
"Castle ini, bukalah tempat yang bisa anda datangi sesuka hati, Putri Lucy!"
Lucy ingat, sosok ini adalah pria yang datang menemui dirinya dan Kendric saat waktu makan bersama di taman. Jika tidak salah, Kendric memanggilnya dengan nama, "Robert?"
"Saya sangat tersanjung, anda dapat mengingat nama saya, Putri."
Apa yang Robert lakukan disini dengan pedang berdarah itu? Apa Castle ini adalah tempat terlarang untuk bisa dimasuki siapa pun.
Robert melirik pedang ditangannya,"Saya habis berburu beruang, Putri. Baginda bilang ingin memberikan anda mantel hangat dari kulit beruang putih, jadinya saya sedang berburu untuk anda---Aa!! Harusnya saya tidak memberitahukannya." Robert terlihat menyesali atas kebodohannya.
"Lain kali, kau harus memperhatikan kata-katamu," Lucy tertawa kecil. "Oya, tadi kau bilang, Castle ini ti-tidak bisa aku datangi. Boleh aku tahu alasannya?"
"Putri, disini terlalu banyak hewan buas yang memiliki spirit sihir kuat. Dulu, kerajaan Apollo berada di Castle ini. Tapi karena terlalu banyak hewan buas yang memakan korban, Baginda memutuskan untuk pindah ke daerah aman. Walau masih satu wilayah, tapi di kerajaan Apollo yang baru jauh lebih aman sekarang."
"Sebaiknya kita pergi, dan saya harap anda tidak mengatakannya kepada baginda bahwa anda kesini." Lanjut Robert.
"Kenapa?"
"Karena, Baginda pasti akan sangat mengkhawatirkan anda, dan ..., Sylfia juga bisa dimarahi jika ia tak mengawasi Putri saat ini."
"Aa .., kau benar."
"Mari Putri."
Lucy berjalan mendahului Robert untuk kembali ke Castle nya. Namun, seiring langkahnya yang terasa melambat Lucy melirik beruang yang terluka akibat tebasan pedang.
Dan yang membuatnya merasa aneh adalah darah beruang berwarna hitam sedangkan pedang robert bernoda darah merah. Ia merasa ada keanehan dengan situasi yang bersamaan ini.
Bukankah, harusnya beruang itu juga berwarna merah jika ia adalah buruan Robert? Atau karena saat ini musim dingin jadi warna darah beruang itu berubah secara alami akibat suhu?
Sudahlah, sebaiknya kembali saja
Segera Lucy mempercepat langkahnya, meski Lucy sangat ingin bertanya pada keanehan ini. Tapi ia mencoba mengabaikannya mungkin hanya firasatnya saja. Sedangkan Robert buru-buru membimbing kepulangan calon Maharani nya sebelum ia menyadarinya.
Karena sebenarnya, Robert sangat lega saat ia berhasil menghentikan aksi Lucy untuk memasuki Castle. Kalau tidak itu bisa jadi hal fatal, karena hanya tinggal selangkah lagi Lucy akan melihat beberapa mayat yang berhamburan penuh genangan darah.
Atas perintah Kendric sendiri, Robert bertugas membunuh semua pelayan dan Kesatria atau siapa pun yang mencoba memasuki Castle itu. Tidak perduli itu dari kubu musuh atau pun bawahannya.
Karena Castle itu adalah tempat terlarang yang menyimpan sejuta rahasia kenangan masa lalu Kendric yang begitu kelam, bersama sorang wanita yang menjadi panutan alam sebagai Dewi Vernitysha.
Sesampainya mereka di depan pintu labirin, Robert berhenti mengantar Lucy karena ia masih harus melakukan pekerjaan lain. Terlebih ia harus menghilangkan jejak Lucy yang tersisa di sepanjang jalan menuju Castle rahasia itu.
"Setelah ini, mintalah Sylfia untuk menyajikan teh hangat dan selimut tebal. Cuaca begitu dingin, baginda pasti juga akan khawatir jika anda jatuh sakit Putri."
"Baiklah, kau juga jangan terlalu lama di luar. Karena kedepannya kau perlu menggantikan Kendric untuk mengurus pekerjaannya selama kami ada di Darkness World nanti."
"Saya sangat senang dengan perhatian anda, semoga Putri bisa menetap lama di Apollo ini."
"Aku hanya pergi sebentar, setelah membicarakan hal ini pada keluargaku. Aku berniat kembali lagi ke sini."
"Syukurlah, kami menanti hari bahagia kalian kedepannya di kediaman ini."
Lucy terlihat malu, namun ia juga menanti hari itu akan selalu ia rasakan setiap harinya melupakan masa lalu yang begitu pahit untuk di ingat.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Putri, tunggu sebentar." Robert menghentikan langkah Lucy, sehingga Lucy kembali melihat kebelakang. "Kalau boleh saya tahu, bagaimana anda bisa sampai ke Castle itu seorang diri?"
