The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
A Dream Or A Warning ?!


__ADS_3

Remang suara yang terdengar bising di telinga Lucy mengusiknya. Perlahan ia membuka matanya melihat apa yang sedang terjadi di kamarnya.


Namum ....


"Bunuh penyihir itu!!"


"Penyihir adalah ancaman untuk kita!!"


"Ikat yang kuat, lalu bakar wanita licik itu!"


Berulangkali, suara makian dari sekumpulan Manusia yang membawa berbagai senjata tajam serta obor. Menunjuk kasar kepada seseorang yang mereka sebut adalah penyihir.


Lucy yang berdiri dengan kebingungan tidak dapat mencerna dengan baik situasi ini. Bukankah tadi dia pergi tidur karena Kendric memaksanya untuk istirahat setelah mereka berbincang manis di balkon?


Tapi kenapa sekarang dia bisa ada disini? Dilihat dari fisik, mereka adalah ras Manusia. Jika benar dia sedang ada di dunia manusia, lalu kenapa dia tidak melihat bangunan tinggi dan kondisi kota yang jauh lebih modern.


Justru kondisi disini seperti berada di sebuah pedesaan kuno, bahkan bangunan paling tinggi hanyalah dinding benteng yang mengelilingi kota tua ini. Apa benar ini di Bumi?


"Segera bunuh wanita penyihir itu!! Pendosa harus dihukum."


Lucy kembali memandang wanita yang masih setia di ikat pada alun-alun kota. Sekumpulan Manusia yang berjalan melewatinya tak menghiraukan kehadirannya, bahkan Lucy pun ikut terkejut saat mereka dapat menembus tubuhnya.


Seakan kehadirannya tidak dapat dilihat maupun disentuh, Lucy sungguh tidak mengerti dengan keadaan ini. kalau begitu apa mungkin ini mimpi?


"Dengan berpura-pura sebagai utusan Dewa, kau membohongi kami semua. Padahal kau ingin mempersembahkan kami sebagai tumbal kepada kaum Demon. Sungguh wanita licik!"


"Sudah jelas dia bukan Manusia tapi penyihir gelap yang membawa malapetaka, Tuan pendeta sebaiknya segera lenyap kan saja wanita pendosa ini!"


"BENAR! BUNUH DIA!!"


Lucy yang masih belum mengerti dengan situasi saat ini, hanya bisa diam sembari mengamati keadaan. Namun, satu hal yang cukup membuatnya jauh lebih bingung---adalah ketika reaksi wanita itu yang masih saja terlihat tenang meski sudah di ujung hayatnya.


Perlahan wanita itu membuka matanya setelah banyak mendengar makian dari Manusia yang sempat ia tolong. Mata hitam yang terlihat seperti permata malam, menyihir perhatian Lucy---begitu sangat jelas bahwa wanita itu memiliki karisma berwibawa.


Tunggu, apa ini hanya kebetulan saja? Sepertinya wanita itu sedang melihat kearah Lucy. Apa dia bisa melihat dirinya?


"Rencana mu sungguh sempurna, Occtäpelliūse."


Bukan! Jelas wanita itu tidak melihat Lucy tapi kepada sosok pria yang berdiri tepat dibelakang Lucy. Wajah pria yang tertutup tudung putih membuat Lucy tak dapat melihatnya dengan jelas.


Hanya saja aura yang terlihat dari pria itu sungguh sangat jahat. Dari balik tudungnya bisa Lucy lihat samar bahwa sosok itu tengah tersenyum sinis.


"Kau hanya akan menggangguku."


"Suatu saat nanti, akan lahir keturunan Rembulan yang akan mewarisi gelar ku. Dia yang akan menghentikan semua kejahatan mu di peraturan dunia ini."


"Itu tidak akan pernah terjadi," Pria itu memandang dingin kearah wanita yang akan segera di hukum mati. "Karena ini hari terakhirmu, aku ucapkan selamat beristirahat Dewi Vernitysha----bukan, mungkin harus ku panggil sang Ratu Alam, Yang Mulia Robin."


