
"Jangan---Lucy, tidak. Jangan lakukan itu ...," Kendric mengabaikan mahluk berbahaya paling mencolok di sana. Ia berjalan melewati Octopus seakan itu bukan hal yang penting lagi.
Kendric berusaha kuat mendekati kekasih yang paling ia rindukan. perset*n! tidak ada yang bisa ia percayai di dunia ini. Lagi-lagi Pohon Dunia menyeret takdir Mate nya juga---seakan ia merebut satu-satunya hal paling berharga dalam hidupnya!
"LUCY!!" Kendric menggunakan kekuatan tersisa dari mana nya untuk bergerak cepat---berteleportasi ketempat nya berada.
Lucy tahu bahwa jika ia sudah bertekad maka tidak akan ada yang bisa menghentikan Kendric. Itu sebabnya, ia membuat kesepakatan dengan Neneknya.
Sehingga sebuah sihir kekangan mencegah pergerakan Kendric tepat di jarak 15 meter dari posisi atar suci. Kendric dipaksa berlutut seolah ia di haruskan melihat hal yang paling kejam daripada menahan racun Gravos ratusan kali lipat.
"Seleni Thea?!" Ujarnya saat menyadari mana siapa yang berusaha mengekangnya. "Orang yang sudah mati seperti mu, seharusnya tetap diam dan tidak perlu ikut campur. Egh!!"
Lucy memulai ritualnya, ia menyayat pergelangan tangan nya membiarkan tiap tetesan darahnya menyatu dengan altar suci dan membuka gerbang dunia roh suci---Alfehim. Karena Robin akan menunjukan Pohon Dunia, di hadapan mahluk hidup di seluruh dunia.
"Lucy, jangan di lanjutkan. Lihat dan dengarkan aku, jangan lakukan pengorbanan ini. Demi diriku, kumohon----"
"Sama halnya dengan mu. Aku juga ingin melindungi orang-orang ku---terlebih, aku ingin menyelamatkan mu, Kendric."
"Aku tidak membutuhkan pertolongan di atas darah mu!"
Lucy berjalan mendekati Kendric. setiap langkahnya membuat pilar pilar batu yang memutari altar, perlahan di tumbuhi tanaman hijau. Peri roh suci berwujud kupu-kupu turut terbang disekitaran nya. Portal sihir terbuka membuat para roh suci terbang keluar untuk menerima titah dati sang Robin.
Lucy meraih sang kekasih. menghapus banyaknya darah dan luka yang terukir di wajah rupawan nya. Kendric menatap khawatir dan mencoba membujuk mate nya untuk menghentikan segala keputusannya.
Tapi Lucy tidak akan mempercayainya---Kendric kembali mengkhianati janjinya dan mendorong jauh dirinya dari masalah ini. Maka ia akan melakukan apapun yang ia hendaki, sama dengan apa yang Kendric rencanakan.
"Bukankah aku sudah bilang, saat kita bertemu. Jangan biarkan aku melihat kau terluka seperti ini lagi, Kendric."
"Aku juga telah bilang, jangan sampai kau memilih takdir Robin sialan itu, Lucy."
"-----ah, sepertinya. Mau bagaimana pun kita berusaha, selama aku hidup menjadi Robin. Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama." Lirih Lucy dalam menertawakan hidupnya.
"Jangan menghiburku dengan lelucon mengerikan seperti itu, Lucy."
Lucy diam ia kemudian melihat luka sayatan di tangannya. Dengan tujuan tertentu ia menggigit pergelangannya, mengumpulkan darahnya sendiri untuk di berikan kepada Kendric. Saat tahu bahwa Kendric terluka karena racun Gravos seperti waktu itu. Lucy tidak akan segan lagi menggunakan darahnya untuk menjadi penawar racun untuknya.
Ia berlutut mensejajarkan posisi Kendric yang lebih rendah darinya, menyatukan kedua kening mereka. Berbagi rasa rindu yang terus terhalangi oleh situasi kewajiban mereka masing-masing.
