The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Dating ; Festival of Asteri


__ADS_3


...---...


...Sejauh ini, aku masih percaya bahwa kau adalah alasanku untuk bertahan dalam menghadapi kejamnya dunia ini....


...--🌷--...


Gerbang Lucifer Kingdom berhasil di hancurkan Kendric. Membuat kebulan asap dan desiran angin kencang di sekitaran area. Lucy memejamkan matanya menghindari debu yang hendak menghalangi penglihatannya.


Mereka berhasil menembus dan keluar dengan selamat dari jatuhnya gerbang besi berukuran besar. Saat itu juga tudung merah yang menutupi wajah jelita Lucy jatuh dari kepalanya membiarkan wajahnya disapa oleh angin malam yang begitu dingin, perlahan Lucy membuka kedua matanya.


Seketika dia dibuat bungkam dan terkagum-kagum pada wilayah di luar dinding kekaisaran. Meski sudah berkali-kali ia melihatnya dari buku yang menjelaskan wilayah Lorddarks. Tapi untuk perta kalinya dia melihat secara langsung dan sedekat ini dengan wilayah di luar dinding, yang sebenarnya adalah padang rumput hijau hanya saja terhalangi karena musim dingin.


Mata birunya yang terlihat penuh gemerlap cahaya terlihat menahan air mata kebahagiaan yang sudah berapa lama ia nantikan momen ini. Deru nafasnya yang terlihat jelas dari sela bibir ranum semerah buah cerry, tengah mengatur gejolak kesenangan yang tak tahu harus ia katakan apa untuk mengabadikan moment ini.


Dia benar-benar bisa merasakan arti bebas yang sesungguhnya. Entahlah padahal dia bukan tawanan dari penjara kerajaan tapi ini begitu mengharukan saat dia bisa menghirup udara dingin di luar dinding kelahirannya.


Lucy tersenyum, lagi-lagi Kendric menunjukkan hal baru yang membuatnya begitu tersanjung. Seakan dia tengah mengabulkan satu demi satu semua harapannya. Ia sempat melihat kebelakang menatap kerajaan megah yanh sudah lama menjadi tempat berteduhnya selama ratusan tahun--mulai terlihat menjauh dari posisinya saat ini.


"Kau suka? Tapi maaf, aku tidak bisa menunjukkan padang rumput ataupun bunga liar yang cukup mengesankan untuk di abadikan."


"Tidak masalah, ini sudah lebih dari kata cukup untukku. Lagipula hujan salju malam ini begitu indah, aku menyukainya ...."


"Benarkah? Kalau begitu, akan aku perlambat agar kau bisa menikmatinya lagi."


Awalnya Lucy merasa bingung tapi ia mulai paham, saat Kendric menggunakan sihir yang membuat serpihan salju bersinar serta jatuh dengan sangat lambat. Bentuk salju yang terlihat seperti bintang terlihat jelas di matanya. Ia mengulurkan tangannya mencoba meraih satu kepingan salju yang bergerak pelan kearahnya.


Lucy memakai kembali penutup kepalanya, guna menyembunyikan wajah bahagianya yang terlihat memerah. Ia tersenyum senang dengan apa yang ia dapatkan hari ini, dan semua berkat mate yang ia tunggu dalam penantian doa di sepanjang malam.


"Terimakasih ..., Kendric." Lucy bergumam kecil.


"Kau mengatakan sesuatu?" Lucy seketika menahan napas saat Kendric mendekatkan wajahnya kearahnya dengan tampang super mempesona. Benar-benar ketampanan yang tidak baik untuk jantungnya saat ini.


Lucy mengalihkan wajahnya, "aku ..., berterimakasih untuk semua yang kau lakukan hari ini."


"Kalimat terimakasih yang di ucapkan sangat pelan--dan itu untuk semuanya?"


"Kenapa memangnya? Apa sekarang kau sudah mulai perhitungan denganku?"


"Biar ku perjelas. Tidak kah ucapan terimakasih mu tidak sebanding dengan kerja kerasku hari ini?"


"Kau ini benar-benar ya. Lalu kau ingin aku melakukan apa untuk membalas kemurahan hatimu?" Cibir Lucy.


