
Di tengah kesunyian kegelapan yang melahap dataran terbuang di dunia Imorrtal, muncul sebuah ledakan besar dari dalam gunung merapi sehingga melubangi bebatuan kokoh di lereng nya. Kendric berpijak pada udara dan melayang dengan sempurna menatap sosok mahluk bengis yang telah berapa abad ini menodai dunia suci nya.
Ia melirik melihat bagaimana Robert menghadapi sendiri pasukan bantuan dari pihak musuh. Dengan berpikir ini akan menyulitkan rekan nya, Kendric mengerahkan segala kekuatan nya yang di sebut sebagai maha Dewa kepada musuh (Titania).
Gejolak petir yang berguncang di langit kegelapan menghantam tanah, sihir yang terlihat biasa saja, namun memiliki tingkat kekuatan di atas level max. Kendric menunjukan siapa matahari yang seharusnya mereka junjung.
Tanah berguncang memunculkan pasukan golem---mahluk sihir yang tercipta dari bebatuan keras membentuk pasukan tentara yang tiada habisnya.
Pasukan golem yang memiliki lambang matahari pada tubuh mereka berlari menyerang pasukan tengkorak dan juga Titania yang mencoba menghalau jalan nya pertarungan ini. Tidak lupa beberapa Asassin atau pasukan bayangan milik Kendric turun dan hadir setelah di beri sinyal oleh nya.
Kini tanah terlupakan atau lembah kematian yang selalu sunyi menjadi ricuh akibat pertarungan perebutan kekuasaan. Octopus menyeringai melihat betapa besarnya kekuatan Dewa di hadapan nya. Tapi haruskah dia mundur? tidak, itu adalah pilihan konyol padahal dia sudah sejauh ini dan hanya tinggal selangkah lagi, maka semua akan berakhir di bawah kendalinya.
"Bangsa matahari memang darah dewa yang paling murni, aku harus segera mendapatkan nya, kemudian---" Octopus melirik Tuan nya yang hanya asik menonton pertarungan ini. "---Menghabisi nya."
Kendric dan Octopus saling bertatap dan dalam waktu singkat mereka saling ber hantaman, menguji, siapa yang paling kuat di antara mahluk terkuat di ketiga alam ini. Di tengah saling mempertahankan dan menyerang, Octopus melihat pedang sang kaisar Dewa yang terlihat berbeda dengan pedang yang pernah di miliki Apolleon---sebagai bukti mahkota raja.
Dan semua berita yang datang kepadanya beberapa saat yang lalu meyakinkan dirinya bahwa hal yang mengganjal selama ini adalah bentuk kerja sama antara ketiga dewa sebagai pilar Imorrtal.
"Pedang Langit ini tidak lah sempurna, Baginda."
"................." Kendric diam menatap dingin kearah Octopus.
"Aku paham sekarang." Octopus menggunakan sihir gelapnya untuk memunculkan para roh suci yang telah termakan sihir kutukan untuk menyerang Kendric.
Hasilnya Kendric pun harus bergerak mundur dan menghabisi roh suci tersebut sebelum kembali fokus terhadap targetnya.
"Pedang kaisar langit selalu memiliki lambang bunga Lily sebagai bentuk keabadian dan juga sebagai lambang stempel kerajaan."
"Benar, pedang tidak sempurna itu tidak bisa mendekritkan dirimu sebagai Kaisar."
"Jadi, apa kau berpikir ini palsu?"
Octopus memperhatikan pedang di tangan Kendric. "----Tidak, itu memang pedang langit. Hanya saja ia kehilangan separuh dari eksistensi nya sebagai keabadian. Kalau begitu, ada di mana separuh pedang nya? Mungkinkah----"
Melihat tampang Octopus yang penuh rasa ingin tahu, Kendric pun dapat membaca pikiran nya yang sangat mudah di tebak. "Kau penasaran, Octopus?"
"Biar ku tebak. Menurut laporan Tahlia dulu---Katastrofi pernah mati oleh senjata artefak Dewa yang terlihat mirip dengan lambang keabadian dan kejayaan kerajaan langit. Apa anda mencoba membagi kekuasaan dengan bangsa Darkness World?"
