The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Sweet Dance Under the Moon


__ADS_3

...Dari banyaknya malam yang bersinggah, aku dapat percaya pada Anila yang membawa pesan dari cahaya Luna, di malam ini. ...


...---🍁---...


.... ...


.... ...


.... ...


...---...


"Aku ingin mencintaimu seutuhnya, sebagai pasangan Mate yang telah di kehendaki untuk menjadi kekasih di kehidupan abadi ku."


Selembar saputangan berwarna gading, dengan dua sulaman daun Mapel di ujung kainnya, dengan sedikit hiasan manis---nama Kendric yang terajut sebagai pemilik hati dari Putri menara emas.


"Kau sudah mengatakannya, sebagai sumpah mu yang memilihku sebagai Mate mu. Jadi, jangan pernah mencoba pergi dariku ataupun sekedar menyesali apa yang kau katakan barusan. Karena kau sudah menjadi candu untuk ku ....,"


Teram rembulan menjadi penonton untuk menyaksikan kemanisan dari dua burung dara yang bisa saja merubah arus mata angin di langit jingga fajar maupun senja. Lucy yang mulai membuka hati dan Kendric yang mulai menerima perhatian dari kekasih kecilnya, memupuk rasa kepercayaan dan cinta yang begitu dalam.


Kendric merasa senang tiada tara saat mendapatkan saputangan dari Mate nya. Rasanya dia seperti berpikir kekanak-kanakan, saat menyimpan rasa cemburu akan kepemilikan seseorang hingga ia pun merebutnya dengan paksa. Tanpa tahu, bahwa ia bisa saja memilikinya dari wanita itu tanpa harus mencurinya. Lagi pula saat ini yang menjadi pemilik hatinya adalah Kendric.


Sebelumnya Kendric sempat khawatir, jika Lucy menyadari mengenai saputangan Harlie. Tapi sampai saat ini masih belum ada sepatah katapun mengenai pertanyaan itu. Tapi yang terpenting sekarang, Kendric tidak lagi membutuhkan milik Harlie. Jika dia memang pernah bersinggah---menjadi pria di hatinya, pada akhirnya Lucy pasti akan tetap memilihnya.


Karena yang bertemu dan yang menjadi cinta pertamanya adalah Kendric.


"Apa sebegitu anehnya sulaman ku? Dari tadi terus di pandangi."


"Ini tidak aneh, tapi terlalu indah untuk di gunakan--hanya sekedar menjadi sapu tangan saja."


"Lalu kau mau gunakan nya sebagai apa? "


"Bagaiman jika di pajang saja? Aku akan memesan bingkai berlapis emas. Oh, jangan lupa dengan kaca bermaterial sihir. Agar dapat mempertahankan benangnya."


"Tidak, tidak. Aku tidak suka ide mu, aku membuat itu bukan untuk di pajang."


Kendric masih tertarik untuk selalu memperhatikan tiap bentuk dari rajutannya. Bentuk daun Maple yang begitu indah serta ukiran namanya yang tertera, membuat Kendric benar-benar menyukainya.


"Aku jadi ingin lihat Lucy saat menyulamnya."


"Kenapa? "


"Sulaman ini saja begitu indah, pasti yang membuatnya pasti akan terlihat lebih cantik saat membuatnya. Apa aku bisa meminta kau untuk membuatkan yang lain?"


Lucy terlihat menahan rasa senangnya, ini pertama kalinya dia di puji atas hasil sulamannya terlebih itu dari mulut Mate nya. Usapan hangat dari tangan Kendric yang membekas pada wajah Lucy membuatnya semakin nyaman berada di sisinya, "Jika, jika Kendric memang menyukainya aku bisa membuatkan yang lain."


Dua mata permata Savier dan Ruby itu saling berpandangan. Mencoba mengisyaratkan bahwa jatuh cinta sekali lagi tidak terlalu buruk, meski keduanya pernah tersakiti dalam menanti sebuah perasaan yang akan terbalas.


"Sekarang giliran ku."


