The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Suspicion


__ADS_3


.......


.......


.......


...---•°` 🍁 `°•---...


"AKAN KU HABISI MEREKA YANG MENGANGGU KU, DAN SAAT ITU JUGA, SELURUH DUNIA AKAN MENJADI MILIKKU SEUTUHNYA. AHAHAHAHA!!" Gelak tawa dari seorang raksasa pembawa kehancuran, mengguncang lembah terkutuk itu.


Membuat Octopus semakin menyanjung tinggi Tuan yang menjadi alasannya menghancurkan tatanan alam yang semestinya adil bagi seluruh kaum.


"Oh, sungguh, kejayaan adalah kursi terbesarmu Tuan ku Akrham Krhanos. Sang Maha Dewa Kehancuran." Sanjung Octopus dalam rencana liciknya.


Akan tetapi kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Tawa yang memecah kesunyian harus terhenti saat mereka mendengar suara bel merdu yang mengusik daerah lembah terketuk tersebut.


Octopus maupun Monster besar itu mengamati sekelilingnya----tiba tiba saja nuansa menjadi lebih mencengkram hingga membuat tingkat kewaspadaan mereka menjadi lebih terjaga.


Hingga mereka mendengar geraman dari atas tebing yang merupakan lubang atas dari gunung merapi tersebut. Terlihat secara samar sesosok hewan yang membelakangi cahaya rembulan.


Tetapi pandangan mereka masihlah sangat bagus, sehingga wujud hewan tersebut berhasil mereka lihat. Terdapat seekor rubah putih berekor sembilan dengan satu lambang bintang menyerupai daun maple berwarna emas di kepalanya. Salah satu hewan agung yang bertugas mengawasi penjara yang mengekang Krhanos.


Tapi bukankah harusnya hewan itu sudah tidak ada karena pemilik dari hewan suci itu sudah mati? Octopus serta Krhanos terkejut dengan sangat hebat. Mereka tidak menduga mahluk itu muncul kembali serta ratusan abad lamanya. Padahal rantai serta sihir yang mengekang Krhanos menjadi renggang karena mahluk itu tidak mengawasinya.


Tapi kini ia melihat sendiri rubah berekor sembilan itu muncul kembali disaat ia hampir mendekati masa kebebasannya.


"Ini mustahil, bukankah rubah tersebut adalah Nehelnia? Hewan suci yang menjadi pemimpin bagi roh suci di Alfheim. Dan satu-satunya hewan legenda yang hanya melindungi-----"


Seakan menyadari sesuatu, Octopus serta Krhanos merinding hingga menusuk ke tulang mereka. Perasaan mengerikan yang mengguncang benak mereka membuat keduanya menggeram hingga menunjukkan wajah setengah frustasi.


"KETURUNAN ROBIN TELAH LAHIR KEMBALI!" Guman Krhanos di dalam penjara segelnya.


"Tapi saya tidak merasakan tanda-tanda kehadiran reinkarnasinya. Bagaimana bisa kita kecolongan seperti ini?!"


Octopus tidak habis pikir. Ia sudah sangat yakin telah mengawasi seluruh kelahiran bayi di seluruh alam. Bahkan jika ada pun, harusnya ia mengeluarkan energi alam yang dapat di ketahui oleh seluruh bangsa Dewa.


Mustahil jika itu adalah putri Selini Thea ...


Di tengah pikiran yang kacau. Mereka tidak menyadari bahwa rubah legenda itu sudah melompat turun dari ketinggian puncak gunung menuju perut merapi. Seperti perawakannya yang terkenal sangat kuat, rubah itu mendarat di atas kepala Krhanos dengan berpijak di atas pola sihir besar.


Mencoba memberikan listrik statis yang mampu membuat Krhanos berteriak. Selama dia masih di kunci dan tersegel di dalam lingkaran sihir suci matahari dan rembulan, sosok monster bertubuh raksasa sepuluh kali lipat dari tinggi para trholl----tidak akan pernah mampu memberontak.


Dan hanya ada satu hewan suci yang dapat memperkuat kekangan tersebut, dia adalah rubah putih berekor sembilan yang menjadi satu-satunya hewan legenda milik Robin.


Sang Dewi Saintes pembawa kemurnian dan kesucian. penjaga seluruh alam dari berbagai sihir hitam yang mampu membawa dampak negatif bagi seluruh alam berbeda mahluk tersebut.


