
"Dunia memerlukan masa depan. Robin di butuhkan untuk memurnikan miasma Alabasta, Kendric."
"Sayang nya----Robin di butuhkan sebagai tumbal! Ia bukan seorang penyelamat, dan pohon dunia hanya memanfaatkan mu sebagai alat untuk menghadapi Krhanos!"
Lucy tidak tahu harus berkata apa lagi, ini terlalu sulit untuk di perjelas kan. Kedua insan yang masih mempertahankan pilihan mereka membuat keduanya semakin tersesat dalam menentukan cara. Lucy menyerah ia mencoba menahan tangisannya yang terus mencekik nafasnya. isak tangisnya membuat Kendric frustasi, di sisi lain keduanya enggan untuk memahami.
"Aku sudah memutuskannya." Lucy telah memikirkan segalanya dengan baik-baik. Bahwa apa yang dikatakan Pohon Dunia pasti memiliki arti baik.
Ia akan pasrah dan mempercayai semuanya kepada takdir yang telah menuntun nya hingga ke titik ini, karena ia yakin masa depan itu ada----untuk mereka.
"Aku akan menyelesaikan tugasku----"
"Tidak, jangan katakan hal itu, Lucy."
Lucy menarik nafas menatap mata kekasihnya tanpa harus takut menghindarinya lagi. "---Aku akan dengan rela mengorbankan diriku sendiri, mati untuk seluruh dunia sebagai Robin."
"Lucy!! Kumohon jangan memilihnya, lihat aku---oh sungguh aku bisa gila dan menghancurkan segalanya jika kau pergi meninggalkan ku. Aku sedang berusaha jadi tolong bergantung lah kepada ku."
"Aku bergantung kepadamu, kau cukup mempercayai pilihan ku."
"Aku tidak akan mempercayainya. Apa kau mau pergi lagi? hilang dan melupakan ku untuk sekali lagi?! Jangan membuat lelucon, Lucy."
"Aku sedang tidak bercanda Kendric. Pada akhirnya pilihannya hanya tertuju pada kematian ku, bukankah kau yang bilang terkadang membunuh adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan situasi mencekam?" Lucy melangkah lebih dekat dengan Kendric, mencoba meyakini Mate nya bahwa ini bukan pilihan buruk.
"Dunia membutuhkan sosok Matahari---Kau harus tetap hidup untuk masa depan Kendric. Mengertilah, kematian ku juga untuk menyelamatkan semuanya."
"Aku sudah bilang, aku tidak perduli dengan yang lain aku hanya ingin dirimu! Aku harus bagaimana agar kau tidak pergi, Lucy."
Kendric menyerah ia membuang segala ego nya hanya untuk Putri demon di hadapannya. Kendric berlutut memohon dengan segala perasaan kekacauan nya bahwa Lucy akan menarik kembali keputusannya, ia bisa gila jika hanya memeluk raga kosong dari Mate nya di masa depan.
"Kumohon, jangan siksa aku dengan cara ini Lucy. Jangan pergi dan tetap bersama ku ...,"
Lucy menahan isak tangisnya, ia tidak bisa tetap tegar jika melihat kekasihnya sekacau ini, apalagi---bagaimana jika dia telah tiada nanti. Apa yang akan ia lakukan dan seperti apa dia akan menjalani hidupnya. Lucy ikut berlutut meraih wajah Kendric.
"Aku bukannya ingin menjadi seorang pahlawan. Aku tidak se-agung itu untuk di puji tapi---aku juga takut dan merasa frustasi. Aku tidak akan pernah sanggup melihat mu yang harus pergi menggantikan ku tapi di satu sisi aku juga takut untuk memilih kematian itu."
"Kalau begitu abaikan saja semuanya."
__ADS_1
Lucy menggelengkan kepalanya, "Menghindarinya pun tidak akan merubah apapun, Kendric."
Untuk sekali lagi Lucy menghela nafas bahwa ia lelah dengan masalah pada hidupnya. "Apa ini semacam bentuk hukuman untuk ku yang terlalu mendambakan sosok Mate? Sedangkan takdirku sebagai Robin melarang diriku untuk jatuh cinta. Apa hubungan kita adalah sebuah kesalahan Kendric?"
"Siapa yang bilang seperti itu? Kau maupun aku adalah pasangan yang langit tentukan."
"Tapi Pohon Dunia telah mengatakan segalanya, bahkan ibu mu pun melanggarnya dan pada akhirnya ia harus----"
"Tidak, semua tidak benar. Pohon Dunia hanya mengatakan kebohongan. Aku akan menentang langit dan alam itu sendiri jika mereka mencoba melakukannya." Kendric memeluk Lucy mencoba menenangkan kekasihnya.