Kendric tersenyum lalu dia membuat kuda yang mereka tunggangi berhenti. Dia tatap wajah Lucy lalu jemarinya menyentuh bibir ranum sang kekasih. Lucy rasa ada yang tidak beres jika melihat senyum liciknya itu.


"Bagaimana dengan ini?" Kendric menunjukkan wajah polos penuh arti itu.


"Ti-tidak mau! Bagaimana bisa kau meminta hal yang tak sopan seperti ini?! Aku tidak mau melakukannya, yang lain saja."


"Kau ini kejam sekali. Padahal aku sedang mempertaruhkan nyawa untuk membawamu keluar, masa kau tidak mau memberiku hadiah."


"Kan Kendric sendiri yang menculik ku, kenapa sekarang menyalahkan aku?"


"Tapi aku meminta izin dulu kepadamu dan kau menyetujuinya. Itu berarti kita sekarang adalah adalah buronan Ayahmu sendiri."


"Kenapa buronan?"


"Kau tidak lihat kita menghancurkan gerbang istana, itu sama saja menunjukkan aksi pemberontakan."


"Kau yang menghancurkan, aku yang ikut kena sangsinya."


"Intinya kau mau mencium ku atau tidak?"


"Tidak mau." Lucy mengalihkan wajahnya dengan kesal.


"Yasudah, kita kembali lagi saja."


"Eh! Kenapa kembali lagi?"


"Untuk apa membantumu melihat Festival Asteri jika aku tidak mendapatkan upah melarikan dirinya."


"Ih kau ini licik sekali. Apa memang seperti ini sifat mu?" cibir lucy.


"Memang sebaiknya kembali saja, lagipula aku masih sayang nyawa." Kendric memberi isyarat gerakan kepada kudanya, sehingga kuda hitam itu berbalik.


Tapi sebelum berjalan kembali ke istana, Lucy menahan tangan Kendric agar tidak menarik tali dan membuat kuda itu berlari. Kendric melirik Lucy, dapat ia lihat bahwa saat ini wanitanya tengah tersipu malu.


"Lucy ada---"


"Pipi ...,"


"Iya?"


"Aku--aku akan mencium pipimu saja. Jangan di bibir."


Kendric tidak menyangka Lucy akan mengatakan itu, apa dia sungguh akan melakukannya jika dia bilang iya? Benar-benar deh, sikap polosnya ini bikin dia semakin jatuh hati bahkan rasanya dia bisa gila hanya karena melihat wajah Lucy yang sedang memerah.

__ADS_1


Sangat menggemaskan!


"Kenapa tidak di bibir? Apa karena kau tidak punya pengalaman melakukannya di---"


"Kendric! Perhatikan lagi cara bicaramu, kau ini pria bangsawan. Bagaimana bisa bicara seperti itu."


"Ahahaha ..., baiklah aku minta maaf, sepertinya bercandaku kelewatan. Jangan khawatir, aku tidak kan memaksamu melakukannya."


Lucy mencubit kecil tangan Kendric, bisa-bisanya dia di permainkan seperti ini. Dengan perasaan tidak terima, Lucy menoleh kebelakang---seraya menarik jubah hitamnya lalu mengecup singkat bibir Kendric. Tindakan Lucy membuat seorang Kendric sang Raja para Dewa terdiam seperti orang bodoh.


"Rasakan pembalasanku! Beraninya kau menjahili Putri Kekaisaran Darkness World." Lucy melipat kedua tangannya menghadap kedepan lagi, seakan ia bangga mengatakannya. Tanpa menyadari bahaya apa yang sedang ia bangunkan.


Untunglah karena posisi Kendric yang berada di belakang Lucy. Jadinya Lucy tidak bisa melihat wajah Kendric yang dibuat tersipu dengan aksinya barusan. Padahal dia hanya berniat menjahilinya sedikit karena menggoda Lucy sangat menyenangkan, tanpa tahu dia menerima bom yang lebih besar dari balasan Lucy.


"Kau ini benar-benar tidak mudah di hadapi ya. Padahal aku sudah berusaha kuat menahannya."


"Menahan apa---"


"Sudahlah, lihat ke depan saja. Kita harus segera ke kota sebelum Festival berakhir."


