The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Robin ; Octopus' suspicions


__ADS_3

...Berlari menghindari takdir, hanya akan membuat mu terjebak dalam labirin, keputusasaan....


...---- •°°.˚*・༓☾🍁☽༓・*˚.°°• ----...


Setelah kematian Harlie, miasma meningkat dengan sangat kacau, gelombang racun menyelimuti mereka. Lucy mengkhawatirkan anak-anak, dan Muzakka tidak bisa bergerak karena di rantai oleh miasma.


Dari sudut di balik pohon tua, Sosok pria agung yang menjadi panutan di Imorrtal terus mengamati Lucy sejak pertikaian mereka. Ia menggeram kesal, saat mana yang di keluarkan oleh lambang di keningnya membuatnya merinding dengan fakta itu.


Sebenarnya sejak ia menerka siapa sosoknya melalui cerita Harlie, ia menuai kecurigaan bahwa bisa saja Cucu Selini Thea mendapatkan anugerahnya seperti Lezzy. Tetapi ia juga tidak bisa merasakan adanya tanda-tanda sosok Dewi dari dirinya, apa karena dia memiliki darah Demon jadinya ia tidak bisa merasakan apapun.


Itu tidak masalah jika Lucy bukan seorang Dewi, Octopus akan sangat bersyukur. Karena saat ini akan sangat berbahaya jika dia menjadi penerus Dewi bulan, ia saja masih belum menemukan siapa sosok Robin anehnya di Imorrtal auranya hilang begitu saja.


Setiap saat Tuan nya terus menginginkan darah Robin, dan terus mendesaknya. Karena kebangkitannya tidak akan lama lagi, sedangkan sosok Robin masi lah di takuti nya.


Namun, di saat mereka masih mencari keberadaannya. Ia justru di kagetkan setelah mengamati seluruh aura Putri Demon-----di kelilingi aura Matahari. Aura kuat yang hanya di miliki satu Dewa diantara Dewa penguasa lainnya. Dia adalah Sang Fajar dari kegelapan dan Senja untuk memakmurkan rakyat Imorrtal.


Memang benar, ada kemungkinan bahwa ia pasangan Dewa matahari mengingat statusnya sebagai Vasilissa, namun dua keturunan paling memuakkan menjadi satu keluarga, itu sangat membuatnya kesal!


Octopus menunjukkan dirinya di hadapan Lucy, sosok yang menganggap dirinya lebih dari tuhan memamerkan karismatik yang sangat tidak di butuhkan Lucy. Ia membuat Lucy tidak bisa bergerak, auranya yang begitu besar sempat membuat Lucy gemetar kecil menyadari betapa berbahayanya pria ini.


"Jadi, Mate mu adalah Kaisar Dewa? Aku tidak merasakan adanya kebangkitan Dewi dari dirimu." Octopus memastikan lagi dengan mengamati baik-baik rupa Lucy.


"Kau memiliki wajah yang begitu mirip dengan Selini daripada Ibu mu! Tapi sepertinya kau hanya menerima berkat dari keturunan Vasilissa, tidak dengan gelar seorang Dewi. Apa karena kau memiliki darah bangsa menjijikan seperti kaum Demon di dalam dirimu."


Tatapan menusuk yang dapat di rasakan hingga ke ulu hati, membuat Lucy harus bersikap hati-hati. Apa dia sekarang sedang menganalisa bahwa Lucy mungkin bisa saja seorang Dewi yang dapat menggantikan posisi Rembulan.


Mau bagaimana pun, Lucy saja tidak tahu apa dia mempunya gelar Dewi atau tidak. Kendric tidak pernah mengatakan hal itu apalagi ibunya. lalu apakah Ibunya juga mempunyai gelar Dewi juga?


"Auramu jauh lebih lemah dari yang aku kira, tapi tekad mu perlu di beri pujian." Ujarnya kembali.


Satu hal yang membuat Octopus tertarik selain lambang Mate di keningnya---adalah kalung dengan kristal biru pemberian ibunya, bukan! Lebih tepatnya adalah peninggalan Robin terdahulu untuk di berikan kepadanya.


"Kalung mu mempunyai mana yang begitu suci---persis seperti milik pohon dunia." Octopus mencerna pikirannya, ia menatap kembali sosok Lucy.


Ia adalah Putri dari Alice, cucu Selini Thea. Anugrah bulan menyertainya sebagai Vasilissa, Tuan Putri yang menjadi kekasih sang mentari. Apa ada kemungkinan, bahwa dia adalah Robin?