Meski tak setinggi Maharaja ataupun Maharani Imorrtal, tapi hanya sosoknya lah yang paling bisa diandalkan jika Gerhana Alabasta terjadi. Dan kehadirannya begitu membuat Krhanos resah serta gelisah, jika di kesempatan kali ini dia masih harus terkurung di dalam sihir pengekangan ini lagi untuk yang kedua kalinya.


Maka semua akan berakhir, itu sudah di pastikan bahwa tidak akan ada orang yang mampu ia perdayai, karena kesempatan Octopus untuk selamat sangatlah kecil.


" BERANINYA! "


Lambang bintang yang menyerupai daun Maple di kepala rubah tersebut bersinar. Tak lama kemudian muncul rantai emas serta besar dari dalam genangan lava yang hampir menenggelamkan tubuh Krhanos. Rantai emas itu melilit serta mencekik leher Krhanos dengan sangat kuat.


Octopus menatap merinding. Tuannya yang akan segera bebas malah di tambah siksaan dari sihir pengekang tersebut, sehingga monster yang masih belum terlihat wujudnya mengaum keras bahkan suara lolongannya dapat terdengar hingga ke kota Leryvora dan ini akan menambah masalah besar bagi Octopus.


Karena Para Dewa akan mencari tahu sumber suara tersebut dan bisa-bisa rencananya akan gagal! Dasar hewan kepar*t, umpat Octopus. Kemudian dia meraih cambuk---senjata dewa nya dan mencoba melukai rubah tersebut.


Namun rubah itu begitu sangat gesit, sehingga serangan Octopus hanyalah tali tak berarti baginya.


"OCTOPUS, LEBIH BAIK KAU PERGI DAN SEGERA BAWA KEPALA ROBIN ITU KEHADAPAN KU!!"


Octopus yang mendengar perintah Tuannya di tengah kesengsaraan nya, mulai kembali tenang dan mencoba berpikir dengan kepala dingin lagi. Dia menunduk hormat lalu melihat kearah rubah tersebut. Rubah itu melompat secara acak dengan sangat cepat kemudian melompat kearah Octopus. Dan seketika merobek tubuhnya hingga memisahkan kepala dan juga tubuh dari Tetua Imorrtal.

__ADS_1


Tapi seakan ia menyadari kenapa Octopus tak ada perlawanan saat dia mencoba menyerangnya. Itu karena Octopus yg ia koyak bukanlah tubuh aslinya melainkan klonie bayangan dari sihir hitam ciptaannya sendiri. Octopus yang asli telah berteleportasi ke kuil suci dan menggantikan dirinya dengan bayangannya yang lain.


Rubah itu kembali menatap Krhanos dengan tajam, kemudian berlari keluar dari gunung merapi tersebut. Sebelum Gerhana Alabasta terjadi dan selagi Tuan barunya belum menemukan jawaban dari sosoknya, ia yang akan mengawasi Penjara Krhanos.


Rubah itu melolong seraya menatap bulan yang bersinar terang di malam itu, kemudian menghilang begitu saja tanpa ada jejak yang tersisa.


...---. 🍁 .---...


*Imorrtal


~ Wilayah Apollo


Hari manunjukan waktu siang hari. Matahari berada di puncak panasnya sehingga membuat beberapa sungai yang membeku mulai meretak hingga menampilkan aliran sungai dari celah bongkahan esnya. Meski begitu, tumpukan salju masih setia mewarnai daratan.


Waktu perpisahan saat Lucy akan kembali ke Apollo begitu singkat, karena keluarga Lucy sudah mempercayakan segalanya kepada Kendric jadi tak banyak hal yang mereka khawatirkan. Meski begitu, ocehan Welliam serta nasehat Fedrick masih terlalu banyak untuk mereka di rangkum.


Untungnya tak ada hambatan saat kembali ke Imorrtal, yah walau Lucy masih merasa tidak enak saat melihat keponakannya merajuk saat dia hendak berangkat.


Oh, keponakan mungilnya itu begitu sangat lucu saat sedang merajuk. Tapi mau bagaimana lagi, dia akan lebih kewalahan jika melihat wajah Kendric yang terlihat merajuk. Hanya karena mengharapkan waktu kebersamaan mereka tidak di ganggu.


