
"Aku baik-baik saja, Kendric." Lucy terlihat meyakinkan Kendric yang sudah delapan jam ini terus mengawasinya tanpa berniat beranjak pergi dari kamarnya.
Sejak Kendric membawa Lucy dan memerintahkan Sylvia datang dengan membawa Alkemis untuk memeriksa Lucy, dia sudah begitu kelewat panik. Apalagi saat Lucy sempat demam tinggi Alkemis itu saja sudah gemetaran memeriksa Lucy, takut jika Putri bulan ini tidak membaik justru malah tubuhnya yang akan berbaring---untuk selamanya.
Tapi syukurlah, demam yang Lucy alami tidak bertambah parah atau bertahan lama. Saat ini saja sudah bisa di katakan dirinya baik-baik saja, sepertinya Alkemis itu sudah sangat berjuang keras dalam menyelamatkan hidupnya dari amukan Kendric.
Meski sebenarnya tubuh Lucy masih terasa lemas dan rasa pusing di kepalanya masih bersinggah. Tapi akan lebih baik jika Lucy tutup mulut saja, bisa-bisa usaha Alkemis itu dalam bertahan hidup akan sia-sia. Jadi, anggaplah Lucy sudah membaik.
"Meski kau terlihat membaik tapi tetap saja kau masih butuh istirahat. Dan katakanlah, ada apa denganmu? Bagaimana bisa kau tiba-tiba saja tenggelam ke danau."
"Aku---hanya kurang fokus saja, jadinya keseimbangan sihir ku sedikit goyah." Lucy terlihat menjawab Kendric sembari mengalihkan pandangannya. "Intinya aku sudah baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Bukankah kau masih harus ke perbatasan untuk melihat situasi?"
"Bukankah semalam kau menolak agendaku hari ini."
"Aku bukannya menolak, hanya saja kau harus kembali dengan cepat karena aku bisa merindukan mu."
Lucy harus cari cara agar Kendric tidak mengawasinya, karena dia perlu pergi dari kamar ini. Dia perlu mencari informasi mengenai bencana Alabasta. Jika bertanya, Lucy ragu untuk mengatakannya, sepertinya Kendric tidak akan memberitahukannya atau malah dia memang tidak tahu apapun mengenai bencana ini?
"Aku curiga---kau seperti memiliki maksud lain."
Kenapa peka sekali sih!
"Apa menurutmu aku memiliki niat buruk kepadamu?" Lucy memasang mode memohon nya kepada Kendric, sebuah trik dimana ia akan menggunakannya untuk meminta sesuatu kepada Ayah nya. "Kendric, kau tidak perlu terlalu mengawasi ku. Kan ada Sylvia yang membantuku nanti."
Melihat tatapan manis itu membuatnya jadi terbebani, "baiklah, aku akan pergi. Tapi setelah kau tidur."
"Lagi?! Oh, Kendric aku sudah tidur delapan jam."
"Ini masih terlalu dini untukmu bangun," Kendric naik keatas ranjang sembari menarik selimut tebal guna menutupi tubuh Lucy.
"Aa! Aku tidak sedang ingin tidur. Kau tidak lihat bagaimana matahari begitu sangat terik, apa sekarang kau tidak bisa membedakan waktu dengan baik?" Lucy menyibakkan selimut yang membungkusnya.
"Kau masih perlu istirahat. Jangan memaksakan diri, aku tahu kau berpura-pura sehat agar menyelamatkan nyawa pak tua tadi bukan?"
"Memangnya kau mau apa, dengan Alkemis tadi?"
"Akan ku jadikan dia makanan untuk Cerberus. Sepertinya anjing berkepala tiga milik Hades sudah lama tidak makan dengan baik."
"Apa kau tidak merasa bersalah mengatakan hal kejam seperti itu? Lagipula siapa itu Hades?"
"Kau tidak perlu tahu, sekarang tidurlah."
"Ah! Kendric, aku----ini keterlaluan." Lucy mencoba berontak dari gulungan selimut yang mengekang pergeraannya, akibat ulah Kendric yang tetap memaksakan Lucy untuk istirahat lagi.
