
...---...
...Jika suatu hari aku melihat musim semi, akankah kau tetap menjadi sosok yang sama berdiri di sampingku?...
......๐......
Dalam ketermenungan kasih dan rangkulan bulan. Lucy menatap keindahan wilayah Lucifer Kingdom dari atas balkon kamarnya. Semua yang terjadi pada hari ini begitu menjadi bumerang untuknya.
Seakan ia mulai memahami semua penderitaan yang terjadi padanya, Lucy tak henti-hentinya mempertanyakan dirinya sendiri. Lantas haruskah dia membenci sosoknya sebagai Vasellica? Atau sosoknya sebagai Robin?
Lucy hanya takut, keberadaan Kendric dan semua perasaan ini hanya kenyamanan sesaat. Mungkin hari ini ia melihat musim dingin bersamanya, berjuang melewati tiap badai saljunya.
Tapi, akankah ia tetap bisa bersama dengan Kendric saat musim semi tiba? Pada akhirnya menara Castle ini tetap mengurung putri tak berdaya sepertinya. Menawannya agar tak menyentuh sekecil cahaya di tengah kegelapan.
Angin malam kembali menemani hari sunyi sang bintang, seakan menjadi jeruji besi dikala kegundahannya bersingga. Lucy yang duduk di atas batas pagar balkon, merangkul lututnya sembari menatap rembulan. Membiarkan salju menghujaninya dengan sangat lembut.
"Sepertinya kau suka membuatku tersiksa, ya?" Sebuah mantel hangat berhasil memeluk tubuh mungil Lucy. Ia menoleh, melihat Kendric berdiri di belakangnya tengah menatap rembulan.
"Lagi-lagi kau tidak memakai selendang mu. Bagaimana jika kau demam?"
Entah mengapa, meski Kendric terlihat pria yang acuh tapi terkadang ia melihat sikapnya ini sedikit kekanak-kanakan. Lucy yang tersenyum segera menarik mantel hangat milik Kendric, lalu memakaikannya kembali ke pundak sang kekasih.
Ia peluk erat tubuh gagah pria yang saat ini berstatus sebagai mate-nya. Dalam pelukan hangat itu, Lucy menumpahruahkan segala pikirannya sejak pagi tadi. Sedangkan Kendric merasa ini sebuah perlakuan yang mengejutkan untuknya, habisnya selama ini belum pernah ia lihat Lucy mau berinisiatif terlebih dahulu dalam bermanja atau bergantung kepadanya.
"Tadinya aku sangat kesal, karena kau tidak langsung menemui ku setelah pergi dengan Ibumu. Tidak tahukah kau bahwa Ayah dan Kakak mu itu terus menyiksa ku?"
Dalam dekapan Kendric, Lucy tertawa kecil rasanya ada yang aneh dengan ucapan Kendric. "Kau yang tersiksa, atau kau yang menyiksa mereka?"
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Hm, seluruh pelayan membicarakan mu. Mereka bilang, Ayah dan Kakak langsung di buat sibuk mengurus sesuatu bahkan terlihat jelas bahwa mereka tengah kesal, tepat setelah bertemu denganmu."
"Jangan khawatir, mereka suka dengan sambutan ku."
"Tahu begitu, tadi aku tidak perlu mengkhawatirkan mu. Aku kira kau benar-benar akan di benci Ayah dan Kakak, apalagi kalau sampai mereka---menentang hubungan ini."
Lucy mengecilkan suaranya saat di akhir kalimat, karena ia yakin kedua pria Demon itu pasti sangat bertentangan sama seperti hubungannya dengan Harlie yang begitu kabur. Kendric menatap sang kekasih, ia mencengkram setengah kuat kedua lengan Lucy.
"Jangan terus-terusan berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak pernah berniat melepas mu lagi, dan meski Ayahmu masih tidak menerimaku sebagai pasanganmu. Bersiaplah, aku mungkin akan benar-benar menculik mu dan membawamu pergi hingga mereka tidak bisa merebut mu dariku!"