"Sebelumnya aku juga tidak tahu kalau di daerah belakang taman istana ada labirin dan sebuah Castle. Tapi berkat rubah itu aku baru tahu ada tem----"
"Rubah? Apa itu peliharaan Tuan Putri?"
"Molie sedang hibernasi musim dingin, meski tidak seperti biasanya. Tapi Rubah yang kutemui sangat berbeda dengan Molie dan itu memang bukan dirinya karena aku begitu mengenal Molie."
Robert merasa ada yang aneh terlebih labirin itu baru saja di perbaiki Kendric jadi akan sangat sulit menemukan jalan keluar. Tapi bagaimana bisa? Maksudnya setahu Robert selain Rubah peliharaan Putri Lucy, tidak ada spirit Rubah lain lagi setelah 98 abad tahun lalu.
"Ada apa?"
"Tidak, bukan masalah besar. Hanya saja saya khawatir selama anda pergi ke Castle anda akan di incar hewan buas."
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja dan sejak kembali bersamamu justru aku tidak melihat adanya hewan buas."
"Eh--saya masih ada urusan lain. Besok anda akan kembali ke Darkness World, sebaiknya Putri Istirahat dulu."
"Ba-baiklah," Lucy kembali melanjutkan langkahnya untuk kembali kekediamannya. Sedangkan Robert menggunakan sihirnya menambah lapisan kabut untuk menutupi daerah labirin itu kemudian menghilang tanpa jejak yang tertinggal.
__ADS_1
...---.• 🍁 •.---...
*Darkness World
~Lucifer Kingdom.
Aletha memandang sebuah pemandangan indah serta langka bagi hidupnya. Bagaikan lukisan permata yang tak ternilai dengan barang berharga apapun.
Habisnya setelah sekian lama, akhirnya Welliam dapat menyempatkan diri bermain dengan Putri tercintanya---Memandangi Suami dan anaknya dari sebingkai jendela Istana, menambah euphoria kebahagiaan Aletha menjadi dua kali lipat.
Mereka bermain salju dengan ditemani teman-teman Sofia. Awalnya Aletha menganggap ini hanya faktor usia anak-anak yang berimajinasi, tapi ternyata Putrinya ini memang bisa mengerti dan mampu berbicara dengan berbagai jenis hewan.
"Papa, bukan seperti itu membuatnya," Sofia terlihat cemberut dan kesal untuk kesekian kalinya.
Meski dari jauh Aletha melihat mereka sangat menikmati waktu bermain, tapi sebenarnya sejak tadi Sofia sudah geregetan dengan sikap Welliam yang tidak pernah paham caranya membuat boneka salju.
"Bukankah tinggal menumpuk salju, lalu diberi ranting dan aksesoris lainnya saja? Kenapa sejak tadi Tuan Putriku ini masih saja cemberut?"
"Ternyata Papa sungguh payah dari Roby. Bahkan Uni Lucy saja jauh lebih handal dari Papa, masa membuat seperti ini saja masih susah." Sofia semakin membuang muka dengan tampang lugunya yang masih kecil itu.
"Siapa itu Roby? Dan juga, Papa mu ini jauh lebih berbakat daripada Uni mu itu."
"Roby adalah teman Sofia, dia Tupai merah yang Sofia selamatkan dua minggu lalu di pinggir kolam. Meski Roby seekor tupai tapi dia jauh lebih pintar, lihatlah bagaimana cantiknya boneka salju punya Roby." Sofia menunjuk teman kecilnya yang masih menata boneka salju untuk ditunjukkan kepada Sofia nanti.
"Ha! Apa menurutmu aku juga tidak bisa membuatnya jauh lebih baik, dari serangga itu?"
Sofia mengangguk dengan sangat imut, "Dan juga, Roby itu tupai bukan serangga. Pokoknya, Papa sangat kalah jauh dari Roby."
Mendengar hal itu membuat jiwa Lord Welliam yang begitu agung terluka. Bagaimana bisa Putrinya membandingkan hal sepele ini dengan seekor tupai, yang berarti kemampuannya begitu kalah jauh dengan otak kecil tupai.
Sofia maju beberapa langkah lalu menarik-narik mantel milik Welliam, sehingga Welliam harus mensejajarkan dirinya dengan tinggi putri mungilnya ini.
"Ada apa? kenapa setelah mengejek Papamu ini, Putriku malah yang justru terlihat sedih?"
Sofia menendang kecil tumpukan salju dibawah pijakannya, dengan pose manjanya. "Sebentar lagi hari ulang tahun Sofia, apa Papa ingat?"
"Tentu saja, bahkan kau menandainya di semua kalender rasi bintang yang ada di kerajaan. Bagaimana Papa mu ini bisa lupa?"
