The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Escape Effort


__ADS_3


...---...


.... ...


.... ...


.... ...


...***...


"Matahari akan segera terbit, akan lebih baik jika kita pergi dari sini. Terlalu banyak jejak yang tertinggal sejak kau menghabisi hama tadi."


"Kau benar, aku juga tidak bisa menggunakan kekuatanku secara lebih karena mereka akan dapat menyadari keberadaan ku disini."


"Ayo-----"


"Tetua Agung. Seluruh ular Heiton mati terbakar dan juga, kami merasakan kehadiran seseorang disini."


Fedrick dan Kendric saling memandang. mendengar teriakan kecil dari luar ruangan ini, sudah dapat membuat mereka saling berpendapat bahwa pasukan Titania telah kembali bertugas, dan ini lebih cepat sebelum Matahari benar-benar terbit.


"Octopus telah kembali," itulah yang tertanam dalam benak mereka.


BRAK!


Dan tanpa aba-aba apa pun, pintu terbuka secara kasar menampakkan 20 pasukan Titania serta satu sosok pria paruh baya dengan seragam kuil nya yang begitu agung.


Octopus menatap serius---memperhatikan hal kecil apapun yang terasa mengganjal pada ruangannya. Di sini begitu sepi, tidak terlihat apapun ataupun keberadaan seseorang. Tapi firasatnya saat memasuki ruangan dari pintu utama, sudah sangat yakin bahwa ada yang mencoba memasuki ruangan ini.


Apalagi ia menemukan jejak darah Zacken---yang mungkin saja tubuh dan tulangnya sudah habis di makan oleh roh suci hasil penelitiannya. Jika penyusup itu berhasil sampai ke lorong ini, bukankah itu berarti mereka adalah orang yang kuat?


Octopus berjalan tergesa-gesa melihat, ada atau tidaknya buku Carzie. Dan untungnya saja buku itu masih ada, tapi tunggu cara posisi buku itu berbeda. Maksudnya terlihat bahwa salah satunya tidak sejajar atau bisa di yakini buku itu bergeser 1 cm dari posisi yang seharusnya.


Octopus menyeringai, sepertinya memang sudah ada penyusup yang mencoba memasuki Kuil nya. Kali ini baj*ng*n mana yang mencoba mencuri di kuil suci ku. lirih Octopus.


"Tangkap Penyusup Itu!!"


Dan seluruh pasukan Titania yang mendengar titah Octopus, langsung berpencar mencari keberadaan penyusup. Seketika kuil menjadi gaduh, mereka juga membangkitkan Goblin serta Troll raksasa untuk membantu melacak musuh.


Dari langit-langit bangunan terdapat space ruang kecil---cukup bagus untuk bersembunyi. Untungnya saja, Kendric dan Fedrick dapat bergerak cepat dan langsung bersembunyi sebelum pintu benar-benar di dobrak.


Mereka melihat situasi yang cukup menyulitkan. Apalagi saat ini penjagaannya jauh lebih ketat. Octopus tidak akan menyerah begitu saja sebelum melihat jasad penyusup itu.


"Jadi, apa kau punya rencana untuk kabur?" Fedrick melirik Kendric.


Mereka berdua terlalu tenang untuk seseorang yang bisa di bilang adalah buronan penyusup Octopus yang sedang di incar saat ini. Seakan situasi ini bukanlah hal yang patut di pikirkan.


Kendric memberikan batu kristal berwarna biru. "Kita hanya perlu keluar dari sini, lalu pergilah---kristal itu adalah batu sihir yang bisa membawamu berteleportasi. Cukup katakan kau ingin kemana dan sihirnya akan membawamu."


"Kenapa tidak di katakan sekarang saja? "


"Apa kau belum menyadarinya? Di kuil ini, terdapat pola sihir yang mengunci sihir ruang dan waktu, itu artinya sihir teleportasi tidak dapat di lakukan saat masih berada di dalam."