Kalimat sederhana itu membuat Lucy tenang tapi juga menakutinya. Karena ia sudah tahu takdir lain dirinya sebagai Vasilissa ataupun Vasellica---adalah dapat di terima di hati para Raja. Akankah Kendric tetap menjadi pria terakhir yang ia cintai tanpa harus melihatnya berubah membencinya?
Dalam wajah penuh kebimbangan, hal ini membuat Kendric sangat khawatir. Apa mungkin Putri Selini itu mengatakan sesuatu tentang dirinya dan status keturunan bulan?
"Lucy ada apa?"
"Kendric, aku tidak tahu kalau ini menjadi masalah yang serius."
"Katakan padaku, apa saja yang kalian bicarakan? Apa Ibumu mengatakan hal yang buruk?"
"Tidak, hanya saja--Aku menyadari sesuatu hal mengenai takdirku dan Mate ku. Ibu bilang, Aku adalah keturunan Selini Thea. Dan ..., dan bisa saja bahwa aku memiliki pasangan pria selain dirimu. Maksudku--kau mungkin bukan mate yang---"
"Shut ...." Kendric menenangkan Lucy dalam pelukannya. "Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku adalah Mate mu yang sebenarnya? Aku sudah tahu jati dirimu sebagai Vasilissa, tapi aku tetap ingin menjadikanmu sebagai milikku satu-satunya. Tidak perduli seberapa banyak pria yang menginginkan dirimu, aku tetap akan menjagamu hingga kau hanya melihat diriku seorang."
Lucy menatap dalam kedua mata merah milik Kendric. Ada begitu banyak keseriusan serta keyakinan, bahwa kekasihnya tidak akan pernah menarik kata-katanya.
__ADS_1
"Kau hanya perlu mempercayai semua yang aku lakukan untukmu. Kau hanya perlu menempatkan namaku di hatimu, jangan pernah sisihkan ruang walau hanya 1% untuk pria lain Lucy."
Lucy meraih tangan Kendric dan meletakkannya di pipi mulusnya yang begitu dingin. "Aku akan selalu mempercayai semua yang kau lakukan, karena aku hanya akan mencintaimu, Pangeran ku."
"Terimakasih," Mereka saling menyatukan kening mereka, lalu tersenyum sebagai bukti bahwa keduanya telah memutuskan untuk tetap bersama tak perduli apapun yang akan terjadi nanti.
"Oya, jika ibumu menceritakan kau keturunan Vasilissa dan Selini Thea. Apa mungkin, mungkin ...."
"Mungkin?"
Kendric terlihat gugup untuk mengatakannya, ia takut salah bicara. Kalau saja dia menanyakan bahwa Lucy adalah keturunan Dewa, apa mungkin dia akan marah? Tapi bagaimana jika dia belum di beritahu?
"Kendric ada apa?"
"Aku hanya ingin tanya mengenai Selini Thea, apa yang ibumu ceritakan tentangnya?"
Lucy mengambil duduk di dekat balkon kamar, sembari memainkan kelopak bunga dari vas yang ada di atas meja. "Ibu hanya bilang, bahwa beliau adalah Nenek ku. Tapi aku masih belum tahu sosoknya, karena aku terlalu terpaku dengan takdir Vasilissa jadi tidak sempat menanyakannya."
"Ibumu tidak bilang kalau dia adalah seorang Dew---" Kendric mengutuk ucapannya yang hampir mengucapkan kata terlarang untuk hubungannya. "Bukan apa-apa."
"Kau terlihat gelisah, apa kau mengetahui sesuatu tentang Nenek ku? Kendric, kau tahu bahwa aku keturunan Vasilissa pasti kau tahu tentang Nenek ku, kan?"
Kendric melirik gelisah, dia harus segera merubah topik ini. "Aku hanya tahu beliau wanita yang berwibawa. mengenai sosoknya aku ..., aku masih belum tahu."
