The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Regret ; See Me Back!


__ADS_3

BOOM!!


Lapisan sihir tidak dapat bertahan dalam menahan serangan lawan, sehingga kerapuhan akan terjadi dalam hitungan 5 detik. Dan Lucy masih berusaha berlari menghampiri Monna.


"Tuan Putri!! " Teriakan Muzakka menjadi kalimat terakhir yang dapat Lucy dengar sebelum akhirnya lapisan sihirnya hancur tak tersisa kan.


5 batu besar yang di lumuri Miasma kutukan menghujani Moonlight Pack, sehingga keributan tidak terkendali. Mereka berusaha menyelamatkan nyawa mereka sendiri dari serangan luar. Tapi Lucy tidak perduli ia mencoba berlari sekuat tenaga seraya berhantaman dengan penduduk Wolf yang sangat panik.


Pendengaran Lucy terganggu saat para Siren bernyanyi untuk memanipulasi pikiran, rasanya semua menjadi pusing dan hanya terdengar suara nyaring seperti sirine---menusuk telinga.


"Monna," Ujarnya di saat badai angin dari miasma mengguncang perkemahan mereka.


"Putri----hiks, anak-anak berhasil di kendalikan oleh para Siren." Monna terlihat panik.


Arah pandangan Lucy tertuju pada luka di kaki Monna yang terluka cukup parah. Melihat itu ia langsung menyembuhkan luka Monna, Lucy menatap arah di belakang Monna. Para anak-anak berhasil di bawa oleh monster serigala dari jiwa anak-anak yang terkena kutukan miasma.


Ini menyulitkan, kaum merrmaid sungguh bekerja sama dengan bencana ini. Terlebih sekarang anak-anak telah berada di genggaman mereka, jika Lucy menutup gerbang itu akan sia-sia karena lapisan sihir telah terbobol.


"Putri, bahaya." Muzakka menghampiri Lucy saat terdapat serigala kutukan mencoba menyerangnya.


Dalam wujud Wolf, Muzakka mengigit batu spirit yang berada di kepala monster itu dan seketika serigala itu mati merubah diri menjadi cairan ungu----bentuk misma racun yang lain. Ini keterlaluan Lucy sungguh marah dengan apa yang di lakukan pihak musuh, belum lagi para Troll turut memporak-porandakan camp perlindungan mereka.


"Muzakka, segera kumpulkan Wolf petarung buat barisan pertahan di luar. Monna, arahkan semua penduduk ke perbukitan. Aku yang akan mengurus anak-anak."


"Tidak, ini terlalu berbahaya. Anda bisa terluka."


"Tidak ada seseorang yang kembali tanpa ada luka, meski itu sebuah goresan kecil di medan perang, Muzakka!"


Melihat keseriusan yang terpampang jelas di wajah Lucy, membuat Muzakka menyadari sesuatu hal. "Saya minta maaf atas pikiran bodoh saya, Putri."


"Kami akan melaksanakan perintah anda." Lanjut Monna. Mereka berpencar dan Lucy kembali berlari mengejar anak-anak.


"Kiara!" Lucy mencoba menggapai seorang bocah kecil yang saat ini sudah berjalan dengan pikiran kosong keluar gerbang.


Tapi sebuah tangan raksasa mencoba menghempas Lucy, menyadari serangan Troll Lucy bergerak cepat untuk menghindar dan sebuah hantaman kasar di tumpukan batu tak terelakan. Untungnya Ia berhasil melindungi diri.


Lucy kembali melihat ke depan, mereka berhasil memasuki hutan dan penyerangan mendadak ini menjadi sebuah keuntungan bagi musuh.


Kekacauan ini menimbulkan banyak korban dan Lucy semakin panik. Ia bingung-----seraya mencoba mencari jalan keluar. Di saat pikiran kecemasan mengendalikan situasi, dari arah utara kebulan asap terlihat bergerak menghampiri camp.


Kali ini serangan hewan apa lagi? pikir Lucy. Tetapi dari balik asap itu terlihat seekor anjing bertubuh besar---berkepala tiga. Dia adalah Cerberus yang menampakan diri untuk menyerang para Troll, awalnya Lucy mengira dia jenis roh jahat tapi ternyata dia adalah peliharaan yang di maksud Kendric.


"Putri sebenarnya hewan apa itu?"


"Entahlah, tapi dia di pihak kita. Kendric yang mengutusnya. Sekarang, bagaimana dengan situasi pertahanan?"


"Kami sudah mencoba menahan musuh memasuki Camp lebih banyak. Lalu, apa yang akan Putri lakukan sekarang?"


"Aku akan tetap mengejar mereka, masih belum terlambat untuk melacak keberadaan mereka."