Lucy tertawa kecil di sela mengingat wajah Kendric yang pernah murung karena Lucy pernah sedikit jail---mengatakan bahwa dia akan lebih baik tetap di Darkness World. Walau perawakannya yang terkesan menyeramkan tapi terkadang Kendric pria yang sangat menggemaskan, pikir Lucy.


"Sepertinya ada hal menyenangkan selama saya tertidur, Putri."


Lucy menoleh kearah berlawanan dari posisinya yang tengah duduk bersantai di taman. "Molie ...,"


Lucy tersenyum riang melihat sahabat kecilnya akhirnya terbangun dari hibernasi nya. Molie mendekati Tuan nya lalu menyanggah kan kepalanya di atas paha Lucy.


"Bagaimana kabar anda, Putri."


"Aku baik-baik saja. Molie aku merindukan mu, tidak biasanya kau mengalami hibernasi. Apa kau sakit? "


"Saya dalam masa perkembangan Putri, ada kalanya kaum kami hibernasi di tahun yang tak menentu. Apa Putri kesepian? "


"Em, sebenarnya tidak bisa di bilang kesepian, karena aku cukup menikmati waktu liburan kemarin."


Lucy mengusap Molie, bulu putih yang semakin lebat dari rubah nya ini begitu sangat lembut. "Benar, Aku menghabiskan waktu sangat banyak bersama Kendric. Dan kau pasti tidak akan percaya, kalau kami sempat kembali ke Lucifer Kingdom bahkan kami melihat Festival Asteri."


"Anda sangat bahagia sekali Putri. Saya jadi sangat iri dengan beliau karena dapat bersenang-senang di Festival bersama anda."


"Tahun depan kita akan melihat bersama-sama."


Molie tidak merespon, ia hanya menikmati belaian dari Tuan Putri yang ia amati sejak kecil. Dia sosok yang sangat berharga bagi Molie dan pasti akan selalu melindunginya.


Lucy yang sedang duduk bersantai harus terkejut dengan sebuah mantel hangat yang merangkul tubuhnya. Ia mengangkat kepalanya keatas, menatap seorang pria tampan yang menutupi cahaya matahari. Sehingga sosoknya yang rupawan semakin terlihat menawan.


"Kau melupakan mantel mu lagi, Lucy."


"Walau masih bersalju, hari ini sudah terasa sangat hangat. Sepertinya matahari sangat menyambut kehadiranku di sini." Sanjung Lucy.


"Kau akan selalu di terima dalam hal apapun Lucy." Gumam Kendric.


"Oh, ya. Kendric, apakah kau yang memberikan cincin ini kepadaku?"


Meski Lucy sudah tahu yang sebenarnya. Tapi dia ingin berpura-pura tidak mengetahuinya, karena ia pun semakin penasaran dengan sosok Kendric yang sesungguhnya. Terutama pada ucapannya semalam yang terkesan pesan yang memiliki seribu makna.


"Benar, apa kau menyukainya?"


"Aku sangat menyukainya, warnanya juga sangat indah dan begitu sangat pas di jari ku."


"Syukurlah jika kau menyukainya. Jika kau menginginkan hal lain lagi, katakan saja kepadaku. Aku akan segera mengabulkannya. Bagaimana dengan beberapa perhiasan dan gaun baru untukmu? Sejak kecil kau selalu suka sesuatu hal yang berkilau dan indah, bukan?"


Sejak kecil?


Untuk sesaat Lucy membatin keheranan mengenai ucapan Kendric yang semuanya adalah benar. Apa mungkin karena dia sempat mencari tahu hal yang di sukai nya saat kembali ke Darkness World kemarin?

__ADS_1


"Aku memang menyukai hal seperti itu, tapi aku juga tidak suka hal yang berlebihan. Sebaiknya berikan secukupnya saja. Lagipula jika aku lihat, pakaian di Imorrtal sangat berbeda dengan di Darkness World. Jadi akan lebih baik kalau menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang ada disini."


Kendric tersenyum, ia meraih beberapa helai rambut hitam Lucy lalu menciumnya dengan penuh kelembutan.


"Kau tidak perlu sampai seperti itu. Apapun yang kau kenakan atau yang kau lakukan. Kau tetaplah yang tercantik Lucy ...., "


Lucy merasa malu di goda seperti ini, apalagi dengan wajah yang super tampan itu. Wanita mana yang tidak akan langsung jatuh hati. Lagian yang di bahas adalah cara kehidupan di dunia ini, tapi kenapa jadi yang paling tercantik sih


"---Jangan khawatir, jika memang itu yang kau butuhkan. Aku akan segera menyiapkannya untuk mu."