Lucy menghela nafas, "Aku ingin tahu beliau orang yang seperti apa. Dimana dia saat ini? Apa dia sangat menyayangiku dan Kakak?"
"Tentu saja, sejak dulu dia ingin bertemu dengan kalian. Dia yang paling menyayangimu, Lucy." Kendric berjalan mendekati sang kekasih, duduk berlutut menatap Lucy yang berada lebih tinggi darinya. "Nenek mu, melakukan banyak hal untuk menciptakan kehidupan damai bagi keturunannya."
"Lalu dimana dia saat ini? Kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?" raut penuh ke khawatiran serta rindu terlukis jelas pada wajahnya. Kendric mengalihkan pandangan matanya, "itu adalah hal yang tak bisa aku katakan."
"Kau benar, harusnya aku bertanya pada ibu."
"Kau kenapa?"
"Kendric, sebaiknya kau kembali ke kediaman mu yang ada di Villa Western. Itu adalah kediaman tamu. Kakak sudah menyiapkannya untukmu."
"Aku tidak suka tempat itu."
"Kenapa?"
"Bukan seleraku. Lagipula akan lebih bagus jika aku tinggal di kediaman mu."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Saat ini ada banyak pengawal Asassin milik Kakak yang mengawasi ku. Jika Kakak tahu kau menyelinap ke kamarku, tidakkah ini buruk untukmu? Bagaimana jika dia semakin berselisih denganmu?"
"Jangan khawatir, kedelapan pengawal Asassin Kakakmu sudah tidak lagi melihat langit malam."
"Ka-kau membunuh mereka?!!"
"Tidak, aku hanya membuat mereka tertidur untuk lima jam ke depan. Jangan khawatir, meski mereka sadar mereka juga tidak akan bisa melihat kejadian maupun memasuki Castle Estelle mu ini."
"Apa yang kau lakukan?"
Kendric tersenyum, "Tidak ada, hanya memasang sihir pelindung saja. Lagipula kau itu mate ku, semua hal mengenai keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Jadi akan lebih baik menghilangkan mereka, aku akan bicara dengan kakakmu untuk tidak perlu repot mengawasi adiknya yang sudah memiliki mate yang dapat menjagamu."
__ADS_1
Lucy terlihat senang, selama ini dia hidup dengan penuh pengawasan sehingga terkadang dia harus bermain drama bahwa dia melewati hari-harinya dengan kebahagiaan, agar bisa menipu mata para Assasin yang mengawasinya. Sehingga Kakak dan Ayahnya tidak begitu curiga.
Meski begitu, harus ia akui bahwa Kakaknya sulit untuk di bohongi. Tapi untunglah semenjak ada Aletha, ia bisa melewati kalimat interogasi yang selalu kakaknya tunjukan kepadanya dulu.
Lucy berjalan kemudian berhenti tepat di depan pintu masuk balkon menuju ruang kamarnya. Dia berbalik, menatap Kendric yang hanya berdiri menatapnya dengan ke heranan.
"Kamarku begitu kecil dan tak seluas yang ada di Apollo. Kuharap kau mengerti, jadi sebaiknya kau gunakan kamar lain saja." Tanpa memberi kesempatan Kendric untuk berbicara, buru-buru Lucy menutup pintu itu membuat Kendric diam terbungkam di luar.
Kendric punya banyak cara mudah untuk tetap bisa memasuki kamar itu. Tapi untuk saat ini akan ia urungkan dulu niatnya, karena dia masih harus menemui seseorang dulu.
"Lucy jika kau butuh seseorang untuk menghangatkan mu, aku ada di sebelah ruang kamarmu."
"Sebaiknya kau istirahat saja. Aku tidak butuh dirimu untuk menemaniku tidur." Teriak Lucy dari dalam kamar. Kendric tertawa mendengar cicitan merdu dari kekasihnya, ia berani jamin saat ini kelinci menggemaskannya sedang bersembunyi dibawah selimut dengan wajah memerahnya.