"Baiklah. Kalau begitu, mau berlomba siapa yang lebih dulu keluar dari sini." Fedrick mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala yang dapat menyamarkan wajah agar tidak terlihat jelas. "Bagaimana? "


Kendric tersenyum menyindir, dia terlihat sudah siap dengan jubah yang sama dengan Fedrick. "Lucu sekali, kau malah membuat petisi untuk memamerkan kekalahan mu."


"Apa, hei tunggu!!"


Kendric mengambil langka awal untuk keluar dari persembunyiannya dan berhadapan dengan pasukan Titania. Dengan sekali bergerak cepat, Kendric berhasil melukai lawannya tanpa memberi kesempatan mereka menyerangnya.


Dia berlari dengan sangat lincah hingga mampu membuat para Titania kesulitan mengikuti langkahnya, beberapa sihir penyerangan tertuju kepadanya tapi dengan sangat tanggap Kendric dapat mengelak.


Tak lupa Kendric membalas atas penyerangan itu dengan kematian mereka. Terlalu banyak darah yang sudah menodai penampilannya, tetapi sang matahari terus menyulutkan apinya tanpa terganggu dengan pemandangan ini, sehingga ia terlihat begitu menakutkan di mata musuh.


Berbeda halnya dengan Fedrick yang sedikit tertinggal dari posisi Kendric. Ia mencoba menghancurkan beberapa tabung sihir yang ia lewati, sembari mencabik-cabik para Goblin yang mencoba menahannya untuk pergi.


Kalau di pikir sudah lama ia tidak pernah mencium bau darah dari menyiksa orang-orang bodoh. Pasti rasanya akan sangat nikmat saat melihat mahluk rendah ini menggeliat ketakutan di ruang bawah tanah---Lucifer Kingdom.


Fedrick bergerak cepat untuk menyusul Kendric di depan. Ia melihat sendiri bagaimana sadisnya pemimpin Dewa ini menghabisi bangsanya sendiri dengan begitu gila. Bahkan bisa ia pastikan, sudah berapa banyak anggota tubuh yang ia pisah-pisahkan hanya dalam waktu singkat.


"Kau terlalu lambat. Apa sekarang kau semakin tua? "


"Tidak tahu diri, harusnya kau memikirkan perbedaan usia mu dengan ku sebelum berbicara! "


"Oh, apa aku perlu menunjukkan kaca. Tidakkah kau sadar wajahku jauh lebih muda daripada dirimu, apa kau tidak tahu wajahmu mulai terlihat keriput."


"Kau! "


"Jangan khawatir, aku juga mengembangkan perusahaan serum kecantikan di bumi. Apa kau mau coba?"

__ADS_1


"Jangan mengejek ku!"


"SERANG! "


Pasukan bantuan dari Titania berlari dari arah belakang Fedrick, tapi mereka menargetkan orang yang salah. Fedrick yang sedang dalam emosi menajamkan kuku runcingnya dan dalam sekali kibasan, cakar-cakar maut itu menumbangkan kelima pasukan Titania.


"Cepatlah bergerak, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu! " Fedrick mencoba menahan amarahnya untuk tidak merusak wajah tampan dewa ini.


.


.


.


Mereka terus berlari menyusuri lorong-lorong kuil. Ini aneh, rasanya kuil ini membentuk jalur lupin dan terasa tidak ada ujungnya. Bahkan mereka sudah keluar dari ruangan laboratorium sudah lama tapi kenapa tidak terlihat jalan keluarnya?


Kendric yakin ia sudah menghapal semua jalur di kuil tapi apa-apaan dengan lorong ini?


"Berhenti." Kendric berhenti berlari.


"Ada apa, kenapa kau malah berhenti? "


"Ini aneh, kita sudah menimbulkan kekacauan sebesar ini. Tapi dimana Octopus? Dan jalan ini tidak pernah ada di kuil."


