
Melihat para tamu undangan kembali menikmati perjamuan, membuat Lucy serta Kendric harus kembali fokus kepada keluarga kerajaan Darkness World. Karena sudah terlihat bahwa tatapan mereka penuh pertanyaan terutama Fedrick.
Maka Aletha pun mengajak mereka untuk berpindah tempat menuju ruang istirahat keluarga kerajaan yang berada di lantai dua, dan meminta Sofia serta Killian menggantikan mereka untuk menyambut tamu.
Sesampainya di ruangan, suasana canggung mengikis jarak diantara mereka. Tapi Lezzy yang memahami segalanya mencairkan suasana dengan cara menghampiri Lucy untuk duduk di sisinya. Ia meraih tangan anaknya yang sudah tak lagi balita seperti ingatan manis sewaktu dirinya kecil.
Lucy pun meluapkan segala macam kerinduan nya dan memulainya dari sang ibu yang banyak membantunya, bahkan mempercayai segala keputusan Lucy.
"Apa ibu baik-baik saja? Maaf Lucy terlambat pulang."
"Lucy.....,"
Lezzy memeluk Lucy---hati ibu mana yang tidak akan goyah melihat wajah anak nya kembali, meski dulu ia sempat merelakan nya tapi ia juga harus siap terima resikonya jikalau rencana Lucy gagal.
Ia tidak menyangka putrinya akan sangat benar-benar cocok menjadi generasi Bulan selanjutnya, penampilan nya yang begitu sangat bercahaya persis seperti Seleni Thea. "Ibu tidak akan mengatakan apapun, karena melihatmu kembali dengan kondisi sangat baik itu sudah sesuatu hal yang patut Ibu syukuri, nak."
"Lucy---em, sepertinya aku harus memanggilmu dengan panggilan Dewi Serenity."
"Kak Aletha tidak perlu merubahnya, aku hanya mendapat gelar baru bukan nama baru. Mau bagaimana pun aku tetap Lucy Daiana Lorddark's." Aletha yang mendengar hal itu begitu sangat senang. "Baik Lucy."
"Kau memag benar adik ku, Lucy yang selalu membuat masalah. Siapa yang berani menggantikan posisi mu di keluarga ini."
"Kakak aku baru saja kembali tapi kau sudah memulai perdebatan."
"Apa perkataan ku salah?"
"Hem, setidaknya bilang--Adik tersayang ku telah pulang. Setidaknya akan terlihat bahwa kakak sangat merindukan ku."
"Apa..., apa aku harus melakukan nya."
"Kau ini sangat tidak jujur. Lucy ku beritahu ya, Welliam selalu menjaga istana mu dan menyuruh pelayan untuk membersihkan nya setiap hari---karena ia selalu bilang saat kau kembali ke istana nanti, tempat ini harus tetap indah untuk adiknya."
"Kakak bilang seperti itu?"
"Tentu, hanya saja sifat Kakak mu ini sangat keras kepala."
"Ekhem! Aletha, berhentilah memanjakan nya."
"Lihat kan? " Aletha dan Lucy tertawa melihat sifat kaku Welliam yang tidak pernah berubah.
Tapi pandangan mata Lucu beralih kearah sesosok pria yang sejak tadi tidak ikut duduk dan menyambut Lucy. Pandangan Lucy menarik perhatian melihat---bagaimana seorang Ayah tetap diam dengan pendirian nya. Kalau di ingat pertemuan terakhir Lucy dengan Fedrick terbilang sangat kacau malah dalam suasana perdebatan besar.
Lucy meletakan cangkir teh keatas meja, kemudian berjalan mendekati sang Ayah. Namun reaksi Fedrick justru semakin acuh dan hanya membelakangi Lucy ketika ia mendekatinya. Lucy pun menjadi segan untuk meraih Ayah nya dan memilih tetap berdiri di belakang Fedrick.
Ia tahu banyak kesalahan bahkan tindakan nya sampai melukai hati ayahnya tapi jika dia menyerah dan menuruti sang Ayah, mungkin saat ini situasi akan berubah dan hanya ada penyesalan.
"Ayah..., Lucy tahu Ayah sangat kecewa dan begitu marah dengan keputusan ku di hari itu. Lucy juga tahu, Ayah tidak bermaksud bersikap kasar kepadaku. Ayah hanya mengkhawatirkan ku dan begitu sangat peduli dengan masa depan ku."
"Selama ini, semua yang ayah lakukan untuk melindungi ku ataupun Kak Welliam. Ayah hanya tidak ingin kami merasakan beratnya kehidupan yang pernah Ayah lewati, tapi semakin kuat perlindungan orang tua, kami hanya akan tumbuh menjadi anak yang lemah dan buta dengan dunia luar."
"Jadi, apa aku telah berbuat salah?"
__ADS_1
"Tidak, Ayah tidak salah."