Lucy mencium mate nya---membantunya meminum seluruh darahnya, sebagai penyembuhan atas luka serta racun di dalam tubuhnya. Kehangatan itu berubah menjadi ciuman perpisahan yang sangat tidak di inginkan, tapi menjadi pelepas rindu yang sangat di dambakan.
Lucy harus menerima bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya ia menyentuh, memeluk, mencium serta melihat Mate nya. Kendric berusaha memberontak saat Lucy berjalan mundur membuat jarak diantara mereka, seakan ia pun harus di sadarkan---tidak ada namanya takdir mate untuk mereka saat ini.
"Aiden!!"
Teriakan Lucy menjadi signal untuk Molie melakukan sesi pensucian. Petir yang menggelegar di langit, menangkap Octopus mencoba mengekang sosoknya serta puluhan rantai emas yang muncul dari dasar tanah melilitnya dengan lebih kuat, sehingga Octopus tidak akan bisa melepaskan dirinya.
..."Suatu saat nanti, akan lahir keturunan Rembulan yang akan mewarisi gelar ku. Dia yang akan menghentikan semua kejahatan mu di peraturan dunia ini."...
__ADS_1
Melihat bagaimana cucu Selini Thea berhasil membuka lingkaran sihir ritual dari altar suci. Octopus kembali di ingatkan pada pesan terakhir---atau lebih tepatnya kutukan untuknya dari Vernitysha sebelum kematian nya di tangan bangsa Manusia.
"BERANINYA KAU, VERNITYSHA!! KETURUNAN ROBIN ATAUPUN REMBULAN. AKU BENCI KALIAN SEMUA! ARGH!!"
Octopus berusaha kuat melepaskan diri dari genggaman Aiden sanga raja para roh suci. Tapi sayangnya, ia tidak akan bisa melepaskan dirinya. Karena memakan jantung Krhanos akan sama halnya menjadi Krhanos itu sendiri.
Kembali pada Lucy yang memberikan darahnya pada ranting pohon Mapel. Ranting itu bersinar dan melayang, tiap lonceng dari daun nya berbunyi seakan menghitung mundur kematian Robin di Altar Pengorbanan. Lucy mengatur nafasnya di ujung waktu yang tidak banyak ini.
Ia menguatkan diri menatap sang kekasih yang sudah sangat frustasi dengan pilihannya. Lucy tetap memberikan senyuman meski mata tak bisa berbohong bahwa ia menangis---tak sanggup meninggalkannya.
"Semua akan baik-baik saja, Kendric."
"Jangan, aku akan berlutut jika itu mau mu. Aku akan meminta maaf seribu kali, aku akan melepaskan segalanya---tapi kumohon. Kembalilah, jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Kendric membuang jauh-jauh martabat Mahadewa nya yang begitu tinggi. Seakan menunjukan betapa lemah dan terlukanya dia bila tidak melihat mate nya lagi.
"Di---di kehidupan selanjutnya. Ayo kita bertemu lagi. Kau tidak perlu mencari diriku, kau tidak perlu menunggu. hiks ..,"
"Tidak! Jangan katakan perpisahan untuk ku. Mau berapa tahun pun, aku akan tetap mencintai mu seorang."
Lucy tertawa sakit, "---Kali ini, aku yang akan mencintaimu lebih dulu. Aku yang akan mencari dan mendatangi mu sendiri. Maaf telah membuatmu terus menunggu perasaan ku yang terus menyakitimu, maafkan aku."
Lucy menggenggam erat belati di tangannya, menyerahkan segala penyesalan dan keinginannya kepada Pohon Dunia dan seluruh dunia.