Lucy menegang, saat bama itu di ucapkan, 'Robin? Pria itu memanggilnya dengan sebutan Robin? '


Lucy menoleh melihat sosok wanita cantik yang tengah tak berdaya disebuah tiang. ia disiram dengan sangat kasar dengan minyak, lalu salah satu penduduk memanah wanita itu tepat di jantungnya.


"BAKAR DIA!!"


Satu demi satu manusia melemparkan obor yang mereka bawa kearah wanita itu. Lucy tidak tahu harus bagaimana meski ia bingung., meski dia ingin tahu apa yang terjadi. Tapi hatinya tergerak untuk menghentikan aksi mereka yang salah menilai seseorang.


"Hentikan, jangan bunuh dia."


Percuma, keberadaan Lucy masih tidak bisa dirasakan. Jika ini mimpi, jika ini hanya khayalan. kenapa? Kenapa terasa sangat menyentuh hingga ia bisa merasakan rasa sakit yang wanita itu tahan.


Api membesar hingga melahap tubuh wanita itu, ini mengerikan dan sangat menyakiti hatinya. Bahkan, meski tubuhnya tengah direnggut oleh kobaran api, wanita itu tidak sedikitpun berteriak atau memaki kaum manusia yang menghukumnya.


Justru dari balik api yang menyalak terang, wanita itu tersenyum kearah Lucy yang sudah gemetar ketakutan. Tatapannya yang begitu lembut membuat Lucy kian tak mengerti.


"Kumohon, tolong kembalikan kedamaian di alam ini. Lalu gantikan aku untuk berada di sisinya, kau harus tetap bersamanya. Aku akan selalu berdoa untukmu dan kuharap, kau juga tidak akan berakhir seperti diriku, Yang Mulia Vasellica."


Sedetik kemudian, api benar-benar melahap tubuhnya, hingga yang terdengar hanyalah percikan api. Lucy tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia sulit membedakan keadaan saat ini untuk ia sebut mimpi karena ini sangat nyata.


Disaat yang lain tidak bisa melihatnya, wanita itu justru melihat dan berbicara kepadanya. Lucy pernah membaca sebuah buku arteologi, jika suatu keadaan seseorang berada di luar alam sadarnya atau bisa dikatakan antara mimpi dan nyata terasa menjadi satu keadaan.


Kemungkinan besar ia sedang berada di situasi rule masa lalu seseorang, tapi ini ingatan siapa? Lucy tidak pernah bertemu dengan semua orang yang terlibat disini.


Hingga ledakan besar terjadi ditengah sorak-sorak kesenangan penduduk yang berhasil membunuh wanita cantik tak bersalah. Api yang tadinya meluap ruah kini tergantikan oleh kebulan asap tebal yang mampu menyelimuti seluruh tempat di sana.

__ADS_1


Secara samar, Lucy melihat sesosok pemuda remaja tengah menangkub tubuh wanita tak berdaya yang mati akibat dibakar. Dalam aura gelap yang begitu kuat hingga mampu menggentarkan daratan dengan dahsyat.


Mata pemuda itu menatap benci dengan nabsu membunuh yang tinggi. Meski tidak bisa Lucy lihat dengan jelas, tapi hanya satu yang membuatnya merinding ketakutan saat mata dinginnya melirik tajam.


Mata merah yang menyerupai permata ruby delima, terlihat tak asing bagi Lucy. "Mata itu terlihat seperti Ke----"


"LUCY !!"


Tring!


.......


.......


.......


Lucy bangun secara paksa akibat panggilan yang terdengar mengkhawatirkannya. Dalam remang penglihatan, Lucy melihat wajah Kendric yang terlihat sangat cemas. Sembari mengumpulkan kesadarannya, Kendric membantu Lucy untuk bangun dari posisi terbaring nya.


Saat kesadaran Lucy kembali, ia menyadari bahwa saat ini Lucy berada di kamarnya dengan Kendric duduk disebelahnya sembari memberikan segelas air.