__ADS_1


Octopus tersenyum licik. Lucy yang merasakan hal aneh dari raut wajahnya, membuatnya menjadi tegang ketakutan bila Octopus mencurigainya sebagai Robin. Terlebih dia punya banyak tuduhan kebenaran mengenai sosok Robin yang selalu di cari olehnya.


Octopus mempunyai metode untuk mengujinya, lantas kenapa ia tidak mencoba menggunakan sebelum menghabisi Lucy jika pilihannya salah. Jadi Octopus mengeluarkan sebotol kaca yang berisikan cairan miasma, dengan kuku jari telunjuknya yang begitu tajam--- mencoba meraih leher Lucy.


Ia hanya perlu menggores kulit putih mahoni nya itu, dan dengan setetes darahnya saja itu sudah dapat menjawab pertanyaannya yang saat ini begitu menggebu. Kekuatan Octopus berbeda level dengan Lucy, sehingga sihir pengunci miliknya susah untuk Lucy hancurkan.


Tangan panjang itu terlihat mengerikan saat bergerak mendekati Lucy, hanya tinggal 10 cm dari lehernya, Octopus akan dapat melihat apakah dia termasuk dalam kandidat Robin atau tidak?


"Jika kau adalah Robin---aku akan menjadikanmu sebagai makanan untuk Tuan Krhanos!"


Lucy tidak bisa mengelak dan Octopus berhasil melukai leher Lucy sehingga darah pekatnya mengalir sedikit. Meski Octopus juga mendapat imbasnya karena lambang mate itu merepotkannya, jadi ia coba tahan dengan rasa sakit seperti terbakar pada tangannya. Pengujian ini lebih berarti daripada luka di tangannya.


Sebelum setetes darah itu jatuh sia sia, Octopus mengadakannya dengan botol kaca yang terdapat miasma tadi. Darah telah berhasil bercampur menjadi satu dengan racun miasma.


Seakan keduanya saling menunggu dengan takut dan obsesi---Lucya maupun Octopus tidak sabar menunggu reaksi apa yang akan terjadi. Lucy terlihat tidak tenang, jika dia tertangkap tanpa ada Kendric situasi akan semakin berbahaya. Apalagi ia adalah sosok kuat yang menjadi tokoh antagonis tak terkalahkan sejak dulu. Lucy hanya dapat memejamkan matanya seraya berharap bahwa miasma itu tidak berubah yang dapat membuat takdir lainnya bisa ke tawan.


Octopus tersenyum lebar saat cairan ungu itu bersinar, seakan tebakannya benar Octopus terus menunjukkan sisi semangatnya dengan menggenggam erat botol kaca di tangannya. Tapi hal itu tidak bertahan lama, senyum merkahnya menjadu sayup saat miasma di botol itu tetap berwarna ungu kehitaman, dari banyaknya kandidat hanya Lucy yang terlihat meyakinkan tapi justru pilihannya malah salah lagi.


Di Imorrtal sudah banyak yang dia habisi hanya untuk menemukan sosok Robin, tapi hasilnya tetap nihil. Octopus dengan kecewa membanting miasma tersebut, dia menatap kesal bahwa perkiraannya salah lagi. Sebenarnya ada di mana Robin itu! Octopus tidak akan pernah bisa menginjak wilayah Pohon Dunia karena dia adalah sosok yang di tolak sejak lahir oleh Pohon Dunia!


Lucy terlihat menghela napas dengan lega. Entah harus bersyukur atau bimbang, saat miasmanya tidak bisa di sucikan. Apa ada yang salah darinya?


"Jadi, apa kau berniat akan menghabisi ku, Octopus?"


"Kau terlihat tahu banyak tentang ku. Apa Selini terlalu berhati-hati, sehingga menceritakan mengenai ku."


Lucy memberanikan diri, ia harus mengubah topiknya. "Nenek ku bukannya khawatir tapi ia kasihan jika kau tidak pernah di kenali lagi---atau bangsa kami memang tidak perlu mengingat mahluk congkak seperti dirimu."


"Dasar jal*ng!!" Octopus mencoba untuk menampar Lucy tapi hasilnya perisai perlindungan kembali mencegahnya dan kini tidak akan mudah ia tembus.


