
...---...
.... ...
.... ...
.... ...
...***...
Sekelompok gagak terbang dari ranting pohon tak berdaun menyisihkan kematian, dari pancaran sinar rembulan berwarna merah pekat. Menghujani bumi pertiwi dengan kegelapan dan kehampaan. Rembulan yang ternodai darah pengkhianatan merubah suasana menjadi peringatan bagi manusia.
Teriakan manusia yang terlihat memanggil nama seorang pendeta terdengar begitu memprihatinkan. Tetapi sosok yang mereka percayai sebagai pendeta kuil tidak kunjung hadir.
Lucy berdiri diam melihat kekacauan ini. Sebenarnya sejak ia kembali kekediaman Kendric. Ia selalu di hampiri mimpi yang memberikan gambaran abstrak padanya, bisa di katakan mimpi ini adalah lanjutan dari mimpinya yang memperlihatkan seorang wanita cantik yang di bakar atas tuduhan sebagai seorang penyihir oleh kaum manusia.
Dan lagi-lagi keberadaan Lucy memang tidak terlihat oleh siapapun, kecuali sosok wanita yang mati mengenaskan dengan sebutan Robin. Sepertinya sosok Dewi Vernitysha yang menjadi Robin terdahulu berusaha menyampaikan pesan sesuatu kepada Lucy.
Tapi dia tidak paham sama sekali dengan maksud mimpi ini dan apa yang terjadi disini. Karena mimpi ini masih belum tersusun sempurna, dan gambarannya semakin lama semakin memburam.
Terutama saat kejadian sosok hitam yang memeluk tubuh Vernitysha, mata merah permata nya begitu terlihat sangat familiar tapi masih belum di pastikan sosoknya karena tidak terlihat jelas.
"Pendeta anda dimana? Kami telah membunuh penyihir jahat itu!"
"Tolong! Tolong! Ini sungguh menyakitkan."
Seakan mereka mendapat karma. Sosok hitam bermata permata darah, menghabisi mereka dengan sangat keji hingga ledakan serta kehancuran terjadi dimana-mana. Lucy tidak dapat menyimpulkan bagaimana awal konflik ini terjadi karena scane adegan selalu terlihat saat wanita itu ingin di bakar.
"Pendeta! "
"Ayah, ibu! Tolong aku!! "
"Tidak! Jangan bunuh kami---Argh!! "
"Lari selamatkan diri kalia---akh!"
Lucy menutup telinganya. ia lelah, ia sudah benar-benar sudah tidak tahan dengan mimpi ini. Suara ledakan, teriakan pengampunan hingga permintaan pertolongan yang melirih, terdengar sangat kuat di telinganya. Seakan mereka menjadi satu ritme untuk merusak pendengaran Lucy
Lucy frustasi dengan mimpi tidak jelas ini. Sebenarnya apa hubungannya wanita itu dengan dirinya? Dia sudah cukup di buat pusing dengan kecaman sosok lain dari dirinya yang bernama Vasellica, kini dia masih harus memecahkan teka-teki dari sosok robin juga.
"Ayah, hiks...., ibu! "
"Oh dewa tolong selatkan kami."
"Lari, monster mengerikan itu akan membunuh---egh!"
Lucy masih terus menutup telinganya dengan mencengkram helaian rambutnya. Dia terus berteriak untuk meminta mengakhiri mimpi mengerikan ini!
"Kumohon hentikan," Lucy terlihat ketakutan karena terus terjebak dengan mimpi ini disetiap tidur malamnya.
"PERGI! JANGAN USIK DIRIKU DENGAN MIMPI INI---Kyaaaa!! "
Lucy berteriak kuat seakan menekankan kepada wanita itu untuk menghentikan semua petunjuk abstrak. Perlahan Lucy membuka kedua matanya dan ia terlihat mulai sedikit tenang, saat menyadari bahwa dia sudah benar-benar terbangun dari mimpi mengerikan itu.
Ia tatap ruang kamarnya yang sedikit berantakan dengan berbagai macam alat menyulam dan benang wol serta benang rajut yang tersebar dimana-mana.
Lucy menghabiskan waktunya selama disini dengan menyulam. Dia berniat memberikan sulaman saputangan sebagai hadiah jika Kendric sudah kembali, tapi sepertinya ia justru malah ketiduran saat melanjutkan sulamannya dan memang itu sudah sangat malam.