"Ken----"


"Apa yang sedang kau mimpikan Lucy?!" Kendric tiba-tiba menekan bicaranya sembari mencengkram kedua lengan Lucy.


Mimpi? Jadi, yang barusan sungguh mimpi?


Awalnya Lucy enggan untuk mengatakannya karena mimpinya sangat mengerikan untuk di ceritakan. Tapi jika melihat tatapan mata Kendric yang masih mengkhawatirkannya, tentu Lucy tidak bisa mengabaikannya.


"Tidak bisa dikatakan indah, tapi mimpiku sepertinya bukan sekedar mimpi buruk saja. Ada hal lai----" perhatian Lucy teralihkan, saat kondisi kamar yang terlihat begitu kacau. "Kendric, apa yang sudah terjadi dengan kamar ini?"


Lantai yang hampir seluruhnya menjadi beku, tanaman hias yang terpajang rapih ikut berubah menjadi layu dan perlahan hancur menjadi abu kecil. Meski musim dingin telah tiba, harusnya bunga tidak akan layu karena ada lapisan sihir sehingga mereka akan bertahan lama.


Bahkan kediaman ini saja bisa sedingin es, apa jendelanya ada yang terbuka? Sepertinya bukan, karena setiap menjelang senja Sylfia selalu menghangatkan ruangan dengan sihirnya. Sehingga hawa dingin dari luar tidak akan bermasalah.


Kendric yang sadar dengan tatapan bingung Lucy, langsung memegang kedua lengannya dan membuat Lucy kembali menghadapnya.


"Saat tidur, kau terlihat begitu gelisah dan tiba tiba saja ruangan ini sudah seperti ini. Untunglah aku berhasil membuatmu bangun, aku takut terjadi sesuatu kepadamu."


Kendric tahu apa yang sedang di alami Lucy dalam mimpinya, melihat keadaan kamar yang begitu kacau pasti ini berhubungan dengan Robin. Ia genggam kedua tangan Lucy yang terasa dingin, kemudian mengecup lembut jemari lentiknya.


Sembari menatap mata Savier milik sang kekasih, mencoba melihat mimpi apa yang terlukis di pikirannya. Tapi Lucy hanya memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti dengan sikap Kendric yang terlihat tak biasanya.


"Apa ini sebuah pertanda buruk?"


Sesaat Kendric terdim, "----sebaiknya, kita pindah kamar saja. biar besok pelayan yang menyiapkan kediaman baru untukmu."


Kendric mengelak pertanyaan Lucy dengan mengalihkan topik pembicaraan. Ia angkat Lucy kedalam rangkulan dekapannya, sehingga Lucy secara reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Kendric.


Dengan kekuatan Kendric----mereka sudah berpindah tempat kesebuah ruang kamar sederhana, bahkan lebih sederhana dari kamar tamu yang biasa di gunakan kepala pelayan.


Karena tidak pernah ada tamu, jadi ruangan itu sekarang digunakan kepala pelayan sebagai kediamannya. Sedangkan ruangan ini begitu minimalis, hanya terdapat satu ranjang cukup besar dengan di kelilingi tirai-tirai kain transparan berwarna hitam yang menggelantung di tiang emas.


Terdapat juga sebuah sofa panjang berwarna Navy gelap yang terlihat hanya menjadi satu-satunya pajangan yang menghiasi dekorasi ruang kamar ini. Bahkan, untuk gorden kamarnya saja ikut menyamai warna hitam pekat.


Lucy diturunkan dengan pelan oleh Kendric di atas ranjang, ia terduduk sembari mengamati kamar ini. Tidak ada lukisan ataupun ornamen penghias yang menarik untuk dilihat, hanya tersisa dinding polos berlapis kusen jendela yang sepertinya terbuat dari emas juga.


"Ini ..., kamar siapa?"


