The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Resident Soul; Robin or Vasellica


__ADS_3


.......


.......


.......


...---...


"Lucy tidak mau berpisah dengannya. Lucy ingin tetap bersama Kendric, mungkin harus Lucy akui bahwa perasaan ini dan semua perlakuannya terhadap Lucy begitu asing tapi Lucy sangat nyaman bersamanya. Ibu, bertemu dengannya begitu sangat berbeda saat Lucy bertemu dengan Harlie."


Lezzy tersenyum, ucapannya ini sudah bisa membuktikan bahwa kemungkinan besar Kendric belahan jiwanya. Hanya saja, mereka yang terpilih terus dibutakan oleh takdir, bila Kendric benar tidak bisa menjaga Lucy dari mata para raja, apa mungkin takdir bisa berputar?


"Jangan pernah tinggalkan dia, Lucy."


Tok,, Tok,,


Lezzy dan Lucy menoleh kebelakang melihat Auriel berdiri diambang pintu, dengan posenya yang membungkuk 45° kearah mereka.


"Salam Yang Mulia Queen Alicia, dan Putri Lucy. Maaf bila saya mengganggu waktu anda."


Lezzy mendekatkan dirinya kepada Auriel. "Ada apa Auriel?"


"Yang Mulia anda kedatangan tamu, sejak tadi beliau terus ingin bertemu dengan anda."


"Siapa?"


"Beliau adalah Queen Kar----" Auriel yang mengingat sesuatu, melirik Lucy yang berdiri tak jauh di belakang Lezzy--memilih untuk bungkam kembali.


Melihat reaksi Auriel, sepertinya tamunya kali ini adalah orang yang sama. Bahkan sudah hampir tiga minggu ini, wanita itu. Bersikeras datang ke Kerajaan untuk membahas masalah putranya, siapa lagi jika bukan Ibunda Harlie Queen Karollin.


Lucy yang merasa pembicaraan ini adalah sebuah privasi menyusul ibunya, "Jika ini adalah tamu yang penting. Sebaiknya Ibu temui saja, Lucy akan baik-baik saja terimakasih ibu. Sekarang Lucy akan melakukan seperti yang ibu katakan."


"Baiklah, kau harus selalu tersenyum sayang. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ibu juga."


"Pasti. Em, Ibu, boleh Lucy berada disini sebentar."


"Tentu, jangan terlalu lama. Sofia sudah merindukanmu kau harus segera menemuinya. Kalau begitu, ibu pergi dulu."


Lucy membungkuk hormat dan kembali memasuki kediaman itu. Ia berjalan sembari memandangi lukisan kaca sang Nenek. Sepertinya Lucy harus bersyukur karena anugrah kecantikan Ibu dan dirinya terlahir dari beliau, yang begitu sangat cantik.


"Karena terlalu fokus pada apa yang terjadi padaku. Aku sampai lupa menangnya kan siapa Nenek kepada ibu, apa kak Welliam sudah tahu ya?"


"Kau ingin tahu siapa Selini Thea? Sungguh?"


Ditengah keheningan, Lucy tiba-tiba mendengar suara familiar ini lagi. Buru-buru Lucy menoleh ke sebelah kanannya yang terdapat jendela terlapisi cermin besar.


Di sana terdapat bayangan Lucy yang selalu mengganggunya diwaktu tertentu. Sikapnya yang penuh keangkuhan dan cara bicaranya yang seolah telah mengetahui segalanya, selalu membuat Lucy penasaran.


Lucy menatap bayangannya sendiri, sosok lain dari diri Lucy yang hanya bisa ia lihat sendiri begitu menawan. Apalagi mata merahnya yang sangat persis seperti bangsa demon, hanya saja ia memiliki mata yang jauh lebih merah pekat.


"Siapa kau sebenarnya, kenapa akhir-akhir ini kau selalu ada? Tak bisakah kau pergi jauh?!"


"Aku tidak akan pernah bisa pergi darimu meski kematian adalah akhirnya. Bukankah, aku sudah bilang bahwa kau terlahir untuk menjadi Ratu di hati para Raja? Sedangkan Harlie hanyalah pilihan kecil dari pasanganmu yang sebenarnya Lucy."


"Lalu apakah Kendric adalah Mate ku?"


