The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Siren Attack ; Mind Control


__ADS_3

*Moonlight Pack


Lucy terlihat asik memandangi wajah pria di hadapannya, tanpa berniat bangun---atau malah sebenarnya, dia tidak bisa bangun. Bagaimana tidak, jika saat ini saja dia sudah terjebak dalam pelukan mate nya yang terlihat lebih nyaman menelusuri mimpinya.


Ini sudah lebih dari 30 menit sejak ia memandangi wajah mate nya yang terlihat semakin tampan. Lucy menepuk pelan wajah Kendric seakan ia ingin mengganggu mimpi pangerannya. Dengan gerakan manis, jemari Lucy turun hingga mengusap lambang Mate yang mengikat sosok mahadewa nya sebagai miliknya.


Jujur ia masih ingin bermanja lama dengannya tapi Kendric sudah harus pergi, semalam Lucy terlalu lama menawannya hingga keduanya menjadi kelelahan. Alhasil Kendric putuskan untuk pergi saat pagi tiba.


Lucy menempelkan telinganya mendekati dada bidang Kendric, ia suka irama jantung Kendric yang begitu menenangkan. "Kendric...., " Lucy membisikan namanya tepat di telinga Kendric.


Dan seakan empunya terpanggil, sayup mata ber kelopak bulu emas---bergerak menunjukkan mata permata bagaikan buah delima. Dua iris matanya yang selalu jadi kesukaan Lucy menatap kekasihnya setengah sadar. Dengan perasaan malas, Kendric menarik selimut lebih tinggi alhasil selimut itu menyembunyikan Lucy dan hanya menyisihkan kepala Kendric yang tidak tertutupi.


Dari dalam selimut, Lucy bergerak risih hingga akhirnya berhasil menyundul kan kembali kepalanya seperti seekor kelinci yang keluar dari dalam lubang tanah. Lucy terlihat cemberut ia mencubit pipi Kendric agar segera bangun, karena sebenarnya dalam posisi seperti ini Lucy juga sudah merasa keram.


"Bukankah kau harus segera bersiap?"


"10 menit lagi"


"Tidak! 10 menit mu itu sudah seperti 10 jam tahu. Sekarang lepaskan aku, hari ini aku juga perlu membahas misi dan bergantian shift mengamati anak-anak."


Kendric bangun seutuhnya, dia mengambil posisi setengah terbangun dengan tangan kanan menjadi penyangga kepalanya. "Bukankah, bocah itu sudah mewakili mu?"


"Muzakka seorang Alpha, selain masalah rencana penyusupan dia perlu berjaga di luar Camp."


"Dia tidak terlalu berguna di luar Camp, karena itu sudah di bereskan oleh Cerberus."


"Cerbe---apa?"


"Cerberus. Dia adalah peliharaan ku, bukan, lebih tepatnya punya bawahan ku." Ujar Kendric dengan tenang.


"Jangan terlalu menyusahkan bawahan mu, bagaimana bisa kau pisahkan peliharaannya itu? Biasanya hewan yang di jauhkan dari majikannya akan sangat sedih."


"Daripada sedih, Cerberus lebih tidak menyukainya karena dia tidak pernah membawanya jalan keluar."


Meski tidak mungkin, karena akan sangat menghebohkan jika anjing seperti Cerberus di biarkan liar kemana-mana.


"Aku jadi penasaran."


"Aku lebih berharap kau tidak bertemu dengannya"


"Kenapa begitu?"


Kendric meraih kemeja hitamnya yang berada di lantai tak jauh dari ranjang tidur, lalu mengenakannya. "Aku khawatir kau akan terkejut dengan rupanya."


"Memangnya dia hewan berwujud apa, sampai kau bilang begitu?"


"---dia tidak selucu Molie. Tapi aku berani menjaminnya, Cerberus tidak akan melukaimu."


Lucy terlihat memikirkannya. Tapi masih tidak terbayang seperti apa wujudnya, mungkin jika ia melakukan penyusupan ia akan bisa bertemu dengannya. Lucy kembali menatap Kendric yang entah sejak kapan telah berpakaian rapih.


"Kendric tidak mau membersihkan diri dulu? Aku juga belum meminta mereka untuk membawakan sarapan kesini."


"Akan aku lakukan saat sudah tiba di Apollo. Pastian kau makan sebelum beraktifitas, jangan terlalu memaksakan diri. jika situasinya semakin berbahaya mundur dan biarkan Alpha itu yang mengambil alih."


Lucy menganggukkan kepalanya, walau sebenarnya ia akan tetap berada di garis depan. Toh, Kendric tidak akan tahu.