Kendric yang baru saja menutup rapat gorden agar tidak membuat celah angin malam memasuki kamar itu, berbalik sembari melihat Lucy kembali. "Ini kamarku. Karena aku tidak suka hal yang ramai, jadi aku meminta pelayan untuk menyiapkan kamar sederhana yang dapat menghalau cahaya ataupun suara dari luar masuk kesini."


"Sepertinya sinar matahari saja tidak bisa memasuki kamar ini? Bahkan aku tidak bisa melihat cahaya rembulan, padahal tidak ada jendela kaca di ruangan ini. Apa kau begitu menyukai tempat gelap?"


"Bukan karena suka, tapi ini bisa membuatku sedikit merasa tenang."


"Tapi tetap saja, di kamarmu tidak ada penerangan. Saat ini saja, kamarmu tidak ada lilin sihir. Aku kan jadi tidak bisa melihatmu."


"Kau ingin melihat wajahku?" Kendric berjalan mendekati Lucy. "Maksudku bukan melihat wajahmu, ta-tapi aku tidak terlalu suka dengan tempat gelap."


Kendric duduk di sebelah Lucy, lalu menyelipkan helaian rambut Lucy ke telinganya. "Kau mau tahu alasanku suka kamar ini?"


"Memangnya kenapa, bukankah kau bilang karena disini begitu tenang?"


"Bukan."

__ADS_1


"Lalu?"


"Coba kau berbaring, dan lihatlah apa yang kau temukan pada langit kamar ini." Lucy menuruti perkataan Kendric. Ia mulai berbaring di atas kasur empuk milik Kendric, lalu menatap langit kamar.


Alangkah terpukau nya Lucy, saat perlahan atap kamar tak berlampu itu mulai berubah menjadi transparan. Sehingga, jutaan bintang rasi di langit malam dapat Lucy lihat dengan sangat jelas apalagi Castle ini melayang.


Melihat Lucy yang tersenyum sepertinya dia menyukainya. Kendric pun larut dalam kecantikan Mate nya, dia juga turut berbaring disebelah Lucy menatap bintang malam.


"Apa ini juga termasuk alasanmu memasang gorden hitam?"


Kendric menghela nafas dengan pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari bintang malam. "Sejak dulu aku selalu berharap kita memiliki waktu untuk bertemu dan berbincang akrab. Karena sebuah alasan, aku hanya bisa merindukanmu dan ku jadikan bintang sebagai penawarnya."


Lucy menoleh pelan---melihat Kendric yang masih menatap dalam butiran bintang. "Kenapa harus bintang? Jika kau memang ingin bertemu kenapa tidak mendatangiku saja?"


"Apa menurutmu, aku bisa langsung diterima olehmu? Maksudku, kita tak saling kenal dan tiba-tiba saja aku hadir di hadapanmu dengan mengatakan bahwa aku merindukan mu. Tidakkah itu tidak sopan dan juga kau pasti akan mencurigai ku?"


Lucy terlihat diam, kalau dipikir dia juga pasti akan melakukan itu jika seseorang yang tidak dia kenal tiba-tiba saja muncul di depannya. "Kau benar, bisa-bisa aku memanggil pengawal untuk menangkap mu."


"Buatku tidak masalah jika harus menatapmu dari sebuah bintang saja. Bukankah sudah kubilang kalau kau juga wujud lain dari bintang, mengingat namamu memiliki kesamaan dengan bintang? Setidaknya kau adalah penunjuk arahku untuk tetap menantimu."


"Penunjuk arah?"


Kendric melihat Lucy dengan memiringkan postur tubuhnya dan membiarkan tangan kanannya menyanggah kepala. "Dulu, saat peradaban manusia belum berkembang seperti sekarang. Mereka menggunakan bintang sebagai penunjuk arah jalan untuk pulang."


"Hm, tapi ibu sering cerita kalau kompas adalah penunjuk arah yang baik di bumi."


"Kompas mulai digunakan saat mereka bisa memanfaatkan daya magnet dan logam sebagai kebutuhan perjalanan dan hal lainnya. Kira-kira sekitar abad pertengahan saat dinasti kerajaan hampir memulai revolusi terhadap perkembangan negaranya."