Kendric buru-buru menahan bahu Lucy yang hendak menoleh kearahnya. Karena ia tidak ingin Lucy melihat wajahnya yang terlihat begitu senang dengan hadiah tak terduga itu. Apa sebaiknya dia lebih sering menjahilinya, biar Lucy mau berinisiatif sendiri dalam berkontak fisik.


Kendric menghela napas, ia mengurungkan niatnya lagi. Bisa-bisa bukannya mendapat ciuman malah mendapat tamparan karena jahilnya yang kelewatan. Tanpa sadar, jarak memisah yang hanya sebatas 10 centi diantara mereka, perlahan mulai mendekat dan membuat kedua pasangan penguasa seluruh alam ini semakin terlilit dalam benang merah.


...--.🍁.--...


*Ibu Kota Zainthor.


Sesampainya mereka di ibu kota yang berada di bawah lereng bukit kekaisaran. Lucy dan Kendric memilih tempat pos yang tepat untuk menitipkan kuda mereka.


Karena ini malam Festival tentu akan banyak pengunjung yang hadir dari berbagai ras. Lucy saja sampai di buat kagum dengan keramaian ibu kota yang jauh lebih terlihat natural daripada kota replika milik Kendric.


Bukannya kota Leryvora tidak indah, hanya saja kota itu sejak awal ada untuk di buat sebagai latar setingan saja. Jadinya masih ada beberapa hal yang tidak terlihat natural.


Beberapa Interior lampion serta lilin emas dan putih terhias menggantung disepanjang jalan ibu kota. Banyak kedai besar maupun kecil berbaris memenuhi kegiatan hari Festival. Lambang bendera Lucifer Kingdom yang tergantung pada tiap tiang berkibar dengan sangat gagah, hal ini membuat Lucy semakin bangga terlahir sebagai Putri kerajaan Demon.


Ia tidak menyangka ibu kota Zainthor begitu jauh lebih menakjubkan daripada yang terlihat dari lukisan di buku. Sungguh, apa ini mimpi untuknya? Datang dan melihat sendiri seperti apa ibu kota Darkness World.


Bangsa Warewolf, Vampire, Witch, Mirach, Elf, Fairy, maupun Merrmaid. Mereka sungguh berbaur dengan damai, bahkan tidak untuk berbagai kalangan usia. Para bangsawan pun ikut memeriahkan Festival ini.


Lucy terlihat menikmatinya hingga rasanya ingin sekali dia mengunjungi semua tempat yang menurutnya menarik perhatiannya. Kendric yang melihat wajah kekasihnya seperti anak kucing tersenyum senang.


Rasanya dia sangat bersyukur bisa melihat Lucy tersenyum tulus tanpa ada beban penderitaan seperti biasanya, ia lihat. Ia harap hari-hari bahagianya bersama mate nya tidak akan pernah dirampas oleh siapapun. Tidak! dia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi sinar bintang fajarnya.


"Ayo kita pergi, kemanapun tempatnya aku akan menemanimu untuk mendatanginya. Kau pasti sangat penasaran dengan kegiatan rakyat Darkness World bukan?"


"Apa aku sungguh boleh pergi kemanapun tempat yang aku sukai? Apa tidak terlalu merepotkan Kendric?"


Lucy tersenyum sembari tertawa bahagia, ia memang telah menemukan Mate sejatinya. "Terimakasih banyak, Kendric."


"Jadi kau ingin kemana dulu? Oh, atau kita lihat kedai Cup Cake dulu saja? Waktu di kota replika aku berjanji untuk mengajakmu ke kedai manisan, tapi harus tertunda karena aku punya urusan mendadak."


"Kau tahu kedainya ada dimana? Apa kau sering mendatangi Ibu kota, rasanya kau seperti sudah terbiasa dengan kota ini."


"Tentu saja, sudah berkali-kali aku kesini untuk melihat perkembangan dunia ini?"


"Melihat apa?"


"Eh, bukan apa-apa. Ayo kita segera ke sana. Oya, jangan terlalu jauh dariku, disini begitu ramai pengunjung. Bisa-bisa kau hilang lagi."


"Aku bukan anak kecil. Aku tidak akan terpisah denganmu, apa kita perlu bergandengan tangan agar lebih aman?"