"Ah, ada satu hal lagi. Boleh kah aku main ke bumi untuk menemui Tyrsha?"


"Tidak." Seketika mood Kendric yang sedang baik menjadi berubah. "Aku sudah bilang sebelumnya, jangan terlalu dekat dengan Tyrsha."


"Tapi aku sangat ingin berjumpa dengannya." Lucy menunjukkan skill manjanya saat mencoba membujuk Ayahnya dalam menginginkan sesuatu.


"Tidak! "


"Kendric ..."


Sial!


Kendric tidak sanggup melihat wajah Lucy yang sedang memohon, sehingga dia pun menghela nafas kemudian menyandarkan dirinya pada penyanggah kursi sembari menyilang kan kedua tangannya.


"Baiklah, aku akan menyuruh Sylfia untuk menangkapnya."


"Dia bukan buruan Kendric. Kau harus lebih lembut, bawa dia sebagai tamu dan tidak boleh menyakitinya."


Kendric diam dengan mengalihkan pandangannya, seakan itu sebagai bentuk penolakannya. Kendric ragu akan memperlakukan mahluk kecil licik itu dengan baik-baik.


"Kendric----"


"Baiklah, aku akan mengundangnya sebagai teman mengobrol mu."


"Nah begitu dong."


Sekejap suasana menjadi hening. Kendric menatap kosong pada disert yang ada di atas meja kecil kemudian melirik Lucy. Dia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi saat bersama Lucy. Tapi saat baru kembali, Kendric mendapatkan kabar aneh---bahwa ada sesuatu hal yang meresahkan seluruh penghuni Imorrtal tadi malam.


Dan ia khawatir itu adalah pertanda dari bencana terburuk yang sedang ia takutkan untuk beberapa bulan ke depan.


"Lucy, aku tahu kau kesepian di istanaku. Tapi maafkan aku. Untuk beberapa saat, aku tidak bisa menemui mu dulu, karena ada beberapa masalah yang terjadi belakangan ini."


"Kau tidak perlu sampai meminta maaf begitu. Tugasmu lebih penting, lagipula aku sudah mulai terbiasa dengan lingkungan di sini. Jadi jangan khawatir, nanti juga akan ada Tyrsha, Molie dan juga Sylvia yang menemaniku."


Kendric tersenyum sembari memegang tangan Lucy yang menjangkau sebagian wajahnya. "Lagi-lagi aku kalah dengan senyuman mu yang selalu bisa meredakan rasa khawatirku. Sebenarnya yang di hibur ini siapa sih."


Lucy tertawa begitu juga dengan Kendric yang ikut terbawa suasana. Mereka saling berpandangan, mengamati dengan sangat dalam mata permata dari lawan jenisnya. Entah mau di lihat berapa kali pun, mata Kendric yang menyerupai permata ruby selalu bisa membuat Lucy terpesona di setiap detik yang terlewati.


Lucy menyandarkan dirinya di dalam pelukan kekasihnya. Dalam ke ternyamanan yang mengikis waktu, Lucy ingin sekali mengukit soal Kendric. Jika yang dimaksud dia yang ada di ucapan Kendric semalam, kemungkinan besar adalah Harlie. Dan juga, saat mendengar ucapan Queen Qarolin bahwa Raja Neptuna sedang tidak baik-baik saja. Mungkinkah ada hubungannya dengan Kendric?


"Kendr----"


"Baginda Kendric."


...---. 🍁 . ---...


Informasi Karakter Novel



Catatan!


Lucy adalah satu-satunya keturunan Demon yang tidak mewarisi mata merah sebagai ciri khas bangsa Demon. Pernah sekali ia menunjukkan perubahan mata yang hampir menyerupai mata merah, saat mencoba menahan Welliam yang mengalami Amnesia.


Akan tetapi itu adalah sosok Vasellica nya yang meluap ruah akibat tingkat emosinya, tanpa disadari olehnya sendiri. Sosok lain yang hampir sama dengan jiwa lain dari Ibunya sebagai keturunan bulan, tapi memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari sosok Vasilissa.

__ADS_1


Dan hal yang menjadikannya sebagai sosok wanita spesial adalah dua takdir yang memiliki perbedaan peran yang begitu berlawanan, yaitu Robin dan Vasellica.


__ADS_2