"Tapi hutan adalah tempat yang jauh lebih berbahaya. Sekarang Beta ku sedang berada di wilayah Witch, ada sebuah informasi---bahwa King Harlie sedang menargetkan tongkat sihir Arrabela."


Harlie, pasti ingin menggunakan benda pusaka itu untuk sesuatu yang berbahaya!


"Aku akan tetap pergi, jika Beta mu tidak ada. Aku sendiri saja. Kau bisa tetap di Camp."


"Tidak, naiklah ke punggung ku, kita akan mengejar anak-anak." Ujarnya.


Lucy menunggangi wujud Wolf Muzakka, mereka melesap memasuki hutan yang di penuhi kegelapan serta miasma. Aksi kejar-kejaran pun terjadi, Muzakka sekuat mungkin mengejar pasukan musuh. Hutan yang tandus dengan di penuhi kabut serta aroma busuk miasma membuat Lucy sedikit terganggu, apalagi beberapa ranting terlihat menggores sedikit pipinya.



Miasma menjadi sangat aktif hingga ke titik 80% menyebarkan kutukan di daerah itu, bahkan salju pun berubah menjadi warna hitam. Melihat Lucy dan Muzakka masih mengejar. Musuh pun mencoba menyerang mereka menggunakan berbagai sihir. Tapi Muzakka tidak akan gentar.

__ADS_1


Mereka saling menyerang dan bertahan selama pengikisan jarak. Lucy menargetkan para siren dan hasilnya mereka terhempas akibat serangan sihir Lucy, di saat jarak berada di posisi pas.


Lucy melompat kearah musuh yang menawan anak-anak, tidak lupa dengan memberikan balasan tebasan pedang yang ia berikan setelah mengambil pedang di tanah.


Beberapa kurungan besi di hancurkan Muzakka. Anak-anak perhasil sadar dari serangan Siren, mereka langsung berlari kearah Lucy seraya menangis. Dan sihir perlindungan Muzakka mengelilingi mereka. Membawa anak-anak dari sini tidak lah mudah, Lucy bisa saja kabur tapi tidak dengan anak-anak Wolf ini.


Lucy meraih tubuh mungil di sebelahnya sembari menutup telinga Kiara. Dalam pelukannya Lucy mencoba mencari cara untuk kabur, tetapi pasukan musuh semakin bertambah banyak. Belum lagi kabut ini menganggu penglihatannya.


"Putri, Kiara takut." Anak-anak menjadi histeris dan dan menangis. Hanya 24 anak-anak yang berhasil di amankan Lucy dan sisanya masih terjebak di kurungan besi yang lain. Kucy mengabaikan peringatan Kendric, ia pun melepas cincin itu dan membuatnya menjadi kalung untuk Kiara gunakan sebagai tameng pelindung bagi dirinya dan anak-anak hang lain.


"Jangan takut, kalian akan baik-baik sa-----"


"Akhirnya, aku bertemu dengan mu Lucy."


Di tengah kekacauan itu, suara yang paling Lucy ingat mengalahkan seluruh kebisingan di sekitarnya. Ia mencoba melawan rasa kegelisahannya----Lucy berbalik dan membalas tatapan Pemuda di hadapannya dengan kebencian.


"Harlie ...," Setelah sekian lama, ia melihat wajah pemuda ini lagi. Lihatlah, dia seperti mayat hidup yang berjalan, kondisinya sangat memperburuk fisiknya.


Dari balik kabut, Harlie berjalan menghampiri Lucy. Tatapannya yang memandang Lucy terlihat sangat rentah, seakan pria itu merindukan wanita di hadapannya. Dengan perasaan penuh harapan, Harlie berjalan dengan sangat yakin bahwa Lucy akan berlari kearahnya.


Harlie merentangkan tangan, menunggu Kekasihnya menyapu rasa rindu yang selalu ia tahan dengan pelukan, padahal ini pertama kalinya ia mau menatap sosok Lucy dengan lebih lembut. "Lucy, kemari lah."


Suasana menjadi canggung saat Lucy tidak merespon ataupun berkata sesuatu kepada Harlie. Melihat itu, Harlie sempat keheranan. Ia pun mengambil inisiatif untuk memeluk Lucy lebih dahulu.


Tetapi sebuah pedang menunjuk kearahnya seakan ia menuntutnya untuk tidak mendekat lebih dari posisinya saat ini.


"Lucy, ada apa-----"


"Jangan menyentuh ku!"


Sepatah kalimat yang mampu membuat luka besar di hati raja lautan saat kata penolakan yang terdengar halus di utarakan dari bibir mungilnya. Seakan ia kecewa dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Lucy, Harlie mencoba meyakini hatinya bahwa ini hanya ilusi.