Meski begitu Kendric pun tidak bisa mengelak. Benar, ia tidak bisa menyembunyikan fakta mengenai hal ini. Semua karena Kendric telah mengetahui hal ini sejak dulu. Di balik lukisan ibunya pada Istana Apollo terdapat sebuah buku harian milik sang ibunda----yang ia tulis sendiri ketika masih mengandung.
Kendric sempat menyalahkan dirinya, mungkin karena ia lahir kematian orangtuanya tidak akan terjadi, atau peristiwa itu adalah bentuk nyata ancaman dan peringatan kepadanya dari alam. Tapi ia sekarang paham apa yang membuat ibunya memilih pilihan bodoh untuk tetap melanggarnya---semua karena Vernitysha terlalu takut untuk kehilangan mereka.
Dan ia pun tidak tahu jika Mate nya adalah seorang Robin yang mungkin akan berakhir seperti Ibunya. Tapi ia tetap bertekad untuk mempertahankan nya, entah karena wasiat Selini Thea atau obsesi atas jiwa bulan nya.
Sungguh jika alam ingin menghukum, maka ambil saja nyawanya tidak dengan menyiksanya dengan cara membunuh Mate nya.
"Aku mencoba meyakini diri, bahwa alam telah salah atas dirimu. Aku percaya kelahiran mu bukan sebuah kesalahan. Kelahiran mu, kehadiranmu dan keberadaan mu ada pasti untuk diriku, untuk menjadi Mate ku. Sungguh, aku tidak mau kau menghilang dan aku tidak ingin pergi darimu----Jadi, bisa kah kita tetap bersama, Kendric?"
Lucy terlihat lemah dalam pelukan kekasihnya. Seakan ia tumbang dan tidak tahu harus kepada siapa lagi mencurahkan perasaan takut ini jika bukan kepada Mate nya.
"......................." Lucy memilih diam, dia hanya mau menenangkan dirinya dengan membiarkan dirinya tidur dalam pelukan surya yang sempat ia rindukan. Sejak penyerangan kemarin Lucy tidak punya waktu istirahat yang baik untuk mempertahan akal sehatnya dengan banyaknya tekanan yang menumpuk di benaknya.
Kendric mengangkat Lucy dan dalam sekali langkah mereka telah melakukan teleportasi sihir menuju kediaman kamar Lucy di kastil Estelle. Ia pun segera membaringkan Putri tidur tersebut di atas ranjang dengan selimut yang membantu menghangatkan dirinya. Kendric duduk di samping Lucy---meraih surai rambut indahnya untuk ia kenang dalam berbagai frame ingatan.
Ketakutannya dalam kehilangan Lucy semakin tinggi, apalagi Lucy telah memutuskannya. Haruskah ia menjadi serakah dan membiarkan seluruh dunia hancur begitu saja, hanya untuk membiarkan burung canaria nya tetap hidup meski dalam sangkar sekalipun.
"Apa yang akan anda lakukan, baginda? Menentang pun akan menjadi sia-sia." Molie mendekati Kendric.
"Berapa lama lagi waktu yang kita miliki untuk Alabasta?"
"Satu minggu."
"Kurasa itu waktu yang cukup."
"Apa? anda akan melakukan apa?"
__ADS_1
"Aku akan mencegahnya! Situasi ini tercipta karena mereka." Kendric memandang benci terhadap satu bangsa yang berkomplot dengan seorang penjahat besar.
"Bangsa Imorrtal adalah pendosa mereka memilih Tuan yang salah! Octopus dan seluruh pengikutnya yang ikut andil dalam rencananya untuk membangkitkan Krhanos---akan ku habisi begitu juga dengan Krhanos!!" Kendric membuka portal--gerbang menuju dunia Imorrtal.
"Kau juga ikut dengan ku, Aiden."
"Apa yang akan anda lakukan dengan ku?"
"Kau pasti tahu lokasi Krhanos di segel, bukan?"
"..............."
"Jangan lupa dengan altar suci untuk kematian Robin."
"Mungkinkah----"
"Benar, aku akan menghancurkan tempat altar itu!"
"Kegh!"
Kendric memberikan rantai emas yang terpasang di leher Molie sebagai bentuk tali pengekangan, agar dia mau menuruti kemauannya dan tidak lari darinya.
Kemudian mereka pun memasuki portal tersebut untuk melakukan aksi Kendric dalam menciptakan lautan darah serta neraka yang sebenarnya bagi bangsa Imorrtal yang telah lama menjadi bodoh serta tamak dengan kedudukan!
...✧༺ 🍁 ༻✧...
-----
Crazy Up nya 3 chp aja yaa, hehehe😁 (meski bukan crazy sih lebih ke nambah jumlah up aja🙏🏻)
Berhubung akan segera mendekati Epilog atau akhir cerita. Jadi author akan up 2 hari sekali. Terimakasih kepada kalian yang selalu suport author dalam menanti karya-karya author.
#Tinggalkan Jejak yaa❤
#Follow + Like nya
~Terimakasih😘
__ADS_1
-----