"Maafkan aku, Kendric...,"
Lucy menghunuskan sendiri belati tersebut ke jantungnya. Rintihan kecil yang terdengar dari bibir ranumnya menyayat hati Kendric. Tidak bisa! Kendric tidak bisa melihatnya seperti itu, sehingga Kendric menjadi hilang kendali. Lantas Ia pun memberontak dan sekuat tenaga menghancurkan sihir kekangan dari Seleni Thea. Tidak perduli aksinya pun menimbulkan luka parah.
Kendric berhasil menggapai sang Kekasih, jauh lebih cepat dari darah yang akan menetes jatuh dari tubuh Lucy. Ia menyeka darah yang mengalir dari mulutnya. Kendric begitu panik dan sangat tida terkontrol.
"Lucy lepaskan, lepaskan belatinya! Aku masih bisa menyembuhkannya, masih belum terlambat---Lucy lepaskan!!" Kendric terus berusaha menarik, tapi semakin kuat juga Lucy menahan nya.
"Semua akan jadi sia-sia, ji--jika akhu. Masih..., masih hidup Kendric." Lucy berkata dengan sangat lemah di telinga Kendric.
"Aku tidak perduli!! Akan ku hancurkan segalanya---aku akan menghabisi semua mahluk hidup yang masih selamat di atas darah mu!" Kendric menunjukan sosok terlemahnya, meraung dan menangis seakan memohon agar Mate nya tetap bersama nya.
Lucy mengangkat tangan nya meraih dan menghapus air mata sang kekasih yang sangat tidak biasa ia lihat. Apa dia sungguh seorang Maharaja?
"Jika kau mati, tidak ada alasan untuk ku bertahan!" Kendric meraih tangan dingin kekasihnya, mencium serta menggenggam agar sosoknya tidak hilang. "Baiklah, kau ingin pergi--maka bawa aku bersama mu juga."
"Tidak boleh, Vasilias ku adalah Raja yang tangguh. Kau tidak boleh selemah ini, kau masih harus bertahan."
"Lucy----"
"Aku tidak suka keadaan Alabasta ini, Kendric. Aku ingin melihat musim semi, aku ingin melihat matahari lagi. Aku---uhuk! Aku masih ingin melihat Kota Leryvora, sebuah dunia yang..., yang kau sediakan untuk ku."
Octopus masih berusaha kuat melepaskan diri sebelum hukuman langit menghakiminya. Aiden, terus menahan nya. "Putri, kita akan kehabisan waktu."
Mendengar telepati dari Molie. Lucy kembali menggenggam kuat belati tersebut. "Aku harus segera menyelesaikan nya Kendric."
Kendric berusaha menghentikan nya tapi pergerakan Lucy terlalu cepat untuk ia cegah, sehingga belati tersebut menusuk jantung Lucy dengan sangat dalam.
__ADS_1
Darah Robin yang terus menetes di atas altar suci, terserap dengan sangat baik oleh ranting pohon Mapel. Sehingga secara cepat ranting itu tumbuh menjadi pohon besar dan tinggi, bahkan melebihi sosok Octopus sendiri.
Akar-akar pohon Mapel yang bergerak Keseluruh permukaan daratan menjadi bencana untuk Octopus. Langit serta awan yang menutupi datangnya cahaya mentari serta rembulan perlahan terbuka, dan menyinari Pohon Dunia dari balik bayangan nya.
Rantai yang mengekang kuat Octopus mengeluarkan aliran listrik kuat dan melumpuhkan sosoknya yang masih berdiri tegap di hadapan peraturan alam.
Pohon Dunia yang tumbuh melebihi angkasa hingga menembus Dimensi Apologize Dreamcatcher. Dapat terlihat dengan sangat jelas di ketiga dunia.
Tiap guguran daun Mapel nya yang seperti bintang jatuh memurnikan miasma dari bencana Alabasta secara merata. Para roh suci terbang membawa permata kehidupan dan menumbuhkan tanah tandus di berbagai alam.
Aiden mengoyak serta menghabisi Octopus dalam wujud Krhanos. Ia tidak alan sudi menyegel sosok Krhanos dan bertemu di masa mendatang lagi. Biarkan ini menjadi pengorbanan terakhir dari sosok robin.