Sosok itu terdiam, dia menatap dingin kearah Lucy. Lalu tersenyum tipis, Lucy tak mengerti apa maksud dari senyumannya. Apa itu bentuk sindiran kepadanya?

__ADS_1


"Kau akan terus terluka dan semakin lama semakin melemah. Jika kau masih bimbang, hal buruk yang ingin di hindarkan takkan dapat terelakan. Semua itu karena kau masih belum bisa menerima keberadaan ku Lucy."


"Kenapa aku harus menerimamu?"


"Karena aku adalah setengah jiwa dari dirimu yang sesungguhnya. Kita adalah satu jiwa yang memiliki dua takdir berbeda, Lucy. Kau adalah diriku sebagai Robin, dan aku adalah dirimu sebagai Vasellica. Saat kedua takdir tak bisa berdampingan dalam satu jiwa, kau ataupun aku akan terus berbagi rasa penderitaan ini."


"Apa yang dimaksud sebagai Robin? Dan juga, bukankah harusnya aku adalah Vasilissa bukannya Vasellica?"


"Mungkin, kita memang keturunan rembulan, tetapi memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Vasellica tak akan memimpin satu dunia selayaknya gelar Vasilissa, melainkan sesosok penguasa yang mampu menjadi ratu di ketiga dunia ini."


"Kalau di ingat, kelinci itu memanggilku sebagai Vasellica--lalu bagaimana dengan sosok Robin? Apa ada sebuah hal khusus kenapa aku memiliki dua takdir ini?"


"Bukan hal khusus, melainkan sebuah kewajiban kita untuk dunia fana ini. Tetapi, mereka yang memiliki takdir Robin selalu saja berakhir dengan----" Sosok itu menjadi diam, bisa Lucy lihat jiwa lain dari dirinya yang selau saja menatap dingin serta keangkuhan.


Perlahan menjadi sendu, bibir ranumnya yang terlihat bergetar kecil membuat Lucy semakin menumpuk pertanyaan dibenaknya.


Apa dia sedang ketakutan?


"Intinya, kau harus segera menerima jiwaku sebagai Vasellica dan harus tetap bersamanya saat hari kehancuran itu tiba. Mau bagaimanapun, aku hanyalah bayanganmu dan kau tetap jiwa inti kita."


"Memangnya apa yang akan terjadi?"


"Kita tak punya waktu banyak, dalam waktu dekat bencana besar akan segera melanda ketiga dunia ini. Lalu kau harus membantunya mengalahkan Octopus!"


"Octopus, aku baru pertama kali mendengarnya."


"Semua penderitaan yang di alami Nenek, Ayah, Ibu, Kakak, maupun Kak Aletha serta mate kita. Semua itu adalah ulah Octopus, musuh besar keluarga Crownsiamoer dia yang saat ini menggerakkan papan catur, kau harus bisa memutar keadaan hingga ujung pedang raja mampu menawan kepalanya. Ingat ini baik-baik wahai diriku, saat sihir gelap di bangkitkan. Kau tidak boleh termakan dengan emosional mu dan menjadi gegabah, lalu mengorbankan begitu saja jiwamu sebagai Robin untuk alam ini."


"Ingatlah, aku juga adalah takdirmu sebagai Vasellica. Kau masih harus menjadi Ratu dan bersanding bersamanya untuk mengembalikan dunia ini pada aturan alam yang benar."


"Lalu bagaimana caranya aku dan dirimu bisa menjadi satu jiwa?"


Meski ini sedikit rumit tapi secara garis besar ia mengetahui apa yang di inginkan, sosok lain dari dalam dirinya. Hanya saja bagaimana caranya dia melakukannya?


Lucy benar-benar tidak ingat apapun mengenai pertemuan ataupun janji dengan seseorang sewaktu kecil? Jika pria dimasa kecilnya adalah Vasilias nya, kenapa dia tak menyatakan dengan sangat tegas?


Apakah itu Harlie, karena seingatnya hanya Harlie pria yang ia temu dan membuatnya merasa bahwa dia cinta pertamanya. Tidak, ibunya bilang mate yang sesungguhnya selalu bersikap hangat.