Lucy meraih tangan Fedrick. meski ia sudah terbilang dewasa tapi telapak tangan nya tidak akan bisa sebesar milik Ayahnya dan genggaman hangat itu pun masih belum tergantikan.
"Ayah, Lucy melakukan nya bukan semata untuk Kendric ataupun makhluk hidup lain nya. Tapi Lucy juga ingin melindungi Ayah dan Ibu juga, Lucy ingin menjaga keluarga yang Ibu impikan dan keluarga yang telah Ayah wujudkan. Jika Lucy bersandar kepada Ayah---pasti, Ayah akan mengambil hal resikonya demi kami. Aku tidak mau sampai harus membuat Ayah semakin terluka."
"Meski begitu aku juga sadar bahwa keegoisan ini terus melukai Ayah dan sangat merasa bersalah. Ayah bisa marah dan jika Ayah ingin menghukum, Lucy tidak akan membantah nya."
Fedrick menggenggam erat tangan Putrinya dan saat itu Lucy dapat melihat Ayah nya tengah menahan air mata. Lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya Lucy melihat dimana Ayahnya akan terus bersikap tegar di hadapan mereka seakan ia yang paling banyak menyimpan kebohongan di hadapan semesta, karena Lucy tahu sebesar apa pun amarah orangtuanya mereka tetap memendam kekhawatiran lebih mengenai anak-anak nya.
"Sudahlah, Ayah sudah tidak marah. Ibu mu telah mengatakan alasan mu memilihnya. Ayah hanya takut bagaimana jika kau benar-benar tidak kembali-----dan Ayah hanya bisa memberikan sikap yang buruk di pertemuan terakhir kita. Tapi Melihat mu baik-baik saja itu sudah cukup."
Lucy memeluk Fedrick meluapkan segala ketakutan nya dan tetap menjadi sosok yang rapuh di hapan Ayah nya. Melihat itu mereka semua menjadi tenang, tapi kini tatapan Fedrick menjadi serius dan sangat intimidasi saat melihat sembari menunjuk Kendric.
"Kau ikut aku."
"Ayah---"
"Lucy kau tidak perlu sepanik itu, Ayah hanya ingin membicarakan hal serius dengan nya."
"Kau tunggulah di sini, kami tidak akan lama." Mengerti dengan maksud Fedeick maka Kendric pun berdiri dan sebelum pergi meninggalkan ruangan ia menghilangkan sedikit kerisauan di hati Lucy lalu menyusulnya.
Di atas perbukitan wilayah Lucifer Kingdom, Fedrick serta Kendric menatap seluruh dataran hingga perairan dari berbagai wilayah yang ada di Darkness World. Hanya saja yang terlihat lampu-lampu pemukiman yang tertampik seperti bintang, dan sebagian wilayah hanya terlihat gelap karena saat ini malam masih menjamah.
"Kau terlihat tegang Kaisar Dewa. Apa menurutmu aku akan membunuh mu?" Ujar Fedrick tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Bukan kah begitu?"
Kendric meraih wine pemberian Fedrick. "Aletha pasti telah mengatakan semuanya mengenai Lucy dan penderitaan nya karena Harlie. Aku sungguh minta maaf telah banyak melukai Lucy selama ini. Sebagai seorang Ayah kau berhak marah dan kecewa kepadaku---"
"Kalau begitu, bisakah kau melepaskan putri ku?"
"Itu----Aku tidak bisa."
"Kala begitu jangan meminta maaf. Kau harusnya mengatakan sesuatu hal yang meyakinkan diriku---bahwa pria yang tepat untuk Putriku adalah dirimu." Fedrick menghela nafas.
"Sudahlah, tanpa kau katakan pun aku sudah banyak melihat ketulusan mu. Aku dengar dari Aletha kau menyatukan kedua dunia yang berbeda ini untuk keamanan Lucy dan memberikan kebebasan tanpa batas---yang bahkan selama ini tidak bisa kuberikan. Kau juga jauh lebih menderita di banding diriku sejak keputusan Lucy untuk mengorbankan dirinya. Selama 100 tahun ini kau yang paling kuat meyakinkan diri bahwa ia akan kembali meski harus 1000 tahun penantian."
Fedrick duduk di sebuah batu di dekat sana, ia menatap langit dengan jutaan lampion masih melayang di angkasa.
"Kau hidup lebih lama dariku. Kau melihat banyaknya perubahan dan penderitaan lebih buruk di banding masa ku. Tapi kau tetap berusaha menciptakan dunia damai meski memerlukan puluhan ribu tahun. Dan juga---" Fedrick menatap Kendric.
"----Terimakasih telah memprtemukan ku dengan Lezzy."
"Maksudmu?"
"Aku tahu, kau yang membuka dimensi portal menuju hutan terlarang di wilayah Vampire. Hari dimana Lezzy pertama kalinya lahir dan di asing kan dari Imorrtal. Awalnya aku tidak menyadarinya dan sosok itu terlihat samar. tapi ciri khas dari sosok itu yang paling ku ingat adalah rambutnya berwarna emas di kegelapan, dan terlihat persis dengan mu. Apa aku benar?"