Sehingga Aiden berubah menjadi rubah besar yang cukup untuk membunuh jiwa Krhanos. Karena Cahaya matahari yang masih tersisa di waktu senja menjadi hal terlemah untuk jantung kegelapan. Aiden menggigit tubuh Octopus hingga berhasil mendapatkan jantung Krhanos.
"ARGH!!"
Karena tidak ada lagi sihir kegelapan dari dalam diri Octopus. Ia pun menjadi kehilangan kekuasaannya dan merubahnya menjadi mahluk normal dengan wujud kurus kering seperti tengkorak hidup.
Sebelum Octopus merebutnya lagi, Aiden langsung menghancurkan jantung tersebut. Dan menghilangkan jejaknya seiring cahaya Matahari menyinari dunia kembali.
Lucy sudah pada batas kesadaran nya. Ia meminta maaf atas keputusan nya yang sudah melukai Mate nya lagi dan lagi. "Octopus masih me---memiliki kesadaran nya, kau harus membunuhnya agar ia tidak, berulah lagih ...,"
"Jangan banyak bicara Lucy. Kau akan semakin kehilangan mana hidup mu." Kendric yang berhasil mencabut belatinya, berusaha kuat menutup lukanya agar darahnya tidak terus keluar.
"Kendric lihat aku---"
"Shuut,, aku sedang mengobati mu. Diam dan bertahan lah." Kendric terlihat sangat kacau dan sudah tidak perduli pada pemurnian Alabasta ini.
"Kendric!" Lucy memaksa sang kekasih untuk menatapnya di sisa hidupnya. "Berjanjilah, kau tidak akhan... ugh! kau tidak akan bertindak bodoh dengan menyusul ku." Lucy berusaha sekuat mungkin mempertahankan kesadaran nya.
Kendric tidak menanggapi nya, ia hanya terus menggunakan kekuatan nya yang telah kembali untuk menyelamatkan Mate nya. Lucy menggenggam tangan Kendric, menyadarkan nya---bahwa semua sudah terlambat.
"---Aku mencintaimu Kendric."
Kalimat singkat di hembusan nafas terakhirnya menjadi tikaman yang sangat menyakitkan bagi Kendric. Lucy melepas genggamannya yang sudah terasa sangat lemah--bergerak jatuh dari tangan Kendric.
"Tidak, Lucy. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Kendric meraih tangan lemah itu, berharap kehangatan nya tidak akan hilang.
"Buka matamu, Lucy. Lihatlah, musim semi telah tiba---kau bilang mencintaiku, bukan? Lalu, kenapa kau sekarang pergi meninggalkan ku, Lucy!" Kendric menangisi kepergian belahan jiwanya yang terasa tidak adil untuk nya.
"Jika kelahiran ku adalah kesalahan untuk mu, tolong jangan ambil dia. Bukankah aku yang paling kau benci, maka hukum aku ambil nyawaku saja Yggdrasil!" Kendric menatap Pohon Dunia, meminta maaf atas sikap egoisnya di alam dengan mengabaikan wahyu nya.
"Kumohon jangan renggut dia dari ku-----ARGH!!!" Kendric memeluk erat tubuh sang kekasih yang tak lagi bernyawa. Berteriak sekeras-kerasnya. seakan ia meminta langit untuk mengembalikan satu-satunya bintang yang menjadi tujuan nya untuk pulang.
"Aku juga sangat mencintai mu Lucy ..., " bisik Kendric pada Lucy yang tidak akan pernah lagi membuka mata untuknya.
Alam kembali normal para roh suci berkumpul untuk menghantarkan doa kepergian untuk sang Robin. Sungguh sangat memilukan, di musim semi semi pertama tiba setelah panjangnya musim dingin ini, mereka harus kehilangan sosok paling pelita di dunia-----sang bintang fajar Ibu bagi para alam semesta.
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...