
...Aku terlalu nyaman bersamamu, sehingga aku melupakan caramu mendekatiku dengan segala kebohongan mu....
...---🍁---...
.......
.......
.......
...---...
"Berhenti,"
Suara baritone yang terdengar tegas dan sangat gagah, secara samar mengusik pendengaran Lucy.
"Kumohon berhenti. Vernitysha aku bilang berhenti!"
Lucy membuka kedua matanya saat suara itu menyadarkan jiwanya. Di tengah arus danau tengah berkecamuk, hiliran gelombang air menunjukkan beberapa petunjuk ingatan dari seseorang secara acak.
Lucy tenggelam cukup dalam, meski begitu ia dapat mengatur nafasnya dengan baik walau harus menahannya cukup lama. Apa lagi air danau yang harusnya berada di suhu dingin terendah, tidak begitu mengganggu Lucy. Seakan yang paling ia pikirkan adalah beberapa kilasan ingatan seseorang yang sedang ia lihat di dalam danau.
"Vernitysha, jangan pergi. Ini adalah rencana Octopus untuk menyingkirkan mu dari Imorrtal."
Permohonan dari seorang pria yang mencoba menghalangi keinginan kekasihnya untuk pergi ke dunia manusia. Terdengar sangat lirih, dan Lucy seakan tertarik kedalam dimensi kedua pasangan itu.
Sosok wanita Vernitysha itu memutar tubuhnya, menghadap sang kekasih yang saat ini terlihat membelakangi Lucy. Sehingga yang Lucy lihat hanyalah warna rambut emasnya yang begitu terang.
Tepat berada di tepi danau pada perbatasan hutan Pinus dan Mapel, persis seperti lokasinya saat ini untuk memandang bulan---Hanya saja yang membedakan adalah pada musimnya, bahwa saat ini musim panas sedang menyelimuti dataran hijau.
"Vernitysha ...,"
"Aku harus pergi, jika aku tetap bersembunyi, Octopus akan melakukan hal bodoh untuk memusnahkan mahluk bumi. Aku tidak bisa membiarkannya."
"Yang Octopus inginkan adalah kematian mu, agar tujuannya tercapai. Jika kau mati lalu bagaimana dengan bencana Albasta yang telah dilegendakan sebagai pesan alam."
Vernitysha terlihat kelelahan dalam menghadapi kekasihnya yang masih saja bersikukuh menahannya untuk pergi.
"Tidak kah kau sadar, bahwa keberadaan ku ada untuk mematuhi alam tanpa memiliki ikatan dengan siapapun dalam menjalin hubungan?"
Vernitysha membelai surai rambut emas sang kekasih, "Apa bedanya dengan kematian ku saat Alabasta tiba? Apa kau lupa siapa aku."
"Aku tidak akan lupa, hanya saja aku akan mencari cara lain agar dirimu tetap hidup dan kita akan kembali pulang ke istana, tempatmu pulang bersama dengan---"
"Hentikan. Kau harus menerimanya, mau bagaimana pun semua usahamu akan sia-sia, karena tugasku sebagai Robin adalah kematian untuk bisa menghentikan bencana Alabasta."
Lucy terlihat bungkam atas apa yang dia dengar. Jika dia seorang Robin, itu artinya dia harus mengorbankan nyawanya untuk bisa menghentikan wabah serta dampak dari bencana Alabasta?
Apakah ini yang ingin di tunjukkan oleh sosok lain dari dirinya? Bahwa takdirnya sebagai Robin adalah kematian di saat bencana Alabasta terjadi. Tapi Lucy tidak tahu mengenai apapun yang berkaitan dengan Alabasta.
Tapi sejak mimpi mengenai kehidupan Vernitysha muncul, sosok pria berambut emas itu selalu mengusik Lucy. Karena pria tersebut terlihat mirip dengan Kendric, tapi masih belum bisa di pastikan karena wajah pria tersebut tidak pernah tertampak dengan jelas.
