dan Molie terlihat mengetahui sesuatu. Terlebih, Lucy begitu terganggu saat kalimat Vasilissa dan Robin di ucapkan.
Vasilissa, bukankah itu juga yang disebutkan wanita yang mirip denganku saat mimpi? Sebenarnya rahasia apa yang alam sembunyikan.
"Apa kau ingin coba melihat alun kota di tempat ini?"
"Alun kota?"
"Sebenarnya tidak bisa dibilang ibu kota di Imorrtal ini. Hanya saja, aku sengaja membuat replika kota Leryvora dikediaman ku untukmu."
"Kenapa kau harus membuatnya? Bukankah lebih baik jika datang langsung ke ibu kotanya?"
"Taman kecil ini jauh lebih aman daripada diluar wilayah ini. Keadaan masih belum aman jika kau ingin pergi ke wilayah diluar kediamanku. Jadi, untuk sementara bisakah kita hanya berjalan-jalan di distrik Castle Apollo?"
"Baiklah, lagipula aku juga belum sepenuhnya menjelajahi wilayah ini."
Kendric terlihat lega karena sepertinya Lucy tidak akan memaksa untuk pergi dari wilayahnya. Ia hanya khawatir jika bangsawan dan Tetua bodoh itu sampai bisa merasakan energi bangsa Iblis miliknya yang begitu dibenci di dunia Imorrtal.
Bisa-bisa mereka bermain alibi dan memaksanya untuk membunuh Lucy karena perbedaan kaum dan kasta. Tapi kalau bisa, ia ingin Lucy tak sedikitpun menyentuh Ibu kota Leryvora yang penuh dosa akibat sikap arrogant para Dewa.
Ia terlalu kesal hanya untuk membayangkan bagaimana jika para tetua itu sampai melukai kekasihnya. Apa sebaiknya dia ratakan saja kota Leryvora agar mereka tidak bisa berdiri seenaknya di dunianya ini.
"Kendric, apa ada yang mengganggumu? Dari tadi melamun saja."
"Maaf, aku hanya terlalu senang kita bisa menjadi dekat seperti ini."
Ah ..., Lucy lupa soal kejadian pagi tadi. Saat Kendric menyatakan dengan sangat frontal bahwa ia menyukainya dan Lucy juga tengah menerima cintanya, meski harus ia telaah tiap perasaannya tapi saat ia bersama Kendric rasanya begitu nyaman dan sangat menyenangkan.
__ADS_1
Tapi kenapa sekarang malah canggung---saat keduanya tersipu malu dengan ungkapan hati pada jam sarapan tadi pagi. Tak mau larut dalam ketegangan, Kendric membuat Licy terdiam linglung saat ia memakaikan mantel hangat berwarna putih seraya mengikat rapih----agar jubah mantelnya tidak terlepas.
Bulu lembut yang menghangatkan Lucy membuat dirinya kian merasa nyaman pada cuaca dingin seperti saat ini.
"Musim dingin di Imorrtal memiliki suhu lebih dingin daripada di Darkness World. Lain kali, saat kau pergi keluar istana jangan lupa dengan mantel hangat mu."
"Te-terimakasih, tapi aku sudah pakai selendang ku."
"Tapi tetap saja, itu tidak bisa menghangatkan mu. Atau kau mau aku memelukmu di dalam mantelku, agar kau bisa hangat walau hanya memakai selendang mu?"
"Le-lebih baik aku pakai mantel sendiri saja. Nanti malah dipandang aneh," Lucy berusaha kuat menyembunyikan perasaan malunya. Perlahan, ia raba mantel dan lembut hangat pemberian Kendric. "Terimakasih."
"Ayo, aku tidak ingin melewati waktu kencan berharga kita."
"Kencan?"
"Tentu saja, bukankah ini Kencan pertama kita setelah kita resmi sebagai Mate." Kendric langsung meraih tangan Lucy lalu membawanya pergi untuk melihat Kota replika di wilayahnya ini.
...--.🍁.--...
Lucy berlari terkagum dengan bentuk bangunan di kota ini. Meski kota ini hanya replika dari Ibu kota yang asli, tapi tetap saja Lucy menikmatinya.
Entah karena kebetulan atau Kendric sengaja menyiapkannya. Maksudnya, semua pelayan dan penjaga yang tak lebih dari 100 orang.
Harus meramaikan suasana, seakan mereka adalah rakyat yang menghidupkan miniatur kota duplikat ini. Tapi, Lucy tidak merasa terganggu--meskipun ini hanyalah panggung untuk taman mininya.
Setidaknya Lucy bisa merasakan hal yang disebut dengan kata kebebasan. Jangankan untuk menjelajah, Lucy saja sejak dulu tidak pernah mengunjungi Ibu Kota Darkness World (Zainthor)---yang kalau dipikir letaknya berada di kaki bukit kerajaan Lucifer.
Warna dan bentuk kota yang begitu unik serta indah layaknya permata putih yang terlihat seperti serpihan crystal salju. Membuat Lucy makin jatuh cinta dengan tempat ini, sampai-sampai dia hanya fokus pada Kota ini bikan kepada Kendric.
Dari kedai satu ke kedai lainnya, mulai dari toko buku, perhiasan, pakaian dan aksesoris sudah ia kunjungi. Beberapa kali, Lucy terlihat menikmati kuliner kecil yang ada di pinggir jalan.
Kendric pun kian mengukir senyuman setiap melihat wajah polos bahagia yang terlukis indah pada kekasihnya. Seakan kehidupan memuakkan abadinya kembali bersemi, Kendric terus menggenggam erat jemari Lucy yang tak pernah lelah menariknya untuk mengikutinya kemanapun dia pergi.