"Benar, jika lambang mataharinya ada padaku maka lambang bunga Lily nya berada di tangan bangsa demon---aku tidak perlu memberitahukan pada siapa separuh pedang ini berada."
"Sudah kuduga. Kau, Aletha, dan juga Seleni Thea adalah hama yang selama ini menjadi faktor kejanggalan dalam rencana ku." Octopus kian menatap benci pada sosok di hadapan nya.
"Harusnya, waktu itu, aku lebih memastikan dengan tatapan Apolleon sebelum kematian nya. Aku yakin pergerakan nya yang terlihat terburu-buru pasti ingin menyelamatkan sesuatu---tidak ku sangka kedua dewa yang saling bertentangan bisa sampai memiliki keturunan yang hampir sempurna."
".................."
"Jadi kau juga berniat membalaskan kematian kedua orangtuamu?"
"Aku akan membakar habis dan memenggal kepalamu----seperti yang kau lakukan kepada mereka."
__ADS_1
"Itu akan sia-sia. Tekad mu akan ku kubur seperti semangat juang Aratemish. Anjing setia Apolleon!!"
Octopus tertawa dengan sangat puas seakan sosok itu menjadi sangat gila. Melihat lawan nya menatap dengan penuh amarah dendam. Karena melihat pemandangan ini adalah bentuk kenikmatan yang selalu ia puja---bahwa lawan nya pernah menderita lebih buruk daripada seorang budak karena rencana sempurna nya.
"Mari lihat siapa yang terpenggal nanti---Aku atau Mate mu."
Kendric mengeraskan rahangnya saat ia mendengar, bahwa ada rencana tersirat di balik kata-katanya---bahwa mereka pun masih akan tetap menargetkan Lucy untuk di bunuh!
"Tidak akan kubiarkan dia mati di tangan mu, Octopus!"
...---. o🍁o .---...
Di sisi lain.
Penjara bawah tanah, Lucifer Kingdom
Molie menggeram seperti rubah liar kepada penjaga yang bertugas menjaganya. Jika saja tidak ada jeruji besi yang membatasi mereka. Sudah pasti, ia akan mengoyak dan merobek tubuh mereka. Sayangnya rantai besi di lehernya adalah pengekang sihir, sehingga ia tidak dapat memberontak lebih dari ini.
"Ini benar-benar parah. Setelah sekian lama, aku melihat kembali sosok mengerikan dari Lord Agung Fedrick."
"Benar. rasanya seluruh tubuhku merinding bahkan sampai saat ini masih bisa kurasakan."
"Orang-orang kuat memang mengerikan. Tapi apa kau tahu kenapa hewan peliharaan Putri harus di kurung?"
"Kau belum tahu rumor nya? Aku dengar dari pelayan hewan ini mencoba membunuh majikan nya dan juga beberapa upeti pernikahan?"
"Ha? apa hubungan nya."
"Kau ini suka sekali mendekati para pelayan. Jika Tetua Alberd tahu kau sering meninggalkan pos, kau bisa berganti alam."
"Ih, aku kan hanya sebentar."
GERR!! Molie kembali menggerang.
"Tapi di lihat Rubah ini memang mengerikan juga." Penjaga itu menghela napas. "Memang ya, mau bagaimana pun jika lahir di alam liar dia akan tetap liar. Eh, tapi kan Rubah ini pemberian Tetua Alberd, harusnya dia hewan yang aman kan?"
"Oya, benar juga---" mereka saling menatap bingung, lalu secara bersamaan mengangkat kedua bahu atas rumitnya permasalahan keluarga kerajaan.
Saat kedua penjaga itu saling mengobrol, dari arah lorong barat terlihat sosok yang mengenakan jubah hitam tengah berjalan menghampiri mereka. Melihat hal aneh tersebut lantas kedua penjaga itu menghentikan nya.
"Bisa kami tahu siapa anda?"
"....................." tanpa merespon sosok itu hanya menoleh melihat Molie yang terkurung di dalam sel tahanan.
"Permisi, jika anda memiliki urusan dengan rubah ini. Kami memerlukan identitas anda untuk di laporkan kepada yang mulia."