Bahkan sosok lain darinya juga bilang Harlie adalah sebagian kecil dari kandidiat mate nya. Kalau begitu siapa? Rasanya mustahil jika itu Kendric, kan dia baru bertemu bahkan pertemuan pertamanya saja saat acara pernikahan Kakaknya.


Argh! Ini semakin membuat kepalanya sakit. Tunggu, lalu bagaimana dengan jiwanya sebagai Robin? Tadi rasanya diri Lucy yang lain terlihat begitu ketakutan saat membahasnya.


"Oya, kau belum menjawabnya dengan jelas. Bagaimana dengan sosok Robin---" Lucy mencari keberadaan dirinya yang lain pada cermin jendela itu. Karena sepertinya sosok itu telah pergi, bagus! sekarang dirinya yang lain malah pergi saat ia masih membutuhkan jawaban.


Apa aku harus menunggu untuk bertemu dengan kelinci itu? Tidak itu kelamaan!


"Bagaimana cara memanggilnya lagi ya? Em, Va-vesellica kau disana? Tidak maksudku, Lucy kedua---rasanya itu malah terdengar aneh. Oh, bagaimana jika aku memanggilnya diriku yang lain? Takdirku, jiwa tak sempurnaku? Pokoknya siapa namamu bisakah kau tunjukan dirimu lagi dan menjelaskannya dengan lebih detail? Hello ...," Sepertinya sia-sia, bahkan tak ada tanggapan apapun dari bayangan di cermin itu.


Lucy melirik kearah lukisan cermin sang Nenek, ia menggaruk kepalanya yang tak begitu gatal.


"Oh, Nenek ku ..., tak adakah yang lebih ringan dari takdir yang kau turunkan kepada sanak cucumu?"


Lucy menghela nafas panjang ....


...---.-🍁-.---...


"Apa kau sudah gila, Kendric?!"


Kembali pada posisi Aletha yang masih saja terlihat marah setelah mendengar pengakuan yang mengejutkan dari Kendric

__ADS_1


"Ya, sangking gilanya. Aku sampai takut jika dia tahu yang sebenarnya, Lucy akan benar-benar pergi dariku hanya karena tahu bahwa aku Maharaja para Dewa."


"Aku rasa, Lucy tidak akan membencimu. Bahkan dia baik-baik saja dengan keberadaanku."


"Sungguh? Lalu pernahkah kau memperkenalkan dirimu sebagai Thea tou Polemou kepadanya, Aletha? Atau pernahkah dia menangnya kan tentang ibunya yang merupakan putri bangsa Dewa?"


Aletha diam, dia mencerna semua ucapan Kendric yang seolah berkata Lucy begitu membenci kaum bangsa Dewa. Tapi karena apa dia sampai berpikiran begitu?


Aletha akui dia tak pernah memperkenalkan dirinya yang sebenarnya kepada Lucy. Tapi bukankah saat rapat perang dulu, para bangsawan telah mengetahui siapa ratu Darkness World ini.


Harusnya beredar rumor sudah tersebar sangat luas. Lucy juga tidak pernah menanyakan hal ini juga, tunggu--bukannya tidak pernah tapi Lucy memang dibatasi mengenai dunia luar.


Ia lupa bagaimana putri demon ini dibesarkan layaknya permata yang berharga. Pelayan istananya saja adalah kaki tangan Lord Fedrick, serta pengawal Kediamannya adalah para Assasin kepercayaan Welliam.


Pasti secara 80% mereka tak diperbolehkan bergosip ataupun mengatakan hal tak di izinkan oleh Welliam ataupun Fedrick sendiri. Entah Aletha menyesal atau justru bersyukur mengenai hal ini.


"Ka--kalau begitu apa yang membuatnya begitu membenci para Dewa?"


"Mungkin karena dia terlahir sebagai Vasilissa, terlalu banyak beban penderitaan yang ia lalui. Sehingga dia berpikiran bangsa Dewa yang selalu di anggap pengendali takdir kaum dibawahnya, tak pernah sedikitpun menolong ataupun mengabulkan harapannya terhadap kaum lautan itu." Kendric terlihat kesal.


"Lalu kenapa kau tidak menjelaskan yang sebenarnya, Kendric?!"