"Jika kau diam seperti ini, kau jadi semakin manis." Kendric menggoda Lucy yang terlihat marah dengan menunjukkan wajah cemberutnya---yang justru malah terlihat lucu bagi Kendric. "Baiklah, aku minta maaf. Tapi kau sungguh harus istirahat lagi, setelah itu kau boleh pergi beraktivitas seperti sebelumnya."
Kendric melepaskan ikatan selimut yang membungkus Lucy lalu mengelus kepala Lucy. "Yang harusnya beristirahat itu Kendric bukan diriku, kan Kendric yang sedang terluka parah."
"Sudah kubilang luka ini bukan masalah yang perlu kau khawatirkan lagi. Lihat, aku sudah sangat baik merenggangkan tubuhku."
Lucy terlihat kurang mempercayai hal itu, dia pun segera bangun---menyentuh perlahan luka di balik pakaian yang masih dapat ia rasakan bekas ukiran luka beberapa hari lalu. "Berapa lama kau akan pergi?"
"Aku masih belum bisa memastikannya, tapi jangan khawatir, akan segera ku selesaikan dengan cepat."
"Tanpa luka." Lucy menatap penuh harapan kepada Kendric. "Berjanjilah, kau akan segera kembali tanpa ada luka seperti waktu itu."
Kendric tersenyum, "aku janji."
Lucy tidak lagi menggubris Kendric, dengan mengalah ia pun kembali berbaring---menarik selimut sembari memunggungi Kendric untuk kembai beristirahat. Jujur saja, rasa pusing di kepalanya semakin terasa kuat, mungkin tidur sebentar juga bukan pilihan buruk. Dia hanya perlu menunggu sampai Kendric pergi.
Melihat pilihan Lucy, Kendric pun ikut berbaring di belakang Lucy sembari merangkul kekasihnya.
"Bukankah Kendric sudah harus bersiap pergi? Aku sudah cukup lama menahan mu di sini sejak semalam. Seperti katamu, setelah istirahat lagi aku akan benar-benar sehat. Jadi Kendric bisa pergi sekarang." Celetuk Lucy.
__ADS_1
"Setelah kau tertidur, aku akan langsung pergi. Jadi sebentar saja, biarkan aku tetap di sini."
Lucy membalikkan tubuhnya menghadap Kendric. Membiarkan putri Demon itu merasakan aroma menenagkan dari tubuh pria yang sangat ia cintai. Tak butuh waktu lama, Lucy pun langsung tertidur pulas di pelukan Kendric layaknya anak kecil yang kelelahan setelah bermain.
Dalam situasi damai sembari menatap wajah pulas Lucy. Kehadiran Robert dengan wujud serigala abu-abu sebagai pesan Soul Of Life-nya, Kendric pun membenahi posisinya sembari menarik selimut lebih hingga ke leher Lucy.
"Bagaimana dengan situasinya?"
"Jawab Baginda. Miasma yang tersebar ke seluruh dunia, telah menjadi buruk. Terlebih Darkness World dan bumi menjadi incaran utama Octopus. Dan untuk wilayah Imorrtal sendiri---masih terbilang cukup aman karena anda masih melindungi Leryvora."
"Apa kristalnya sudah di tanam dengan sangat baik di Darkness World?"
"Sejauh ini, telah berhasil terpasang 130 kristal dan 285 nya telah di gagalkan oleh King Harlie. Itu karena Raja yang menguasai lautan Neptuna telah melakukan pemberontakan, dan juga masih dalam penyelidikan saya---bahwa sepertinya ia mendapatkan dukungan dari Octopus."
"Harlie, dan Octopus bekerjasama? Dua hama yang pantas untuk di habisi. Sepertinya terlalu ringan aku menyapanya. Robert, cari tahu bagaimana caranya mereka berkomunikasi dan apa yang membuat Ikan itu berani bertindak seberani itu terhadap bangsa Demon."
"Akan segera saya selidiki."
Kendric terlihat khawatir setelah mendengar kabar tersebut. Ia takut Putri bulannya tidak akan bertahan lama berada di sisinya----khawatir jika Harlie merebutnya kembali dan takut bila Octopus membuat Matenya mati untuk mengorbankan dirinya sebagai Robin.