"Apa? "


"Aku sudah menerima hadiah darimu, sekarang kau harus memainkan hadiah dariku."

__ADS_1


Lucy melihat alat musik Kalimba yang berada di pangkuannya. Dia terlihat kebingungan karena sudah sangat lama sekali ia tidak memainkannya lagi, tapi Lucy tidak mau membuat Kendric kecewa hanya karena ia menolak.


Sekarang bagaimana caranya dia menunjukkan permainan dari alat musik Kalimba yang indah ini? Lucy terlihat sedang berpikir, lalu sesaat terlintas dalam benaknya sebuah ide cemerlang saat melihat rembulan dan pemandangan danau.


"Kendric, apa kita bisa turun dulu. Aku punya satu cara baik untuk menikmati musik Kalimba." Kendric mengerutkan keningnya sebagai tanda tak paham, tapi dia juga tidak berniat menolak ajakan Lucy sehingga mereka pun turun dengan sangat baik.


Lucy berjalan menuju danau, dia terlihat memperhatikan seberapa dalam danaunya. Sedangkan Kendric hanya berdiri diam sembari memperhatikan tindakan apa yang Lucy tunjukkan kepadanya.


Lucy mengangkat sedikit gaun tidurnya. ujung jari kakinya yang begitu inda menyentuh sedikit permukaan danau, dan perlahan permukaan itu membeku. Saat seluruh kaki Lucy berpijak---berjalan beberapa langkah ketengah danau, menumbuhkan beberapa bunga Kamelia yang membeku berwarna pelangi akibat bentuknya yang bening berkilau.


Lucy menoleh kebelakang menatap Kendric yang terlihat terpana akan kecantikan sosoknya yang terasa menyatu dengan alam di malam hari.


Perlahan Salju kembali menghujani wilayah Apollo, Lucy menggerakkan jemari lentiknya dan seketika beberapa kilauan sihir kuning keemasan mengelilingi alat musik Kalimba di tangan lucy---membuatnya melayang.


Sihir milik Lucy memainkan alat musik Kalimba, sehingga terdengar lantunan melodi yang begitu indah.


"Apa sekarang kau sedang mengajakku untuk berdansa?"


"Bukankah ini menyenangkan? Biar aku beritahu. Selama hidupku aku tidak pernah melakukan hall dansa dengan pria lain selain dengan Ayah. Bahkan di acara pesta Debutante kedewasaan ku, hanya tangan Ayah yang ku raih sebagai adat upacaranya."


Untuk sesaat Kendric hanya diam, sebelum akhirnya malah tertawa. Diapun berjalan mendekati Lucy, saat langkahnya berpijak pada lapisan es di danau. Kedua gaun piyama mereka perlahan berubah menjadi gaun pesta selayaknya pangeran dan putri yang akan melakukan tarian pasangan di pesta dansa istana tahunan.


Keduanya saling bergerak sesuai irama musik. Seakan danau adalah hall dansa, rembulan adalah cahaya tengah yang hanya akan menyoroti sepasang kekasih sebagai pemeran utamanya. Para peri hutan atau di sebut sebagai roh suci, satu demi satu bermunculan dari baik dahan ranting hingga tumpukkan salju.


Para peri kecil itu mengitari Lucy serta Kendric yang masih terbawa suasana damai seperti saat ini. Salju yang turun bergerak lambat menjadi properti kilauan bintang dan beberapa daun Maple yang bercahaya di tengah malam bergoyang riang saat angin menjadi media terbaik untuk saat ini.


Menari sembari berseluncur di atas permukaan es, mengukir goresan pada lapisannya. Membuat kedua pasangan yang sedang berada daam keharmonisan cinta, saling meyakini bawa sosok yang sedang berdansa dengan mereka adalah belahan jiwa paling mereka syukuri.


Musik Kalimba terus berputar selama sepuluh menit, terasa singkat tapi sagat lama untuk di kenang. Lucy juga tanpa sadar bergerak menari seakan mereka sudah sering melakukan dansa, padahal dulu dia sering menginjak kaki Ayah nya saat berdansa.