Seketika scane berpindah pada ingatan Vernitysha yang lain. Dimana sosoknya bertemu dengan wanita anggun dengan segala kewibawaannya yang mampu menghipnotis Lucy, lawan bicara Vernitysha---wanita berambut silver dengan wajah yang memiliki kemiripan dengan Ibunya (Lezzy).
Apakah dia adalah Nenek?
"Selini Thea, kau adalah satu-satunya temanku di Imorrtal dan orang yang dapat ku percaya." Vernitysha terlihat setengah berlutut di hadapan temannya sembari menangis.
"Tysha, jangan seperti ini. Katakanlah dengan tenang, aku akan berusaha membantumu."
"Aku tidak akan bisa bertahan sebelum bencana Alabasta terjadi. Meski semua ini adalah jebakan Octopus, aku pun tidak bisa melawan karena mereka adalah bangsa manusia. Kau yang paling memahaminya, aku hanya ingin meminta bantuan mu untuk terakhir kalinya."
"Jangan katakan seperti itu, kau akan baik-baik saja. Kau adalah Robin bagi para mahluk hidup, kau bagaikan ibu untuk seluruh Dewa. Imorrtal tidak akan rela kehilanganmu."
"Aku tida bisa, sebelum masa depan menjadi lebih buruk. Akan lebih baik menyerahkan diri."
"Aku tidak bisa menerima ini. Beliau juga pasti tidak akan setuju dengan keputusanmu, Tysha."
Vernitysha melepas kalungnya, ia memberikannya kepada sahabatnya. "Aku yakin kau pasti sudah melihat masa depan dari ramalan purnama. Seperti yang sudah kau ketahui, masa depan telah berubah. Jadi kumohon dengarlah permohonan ku, berikan kalung ku kepada keturunanmu yang mewarisi gelar ku menjadi pengganti Robin selanjutnya."
"Vernitysha ..., "
"Katakan kepada anakmu kelak, bahwa bintang fajar akan segera bertemu dengan sang matahari."
"Apa kau sedang melepaskan Mentari mu untuk di pasangkan dengan keturunan ku?"
Vernitysha tidak menjawab apapun, ia hanya meraih tangan sahabatnya. "Selini Thea, permintaan terakhirku yang lain adalah----selama eksekusi ku, jangan biarkan dia turun ke bumi dan melihat kematian ku. Karena-----"
__ADS_1
"LUCY !!"
Samar terdengar teriakan Kendric yang saat ini sudah turun kedalam danau, mencoba meraih tangan Lucy, sehingga potongan klise ingatan di hadapannya menjadi hilang. Di saat ia berhasil naik kepermukaan, hawa dingin dari musim dingin barulah terasa nyata. Hingga membuat seluruh tubuh Lucy menggigil dan terasa pusing.
Kendric berusaha memeluk Mate nya, guna membantu Lucy meringankan sedikit dari rasa dinginnya air danau. Hal yang membuat Kendric panik hingga takut, saat ia melihat ada yang aneh dengan perlakuan Lucy sebelum akhirnya ia terjatuh kedalam danau.
Lucy merasakan pusing hebat hingga terasa demam, sembari memeluk Kendric ia melihat kearah utara. Dan saat ia mencoba memastikan sesuatu, justru kastil lama Apollo yang terlihat sebelumnya kini tidak terlihat apapun di sana.
Kau tidak akan mengkhianati ku kan, Kendric ...
Secara perlahan pandangan Lucy menjadi gelap hingga membuat Kendric kepanikan sembari memanggil nama Lucy berulang kali.
...---o🍁o---...
*Hutan Pinus, wilayah Apollo.
Pada hari dan malam yang sama, sekumpulan Maidery berjumlah dua puluh orang. Berjalan menelusuri hutan pinus dengan di temani hujan salju cukup lebat. Mereka berbaris layaknya prajurit yang mengikuti perintah komando menuju suatu tempat yang berada di titik tengah hutan.
Hanya mengandalkan lima buah lentera kecil sebagai penerangan di tengah malam. kedua puluh Maidery itu di bawa oleh Sylvia menuju Kastil Apollo. Setiap dua bulan sekali, ia akan membawa sedikitnya dua puluh Maidery untuk membersihkan istana besar itu dengan diam-diam.