Molie terlihat tertidur lelap di atas ranjang tidurnya. Dengan perasaan lelah, Lucy bangkit dari posisi duduknya dia pergi untuk membasuh wajahnya di kamar mandi. Karena ia bangun lebih cepat jadinya Maidery tidak dapat membantunya untuk membawakan cawan air untuk membasuh wajah.
__ADS_1
Lucy keluar dari ruang kamarnya, ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan berjalan jalan di waktu fajar. Lihatlah, wilayah ini terlalu luas untuk dirinya yang mungil, dan Kerajaan ini begitu megah untuk orang asing sepertinya, bahkan castle kediaman Kendric yang ia tempati sangat sepi untuk ia tinggali.
Ini sudah dua minggu berlalu sejak kepergian Kendric mengatasi sebuah urusan. Setiap pagi Lucy selalu berjalan menyusuri castle seorang diri tanpa adanya tangan yang dapat menuntunnya melewati kesunyian ini. Tapi setidaknya, setiap sebelum fajar tiba Lucy selalu rajin pergi ke lantai dasar utama bagian timur.
Karena wilayah ini melayang, dan separuh bangunan Castle yang terdesain unik tanpa dinding. Membuat awan sutra melayang memasuki Castle ini hingga terkadang menutupi seluruh sisi istana.
Meski begitu, setidaknya ini membuat Lucy merasa tenang, di tambah lagi dengan matahari terbit yang perlahan naik kepermukaan Apollo----melukis jingga di atas awan setipis kapas.
Namun yang membuat Lucy semakin menyukai pemandangan diwaktu fajar, adalah saat bagian bulan yang masih terlihat di ufuk barat, seakan ia menunggu kedatangan matahari sebelum akhirnya menjadi samar akibat cahaya mentari yang begitu menyilaukan layaknya permata.
Lucy berjalan menuju balkon istana, ia mengikuti bentangan permadani merah yang menuntunnya kehalaman depan. Langit pagi yang mulai terang dengan beberapa awan yang masih setia mengumpul di setiap bangunan dan sisi anak tangga menuju balkon, menimbulkan harmoni suasana yang begitu lembut untuknya.
Saat langkahnya berhasil menapaki balkon istana pandangan Lucy kembali terlukis kekecewaan. Karena gerbang istana tidak akan pernah terbuka sembari menunjukkan sosok seorang pria yang ia rindukan.
"Sepertinya hari ini, dia juga tidak kembali, "
Matahari perlahan mulai naik. Terbitnya sang surya membangunkan beberapa burung merpati putih yang terbang secara berkelompok ke angkasa lilac.
Dalam dua minggu ini, Kendric hanya empat kali mengirimkannya sebuah surat. Walau ia senang, Tapi rasanya tetap saja sepi, saat dia tidak dapat melihat juga rupa sanga penulis surat yang ia nantikan.
"Aku tidak suka sendirian, kapan kau akan kembali ...., " Lucy bersandar pada pilar Castle menatap sunrise yang terlihat persis seperti surai rambut keemasannya.
PRANG!
Lucy merasa terusik dengan beberapa bunyi benda yang jatuh dan sepertinya barang itu juga hancur, apa lagi suara itu terus terdengar semain keras. Lucy yang penasaran, berjalan perlahan mengikuti bunyi tersebut, dan seakan jiwa dan raganya di tuntun. Langkah Lucy yang berjalan perlahan---mulai berlari cepat saat menyadari bunyi pecahan itu datangnya dari kamar kekasihnya.
Karena semalam ia ketiduran, Lucy tidak sempat mengganti gaunnya dengan piyama tidur. Sehingga larinya sedikit terganggu akibat gaun yang terlalu panjang, ditambah ia masih harus menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua yang memang kamar Mate nya tidak jauh dari balkon depan istana.
Sesampainya di sana, Lucy buru-buru membuka pintu kamar berharap sosok yang ia nantikan benar-benar sudah kembali.
"Kendric ....,"
Panggilan lembut yang menusuk keheningan memaksa Kendric untuk segera sadar akan kehadiran sang Mate. Lucy menghampiri seraya mengulurkan tangannya---mencoba menyentuh wajah sang kekasih untuk meyakinkan bahwa pria ini sungguh benar-benar Kendric.
"Lucy ....," Pertahanan Kendric runtuh di hadapan belahan jiwanya, ia tidak perduli lagi dengan lukanya. Yang ia butuhkan hanya pelukan wanitanya untuk menenangkan pikirannya saat ini.
"----Maaf, aku terlambat pulang."
Kendric tumbang dalam pelukan Lucy, kesadarannya yang menipis membuatnya harus merelakan perasan rindunya untuk sekarang. Ia harus fokus terhadap racun di tubuhnya agar tidak semakin menyebar.