Benar, Fedrick juga merasa aneh. Masa Octopus yang tadi terlihat marah dengan kehadiran penyusup. Tapi tidak muncul menghentikan mereka?


DUM,, DUM,, DUM,,


Dinding, lantai, dan atap terasa bergetar hingga menaburkan beberapa debu akibat serpihan bangunan yang jatuh dari atas. Sepertinya akan datang hal yang paling merepotkan.


Dari sisi jalan selatan, di ujung lorong gelap dan pengap ini menampakkan sesosok bertubuh besar yang berjalan sangat perlahan tapi cukup menyeramkan.



Troll besar yang begitu menyeramkan memikat pandangan Fedrick maupun Kendric. Dia pria gila, bagaimana bisa Troll ia rubah menjadi monster seperti ini! Itulah yang terbenam di pikiran mereka berdua.


Troll itu berlari dengan sangat cepat, tangan panjangnya seperti cambuk kematian. Dengan insting bahaya, Kendric maupun Fedrick saling melompat tinggi berlawanan arah. Mereke mencoba menyerang tapi tubuh troll itu terlalu kuat hanya untuk di katakan sebagai monster tulang kering.


Serangan bertubi-tubi dari Troll itu membuat keduanya sedikit kualahan, ditambah minimnya ruang gerak pada lorong sempit ini. Mau tidak mau mereka hanya punya cara untuk terus melarikan diri dari Monster gila ini.


Kendric dan Fedrick bekerja sama untuk mengelabui Troll tersebut, mereka melompat dari tangan ke dada, lalu menyelinap ke pundak sebelum akhirnya melompat turun dari tubuhnya untuk melewatinya.


Keduanya memutuskan berpisah jalur saat di hadapannya terdapat dua cabang jalan yang saling terbatasi oleh pilar pilar tinggi. Berharap satu diantara mereka tetap mengalihkan perhatian dan satunya lagi mencari jalan keluar.


Namun sayang, peliharaan Octopus justru membelah tubuhnya menjadi dua. Sehingga Troll itu kini mengejar mereka secara masing-masing.


Kendric terus bergerak mengelak serangan tangan panjang dari Troll di belakangnya. Sangking kesalnya dia sampai tidak melihat ada serangan bantuan dari seseorang. Di saat dia mencoba meraih dinding untuk berpijak bola sihir keemasan melesat kearahnya.


Dengan reflek ia berhasil menghindarinya, tetapi, tidak dengan tangan Troll itu. Dan hasilnya Kendric tidak dapat menghindar dari cakaran Troll yang mencoba mencabik nya.


"Egh! " Kendric meraih dadanya yang tertebas cukup parah, melihat bagaimana darah membasahi pakaiannya.


Fedrick yang baru saja berhasil lepas dari aksi kejar-kejaran, menghampiri Kendric. Melihat dari darah yang menetes jatuh kelantai sepertinya luka itu cukup dalam. Tapi mau bagaimanapun ia merasa bersyukur, karena hanya segores kuku yang melukainya.


"Hei, aku tidak mau melihat putriku menangisi pria sepertimu setiap hari."


"Cih! " Kendric meludahi darah yang terkumpul di sudut bibirnya. "Apa kau sedang takut jika aku mati, ha? "


"Bocah ini, semakin lama makin mengesalkan saja. Aku hanya tidak mau di benci putriku karena membiarkanmu mati di hadapanku."


" ....., kau ayah yang harmonis sekali. Tapi sayangnya kau tidak akan bisa melihatku mati."


"Kenapa?"


"Karena, kalian akan kecewa melihat raja iblis mu tidak ada untuk memimpin." Jawab Kendric dengan sangat enteng sembari berdiri tegap di sebelah Fedrick. Seakan lukanya adalah hal kecil.