Tapi tiap bulan juga akan ada yang berdusta atas sumpahnya kepada sang Matahari. Berkali-kali pelayan istana yang harusnya menyembunyikan kebenaran dengan apa yang mereka lihat di dalam istana, selalu di bicarakan sehingga menimbulkan opini tersendiri bagi pelayan lain ataupun musuh di luar istana.
Untungnya Kendric bergerak cepat, dan menyelesaikan semua pengkhianat yang mencoba memasuki kastil tanpa seizinnya untuk di bunuh.
"Uh, malam ini begitu dingin." Salah satu dari rombongan pelayan itu menggigil saat di terpa angin malam. Pelayan wanita bernama Rahel mengeratkan jubahnya---seberusaha mungkin mencoba menghangatkan diri.
"Sebentar lagi, kepala Maidery akan memberikan perintah untuk memasuk istana. Bersabarlah," Rekan Rahel berdiri disebelahnya sembari mengkhawatirkan sahabatnya.
"Lily, apa kau tidak merasa dingin? "
"Aku sudah terbiasa. Kalau di pikirkan, ini pertama kalinya kau di pilih untuk membersihkan istana lama, ya ..."
"Em, Lily apa rumor itu benar?"
"Mengenai? "
"Istana Apollo, dari senior lalu yang pernah ikut membersihkannya. Istana itu begitu menyeramkan, bahkan senior yang menceritakan mengenai kisah istana itu menghilang sehari setelah menyebarkannya."
"Rahel, apa kau masih ingat pantangan untuk membersihkan istana dalam?"
"Tidak boleh terlalu penasaran, tidak boleh menceritakan hal apapun yang di lihat selama membersihkan istana ....," Rahel terlihat menghitung pantangan yang harus ia patuhi bersama Maidery lainnya. "Dan yang terakhir jangan pernah bertanya mengapa istana masih harus di jaga meski tidak pernah di tinggali."
"Kenapa? "
"Aku tidak pernah lihat, tapi katanya Baginda kaisar menyembunyikan lukisan seorang wanita dan ada yang berspekulasi bahwa Baginda pergi ke istana itu untuk melihat wajah kekasihnya yang telah tiada."
"APA?!! ----"
"Shut!" Lily buru-buru menutup mulut temannya, menahan agar situasi tidak menarik perhatian pelayan yang lain. "Pelan kan suaramu."
"Lily apa kau yakin? Bukankah Baginda memiliki wanita yang ada di istana utama?"
"Aku juga tidak tahu pasti, tapi dari banyaknya senior yang telah keluar---banyak yang meyakini hal itu."
"Tunggu, itu berarti Putri Lucy bukan lah Mate nya? Jika sosok lukisan itu adalah kekasihnya yang terdahulu, ada kemungkinan dia Mate pertamanya. Apa mungkin sebenarnya Putri Lucy hanyalah pasangan politik Baginda sebagai calon Putri Mahkota?"
"Tidak tahu, aku tidak bisa menyimpulkannya. Itu hanya rumor yang----"
"Apa yang sedang kalian bicarakan? "
Lily serta Rahel melonjak terkejut disaat Sylvia sudah berada di hadapan mereka. Karena asik mengobrol mereka tidak sadar kalau saat ini mereka sudah tiba di depan halaman istana. Melihat teguran Sylvia membuat mereka diam ketakutan dan hanya bisa menundukkan wajah mereka di hadapannya.
"Maaf Lady, kami telah membuat keributan."
Sylvia menatap datar kearah mereka sembari melirik satu demi satu sosok pelayan itu. Seakan memberikan peringatan agar tidak menuai ke berisikan di dalam istana nanti.
Sylvia menghela nafas, "Kalian semua sudah tahu peraturannya. Tugas kalian hanya lah membersihkan istana hingga batas area yang di tentukan. Dan satu hal lagi, hilangkan semua rasa penasaran kalian dalam bentuk apapun, Mengerti?!"