Lucy yang baru saja tersadar saat merasakan, adanya sebuah cairan kental berwarna merah menodai kedua tangannya akibat memeluk Kendric----mulai panik, dan mencoba memanggil pelayan ataupun penjaga istana dengan bantuan lonceng sihir sebagai alarm tanda bahaya.
"Kendric, tetaplah tersadar jangan tutup matamu. Lihat aku, tetaplah terjaga kekasih ku ..., " Lucy mendekap erat Kendric.
"Baginda! " Albert datang tepat waktu, sebenarnya ia sudah di beri signal oleh Kendric terlebih dulu setelah sampai di kediamannya, tapi tidak di sangka justru Mate nya yang datang menghampirinya duluan.
"Tuan Albert, dapatkah anda membantunya berbaring di atas tempat tidurnya. Aku akan mencoba memanggil Alkemish istana."
Albert mengambil alih untuk membantu membaringkan Kendric di kasurnya. "Putri, akan lebih baik jika anda yang menunggui Baginda. Saya akan menggantikan anda untuk memanggil Alkemis."
"Baiklah, dan terimakasih."
Albert mengangguk dan segera pergi meninggalkan kediaman. Beralih pada kondisi Kendric yang sudah semakin mengkhawatirkan. Lucy terlihat ketakutan, dia membuka---melebarkan kemeja Kendric dan alangkah terkejutnya ia saat melihat goresan luka panjang dan dalam terukir pada dadanya.
Apalagi memar biru keunguan menghiasi di sudut lukanya. Ini bukan hanya sekedar luka tebasan pedang biasa, jika Lucy lihat dengan teliti ini seperti luka serangan mahluk besar. Bagaimana bisa dia pulang dengan keadaan terluka parah.
"Kendric, siapa yang mencoba melukaimu?" Lucy mengambil kain basah yang ia ambil di atas meja, guna menahan darah yang keluar dari celah lukanya.
"Tidak ada yang per--perlu kau takutkan. Aku baik-baik saja--egh! "
"Diam lah. Simpan tenaga mu untuk tidak mengatakan kalimat pahlawan seperti itu. Apa kau pikir aku tidak bisa lihat---kau sedang dalam keadaan kritis? "
__ADS_1
Tubuh Kendric mulai menunjukkan reaksi dengan beberapa urat keunguan mulai terlihat sedikit jelas. Lucy rasanya ingin menangis melihat Kendric berusaha mati-matian menahan rasa sakit yang membakar tubuhnya perlahan-lahan.
"Salam Putri," Alkemish datang menyapa Lucy, kemudian melihat Kearah Kendric. "Yang mulia, izinkan saya memeriksa anda." Seorang Alkemish yang di bawa Albert, mendekat untuk memperhatikan lukanya.
Lucy menggenggam tangan kiri Kendric sembari menunggu hasilnya. Tapi raut wajah Alkemish itu terlihat pucat, "Baginda, bagaimana bisa anda terkena racun ini?"
"Ada apa? Jenis racun apa ini? Tolong katakan kepadaku. " Lucy memaksa pria paruh baya itu segera menjelaskannya.
"Ini jenis racun yang terbuat dari sihir terlarang yang memutuskan setiap saraf pembuluh darah."
Kendric kembali terbatuk-batuk dengan mencengkram lebih kuat tangan Lucy. Ini buruk, kondisinya kian parah. "Lalu adakah yang bisa anda lakukan untuk membuat penawarnya? "
Alkemish itu terlihat ragu untuk meyakinkannya tetapi dia juga tidak berniat menyerah. "Saya akan berusaha membuatnya, tolong beri saya waktu 3 hari Putri."
"Saya akan membantu anda. Meski ini memakan waktu lama, saya harap Putri bisa tetap menjaga beliau untuk sementara waktu." Albert mengusulkan dirinya untuk membantu.
"Sebaiknya kita segera keruang pengobatan, sebelum racunnya menyebar." Albert serta Alkemish undur diri meninggalkan Lucy dan Kendric.
Tiga hari? itu terlalu lama, bahkan Alkemish itu saja tidak yakin karena sepertinya ini racun yang sangat berbahaya---atau malah belum ada penawarnya. Lucy tidak sanggup melihat Kendric harus menderita menahannya selama berhari-hari, tapi apa tidak ada yang bisa ia bantu?