"Beraninya kau bilang begitu, di saat putraku menyandang status Lord Demon. Jika kau raja Iblis nya, lalu bagaimana dengan Imorrtal? "


"Mereka hanya sampah yang harus di daur ulang." Sindir Kendric sembari menatap tajam kearah lawannya.


"AHAHAHAHA!!"


Gelak tawa yang mencuri perhatian, menyorot pada sesosok pria yang kini berjalan diantara dua Troll di hadapan Kendric dan Fedrick.


Sosok yang tidak perlu memusingkan pikiran untuk menebak wujudnya. Tentu saja dia adalah Octopus yang sejak tadi hanya bersembunyi, menunggu penyusup mulai terpojok layaknya pecundang yang menyerang saat lawan dalam posisi lemah.


"Bagaimana dengan rasa sakitnya, bodoh?! " Octopus memulai perceraian dari kata damai atau malah tidak akan berdamai dengan tamu tak di undangnya.


"Rasanya cukup terhormat, pecundang."


Octopus diam dengan wajah kesal, "Oh, aku ingin lihat, mau sampai kapan kau akan berpura-pura kuat dengan rasa sakitnya."

__ADS_1


"Apa kau tahu, semakin kuat mana yang kau punya. Maka semakin kuat juga rasa sakit yang menggerogoti tubuhmu, ini adalah kehebatan dari racun yang kuciptakan dengan bantuan roh suci." Lanjut Octopus.


"Rupanya begitu. Pantas terasa nyeri." Jawab Kendric dengan santai.


Hei apa kau benar baik-baik saja setelah mendengar itu? Fedrick tidak habis pikir dengan sosok Kendric yang terus menganggap remeh keadaan ini.


"Apa kau sedang menghina temuan ku? Katakan, siapa yang mengirim kalian?!"


"Apa kau bodoh, memangnya akan ada penyusup yang rela memberitahukan maksud dan tujuannya? Terlebih kau adalah pihak musuhnya." Kini giliran Fedrick yang membuat urat kemarahan Octopus memuncak.


"Kepar*t, apa kalian pikir bisa keluar dari sini dengan hidup-hidup?"


Tidak. Jelas akan tidak mudah untuk melewati mereka apalagi kedua Troll itu masih sangat sulit untuk di atasi. Fedrick juga tidak yakin untuk bisa keluar tanpa ada luka di tubuhnya, sejak di bawa ke sini fragmen aura Imorrtal dan Darkness World itu berbeda.


Ia juga tidak bisa membiarkan Kendric bertarung dengan kondisinya saat ini. Tapi jika hanya dengan kekuatan Fedrick saja, itu masih belum cukup. Level Octopus juga tidak bisa ia pandang remeh, mungkin karena dia memanipulasi dirinya sendiri dengan riset sihir milik Carzie.


"Apa kau bisa berlari? Aku akan mencoba melindungi mu."


Kendric tertawa sarkastik, "ada apa ini? Sepertinya kau mulai memahami peranmu sebagai orang yang setia terhadap tuannya." Kendric juga telah gerah berada di kuil ini berminggu-minggu. "Hei, aku bukanlah mayat hidup! Jika yang kau butuhkan adalah jalan keluar itu hal yang mudah bagiku."


"Apa kau tidak tahu situasi saat ini adalah 30:70% Terlalu sulit melawan mereka tanpa strategi."


"Lagi-lagi kosa kata mu salah, yang benar 99 : 1%"


Kendric mengeluarkan gertakan kecil. Mata permata berwarna darah itu menyalak terang. Sebagi respon dari tekanan kekuatan Kaisar langit, bangunan Kuil suci bergetar hebat hingga mampu mengguncang permukaannya. Apalagi sampai menghancurkan sihir labirin milik Octopus.


Kendric memutar tubuhnya kemudian meninju dinding lorong dengan kuat, hingga tercetak retakan besar di sana. Dentuman besar terjadi hingga memupuk kebulan asap---membuat pihak musuh terbatuk-batuk.