Tapi Lucy sungguh telah berubah. Wanita di hadapannya bukanlah sosok yang ia kenal. Lucy yang ia kenal, tidak akan seberani itu menatap langsung matanya. Ia tidak akan sedingin itu menyikapinya, Ia tidak akan sebenci itu untuk membalas salam nya.


"Ada apa denganmu? Bukankah kau merindukan ku? Bukankah, kau sangat ingin bertemu denganku?" Harlie mulai gelisah. "Aku mate mu, Lucy."


Lucy tersenyum kecut saat kalimat yang sempat ia rindukan dulu, kini terdengar seperti lelucon yang sangat menghibur untuknya. Ia semakin membenci sosok di hadapannya, dengan brengs*knya dia bilang merindukannya? Setelah apa yang dia perbuat kepada Lucy.


"Kau salah," Lucy memberanikan dirinya, melangkah mendekati Harlie dengan pedang yang masih menawan leher pemuda itu "Mungkin, aku harus meminjam kalimat andalan mu---Aku, bukan Mate mu!" Lucy membalas dengan sangat dingin kearahnya.


Seakan ia kecewa dengan kalimat kebanggaannya. Harlie, menuai dosa dengan fakta kepahitan ini. Sekali lagi Harlie disadarkan kenyataan, saat ia harus melihat sebuah lambang yang terlihat sangat mencolok di wajah wanita itu.


"Tidak mungkin ....," Harlie di buat mengerti saat ucapan Octopus menjadi kenyataan----bahwa bisa saja Lucy memiliki Mate lain yang sedang ia pilih sebagai seorang Vasilissa.


"Siapa? Katakan kepadaku, siapa orang itu?!!"


Harlie terlihat marah dan sangat membenci kenyataan itu, Ia kemudian mencengkram kedua lengan Lucy dengan amarahnya yang memuncak hingga ke ulu hatinya.


"Pria mana yang berani menodai tubuh mu dengan namanya? Katakan, Lucy!!" Harlie menjadi gila saat ia sudah tidak bisa lagi memilikinya ataupun menariknya kembali ke sisinya.


"Katakan ini tidak benar, Bukankah aku yang paling kau cintai? Aku akan menyerahkan diriku dengan tulus kepada mu----jadi kumohon, lihat aku kembali Lucy."


"Aku tidak akan pernah lagi menjadi bodoh karena memilih mu! Rasa sukaku yang dulu pernah aku tunjukan kepadamu adalah sebuah kesalahan!"


Harlie tertawa dengan depresi yang menumpuk, ia terlihat sangat miris dan sangat stress untuk menerima semua kenyataan ini. Ia pun menarik pedang Lucy dengan tangan kosong, sihir gelap menyelimuti Harlie. Seakan pria di hadapannya ini telah termakan rasa haus kecemburuan. "Tidak! aku tidak akan menyerah. KAU HANYA AKAN MENJADI MATE UNTUK KU!!"


Harlie menjadi buas. Ia tidak rela wnaitanya di tandai oleh nama pria lain dan bukan dirinya! Ia tidak rela jika dia harus bersama pria lain! Dan ia semakin tidak rela saat Lucy tidak lagi melihatnya sebagai pria yang paling dicintainya.


"Aku akan menghapusnya! Lambang itu harus hilang dari tubuh mu!"


"Kau mau apa?" Lucy terlihat gelisah dan berjalan mundur saat Harlie menatapnya dengan sangat nafsu cemburu yang berlebihan.


"Aku akan mengulitinya! Aku akan menyayatnya----Sampai lambang itu tidak terlihat lagi di wajah mu!"

__ADS_1


Harlie membuka perban pada tangan kanannya---sebuah tangan buatan yang di ciptakan oleh Octopus dengan menggabungkannya dengan sihir hitam dan untuk menyempurnakannya, ia menggunakan juga sebuah batu sihir dari tongkat Arrabela. Itu berarti, Harlie berhasil menembus penjagaan wilayah Witch tanpa di ketahui kekaisaran, atau kabar itu terlambat sampai ke Lucifer Kingdom!


Sejak tadi Lucy juga merasa bingung dengan tangan Harlie yang sudah pulih dengan cepat. Tapi ia tidak akan heran dengan hal gila apa yang akan Harlie tuangkan pada tubuhnya sendiri untuk menjadi kuat.


Muzakka mencoba menghentikan Harlie tapi Harlie dua puluh kali lipat lebih kuat dari Muzakka, sehingga Muzakka pun terhempas jauh saat Harlie menghajarnya. Anak-anak yang melihat tragedi mengerikan yang Harlie tunjukkan----semakin bersembunyi ketakutan.