"Jangan coba-coba membantahku." Lanjut Kendric seakan mengetahui isi kepala Lucy dengan cara mengetuk keningnya.


Lucy yang terlihat merintih sakit hanya dapat mengangguk kesal. "Aku tidak akan membantah mu."


"Bagus! Aku pergi sekarang." Kendric membuka gerbang dimensi, tetapi sebuah tangan menahannya pergi.


Lucy terlihat enggan untuk membuat Kendric pergi lagi, padahal sebelumnya ia yang paling bersikeras meyakini Kendric untuk pergi ke Imorrtal. Kendric berlutut di hadapan Lucy yang masih setia duduk di tepian ranjang.


"Aku tidak akan pergi lama, kali ini aku pasti akan langsung kembali."


"...................." Lucy mengalihkan pandangannya.


"Lucy lihat aku," Kendric meraih kedua tangannya. "Bukankah kau tidak mau pergi denganku?"

__ADS_1


"---Aku khawatir kau kembali dengan luka lagi."


"Wilayah bulan jauh lebih aman, aku tidak akan gegabah melawan musuh. Selama aku pergi, jangan ceroboh dan juga jangan pernah lepaskan cincin ini. Di dalamnya ada manna ku miasma ataupun roh jahat yang membawa kutukan tidak akan bisa menyentuhmu, mengerti?"


Lucy memeluk Kendric, ia menyeruakan rasa rindunya lebih awal. Ia tahu Kendric akan pergi sebentar tapi ini terasa semakin lama, apa karena penandaan mate jadinya ia tidak bisa berjauhan meski hanya sebentar.


"Aku tidak akan melepaskannya, Kendric juga hati-hati. Miasma nya semakin kuat, Imorrtal juga tidak akan bertahan lama melawannya."


"Aku akan berhati-hati." Kendric memberikan kiss morning nya sebelum pergi memasuki gerbang portal menuju Imorrtal.


Setelah kepergian Kendric, Lucy menjatuhkan dirinya---berbaring di ranjangnya kembali. Seraya menatap langit-langit tenda, pikirannya melayang jauh kemasa depan. Seakan jiwanya yang merupakan sosok Robin, mulai meningkat menuju kebangkitan. Ia merasakan akan ada hal yang jauh lebih mengerikan dari kutukan miasma saat ini.


Krhanos. Itulah kata pertama yang entah mengapa terbayang di benaknya, dan ia menjadi semakin khawatir jika Alabasta akan melahap seluruh dunia tanpa memberikan musim semi kepada mereka.


Ia menghela nafas cukup panjang, sembari menggenggam liontin kalung yang sebenarnya di berikan Vernitysha secara tak langsung.


"Mari fokuskan saja ke masalah saat ini."


...---, '๐Ÿ' ,---...


Lucy terlihat sangat menawan serta berwibawa saat setelan pakaian pasukannya telah terpakai dengan sangat gagah di tubuhnya. Pandangan terpukau dan pujian tidak luput menjadi asupannya pada pagi hari ini.


Di depan meja rapat, berisikan 19 orang yang siap mendiskusikan kondisi luar dan pergerakan musuh. Sedikit terdapat perbedaan pendapat dengan apa yang Muzakka usulkan, bahkan ia sempat khawatir para kepala suku dan Alpha saling berselisih. Tapi untunglah Muzakka dapat membalikan titik terang di tengah perdebatan.


Kesepakatan di ambil saat aba-aba dari para Wolf petarung berhasil membuka sel tahanan kemudian para pasukan Lucifer Kingdom akan menyerbu camp dan segera mengamankan anak-anak.


"Bagaimana menurut anda Putri?"


"Ini patut di coba, aku sangat menyukai kinerja mu Alpha." Ujar Lucy.


Mendengar ucapan Lucy tentu menuai banyak pikiran positif. Para tetua di Werewolf mencoba memberikan kepercayaan sekali lagi kepada Alpha setelah pengakuannya mengenai anak-anak sebelumnya.


Rapat berakhir, semua orang kembali pada kegiatan mereka masing masing. Lucy menatap langit dengan salju yang masih berjatuhan, harusnya sekarang musim semi sudah bermekaran tapi harus terhalangi oleh miasma. Udara semakin dingin, meski mereka telah menggunakan sihir penghangat diri sebagai pertahanannya, hal itu justru tidak begitu banyak membantu.


"Apakah keadaan anda sudah membaik, Putri."


"Saya hanya membantu mengganti air hangat saja, selebihnya Kakak yang melakukannya."


"Mengenai itu, kenapa kau begitu ingin sekali di akui Kendric sebagai murid atau saudaranya?"