Sejak Robert memanggil Alkemish, Lucy sudah berusaha menyembuhkan lukanya dengan sihir penyembuh tapi tidak ada reaksi apapun justru malah racunnya berjalan cepat.
Keringat dingin memenuhi wajah Kendric, meski begitu Lucy tahu Kendric masih terus bersikap tenang bahwa ini bukan hal yang patut di khawatirkan.
"Lucy, aku akan segera baik-baik saja. Robert akan mencari penawarnya, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan mintalah Sylvia untuk membantumu membersihkan diri, aku minta maaf sudah mengotori pakaianmu dengan darahku." Di tengah pandangan remang, Kendric masih saja tidak mau menunjukkan sisi lemahnya. Bahkan meski itu adalah seorang Lucy.
"Aku tidak masalah dengan darah ini, tapi aku tidak suka kau mencoba berpura pura, bahwa ini bukan hal besar. Aku tahu kau mencoba menahannya, dan sebagai seorang pria itu adalah hal yang memalukan untuk di tunjukkan ke seseorang."
"Tapi Kendric, sekali saja andalkan aku juga. Kau tidak perlu menjadi kuat di hadapanku, menangis lah jika itu menyesakkan. Berteriak lah, jika itu memang sakit. Aku mate mu, aku bagian dari jiwamu jangan terluka seorang diri. Aku-----hiks, aku tidak mau kehilangan mu."
Kendric berusaha bangkit dan duduk sembari menghapus air mata kekasihnya. "Oh tidak, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir sayang. Setelah dua pekan berlalu, aku akhirnya melihatmu kembali. Jangan tunjukkan kesedihanmu dengan melihatku seperti ini. Aku akan baik-baik saja, luka ini tidak seberapa. Apa kau berpikir aku terlalu lemah hanya karena racun ini?"
Lucy menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya, dengan tangisan yang semakin meruah.
"Jadi mengertilah, dengan kau tidak terlalu cemas dan kembali kekediaman mu, itu juga membantu ku, Lucy."
"Kendric, kau tidak mengerti ...."
Lucy tidak mau pergi dan membiarkan Kendric menahannya seorang diri. Oh, sungguh adakah hal yang bisa ia lakukan saat ini. Kendric membutuhkan bantuan tapi sebagai seorang Pria, ia tidak akan bisa menunjukkan sisi lemahnya kepada siapapun. Tak bisakah kau lebih mengandalkan ku.
" Darah, gunakan darahmu Lucy ... "
Lucy terdiam, saat sebuah suara mengetuk pikirannya. Nampaknya sisi lain dari jiwa Lucy mencoba membantu memberikan petunjuk untuk masalah ini.
Lucy tidak mau memikirkannya dua kali, jika ini bisa menolong Kendric dia pasti akan melakukannya. Lucy menjauhi Kendric menuruni ranjang tidur, dia terlihat mencari sesuatu, lalu mendapatkan beberapa potongan pecahan kaca dari vas bunga yang ada di lantai.
Lucy meraihnya dan kembali ke posisi di sebelah Kendric. Sesaat Lucy terlihat ragu tapi pikirannya terus membisik untuk mempercayai cara ini, jika tidak bisa menyembuhkan secara sempurna tapi ia berharap setidaknya racun itu dapat di hentikan.
Lucy mencoba menyayat tangannya, namun ternyata Kendric memperhatikan sehingga ia mencegah tangan kanan itu untuk melukai telapak tangan kirinya.
"Apa yang sedang kau coba lakukan, Lucy." Kendric terlihat serius, ia rasanya akan marah jika mengetahui tindakan apa yang sedang Lucy rencanakan.
"Aku ingin menghilangkan racunnya,"
"Dengan cara melukaimu?"
"Kendric, luka ku tidak akan sebanding denganmu. Dan juga darahku, memiliki kekuatan khusus yang mungkin bisa meringankan cideranya."
"Tidak, kau tidak boleh melakukannya----LUCY!!"
Lucy tidak mau mendengarkan, ia pun menarik paksa tangannya dan dengan cepat melukai telapak tangannya sendiri sebelum Kendric bergerak untuk menghentikan aksinya. Darah segar mengalir cukup banyak, hingga menetes di atas selimut putih.
Saat itu tidak ada satupun yang akan tahu, bahwa tindakan Lucy melukai dirinya untuk menolong Kendric. Justru menarik perhatian sosok mengerikan yang tersegel di dasar tanah lembah kematian.
__ADS_1
"Bau darah manis ini----tidak salah lagi, keturunan Robin telah kembali!"
...---, o🍁o ,---...