Dalam sekali langkah, Kendric berpindah tempat ke ruangan yang berada di sebelah kamar Lucy. Dia melepas jass bangsawan nya sembari mengusap rambut emasnya, menatap dengan tajam sosoknya pada cermin di ujung ruangan.
Wajah penuh keangkuhan bersinggah, seakan sikap dinginnya sebagai Maharaja tak akan pernah Lucy ketahui. Sembari meraih segelas ramping (wine) ia bersandar dengan sangat menawan di bingkai jendela yang tak berlapis kaca.
Sehingga rambut duplikat dari warna mentari itu, bergerak mulus diterpa angin malam. Dari arah kegelapan pada gorden ungu yang tak sedikitpun terkena sinar rembulan, sesosok bayangan pria hadir menghampiri Kendric.
Robert berlutut dengan jubah hitam yang menutupi wajahnya, beberapa noda darah terlihat sangat mencolok pada penampilannya.
"Yang Mulia, sepertinya kita perlu mengurangi pelayan pada kediaman Apollo."
"Apa gurita itu mengirim pasukan Titania nya untuk memasuki Castle terlarang?"
"Bukan, para Tetua tidak akan bisa menembus batas pelindung yang anda buat. Tapi kemungkinan besar, para Maidery dan penjaga istana telah terkena sihir gelap seper---"
"Seperti Sprigan yang menyerang Lucy di hutan Manusia?"
"Benar, sepertinya buku Carzie ada pada Octopus. Sehingga dia melakukan reset secara bertahap hingga gerhana Alabasta tiba."
Kendric meneguk habis wine di tangannya, lalu membingkai bulan dengan gelas ramping ber-transparan. Terlihat bulan itu memantulkan warna merah akibat sisa wine yang tertinggal pada gelasnya.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Dari banyaknya pion yang terus tersisihkan pada papan catur. Pada akhirnya hanya pion Raja lah yang masih berdiri sendiri di akhir permainan, dia tidak bisa lagi menggerakkan pion lain karena ini adalah putaran permainan terakhir tanpa ada yang berkorban lagi.
"Ah, Baginda. Saya pergi ke wilayah Neptuna seperti yang anda perintahkan untuk menyingkirkan beberapa bawahan mereka yang mengusik anda, tapi ada sesuatu hal yang membuat saya tertarik...."
"Benarkah? Kalau begitu apa kau menemukan pemandangan bagus di sana?"
"Sepertinya ..., penguasa Neptuna sedang dalam kondisi buruk bahkan sangat menyedihkan."
Kendric tersenyum penuh kepuasan, "Aku ingin melihatnya tersiksa lebih buruk lagi, sebanyak air mata yang Lucy jatuhkan untuknya! Apa aku perlu memotong tangannya atau kakinya yang lain juga?"
"Yang Mulia, mungkinkah kondisinya saat ini karena---" Robert menahan nafasnya saat mata merah bak permata buah delima itu menatap tajam kearahnya. Menuntut dirinya untuk tidak bertanya hal yang sudah pasti itu (?)
"Pergi, aku akan tinggal disini sampai Festival Asteri tiba."
"Baik Yang Mulia."
Robert menghilang meninggalkan kesunyian pada ruang tak bercahaya lilin itu. Namun kesunyian itu membawa dampak berbeda kepada Kendric yang merasakan tamu tak diundang datang kepadanya.
"Mendengar pembicaraan orang lain secara diam-diam, bukanlah sikap pemimpin yang baik---" Kendric melirik dingin seorang pria bermata merah yang perlahan menunjukan wujudnya. "---Paduka Lord!"
Welliam tersenyum sarkastik dengan sambutan Kendric yang telah lama menyadari keberadaannya. Sepertinya malam ini akan ada pembicaraan rahasia di antara kedua penguasa berbeda alam ini.
__ADS_1
...---."๐".---...