"Sofia tahu Papa sibuk dan jarang bisa hadir di ulang tahun Sofia---"
"Sungguh? Bukannya tahun lalu Papa ada urusan wilayah, bahkan meninggalkan pesta ulang tahunku lebih awal sebelum acara resmi di mulai."
Welliam terlihat tak mampu mengelak dari ucapan polos putrinya ini, meski usianya begitu belia tapi ia tumbuh besar dengan pemahaman yang luar biasa sehingga, ia menjadi Small Lady yang begitu beretika dalam urusan didikan bangsawan mirip seperti Lucy sewaktu kecil. Mungkin, karena guru atitude Lady kehormatan diajarkan langsung oleh Adiknya sendiri.
"Se-setidaknya kau menerima hadiah Papa, kan?"
Sofia kembali cemberut kali ini dia melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan sangat menggemaskan. "Apa menurut Papa, Sofia begitu menginginkannya, seperti anak-anak yang lain?"
"Jadi, kau tidak suka dengan mahkota berlian zerra itu?"
Sofia menggelengkan kepalanya, "Ha .., Pantas saja Mama sering di buat pusing dengan sikap Papa. Ternyata Papa memang tidak romantis ya, bahkan apa yang di inginkan Putrinya saja tidak tahu."
"Darimana kau belajar kosa kata Romantis?"
"Kakek Briant."
"Jangan asal memahami hal tak masuk akal itu dari orang lain, Jadi kau ingin apa? Apa Papa mu perlu membelikan satu set toko gaun?"
"Kakek sudah memberikan Sofia satu gudang penuh dengan perhiasan dan gaun serta mainan mewah. Sofia tidak mau lagi," Sofia merajuk sembari duduk di atas salju dengan pose kekanakannya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan beberapa buku filsavat? Putri Papa ini sangat pintar sampai-sampai hampir menguasai sepernam dari teori pengetahuan."
"Uni Lucy sudah membuatkan dua perpustakaan, khusus untuk Sofia."
"Kalau begitu, taman saja. Apapun jenis bunganya Papa aka---"
"Tidak mau, Sofia juga sudah punya kebun bunga yang di buatkan oleh Nenek."
Welliam terlihat berpikir keras, mencoba mencari cara lain agar Putrinya ini tidak terus-terusan merajuk kepadanya. "Aa, bagaimana dengan busur panah? Papa dengar, Sofia mulai tertarik untuk belajar memanah?"
Sofia semakin menghela nafas "Papa lupa, kalau yang mengajari Sofia dasar memanah adalah Mama. Pasti Sofia sudah punya busur panah sendiri, walau Sofia belum boleh menggunakannya karena usia Sofia yang masih kecil. Tapi, busur panah sederhana yang diberikan Mama begitu Sofia sukai. Jadi Sofia tidak mau punya dua, sudahlah jika Papa masih sibuk Papa boleh melewatkan hari ulang tahunku nanti," Sofia terlihat murung sembari memainkan salju dengan jari telunjuknya.
Melihat kesedihan Putrinya tentu Welliam tidak akan sanggup melihatnya. Dia gendong Sofia, kemudian mengelus sayang pipi cuby milik putri satu-satunya.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini Papa akan mengabulkan apa pun mau mu. Meski itu sesuatu yang mustahil, Papa pasti akan mewujudkannya."
"Sungguh?"
Welliam mencubit lembut pipi Sofia,"Tentu. Apapun yang kau mau."
"Papa, kapan Uni Lucy pulang? Sofia sudah sangat merindukannya."
Welliam terlihat bingung bagaimana menjelaskannya kepada Putrinya ini kalau sudah menyangkut Lucy. "Kau lebih merindukan Uni mu daripada Papa mu yang hampir tersiksa selama 2 bulan tidak bertemu denganmu?"
"Tentu saja, Sofia sangat merindukan Papa, tapi Uni bilang hanya pergi sebentar tapi sekarang sudah berapa lama Sofia tidak lihat Uni."
Benar yang dikatakan Sofia, terhitung dari kepergiannya, sudah genap satu bulan lebih Lucy masih belum kembali. Ia dapat memakluminya jika Putrinya ini begitu kesepian, habisnya hanya ada Lucy yang selalu menemani Sofia bermain.
Bahkan jika dia dan Aletha sedang ada urusan genting, mereka pasti akan menitipkan Putri sematawayangnya kepada Adiknya ini. Tapi ia juga jadi kepikiran selama sebulan ini, Aletha tidak lagi melaporkan kegiatan apa yang Lucy lakukan selama di Bumi.
Apa terjadi sesuatu?
"Papa?"
"Iya?"