"Apa kau pikir Lucy akan begitu saja menerima hal ini? Bahwa sebenarnya Dewa Maharaja yang begitu ia benci adalah pria yang berada di sisinya saat ini. Aku mungkin bisa saja merubah takdir seseorang, tapi aku tak akan sanggup melihatnya tersenyum untuk pria lain, padahal aku mate nya!"


"Kalau begitu kenapa kau tidak datang lebih cepat?! Kenapa kau biarkan, mereka saling bertemu? Padahal kau tahu, Lucy bisa saja bersanding dengan semua Raja."


"Tapi belum tentu mereka Vasilias nya."


Oh! Ini membuat Aletha kehabisan kata-kata. Bagaimana bisa reaksinya sangat tenang padahal situasi sedang dalam masalah besar.


Tapi sungguh, Aletha juga jadi khawatir. Bagaimana jika Lucy tahu bahwa dia adalah bagian Dewa tertinggi, apalagi Ibu dan Nenek nya adalah keturunan Maharani bulan. Tak kah Lucy jadi semakin terpuruk?


Ini sangat memusingkan, sampai-sampai rasanya Aletha ingin sekali mengutuk bangsa Imorrtal yang telah banyak membuat benih kehidupan menderita.


"Kendric, aku dapat mengerti ketakutan mu. Tetapi----Jika kau merahasiakan identitas mu yang sebenarnya, Lucy malah akan semakin membencimu! Apalagi, aku merasakan Lucy memiliki aura besar sebagai Robin. Apa mungkin dia generasi setelahnya?"


"Aku tidak perduli," Kendric masih bersikukuh untuk merahasiakannya. "dan mengenai Robin---meski aku tak bisa memastikannya, tapi dari melihat reaksi roh suci terutama Tyrsha. Kemungkinan, Lucy memang Robin untuk alam ini."


"Bukankah itu bagus, jika dia adalah Robin? Kita jadi punya penawar untuk racun sihir gelap itu. Kau juga tak perlu melakukan rencana berbahaya itu----"


"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkannya mengetahui tugasnya sebagai seorang Robin."


"Oh, Kendric! Ini membuatku gila, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?!"


"Ini yang terbaik untuknya, Aletha. Aku juga berniat membunuh siapapun yang berusaha menunjukan sisi lain dari sosoknya sebagai Robin, karena sampai kapan pun Lucy hanya akan menjadi keturunan Vasilissa tidak untuk menjadi Robin juga."


"Kendric, jika kau masih saja egois. Peristiwa 98 abad tahun yang lalu akan kembali terulang, dan bisa saja kali ini Lucy akan menjadi korbannya sama seperti----"


"Diam! Jangan ungkit lagi masalah wanita yang sudah mati itu, Aletha Wisteria! Aku sedang tak ingin membahas hal ini, sebaiknya kita akhiri dan kau, jangan lakukan hal yang tak ku perintahkan!" Kendric berjalan meninggalkan Aletha, ia meraih pintu putih besar dihadapannya sebagai penghubung jalan keluar.


"Kendric, aku percaya jika takdir Lucy berbeda dengan apa yang kau takutkan. ia tak harus berakhir seperti Dewi Vernitysha. Ada cara lain untuk menolongnya----"


"Tak ada yang bisa kulakukan untuk merubahnya jika Gerhana Alabasta terjadi, Aletha. Sama halnya dengan yang terjadi pada wanita itu---aku tetap tidak bisa menolongnya. mau bagaimanapun Takdir seorang Robin adalah kematian."


"Kematiannya bukan kesalahanmu ataupun kaum manusia, Kendric ...."


"Aku sedang tak ingin mendengar nasehatmu. Intinya segera temukan bukunya dan cegah Octopus melakukan sihir terlarang itu, jika tidak Lucy lah yang harus berkorban karena hanya dia yang mampu memurnikan sihir gelap itu. Akan tetapi ...," Kendric berbalik, dan menatap Aletha dengan penuh ketegasan.


"---aku tetap tidak rela melihatnya mati. Maka dari itu, aku perintahkan kepadamu Aletha Wisteria. Saat kita gagal menghentikannya dan sihir gelap itu di bangkitkan, bawa pergi Lucy sejauh mungkin. Jangan biarkan Maharani ku pergi ke Altar Krhanos ataupun----melihatku mati untuk menggantikannya."

__ADS_1


...---."o🍁o".---...


__ADS_2