"Kau ini, jika memang sebegitu nya ingin menggenggam tanganku tidak perlu mencari alasan seperti itu."


"Aku-aku tidak mengambil kesempatan darimu ...."


"Sudahlah, aku juga menyukainya. Lagipula ini bisa di sebut kencan kedua kita. Aku benar-benar akan mengabadikan moment ini."


"Ayo, jangan banyak bicara lagi. Nanti kedainya tutup." Lucy tersipu malu.


"Jangan khawatir aku akan membeli kedainya dan membuat pemilik tokonya membuat manisan setiap hari."


"Ternyata kau tipe pria kaya yang cukup menyusahkan rakyat biasa, ya. Jangan lakukan hal itu, aku tidak mau menyusahkan rakyatku."


"Baiklah, Tuan Putri ku."


Kendric segera membawa Lucy menuju tempat yang ingin ia datangi. Mulai dari Kedai manisan, menonton pertunjukan atraksi yang tersedia sebagai hiburan malam Festival, mencoba dan mencicipi berbagai makanan rakyat menengah yang belum pernah ia makan sebelumnya. Hingga spot tempat menarik lainnya.


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Kendric melihat senyum di bibir wanitanya pudar. Bahkan seorang Putri sepertinya terlihat berjalan tergesah-gesah hingga berlari sembari menarik dirinya untuk mengikuti setiap langkahnya. Sampai Lucy berhenti di toko yang menjual sandwich daging.


"Kau mau?"


"Em, apa aku boleh memakannya?"


"Kenapa tidak boleh? Tunggu di sini biar aku belikan."


"Kendric biar aku saja. Kau pasti lelah, tunggu disini."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu."


Lucy segera berjalan menuju kedai kecil yang hanya seluas 3 meter. Sedangkan Kendric terus mengamati kekasihnya yang bertingkah seperti anak kecil, saat baru pertamakali di bawa ke taman bermain.


Tapi seketika senyum Kendric menghilang dan berubah menjadi tatapan datar. Saat melihat tiga pria dari bangsa Vampire, tengah menatap Mate nya dengan penuh nabsu.


Walau sudah berusaha apapun Kendric menutupi wajah jelita Lucy dengan jubah penutup kepala. Sepertinya itu masih belum cukup mengahalau kecantikan kekasihnya. Lihatlah bagaimana sekelompok pria brengs*k itu ingin menerkam wanitanya.


Tapi sepertinya Lucy tidak menyadari tatapan menjijikan dari pria abnormal di sebelahnya. Kendric memanas, sebelum salah satu pria bangsa Vampire itu meraih tangan Lucy buru-buru Kendric menghalanginya.


Dalam sekejap dia sudah di sebelah Lucy menatap penuh aura membunuh kepada tiga pria Vampire itu. Ia mencengkram kuat tangan pria itu, lalu sedetik kemudian terdengar retakan tulang yang begitu serius. Sepertinya ia telah mematahkan tangan pria itu dengan sangat ringan.


Pria ras Vampire itu berniat berteriak tapi langsung tertahan saat mata merah Kendric berkilat mengerikan. Apa-apaan pria ini, kenapa dia begitu sangat menyeramkan.


"Pergi!"


Satu kata yang mampu membuat ketiga hingga orang-orang yang melihatnya ikut merasa merinding. Siapa sebenarnya pria ini?


Karena ketiga pria yang berniat menggoda Lucy masih sayang nyawa, dengan cepat mereka berlari menjauh. Mematahkan tangannya saja masih belum cukup untuk Kendric. Sebaiknya dia menyuruh Robert untuk membutakan mata Vampire nya agar tidak melihat kekasihnya lagi! Benar, Kendric pasti akan membuat mereka menyesal karena telah mengincar Mate nya.


Atau di bunuh saja?


"Kendric, sejak kapan kau ada disebelah ku?"


Mendengar itu, dengan kecepatan respon 0.01 detik Kendric langsung melihat Kekasihnya dengan senyuman hangat. Bahkan orang-orang disekitar mereka hingga pemilik kedai roti itu saja kaget, melihat perubahan Kendric berubah lembut.


"Aku khawatir karena kau memesannya terlalu lama. Ada apa? Apa pemilik kedai ini menyusahkan mu?"