"Papa belum menjawabnya," Sofia menatap Welliam dengan tatapan polos penuh keingintahuan. "Saat ini, Uni Lucy sedang ada urusan, sebentar lagi dia akan kembali."
"Hem, setiap Sofia tanya hal ini. Kakek, Nenek, dan Mama pasti menjawab hal yang sama seperti Papa. Papa, Sofia sungguh ingin main bersama Uni," Sofia bermanja---memohon agar Welliam akan mengabulkan keinginannya.
"Yang lain saja, Uni mu pergi bukan tidak ingin main bersamamu. Tapi ada masalah besar yang hanya bisa Uni mu selesaikan seorang diri."
"Termasuk Papa juga tidak bisa membantu?"
"Benar, bahkan Kakek mu yang di puji sebagai Lord terkuat pun tidak bisa membantunya." Sofia terlihat semakin sedih, namun saat dia melihat Aletha yang ada di jendela Castle membuatnya jadi tersadar dari tugasnya dari Mama nya.
Ia lupa, kalau sebenarnya dia harus membantu Mama nya memberikan waktu luang---membicarakan sesuatu hal dengan Kakeknya dan Papanya tidak boleh mengetahuinya. Meski Sofia tidak tahu kenapa harus dirahasiakan, tapi dia lebih merasa bersalah jika Mama nya kecewa hanya karena dia tidak bisa menyelesaikan masalah semudah ini.
"Benar, aku harus mengulur waktu Papa."
"Kau bilang sesuatu?"
"Tidak, Sofia hanya bilang---Kalau Papa mau mengabulkan untuk main seharian dengan Sofia, sebagai ganti Papa tidak bisa membawa Uni Lucy pulang cepat."
"Itu hal yang mudah, baiklah sekarang kita main apa?"
"Kan Papa belum menyelesaikan boneka salju dengan benar. Pokoknya harus selesaikan ini dulu baru main yang lain, kata Uni Lucy jika kita bisa membuatnya sebelum malam tiba. Akan ada peri yang memberikan hadiah, Sofia suka dengan hadiah dan berharap akan mendapatkannya lagi."
"Lagi?"
"Musim dingin tahun lalu, saat Sofia membuatnya dengan Uni Lucy. Peri itu sungguh memberikan hadiah untuk Sofia, bahkan tahun-tahun sebelumnya."
"Kenapa aku baru mendengar hal ini? Apa itu hanya karangan Lucy saja?"
"Papa, bisa atau tidak?" Sofia kembali memasang tampang polosnya.
Welliam ingin sekali mengatakan kalau itu hanya karangan bohong, tapi jika Putrinya ini sedih lagi bagaimana? Bisa-bisa dia yang di cincang Aletha dan Ayahnya, mengingat air mata Sofia itu berharga bagi keluarga Demon.
Lagian, Welliam juga tidak ingin Putrinya bersedih. Ia pun menurunkan kembali Putrinya lalu kembali melihat tumpukan salju agar bisa membentuk boneka salju yang di inginkan Putrinya.
"Aku hanya perlu membuat boneka salju, kan? itu hal yang mudah."
"Aa! Sofia lupa bilang, kata Uni membuatnya tidak boleh menggunakan sihir nanti perinya kabur."
"Ribet sekali, Lucy pasti sudah membohongimu."
"Papa !!" Buru-buru Welliam meraup salju untuk membuat bola salju yang akan dibentuk, melihat tampang Putrinya kalau sudah mengambek akan sama persis seperti Aletha. Lebih baik ia turuti saja dari pada harus diabaikan oleh Sofia terus-terusan.
Sedangkan Sofia tanpa sepengetahuan Welliam, menoleh kebelakang melihat Mama nya yang masih memantaunya dari dalam Istana. Sofia mengacungkan jempol mungilnya sebagai isyarat bahwa semua aman.
Sedangkan Aletha kian tersenyum senang lalu membalas Putri kecilnya dengan isyarat ' oke '. Untunglah dia begitu kompak dengan Sofia sehingga kedepannya jika mau mengelabui Welliam, meminta bantuan Sofia pun tidak akan sulit.
"Sekarang, aku harus memberitahukan dulu mengenai keberadaan Lucy dan hubungannya dengan Kendric. Lebih baik, Welliam tidak diberitahu di awal jika dia tahu di awal sebelum Ayah dan Ibu. Bisa-bisa dia menerobos masuk perbatasan dimensi Imorrtal."
Aletha berjalan menuju kediaman utama, untuk bertemu dengan Lezzy dan Fedrick. "Yang Mulia, anda mau kemana?" ujar seorang pelayan.
"Aku ingin menemui Ayahanda dan Ibunda." Aletha berjalan begitu saja melewati pelayannya. "Tapi bagaimana dengan teh ini?"
"Kau saja yang minum."
__ADS_1
"Ha?"
...---.o•° 🍁 °•o.---...