"Kau mau menghabiskan berapa banyak pengeluaran hanya untuk kita berdua? Yang sederhana seperti ini saja sudah cukup untukku."


"Kalau begitu, daerah ini adalah hall dansa pribadi kita. Aku akan membangun beberapa dinding kaca sebagai pembatasnya."


Lucy menggelengkan kepalanya, "terserah kau saja. Tapi jangan terlalu memaksa pengerajin bangunan di tengah musim dingin seperti ini."


"Jangan khawatir, aku akan mencoba membangunnya, saat musim semi tiba."


Musik Kalimba berhenti tepat di ujung batas waktunya. Membuat Kendric dan Lucy harus mengakhiri tarian ini dengan saling memberikan kehormatan manis sebagai penutup layaknya pangeran dan tuan putri di sebuah kisah dongeng.


"Malam semakin larut, udara dingin juga sangat kencang. Akan lebih baik jika kita segera kembali, besok aku perlu mengecek perbatasan."


"Kau akan pergi melakukan pekerjaan jauh lagi?"


"Tidak begitu jauh, akhir-akhir ini beberapa hewan buruan yang tersebar di hutan dalam, terlihat aneh jadi aku berniat mengecek perbatasan Apollo saja."


"Apollo saja sudah begitu luas, pasti kau menghabiskan waktu lebih banyak untuk ekspedisinya."


"Apa sekarang kau sudah sangat rindu?"


"Sangat rindu!"


Kendric melepas jas nya dan memakaikannya ke bahu Lucy. "Kau ini---harus ku apakan, agar aku tidak terlalu menggila."

__ADS_1


Lucy membalas perlakuan Kendric dengan menangkup wajah sang kekasih dengan jemari lentiknya. "Bukan kah sudah jelas. Kau harus lebih sering menemaniku, karena aku kesepian."


"Bagaimana dengan Tyrsha, bukankah harusnya dia menjadi teman bicaramu selama ini."


"Ah, mengenai itu. Aku juga ingin bilang kalau sudah seminggu terakhir, Tyrsha tidak datang mengunjungi ku. Apa dia sedang ada masalah?"


Kendric mulai curiga, kemungkinan besar Bumi sedang mengalami situasi kondisi seperti Darkness World. Sehingga para roh suci harus kembali pada tempat mereka agar mencegah miasma buruk dari Krhanos tidak menyebar luas.


"Kendric, ada apa?"


"Tidak, aku hanya berpikir mungkin Bumi sudah harus mulai memasuki musim semi. Bukankah roh suci adalah peri yang membantu memurnikan alam?"


Lucy terlihat mengangguk mengerti dengan yang di maksud Kendric. "Aku sudah tidak kuat dengan angin malam, bisakah kita kembali sekarang."


"Tentu saja----tapi sepertinya aku meninggalkan saputangan mu di atas pohon."


"Kenapa bisa kau letakan di sana?"


"Maaf, aku hanya ingin menaruhnya di atas tanpa kotor sedikitpun. Tapi aku malah lupa untuk menyimpannya di saku." Kendric terlihat merutuki pikiran bodohnya yang tidak memikirkan cara simpel ini. "Tunggu sebentar di sini, aku akan segera kembali."


"Ambilah dengan hati-hati. Aku akan menunggu di bawah."


Kendric pergi---melompati tiap ranting pohon tempat mereka memandang rembulan, guna mengambil sapu tangan pemberian Lucy. Sedangkan di posisi Lucy, dia terlihat memperhatikan Kendeic dengan khawatir.


Sebenarnya tidak perlu cemas karena Kendric pasti akan baik-baik saja. Tapi yang namanya tragedi itu tidak ada yang tahu. Bagaimana jika dahan pohonnya patah atau licin karena musim dingin? Atau memang pikiran Lucy yang terlihat berlebihan.