"Kau terlihat lebih paham mengenai perkembangan zaman manusia di bumi. Aku jadi penasaran, sebenarnya kau sudah hidup berapa lama?"


"Mirip-mirip kan saja dengan usia Aletha." Lucy mendengus kecil, "aku saja tidak tahu usia asli kak Aletha berapa." Kendric tertawa. "Simpulkan saja kami bukan manusia, dan memiliki usia lebih lama seperti kalian."


Lucy mengangguk kecil mencoba memahami ucapan Kendric. Jika pembahasan ini masuk, Kendric juga ingin tahu reaksi mereka saat tahu usianya dan Aletha jauh lebih tua daripada usia Lord pertama. Meski begitu mereka jauh lebih muda daripada Selini Thea.


Kendric terus memandangi setiap tingkah Lucy, habisnya dia terlihat sedang menunjuk-nunjuk bintang kemudian mengetuk pelan bibirnya dengan jari telunjuk.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Aku masih kepikiran, bagaimana bintang bisa menunjukan arah mata angin. Padahal ada begitu banyak bintang di langit."


"Kau penasaran?" Lucy langsung mengangguk sambil melihat Kendric berharap pemuda disebelahnya akan memberitahukannya. "Perhatikan, aku akan mengajarimu."


Lucy tersenyum lalu mendengarkan semua perkataan Kendric. "Angkat tangan kananmu, buatlah telapak tanganmu hingga menyudut 45° lalu tutup sebelah matamu arahkan tanganmu ketitik bintang paling bersinar di langit."


Lucy menurut, dia melakukan semua yang di pergerakan oleh Kendric. Meski awalnya masih kaku tapi lama kelamaan Lucy menjadi paham. "Meski ada jutaan bintang di langit, tapi hanya ada satu bintang yang paling bersinar. Setelah kau dapat membidiknya, hubungkan bintang itu dengan bintang yang hampir memiliki cahaya terang meski tidak seterang bintang Lucyasttle."


"Hm, bukankah Lucyasttle adalah nam lain dari daun Maple?"


"Aku sudah bilang, Lucyasttle memiliki arti bintang fajar. Bintang ini adalah satu-satunya yang paling terang posisinya juga berada di bagian timur dan ..., hanya bintang ini saja yang tetap bersinar meski matahari memasuki waktu terbitnya---itu sebabnya dia disebut sebagai bintang fajar."


"Sekarang aku paham kenapa kau sering memanggilku dengan sebutan bintang fajar, apa itu ada kaitannya dengan juga dengan ini?"


"Bebar, itu karena aku----"


"Ah! Ternyata ini cukup sulit juga. Meski hanya ada satu bintang yang bersinar, tapi terlalu banyak bintang untuk bisa ku sejajarkan dengannya."


"Kau perlu belajar lagi tetang Filsafat Asctronomï. Nanti aku ajarkan secara detailnya."


"Sungguh?! Kau sudah janji ya, pokoknya harus mengajariku."


"Kenapa kau begitu bersemangat untuk mempelajarinya, apa karena aku?"


"Kenapa alasannya jadi dirimu? Aku bersemangat karena ini tetang pelajaran baru, apalagi aku baru mengetahuinya."


"Kukira kau bersemangat karena aku yang mengajarimu." Kendric terlihat sedikit kesal, ia kemudian bangun dari posisi berbaringnya dan berdiri sembari menyingkirkan tirai kain yang menutupi ranjang tidur. " Tidurlah lagi, hari masih terlalu dini untuk bangun."


Melihat Kendric akan segera pergi, buru-buru Lucy menahan tangan Kendric. "Kau ingin kemana?"


"Aku akan ke ruang kerjaku untuk tidur di sana, kau bisa tidur dengan nyaman disi----"


"Tidak mau. Aku ingin kau menemaniku tidur."


...---,'o🍁o',---...

__ADS_1


__ADS_2