"Baik Lady," Semua pelayan menjawab Sylvia dengan serentak.
"Baiklah, segera selesaikan tugas kalian dan kembali lah saat telah selesai." Sylvia pun pergi meninggalkan rombongan Maidery, dan secara bersamaan pintu gerbang istana yang cukup besar pun terbuka.
.......
.......
.......
__ADS_1
Tak!
Rahel meletakan ember berisikan air kotor sehabis ia gunakan untuk mengelap beberapa furnitur di lantai tiga bersama Lily dan rekan yang lain.
"Ini cukup melelahkan, membersihkan istana besar dengan tenaga dua puluh Maidery, itu sangat melelahkan!" Gerutu Rahel sembari duduk di kursi besar.
"Aku juga kelelahan, meski sudah di bantu oleh sihir tapi ini lebih memakan energi manna." Saut rekannya yang lain.
"Itu karena kita hanya berasal dari kalangan rendah. Meski begitu, ini sudah termasuk cepat. Apalagi matahari belum sepenuhnya terbit." Lily melipat kain putih yang tadi di gunakan untuk menutupi semua furnitur ruangan.
"Dari dalam istana, ini terlihat sangat baik bahkan tidak ada bagian yang rusak. Tapi kenapa Baginda memilih mendirikan istana lain di seberang hutan ya?"
"Mungkin karena beliau tidak mau teringat masa lalunya dengan mendiang Mate nya."
"Sellich mengenai rumor itu, apa benar sebelumnya baginda telah memiliki seorang Mate?"
"Dulu aku pernah di ceritakan senior lama, katanya baginda memiliki rahasia mengenai kekasihnya di istana ini. Itu sudah sangat lama, mungkin sebelum kau lahir." Sellich menyindir Rahel yang berusia 116 tahun, terlihat muda diantara mereka.
"Apa mungkin Putri Lucy hanya sosok sementara pengganti kekasihnya?"
"Oya, mengenai Putri Lucy. Tidakkah dia terlihat seperti tidak mengetahui apapun di Imorrtal, bahkan dulu saat dia menghampiri kita di lahan belakang---beliau terlihat kebingungan dengan pembicaraan kita yang mengarah beliau adalah Dewa Maharaja."
"Benar, rasanya aku juga tidak pernah tahu ada Dewi bernama Lucy sebagai nama kecilnya selain nama baptisnya. Apalagi ia di panggil Putri. Setahuku, hanya anak para Tetua yang bisa di panggil Pangeran atau Putri sebagai bentuk penghormatan menjadi bagian kuil suci, selain keturunan Dewi Bulan dan Dewa Matahari."
Lily yang melihat ketiga rekannya asik bergosip mengenai masalah pribadi Maharaja, membuatnya khawatir---takut jika ada yang memergoki mereka gagal dalam menyimpan rasa penasaran.
"Teman-teman, sebaiknya berhenti bergosip. Urusan kita sudah selesai, ada baiknya kita menyusul yang lain untuk kembali ke asrama Maidery." Lily mengubah topik---mengalihkan mereka dari keyakinan sebuah rumor.
"Lily benar, aku sudah cukup kelaparan. Ayo kita kembali."
Untunglah mereka mendengarkan Lily dan bergegas untuk turun kelantai dasar. Tapi di saat yang lain sibuk membahas hal lain, Rahel terlihat masih sangat penasaran dengan lantai empat dan ruangan emas di ujung lorongnya.
"Lily, kau kembali duluan saja dengan yang lain. Tadi aku ketinggalan sesuatu di ruangan."
"Baiklah, cepat kembali dan jangan asal memasuki ruangan. Mengerti."
"Oke," Rahel pun diam di tempat sembari melihat kepergian rekan-rekanya. Saat mereka sudah pergi dari pandangannya, Rahel melihat sisi tangga sebelah utara.
Dia terlihat waspada dengan sekelilingnya, dan dengan nekat berjalan menaiki tangga menuju lantai empat.