Mungkin maksudnya adalah saat Kendric di minta Carzie untuk berteleportasi kemasa lalu dan membawa Fedrick untuk membantu menyelamatkan Lezzy di tengah hutan. Meski kejadian itu baru bebera hari lalu terjadi, tapi bagi Fedrick itu sudah ratusan tahun lalu.
"Kau benar, tapi itu berkat permintaan Carzie."
__ADS_1
"Begitu rupanya, yah siapa pun---ku ucapkan terimakasih." Fedrick meneguk wine nya hingga habis kemudian melihat Kendric yang masih menanti pembicaraan darinya.
"Oya, biarkan Lucy tinggal di sini selama 3 bulan. Setelah itu aku tidak akan ikut campur dalam rencana pernikahan kalian."
"Bagaimana---"
"Aku tidak bodoh, dalam 3 hari kau pasti akan mengirim upeti dan meminta Lucy untuk segera tinggal bersama mu. Kau tidak mungkin sesabar itu untuk menundanya lagi kan? Tapi terlalu kejam jika membiarkan putriku hanya 3 hari bersama keluarga nya. 3 bulan adalah batas toleransi ku jika kalian ingin aku merestuinya."
"Sepertinya tidak ada alasan ku untuk mencegahnya lagi, jika rencana ku sudah terbaca oleh mu."
Fedrick bangun kemudian memegang salah satu pundak Kendric. "Setelah pernikahan kalian terlaksana, dalam waktu dekat Aku dan Lezzy akan pergi ke bumi."
"Kaliam akan pergi berapa lama?"
"Entah lah, mungkin untuk waktu yang sangat lama atau bahkan hingga akhir hayat kami? Karena aku dan Lezzy memutuskan untuk tinggal di bumi."
"Apa kau yakin?"
"Kenapa kau terlihat ragu?"
"Bukan begitu, hanya saja bukankah kalian masih sangat khawatir dengan dunia ini terlebih kepada ku."
Fedrick memejamkan matanya lalu kembali melihat dunia tanah kelahiran nya, mengenang semua usahanya untuk bisa sampai ke titik ini. Pertemuan, perpisahan, dan keputusan nya yang selalu ia lakukan hanya demi Lezzy.
"Lezzy pernah bilang kepada ku, dia ingin menikmati masa tua tanpa mengkhawatirkan anak-anak dan ingin melihat hasil luar biasa setelah memprcayakan kedua dunia ini kepada kalian tanpa ada prselisihan."
"Aku tidak perlu khawatir mengenai Darkness World, karena Putra ku akan memimpin dengan baik hingga kepenerusnya. Sedangkan Lezzy percaya kau dan Lucy pasti bisa menjaga Imorrtal menjadi bangsa yang lebih bermoral. Jadi ku harap kau tidak akan mengecewakan kepercayaan ini."
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjamin itu di atas nama Helios."
"Baguslah. Aku cukup menyukai sikap mu ini!"
"Tapi jika kau tinggal di bumi, apa tidak masalah untuk mu? Yang aku tahu kau tidak begitu menyukainya terlebih dengan manusia."
"Hem,, sebenarnya ini adalah penebusan kesalahan ku kepada Lezzy. Aku terlalu banyak merampas kehidupan nya sebagai manusia---hanya untuk menemaniku di Darkness World. Mau bagaimana pun Bumi adalah tempatnya tumbuh dewasa dan ia juga memiliki setengah darahnya."
"Di saat dia baru berjaya mewujudka impian nya aku justru malah datang dan memintanya untuk kembali ke Darkness World. Meski dia dengan rela mengikuti ku tapi terkadang ia sering merenungi impian nya. Di bumi, dia juga tidak punya banyak kengan baik semasa disana, maka aku ingin membuat kenangan indah dan bisa membuatnya merasakan hidup normal sebagai manusia."
"Sepertinya aku juga perlu membangun banyak rumah sakit serta akademi untuk mewujudkan impian nya yang sempat tertunda. Atau harus membangun nama perusahaan dulu?"
"Ternyata kau bisa juga bersikap seperti itu. Aku sungguh iri dengan mu. Jangan khawatir, kalian sudah sangat kaya di bumi---bukankah perusahaan Wisteria dan Helios adalah penyokong yang baik dalam urusan uang?"
"Cih, kalian sangat sombong. Sebaiknya kita sudahi pembicaraan ini. Aku juga telah mengatakan semuanya dan kau telah membuktikan banyak hal kepada ku." Fedrick menyilangkan kedua tangan nya, "Tapi entah mengapa rasanya masih tetap ada yang kurang sebagai seorag Ayah."
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau puas? Katakan saja, aku tidak akan menolaknya."
"Apa aku sungguh boleh melakukan apa pun?"
"Tentu saja!"
...✧༺ 🍁 ༻✧...
__ADS_1