Seketika pemilik kedai ini langsung merinding, mengingat cara Kendric menyingkirkan pemuda Vampire tadi.


Oh, sungguh. Apa Nona ini tidak menyadari seberapa menyeramkan kekasihnya ini?


Pemilik kedai itu di penuhi perasaan takut serta khawatir, padahal dari tadi dia hanya diam saja justru dia yang paling resah karena Lucy tak kunjung memesan--tapi hanya diam sembari memikirkan sesuatu.


"Tidak kok, aku hanya ...."


"Hanya?" Lucy terlihat ragu dan malu untuk mengatakannya. "Em, itu--Kendric, aku tidak tahu caranya memesan di kedai seperti ini."


"Apa?"


Kendric cukup terkejut dengan pengakuan manis Lucy. Kalau dipikir sejak tadi semua kemauan Lucy, Kendric yang belikan jadi tidak ada kesempatan untuk membuatnya memahami cara transaksi beli di kedai kecil seperti ini.


Bahkan sewaktu di kota replika tidak ada yang namanya pembeli dan penjual, semua makanan serta pakaian lainnya tersedia secara gratis untuk Lucy. Karena kota itu ada memang untuk Mate nya ini.


Dia juga hanya terlalu fokus pada apa yang menarik perhatiannya jadi tidak memperhatikan caranya Kendric memesan. Lihatlah wajahnya yang imut itu, benar-benar membuatnya semakin menyukainya.


"Kau ini sungguh Tuan Putri yang tertawan ya. Bahkan hal sekecil ini saja masih perlu di ajari."


"Maaf jika aku kurang berwawasan. Tapi di kerajaan memang tidak ada hal seperti ini, semua kebutuhan kami diatur oleh kepala pelayan istana."


"Kau cukup mengatakan berapa banyak yang ingin kau beli, lalu pemilik kedai akan memberitahu total biaya belanjaan mu. Setelah itu tinggal bayar."


"Rupanya begitu. Baiklah akan kuingat untuk kedepannya."


Kendric yang telah memesan segera menerima sebungkus sandwich daging untuk diberikan kepada Lucy. Dengan senang hati, Lucy menerimanya. Dia terlihat menikmatinya saat memakan sandwich itu.


"Kau mau kemana lagi?"


"Em ..., bagaimana jika kita pergi makan ke restoran mini yang cukup terkenal di ibu kota. Aku tidak tahu persisnya ada dimana, tapi aku sering mendengar beberapa pelayan istana membicarakan makanan di restauran itu. Kalau tidak salah namanya Aphelos."


"Kau masih mau makan?"


"Tentu saja, aku ingin mencoba semua makanan di kota Zainthor ini. Hanya makanan yang bisa membuat kita bahagia."


"Tapi sejak tadi kau sudah makan terlalu banyak."


"Jangan khawatir aku tidak akan jadi gendut hanya karena makan terlalu banyak."


Sudahlah, selagi itu membuat Lucy suka kenapa tidak. "Kau juga tidak perlu khawatir. Meski nanti kau jadi gendut aku akan tetap menyukaimu."


"Kau ini belajar kata-kata manis dari siapa sih? Jangan-jangan kau sering mengatakannya kepada perempuan lain."


"Ahahaha, itu tidak pernah terjadi. Apa kau cemburu?"


"Siapa yang cemburu! Aku hanya---"


"JANGAN PUKUL AYAHKU!!"


Perhatian Lucy dan Kendric teralihkan pada suara teriakan anak berusia 6 tahun. Tak jauh dari posisi mereka. Sepertinya sudah terjadi sebuah kegaduhan hingga membuat masyarakat ibu kota berkumpul---menonton aksi keterlaluan yang di perlihatkan oleh sekelompok kesatria keamanan kota.


...--.•🍁•.--...


*Informasi Karakter Novel.



catatan.

__ADS_1


Welliam sering merubah mata demon nya tergantung pada situasi. Mata Savier birunya akan di perlihatkan saat ia dalam mode mood baik. Atau saat dulu dia masih menutupi fakta bahwa dia seorang Lord.


Sedangkan mata demon nya akan muncul saat ia sedang marah atau serius dalam menanggapi hal sesuatu.


__ADS_2