"..........." Tetap saja sosok itu hanya diam.
Salah satu penjaga tersebut terlihat heran. Bukankah di depan gerbang terdapat Tetua Alberd yang berjaga. Jika dia bisa melewatinya bukankah berarti dia sudah mendapatkan izin? Seakan memahami sesuatu, penjaga tersebut meraih rekan nya.
__ADS_1
"Hei----"
"Sepertinya tidak masalah, bukankah dia sudah mendapatkan izin untuk memasuki penjara bawah tanah? Mungkin saja dia Asassin nya Lord Welliam."
Mereka saling bertatapan, kemudian mengangguk paham. "Baiklah, kau bisa lewat."
Sosok itu menggerakan tangan nya seakan meminta kunci penjara. "Kau tidak bisa, karena hanya Lord Agung yang bisa membukanya."
"-----Kalau begitu kalian bisa pergi, biar aku yang menjaga nya."
Wanita? itulah yang tertanam dalam pikiran mereka saat mendengar suaranya. "Kami tidak bisa, Lord Agu---" ucapan kesatria tersebut harus terhenti saat sosok berjubah itu menunjukan lencana mendali sebagai tanda persetujuan milik Lord Agung.
"Kami meminta maaf atas sikap kami. Kalau begitu, kami undur diri dulu."
Tanpa rasa curiga kedua penjaga tersebut meninggalkan pos jaga mereka dan berjalan menuju pintu keluar. Akan tetapi baru saja ingin menaiki anak tangga menuju lantai utama, salah satu penjaga tersebut terdiam di tempat. Seakan terdapat perasaan janggal dengan sosoknya. Bukan kah Asassin Lord Welliam tidak ada yang perempuan di pasukan nya?"
"Sebentar," Ia menarik rekan nya.
"Ada apa?"
"Kau yakin?"
"Apanya?"
"Ini tidak benar, pasti dia penyusup."
"Siapa yang kau maksud?"
"Apa kau lupa, kalau Assasin Lord Welliam tidak pernah ada yang berstatus wanita?"
Mereka saling berpandangan kembali, selayaknya orang bodoh atas tindakan mereka. "Kau kembali kesana, aku ingin mengecek sesuatu di atas."
Dengan sigap kesatria itu berlari menggunakan kekuatan sihir menuju gerbang utama sebagai pintu masuk. Dan benar saja seluruh kesatria penjaga yang berada di area tersebut termasuk Tetua Alberd tidak sadarkan diri. Sepertinya dia sosok yang kuat, melihat bagaimana seorang Tetua bisa tumbang begitu saja.
"Segera tangkap penyusup itu!!" Kestaria tersebut menggunakan sihir bersekala besar sebagai tanda alarm ke seluruh penjuru istana.
Mendengar sinyal sihir itu, rekan nya langsung berlari semakin cepat menuju sosok tersebut dan memanggil para penjaga yang tersebar di dalam ruang bawah tanah untuk keamanan para tahanan.
Sosok misterius itu melihat rombongan pasukan yang berlari kearahnya, ia mengangkat tangannya lalu seluruh pasukan tersebut terhempas mundur hingga menghantam dinding. Sehingga menghambat pergerakan mereka.
Sihir yang menjaga kuat pada bagian Pintu jeruji di hadapan nya hancur, tapi resiko membuka paksa sihir tersebut adalah mengaktifkan sirine tanda bahaya kepada Fedrick. Dia harus cepat.
"Gerrrr." Molie menggerang saat sosok itu mendekatinya. Tidak mungkin ada sekutu di tempat ini, atau jangan-jangan dia adalah suruhan Kendric untuk menghabisinya? Mungkinkah itu Sylvia?
"Shuuut, tenanglah." Sosok itu membuka tudung kepalanya dan seketika Molie menjadi diam saat melihat surai rambut putihnya yang begitu menawan membingkai wajah yang sangat familiar untuk nya.
"Tidak mungkin---kenapa anda ada di sini?"
Sosok itu tersenyum, "Waktunya pergi dari sini, Molie---bukan, Aiden."
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...