Dari sebilah cahaya remang mentari pagi, perlahan menyusup menerangi ruangan gelap dari celah retakannya. Kendric melirik sinis kearah Octopus, seakan memberikan hinaan kepadanya.


"Kali ini, aku hanya akan menyapamu. Tapi lain kali, akan dipastikan, kau ku bakar hidup-hidup seperti yang kau lakukan terhadap Verniysha ! "


Tepat di saat ucapan Kendric, dinding bekas tinjuan nya hancur. Meninggalkan lubang besar yang terhubung langsung dengan jalan keluar. Melihat itu Fedrick tercengang diam melihatnya mampu memecahkan formasi sihir labirin serta menghancurkan bangunan kuil yang cukup terlindungi.


Kendric melihat kearah Fedrick yang masih diam terpukau, "bukankah sudah kubilang, kau akan kalah dengan memalukan."


Fedrick tersadar dan seketika dia tersenyum, mengakui begitu besarnya kekuatan Kendric. "Tamu yang baik, haruslah keluar melalui pintu."


"Apa kau pikir kita tamu terhormat mereka?"


"Kau ini dingin sekali." lirih Fedrick, "Baiklah, karena jalan keluarnya sudah terbuka, lain kali saja kita bermain interogasinya, ...Gurita." Fedrick memberikan salam terbaiknya dalam menyapa musuh.


"Tunggu, tidak akan kubiarkan kalian pergi begitu saja!! "


Kendric dan Fedrick berlari lalu melompat keluar. Seakan tahu, rencana apa yang akan mereka persiapkan setelah kejadian ini. Keduanya hanya saling mengisyaratkan lewat tatapan kepercayaan untuk langkah selanjutnya.


"Lucifer Kingdom"


"Apollo"


Kendric dan Fedrick seketika langsung berteleportasi ke tempat tujuan masih masing, berkat bantuan batu kristal. Membiarkan Octopus dengan segudang kemarahan di ujung urat vitalnya.


Tetua Agung itu berjalan kearah lubang pada dinding kuil, membiarkan angin menghantamnya. Kalimat terakhir yang di ucapkan penyusup itu membuatnya terus kepikiran. Bagaimana dia tahu kejadian ratusan abad yang lalu? Sebuah rahasianya dalam menyingkirkan seseorang.


"Siapa mereka sebenarnya?! "


.


.


.


Kendric jatuh tersungkur dengan kondisi tubuh yang semakin lemah. Luka itu sungguh merepotkan nya, seakan racun di tubuhnya terus menggerogoti jiwa dan raganya. Ia pun terlihat tersengal dan sulit bernafas.


Kendric berjalan tertatih menuju ranjang tidurnya. Mencoba memapah diri dengan barang seadanya yang terpajang di kamarnya. Darah yang kian menetes ke lantai menjadi hitungan detik untuk racun yang sudah menyebar luas.


Dan akibatnya Kendric kehilangan keseimbangan dan hampir saja tumbang, untungnya ada meja yang menyanggah tubuhnya agar tidak menghantam lantai walau ia harus menjatuhkan vas bunga yang ada di atasnya.


"Sial! Racunnya begitu kua---"


"Kendric ...., "


Panggilan lembut yang menusuk keheningan memaksanya untuk segera sadar dari rasa sakit pada lukanya. Uluran tangan hangat yang menyentuh pipinya membungkam dirinya, ah! Rasanya sesuatu hal yang sedang ia coba tahan selama dua minggu ini meruah-tuah tak terkendali lebih dari rasa sakit ini.


"Lucy ....," Pertahanan Kendric runtuh di hadapan belahan jiwanya, ia tidak perduli lagi dengan lukanya. Yang ia butuhkan hanya pelukan wanitanya untuk menenangkan pikirannya saat ini.


"----Maaf, aku terlambat pulang."


...---, o🍁o , ---...


__ADS_1


__ADS_2