Muzakka memberikan secangkir teh hangat kepada Lucy. "Sebelumnya saya sudah memberikan jawaban Putri. Tapi, saya mengagumi sosok yang kuat. Bukan berarti ia harus menjadi sombong, hanya saja saya selalu merasa Tuan Kendric adalah seorang penguasa terlebih beliau bukanlah dari Darkness World."


"Bagaimana kau tahu?"


"Saya langsung tahu saat ia memberikan tekanan kuat---yang bahkan Lord saja tidak setinggi itu." Muzakka terlihat merenung, ia menghela napas kemudian meneguk teh hangat di tangannya. "Daripada itu, saat ini saya merasa sakit hati Putri."


"Kenapa?"


"Seprtinya Kakak ingin sekali memperingati semua orang bahwa anda hanya miliknya. Terlebih lambang mate anda terlalu mencolok dengan wajah jelita anda."


Lucy memerhatikan sekelilingnya, kalau di pirikir semua penduduk termasuk prajurit Kekaisaran terus memandanginya dan berbisik terpesona. Lucy ingat, tidak ada satupun mahluk yang memberikan tanda Mate secara terang-tetangan. Biasanya mereka memberikannya di tubuh yang mudah tertutupi oleh pakaian, begitu juga untuk Lezzy dan Aletha.


Lucy menarik beberapa helai dari rambutnya guna menutupi sedikit lambang itu, rasanya agak risih jika jadi pusat perhatian. Tapi Muzakka menahan aksi Lucy dengan cara memegang tangannya.


"Saya tidak bermaksud lancang, tapi akan lebih baik anda tidak menutupinya. Lambang itu terlihat jauh lebih cantik di kening anda Putri, sebelumnya juga tidak pernah kulihat lambang yang seperti itu."


Lucy semakin di buat bingung, terkadang dia bersikap dewasa tapi juga menunjukkan sikap kekanakkan yang terlalu bersemangat. "Aku penasaran, apa benar kau memandangku sebagai mate?"


Kendric terlihat terkejut ia menoleh dengan gelisah seakan takut di ketahui oleh seseorang. "Putri jangan buat aku mati lebih cepat. Ancaman Kakak begitu menakutkan,"


"Hm?"


Muzakka duduk di gazebo yang tersedia di dekat mereka. "Sebenarnya aku sendiri tidak tahu kenapa dengan diriku. Saat bertemu dengan anda rasanya diriku terus terpikat dengan anda, tapi aku juga tahu perasaan obsesi yang membakar saat ini, bukanlah perasaan yang baik."


"Seseorang pernah bilang. Kalau, ada satu wanita yang tidak boleh di dekati para Raja, jika dia sudah memiliki Mate pilihannya, wanita itu tidak di takdirkan untuk kita." Lanjutnya.


"Siapa yang bilang seperti itu?"


"Beliau adalah King Wilson dari bangsa Vampire. Aku sangat akrab dengannya! Dulu beliau pernah bilang, King Vampire terdahulu pernah terobsesi dengan seorang Putri. Tapi Putri itu telah memiliki seorang mate, karena sikap condongnya yang terobsesi King terdahulu itu harus berakhir dengan kematian yang menyedihkan. Aku sendiri tidak tahu Putri mana yang pernah di sukai oleh King Kristof."

__ADS_1


Muzakka melihat Lucy. "Aku yakin putri tidak tahu hal ini. Sebenarnya juga, tidak banyak yang tahu mengenai hal ini, justru yang banyak di ketahui dari sosok penguasa Vampire itu adalah pengkhianatan nya terhadap kaisar Demon."


Entah mengapa Lucy seakan paham. Mungkin Putri yang di maksud adakah Ibunya, dulu Ayah nya juga pernah bilang Ibunya dulu begitu di pujai oleh banyak Raja. Dan, hanya ada satu King yang paling di benci ayahnya---Ia adalah King Kristof dari penguasa Vampire terdahulu.


Jadi Ibunya pun sungguh pernah melewati masa sulit sebagai Vasilissa? Ia salut dengan Ayah nya yang mampu mempertahankan Ibu nya.


"Kalau begitu, apa kau tidak akan seobsesi itu terhadap ku?"


"Anda jangan khawatir, aku lebih sayang nyawa. Kakak juga adalah pasangan yang cocok dengan anda. Se--sebenarnya ini mungkin terdengar tidak sopan, tapi rumor mengenai anda dengan King Harlie bukanlah rahasia umum. Meski ini situasi yang membingungkan, aku lebih rela jika anda bersama debgan Kakak daripada Raja gila itu!"