Octopus berdecak kesal, semua keturunan Aratemish memang menyebalkan! Tidak hanya untuk bangsa Demon, Matahari serta Rembukan memang pantas mati karena kesombobgan mereka. Ia ingin sekaki menginjak atau bahkan mencabik-cabik tiap keangkuhan mereka, tunggu saja----saat Tuan nya bangkit ia pastikan tidak akan ada yang tersisa untuk kehidupan mereka!


Biarkan lah, toh wanita ini tidak begitu mengancam. Tidak ada tanda-tanda dari dua keturunan yang ia khawatirkan. Menghabisinya juga tidak perlu harus dengan tangannya, dia akan memanfaatkan situasi bencana alam ini sebagai pedang untuk membunuhnya.


"Karena kau adalah mate nya. Aku jadi ingin melihat reaksi dari seorang Dewa Matahari yang lain----melihat kekasih nya mati! Saat dia lengah akan kuhabisi juga sosok sombong sepertinya! Entah mengapa, ia juga terlihat seperti Apolleon."

__ADS_1


Octopus berjalan mundur sembari menunjukkan ekspresi kejinya. ia merentangkan tangan dan seketika angin kembali bertiup kasar. Lucy menutup mulut saat aroma miasma kian membusuk dan racun yang membakar alam----mulai mengambil alih pernapasan nya.


Tidak hanya untuk dirinya saja, anak-anak, Muzakka dan semua pasukan Merrmaid yang entah sejak kapan telah terbungkam setengah mumi dengan likitan miasma seoerti lumpur.


"Κατάρα του σκότους"


( Kutukan Kegelapan)


Ratusan bola api berwarna ungu kehitaman terbang menghujani mereka. Lebih tepatnya kearah anak-anak dan prajurit Merrmaid, seakan benih kehancuran itu mengambil alih untuk mencuci otak. Mereka yang tercemari berteriak kesakitan laku memuntahkan darah sebelum akhirnya berubah menjadi Monster kutukan yang dapat menghabisi siapapun yang ada di hadapan mereka.


Muzakka yang berhasil melepaskan diri, menarik Lucy untuk bersembunyi di balik batu besar. Ia merasa Pencundang karena sejak tadi hanya bisa memperhatikan keadaan memusingkan ini tanpa bisa membantu.


"Jika kau mati jangan memendam benci terhadap ku, karena ini keinginan Mate mu yang lain, Vasilissa." Octopus tertawa keras sebelum akhirnya pergi kembali ke Kuil Suci meninggalkan Lucy dan Muzakka di tengah terkaman monster buas yang sangat gila!


"Kyaaa!!!"


"Kiara!" Lucy berlari menghampiri gadis kecil itu, bukankah harusnya Kiara baik-baik saja karena ada cincin dari Kendric yang dapat menolak serangan Miasma?


"Putri----hiks! Sakit, ini menyakitkan!" Kiara terlihat menahan sakit saat benih yang di tanam Octopus mencoba memberontak untuk mengambil alih tubuhnya. "ARGH!!!"


Kiara tidak mampu menahan kutukannya, sehingga ia oun mukai mengalami tranformasi menjadi serigala buas yang menyatu dengan Miasma kebencian. Lucy hanya dapat diam tak mampu berkata apapun, saat melihat bocah yang sangat ingin ia lindungi harus menjadi monster mengerikan seperti itu.


"Kiara----" Lucy terlihat goyah dan merasa kalah melihat anak-anak tidak ada satupun yang mampu ia selamatkan, justru ia malah menambah situasi menjadi buruk.


"Putri, anda pasti mampu kabur---kembali lah ke camp. Saya akan menangani mereka."


"Mereka berjumlah 128 monster, apa menurutmu ini mudah?"


"Saya adalah seorang Alpha. Biar saya yang menyelamatkan mereka."


Muzakka menunjukkan senyum candaannya seperti biasanya. Hal ini justru membuat Lucy benci saat ia malah menambah masalah, apalagi, Muzakka harus membunuh anak-anak generasi Werewolf!


"Aku akan memberitahu mu cara memurnikan miasma. Tetapi, berjanjilah, bahwa kau tidak akan lari dari sosok Robin, Anak ku."


Suara dari pohon dunia kembali melintas dalam benaknya. Lucy mengepalkan tangannya seakan telah menerima resikonya, ia pun menatap tajam kearah monster miasma itu.

__ADS_1


"Baiklah!"


...✧༺🍁༻✧...


__ADS_2