"Kumohon mengertilah---kau hanya perlu percaya dan menunggu sebentar saja. Aku akan segera menyelesaikan semua maslaah ini."
...---, ๐ ,---...
Lucy terlihat tengah menjambak rambutnya sendiri, kesal dengan rencananya yang tidak berjalan mulus sesuai keinginannya. Padahal niatnya dia hanya ingin tidur sebentar atau tidur pura-pura sampai Kendric pergi tapi dia malah tertidur pulas. Mana sampai malam pula, kira-kira sudah berapa lama dia tertidur?
Rasanya hidupnya hanya di habiskan untuk tidur saja. Tidak tau ah! Lucy segera beranjak turun dari ranjang tidur, jika melihat situasi kamarnya yang sepi bukankah itu berarti Kendric sudah pergi menuju perbatasan.
"Kalau begitu aku bisa bebas sampai Kendric kembali." Lucy meraih selendangnya dan berjalan ke pintu.
Dengan hati-hati Lucy membuka pintu kamarnya agar tidak menimbulkan decitan dari engselnya. Saat pintu terbuka sedikit, Lucy mengintip dengan memunculkan kepalanya sedikit dari balik pintu, berharap tidak akan ada pelayan atau penjaga yang Kendric tugaskan untuk menjagaya.
"Sepertinya aman."
"Molie, kecilkan sedikit suaramu. Dan----dari mana saja kau?"
"Lagipula tidak akan ada yang bisa mendengar ku berbicara selain orang-orang yang ku hendaki." Molie terlihat mencurigai Lucy. "Dari pada menanyaiku, anda terlihat sedang merencanakan sesuatu Putri."
"Aku ingin pergi ke perpustakaan."
"Tuan Putriku, anda tidak perlu giat belajar hingga ke dunia Imorrtal. Nona Ariel tidak sedang memberikanmu tugas, atau malah justru tidak akan ada lagi."
"Ih, kali ini bukan soal pelajaran filsafat. Aku sedang mencari buku mengenai bencana alam."
"Bencana alam? Apa anda berniat menjadi ilmuan yang memprediksi cuaca?"
"Molie aku sedang tidak bercanda. Sekarang menyingkir lah dari hadapanku, jika kau ingin ikut pastikan kau tidak membuat suara."
Lucy terlihat menghendap-hendap seperti pencuri berharap pergerakannya tidak diketahui oleh pelayan, yang malah justru akan membuatnya terjebak di kamar lagi. Lucy mengintip dari balik pilar bangunan istana, melihat lurus kearah tangga menuju lantai atas.
"Apa menurutmu ini jalan menuju perpustakaan, Molie?"
"Saya belum pernah mendatangi perpustakaan di istana ini, Putri."
Lucy terlihat pasrah mendengar jawaban Molie, apa sebaiknya ia mencari pelayan dan bertanya? Tapi nanti Sylvia bisa tahu.
"Terserah lah, kalau tersesat ya tinggal bertanya saja nanti." Lucy berjalan menaiki tangga dengan setengah berlari.
"Putri, arah perpustakaan istana bukan ke atas."
Lucy diam mematung begitu juga dengan Molie, saat suara familiar ini menusuk pendengarannya. Rasanya ia terlalu cepat di ketahui oleh pelayannya. Perlahan berbalik sembari tersenyum melihat Sylvia sudah berdiri dengan sangat baik di bawah sembari melihatnya tanpa ada sapaan senyuman.
"Em, aku sedang mencari angin segar saja. Tidak bermaksud pergi ke perpustakaan kok, aku----"
__ADS_1
"Tuan Putri, tidak ada tempat yang bisa melarang mu untuk datang di istana ini. Jika anda begitu ingin ke perpustakaan, saya akan memandu."
"Kau tidak memaksa ku untuk kembali ke kamar? "
"Bukankah, baginda bilang setelah anda beristirahat Putri boleh kemanapun."
"Oh----aku lupa, Kendric memang berkata seperti itu." Jadi sejak awal aksi diam-diam ini sudah gagal akibat kecerobohan Lucy yang kurang pandai mengingat sesuatu.