Tepat saat ia telah berpijak pada lantai empat yang terlihat suram serta gelap. Begitu banyak debu dan sarang laba laba di lantai ini, lalu untuk apa di bersihkan jika lantai empat saja tidak boleh di bereskan. Apa mereka tidak melibat betapa buruknya istana di bagian lantai empat ini?
Rahel menyusuri lorong istana dengan lilin kecil di tangannya. Sesekali Rahel terbatuk-batuk akibat debu tebalnya, dan pada suatu batas lorong---Rahel dapat melihat pintu besar berlapis emas seperti rumor yang dia dengar.
Rahel buru-buru berlari menuju ruangan rahasia itu, ia mencoba mendorong pintu tak terkunci dengan sangat semangat tanpa menyadari sosok lain yang sejak tadi memantaunya.
Rahel terdiam hingga merinding saat menyadari terdapat seseorang di belakangnya, dia memutar tubuhnya dengan pelan lalu menjatuhkan lilin penerang di tangannya ke lantai.
Sylvia berdiri memandangi pelayan yang untuk sekali lagi membantah perintah kekaisaran untuk tidak memasuki area lantai empat. Rahel begitu kebingungan menjelaskan situasinya saat ini kepada kepla Maidery atas tindakannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Sa-saya, ssaya---tersesat Lady."
"Di lantai emapat? Bukankah kau paham dengan rule peraturannya."
Rahel bingung sekaligus ketakutan, dia tidak bisa menjelaskan dengan baik maksud kedatangannya di laintai emat. Buru-buru Rahel bertekuk lutut memohon ampun kepada Sylvia.
"Lady tolong maafkan kesalahan saya, saya tidak melihat apapun yang ada di bilik ruangan itu. Saya bersumpah tidak akan mengatakan apapun kepada orang lain, saya mohon Lady. " Rahel mencoba meminta ampunan atas dasar bertahan hidup.
"Sa-saya tidak keberatan jika anda tidak memperkerjakan saya lagi di wilayah Apollo yang agung ini Lady," Rahel meraih ujung gaun Sylvia sembari menatap randu agar Sylvia mengampuninya dan tidak mengatakannya kepada baginda Kaisar. "---Lady?"
Sylvia bukanlah wanita yang dengan mudah menunjukkan rasa empatinya kepada bawahannya yang melanggar perintah. Di sana Rahel kian menegang ketakutan, saat mata Sylvia menuntut kemarahan.
"Jika itu yang kau inginkan, maka kau tidak perlu lagi bekerja sebagai Maidery untuk Baginda."
"Apa anda mengampuni sa---Eh? " Suhu di ruangan itu berubah menjadi semakin dingin. Dinding serta kaca jendela atau bahkan semua benda yang ada di lorong itu, perlahan di rambati es yang membeku.
"Tidak--saya tidak ingin mati. Lady Sylvia mohon ampuni saya! Saya bersumpah tidak akan mengatakan rumor apapun mengenai istana ini, Lady---hiks!" Rahel panik saat tubuhnya perlahan mulai membeku, mengikis dengan rasa perih di sekujur tubuhnya.
Dengan tenang Sylvia berjalan begitu saja melewati pelayan pembangkang yang saat ini sudah mati membeku. "Kau akan menjadi pelayan yang setia pada sumpahnya, disaat kau mati."
Tubuh Rahel hancur menjadi kepingan balok es tak beraturan, dan menghilang seakan tidak pernah ada yang hidup sebagai Rahel. Sedangkan Sylvia menutup kembali pintu berlapis emas yang telah terbuka sedikit akibat dorongan kecil Rahel tadi, dia menutup pintu itu dengan memejamkan mata---karena selain Baginda Kaisar, tidak ada yang boleh melihat kedalam ruangan tanpa terkecuali meski itu orang terpercayanya sekalipun.
"Sylvia, segera kembali ke kediaman Lucy dengan membawa Alkemist sekarang juga!"
Suara Kendric yang terdengar marah bercampur panik dari komunikasi sihir kepada Sylvia, menuntut perintah yang harus segera ia laksanakan. "Baik, baginda Maharaja."
__ADS_1
...---, -o🍁o- ,---...