"Apa kau sudah lelah?" Kendric duduk disebelah Lucy, mereka menempati sebuah bangku taman kota yang dekat dengan air mancur.
"Tentu saja tidak, ini sungguh menyenangkan dan begitu momen berhargaku. Karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa berkeliling disebuah kota."
"Apa keluargamu begitu mengekang mu?"
"Tidak bisa dikatakan mengekang, karena mungkin saja mereka begitu khawatir denganku. Tapi sikap Ayah dan Kakak yang begitu posesif terhadapku memang sedikit keterlaluan untuk usiaku yang sudah dewasa ini, sehingga aku hanya berada di dalam kawasan Lucifer Kingdom."
"Kalau begitu apa kau membenci mereka?"
"Itu tidak mungkin. Meski harus kuakui bahwa ini melelahkan tapi aku sayang mereka. Kakak selalu memikirkan perasaanku begitu juga dengan Ayah, mereka semua yang ada di dunia kegelapan begitu perhatian kepadaku begitu juga dengan---"
Lucy diam dengan wajah menegang, rasanya ulu hatinya kembali terasa nyeri saat ia ingat hanya ada satu orang yang tidak pernah memperlakukannya dengan baik, bahkan sampai berharap dirinya tidak ada.
Harlie ....
"Apa yang sedang kau pikirkan?!" Tiba-tiba saja Kendric mencengkram setengah kuat lengan Lucy. Pertama kalinya Lucy melihat Kendric menunjukkan tatapan dingin itu kepadanya. "Jangan pernah memikirkan pria lain, saat kau bersamaku Lucy!"
"Iya?" Lucy tidak tahu kenapa Kendric berbicara seperti itu, tapi jika boleh menebak---apa mungkin dia bisa membaca pikirannya?
__ADS_1
Sadar dengan sikap kasarnya, Kendric melepaskan cengkeramannya. Dia terlihat merasa bersalah kepada Lucy. "Maaf, apa aku menyakitimu?" Lucy menggeleng pelan, ia merasa malu dengan ucapan Kendric yang tersirat seperti sikap cemburu.
"Apa kau mau makan beberapa Desert disini?"
"Apa disini ada kedai Cup Cake dan Pie?"
"Kau suka yang manis-manis ya?"
"Benar, rasanya jika makan yang manis. Energi ku seperti berkumpul," Senyum Lucy sembari bangun dari posisi duduknya.
"Apa aku perlu membangun pabrik kue yang sangat besar untukmu?"
"Sebaiknya jangan, kedai juga sudah cukup kok."
"Baiklah, karena tempatnya cukup jauh sebaiknya kita naik kereta kuda saja. Kau juga pasti lelah."
Kendric membimbing Lucy untuk menaiki kereta mereka yang sempat diabaikan selama berjalan-jalan tadi. Lucy naik lebih dulu dan duduk dengan sangat menawan di bangkunya.
Kendric hendak memasuki kereta kudanya, akan tetapi seseorang menghampirinya sembari menunduk hormat kepadanya.
"Salam Baginda, Tuan Hanñës meminta ijin untuk bertemu secara pribadi."
"Robert? Kenapa tidak datang sendiri saja."
"Beliau bilang, ini mengenai Sarjawan Alkemish."
Mengerti dengan yang dikatakan bawahannya, Kendric pun melirik Lucy yang terlihat kebingungan. Ia tidak ingin meninggalkannya tapi ia juga tidak bisa mengabaikan mengenai buku Carzie yang masih dia cari-cari.
"Pergilah jika itu hal yang penting, aku akan baik-baik saja."
"Tapi-----"
"Bukankah ini wilayah mu? Kau bilang aku lebih aman jika berada di Apollo. Jangan khawatir, aku juga bisa menggunakan sihir pertahanan."
Kendric menghela nafas, "Baiklah, kau juga adalah wanita yang kuat. Tunggulah sebentar disini, Sylfia akan segera datang untuk menemanimu."
"Baik," Lucy terlihat mengendu sembari menundukkan wajahnya.
Meski dia bilang akan baik-baik saja, tapi disini---ditempat asing ini, apakah Lucy akan baik-baik saja jika harus berkeliling seorang diri. Karena, hanya Kendric yang paling tahu dan mengenal dirinya.
Sylfia juga tidak banyak bicara, dia seperti pengawal khusus yang melindungi secara bertindak dengan sistematis, tanpa harus berbicara akrab jika tidak diminta.
Kendric meraih jemari Lucy yang terlihat asik saling menggenggam. "Aku tidak akan lama, jika kau lelah sebaiknya kembali saja."
"Tidak perlu, sudah susah payah aku bisa keluar dari istanamu. Masa kembali begitu saja."
"Apa segitu membosankan nya istanaku, sampai kau tidak nyaman?"
"Aku tidak bilang membosankan, hanya saja--aku jadi ingat rumah karena tidak bisa kemana-mana."
"Baiklah, maafkan aku. Kalau begitu, aku pergi dulu jaga dirimu baik-baik."
"Kau juga hati-hati."
Lucy tersenyum setelah Kendric mengelus wajahnya, kemudian dia pergi untuk menemui Robert. Dan tinggallah Lucy sendirian di dalam kereta kuda, yang begitu sunyi.
__ADS_1
Lucy melepas mantel hangatnya dan meletakan dengan rapih disebelahnya, "Rasanya jadi sepi lagi ...."
...---,'o🍁o',---...