"Putri, anda seharusnya memanggil Sylvia lebih awal sejak tadi
"Diamlah." Lucy merasa malu pada sahabatnya. "Kalau begitu bisa bantu aku menunjukkan arah perpustakaan? Aku perlu--perlu meneliti mengenai cuaca alam, maksudku aku ingin tahu berapa lama musim dingin di Imorrtal akan berakhir."
Sylvia tersenyum, "kalau begitu mari lewat sini Putri."
.
.
.
Lucy benar-benar terlihat takjub dengan sisi ruangan perpustakaan. Ini sangat memukau, maksudnya Lucy tidak menyangka bahwa tampilan dalam serta luar perpustakaan begitu berbeda. Jika di luar istana hari masih malam, justru di dalam perpustakaan tidak akan pernah mengalami malam---meski kita melihat keluar jendela sekali pun.
"Ruangan perpustakaan di buat menggunalan sihir dimensi berbeda Putri, karena banyak Maidery ataupun pengurus istana keluar masuk perpustakaan setiap saat. Baginda menciptakan ruangan ini tidak akan pernah kekurangan cahaya sedikitpun."
Lucy masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, bahkan sesekali dia berjalan keluar ruangan dan masuk kedalam lagi, hanya untuk memastikan ini bukan khayalan saja.
"Dan untuk buku yang ingin anda ketahui berada di sisi barat sebelah saya Putri."
Sylvia membukakan pintu di sebelahnya, karena agar lebih mempermudah mencari sub materi dan bidang buku--mereka memisahkan buku di ruangan yang berbeda-beda. Hanya buku pengetahuan umum yang berada di luar atau ruang tengah pustakawan.
"Bukunya sebanyak ini?"
Sylvia mengangguk, "ada lebih sepuluh ribu buku serta jurnal berisikan penelitian mengenai alam. Termasuk, pengetahuan alam Darkness World dan Bumi. Semua tersedia di perpustakaan ini."
Jika sebanyak ini, aku harus mulai darimana untuk menemukan buku mengenai bencana Alabasta.
"Jika saya boleh tahu, anda ingin mencari buku yang seperti apa? Mungkin saya bisa membantu anda untuk menemukan materi yang berkaitan."
Lucy menimbang kembali. Sebenarnya tidak ada salahnya jika Sylvia tahu, lagipula yang sangat paham di perpustakaan ini adalah dia.
"Em, aku sedang mencari buku yang berhubungan dengan sebuah bencana---atau mungkin bisa di bilang seperti kutukan alam." Lucy berjalan melewati Sylvia sembari melihat-lihat rak buku yang tersusun rapih.
"Bencana?"
"Benar, aku sedang mencari tahu tentang Alabasta." Jawab Lucy dengan tenang.
"Bencana Alabasta?!"
Kini untuk pertama kalinya Sylvia menunjukkan wajah terkejut, karena setahunya tidak akan ada kemungkinan Tuan Putri Lucy ini tahu mengenai hal itu jika dia tidak berhubungan langsung mengenai kabar yang sedang di alami seluruh dunia. Dan Sylvia yakin, ia sudah mencegah agar Lucy tidak mengetahuinya.
"Ini terlalu besar untuk di jelajahi sendiri." gerutu Lucy sembari menyilang kan kedua tangannya.
Molie yang sejak tadi hanya menjadi penonton, kini mulai mendekati Lucy---mengabaikan Sylvia yang masih terbungkam.
"Anda memang harus mengetahuinya, Putri. Saya akan ikut membantu jika itu masalah yang serius."
"Sungguh? Molie ku memang yang paling pengertian. Kalau begitu, kau coba lihat di sebelah sana. Aku akan mulai melihat di lantai dua."
Lucy bergegas menaiki tangga menuju lantai dua. Sebelum Molie pergi ke tempat yang di suruh, ia sempat melirik kearah Sylvia yang terlihat kegelisahan---bingung bagaimana dia akan melaporkan masalah ini kepada Maharaja. Kerena sudah di pastikan beliau akan marah besar, sebuah rahasia yang harus di jaga justru malah tersampaikan dengan sendirinya kepada Lucy.
...Seakan rubah putih ini mengetahui segala hal yang akan terjadi! ...
__ADS_1
...---, -๐- ,---...