Lucy mengusap telapak tangannya dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan gesekan panas sembari melihat ke sekelilingnya. Sesekali dia meniup telapak tangannya juga, sehingga uap hangat dari helaan nafasnya terlihat jelas di tengah malam bersalju.


Di tengah Lucy sedang menghangatkan diri, sesuatu hal kecil menarik perhatiannya pada tumpukan salju putih yang menimbun dataran. Secara samar Lucy melihat ada sesuatu hal yang bergerak melompat, dan sesuatu itu pun berubah menjadi wujud jelas saat seekor kelinci menaikkan telinga panjangnya sembari menatap Lucy.


Dan seketika Lucy menjadi sadar dan bersemangat saat mengetahui kelinci kecil berwarna putih itu adalah kelinci yang selau mendatanginya di saat ada sesuatu pesan ingin di sampaikan kepadanya. Kelinci dengan lambang bulan sabit di kepalanya menjadi sesuatu hal yang paling identik sebagai identitasnya.


Tidak hanya satu, perlahan-lahan muncul rekan kelinci itu yang sama persis, dari dalam salju. Sekumpulan kelinci manis itu berlompatan secara beramai-ramai melewati Lucy begitu saja, apalagi mereka terlihat seperti siluet cahaya ungu kebiruan---begitu mirip seperti warna rembulan yang bergradasi.


Lucy mengikuti arah yang di tuju kelinci tersebut. Dan saat ia tahu titik terakhir mereka berlari adalah jarak 10 meter dari posisi Lucy. Disaat itu Lucy juga melihat jiwanya yang lain sebagai Vasellica berdiri membelakangi pantulan bulan dari balik bukit salju---jauh di sebrang sana.


Sosok lain Lucy yang biasanya muncul dalam bentuk bayangan di suatu cermin. Kini muncul dengan wujudnya yang begitu persis seperti Lucy yang saat ini berdiri di hadapannya, sosok lain Lucy menunjuk kearah timur tanpa berkata apa pun.



Lucy menoleh mengikuti arah pandang dari petunjuk yang di berikan sosoknya di sebelah timur. Di sana yang seharusnya hanya terlihat hutan pinus luas dengan bukit curam, kini terlihat dari balik kabut dan hujan salju cukup lebat----berdiri Castle yang dulu sempat Lucy datangi karena ketidaksengajaan.


Sejak ia kembali lagi ke Apollo, jujur saja Lucy memang tidak lagi melihat Castel itu seakan tempatnya di rahasiakan oleh siapapun. Tapi kini ia dapat melihat dengan jelas, bahwa tempat itu cukup dekat dengan danau ini. Terlebih terlihat beberapa pantulan cahaya remang dari balik jendelanya menandakan bahwa Castel itu mungkin saja masih beroperasi atau sering di kunjungi dan di tinggali.


Lucy kembali melihat sosoknya di seberang. Kini sosok Vasellica Lucy terlihat sangat khawatir atau menunjukkan ekspresi wajah cemas kepadanya. "Waktu bencana akan datang lebih cepat."


"Apa maksud mu------"


K'RETAK!!


Lucy menjadi kaku, saat pijakannya pada es menjadi rapuh sehingga retakan besar terukir cukup jelas di permukaannya. Lucy terlihat takut serta bingung dengan hal ini, tapi sebelum ia benar-benar mencerna yang terjadi Lucy sudah terlanjur jatuh tercebur kedalam danau yang begitu dingin di bawahnya.


"Kau harus segera tahu siapa Robin sebelumnya dan ikatan konflik dengan orang di sekitarnya. Karena itu adalah satu-satunya kunci untuk mengetahui tugas sebagai Robin selanjutnya." Tubuh Vasellica itu mulai menjadi transparan menyatu dengan siluet cahaya kelinci di sekitarannya.

__ADS_1


"Tapi kumohon, sebelum takdir Robin mendekat, kau harus segera ingat dengan janji di waktu kecil bersama Mate pilihan mu. wahai diriku ..." lanjutnya sebelum akhirnya menghilang tak berjejak.


...---. O🍁O .---...


__ADS_2