"Kalau begitu, apa kau pernah merasakan pertemuan mate sebelum dengan ku?"


"Itu-----"


Di tengah pembicaraan perhatian Muzakka teralihkan oleh seorang gadis yang sedang asik bermain dengan anak-anak. "----pernah, aku pernah merasakan sensasi ini dengan dirinya. seakan dia adalah mate ku. "


Lucy mengikuti arah pandang Muzakka, "Sudah kuduga, dari semua penduduk Werewolf. Hanya Monna yang paling kau biarkan bersikap lancang kepadamu. Jadi itu alasan kau menyukai anak-anak karena ingin dekat dengannya?" Lucy mengangguk paham.


"Apa! Bukan, aku tidak pernah bilang kakau Monna-----'


" Hm, benar-benar bocah. Kau masih mau berbohong pada seseorang yang telah memiliki mate?" Goda Lucy dengan sombong.


Muzakka terlihat tidak dapat menahan perasaannya, telinganya saja bergerak naik turun seperti seekor anjing. "Apa dia juga menyadari hal itu, hm?"


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya Monna juga merasakannya. Hanya saja kami masih saling takut untuk akrab seperti pasangan."


Lucy memukuk kepala Muzakka dengan nampan teh yang ada di atas meja. "Kau ini bodoh sekali, harusnya kau yang mendekatinya duluan!"


"Saya takut----Monna mendapat perlakuan tidak baik dari Wolf perempuan, secara logika aku adalah Alpha tapi memikiki mate seorang pengasuh anak-anak di panti Pack."


"Jadi kau malu punya mate sepertinya?"


"Tentu saja tidak! Aku hanya tidak mau Monna menanggung bahaya."


"Maksudmu?"


"Di bangsa Werewolf tradisi kuno masih di terapkan untuk pasangan Alpha. Semua pasangan yang akan menjadi Luna harus melewati proses pertarungan di atas batu Rembulan. Jika Luna berhasil bertahan dari puluhan Wolf betina, ia akan di akui sebagai penguasa yang layak di sisi Alpha. Jika tidak pasangan Alpha dapat di ganti melalui pertarungan ulang."


"................."


Muzakka menghela napas. "-----Sayangnya, kami ini keturunan hewan buas yang mempunyai logika liar Putri. Anda tidak perlu merasa iba seperti itu."


Lucy yang mendengarnya sedikit emosi, dia meminum habis teh pemberian Muzakka. "Kau ini sangat payah! Dengar, Monna bukan Wolf yang lemah, percaya lah kalau dia pasti akan menang."


"Tapi----"


"Begini saja, jika nanti ada yang berani menentang hubungan mu dengannya. Kau bisa membawa nama ku sebagai pendukung, tidak perlu khawatir aku di pihak kalian!"


"Ba--baiklah, akan saya ingat. sekarang tolong tenangkan diri anda, Putri."


Lucy kembali mengatur emosinya, "Sudahlah, aku mau bertemu dengan Kiara-----" Lucy hampir jatuh tersandung untungnya Muzakka membantunya bertahan agar keseimbangannya tidak goyah.


Bukan karena ia ceroboh berjalan, melainkan, "----tanahnya bergetar." Gumam Lucy. Seakan insting pertahannya aktif, Muzakka maupun Lucy saling melirik memberikan sebuah kode bahwa ada bahaya yang mencoba mendekati Camp.


"Putri------( BOOM!! )"


Suara hantaman besar mengguncang perhatian kegiatan di dalam Camp. Seluruh penduduk hingga prajurit, menatap langit---lebih tepatnya pada lapisan sihir pelindung yang mereka buat. Di sana terdapat retakan yang sedikit demi sedikit kian mengukir pecahan yang sangat fatal.


BOOM!!


Lagi, dentuman itu terdengar hingga menggetarkan pegunungan Moonlight Pack. Seakan ada sesuatu yang begitu besar tengah menghantam lapisan dinding sihir nya. Lucy mendapatkan insting tidak baik, dia lalu mencari keberadaan anak-anak yang sedang berlindung di belakang Monna.


Lapisan sihir tidak dapat bertahan dalam menahan serangan lawan, sehingga kerapuhan akan terjadi dalam hitungan 5 detik. Dan Lucy masih berusaha berlari menghampiri Monna.


"Tuan Putri!! " Teriakan Muzakka menjadi kalimat terakhir yang dapat Lucy dengar sebelum akhirnya lapisan sihirnya hancur tak tersisa kan.


"Akhirnya, aku bertemu dengan mu Lucy."


...---, '๐Ÿ' ,---...

__ADS_1


__ADS_2