"Kau tidak akan bisa menghapusnya, meski aku mati sekalipun!"


"Kepar*t!!" Harlie menggunakan pedang Lucy yang ia rebut dan dengan liar menargetkan kening Lucy untuk ia sayat menghapus kepemilikan dari Pria yang berani merebutnya.


Seakan Lucy percaya pada pilihannya, ia yakin Kendric akan melindunginya. Dan benar saja, lambang Lily sebagai tanda Mate di kening Lucy bercahaya membuat perisai pelindung dan membalas aksi Harlie dengan dorongan kuat hingga berhasil melukainya.


Kondisi yang sudah buruk di tambah dengan serangan fatal membuat tubuh Harlie hancur separah mungkin, hingga semburan darah dari mulutnya harus menodai penampilannya.


Menerima tekanan kuat dari mana yang sangat familiar membuat Harlie mengetahui siapa pria yang menjadi pemilik di hatinya. Ia pun tertawa dengan penampilan terpuruknya, sembari bertepuk tangan seakan menyukai hadiah yang Lucy berikan. Harlie menatap sinis kearah Lucy.


"Aku mengerti-----Kau jadikan dia sebagai Mate mu hanya karena pria brengs*k itu pernah menyelamatkan mu sekali, begitu? Apa kau sekarang menjadi wanita Jal*ng Lucy?!"


Lucy mengumpat kesal dengan ucapannya yang tidak akan pernah berubah! "Jaga ucapan mu Harlie. Kendric bukan pria brengs*k seperti mu!"


"Kendric?!"


Harlie mencoba bangkit sembari menghapus darah di mulutnya. "Apa kau tahu apa yang sudah dia lakukan kepada ku? Dia membuatku cacat, dia meracuni ku, aku tersiksa apa kau tahu Lucy----"


"Itu karena permintaan ku! Aku yang meminta Kendric untuk meracuni mu, Harlie ...."


Kata-kata Lucy menjadi badai yang membuat Harlie diam mencerna kata-katanya. Semua sudah terlambat Lucy sungguh tidak akan pernah melihatnya lagi. Sedangkan Lucy harus berbohong demi menurunkan pengawasan Harlie.


Lucy melirik Muzakka untuk membuat pergerakan rahasia. Dan seakan mereka telah saling mengerti, Lucy bergerak mencoba menyerang Harlie dan Muzakka akan menghancurkan 10 kurungan besi lainnya.


"Harlie....,"


Lucy bergerak cepat meraih pedang di tangan Harlie, karena kurangnya kewaspadaan, Lucy berhasil melewati pertahan Harlie dan pedang itu menghunus jantung Harlie.


Harlie yang sudah sangat rentan menatap sayu pada pedang yang di gunakan Lucy untuk menusuknya.


"----Aku tidaka akan mungkin mencintaimu kembali. Tapi, aku bisa menyelamatkan mu dari penderitaan ini. Bukaan kah kau sangat ingin bertemu Tuan mu? Aku akan membantumu bertemu dengannya."


Satu hukuman untuk mewakili semua kesalahan yang Harlie lakukan kepada Lucy. Harlie menyerah, sejak awal ia tahu bahwa Lucy terlalu terang untuk mahkluk lautan dalam sepertinya.


Harusnya dia tidak melampaui batas, harusnya dia tidak menyentuh cahaya itu. Harusnya dia mencegah perasaan ini timbul hanya karena pesona seorang Vasilissa.


Lucy menarik pedang itu---membuat Harlie tumbang berlutut di bawah Lucy. Harlie tertawa seperti orang yang kehilangan kewarasannya. Ia sudah tidak perduli lagi, ia terlalu gila untuk menolak perasaan obsesinya terhadap Lucy.


"Aku---Uhuk! Tetap tidak rela melihatmu bersamanya! Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, maka dia juga tidak boleh Lucy." Harlie tersenyum sinis.


"Kau sudah melihatnya! Tunjukkan dirimu dan habisi dia!!" Harlie berteriak kuat entah kepada siapa.


Tetapi Inilah rencana awal Harlie. Jika dia tidak bisa membujuk Lucy kembali maka dia akan membiarkan pria itu membunuh Lucy.


"Ini hadiah ku kepada Mate mu, Lucy."


"Kau kepar*t Harlie!!"


Harlie menghilang menjadi buih kematian yang tak menyisakan keberadaan---Selain senyumnya yang penuh kepuasan atas dendam nya. Seketika miasma meningkat dengan sangat kacau, gelombang racun menyelimuti mereka. Lucy mengkhawatirkan anak-anak, dan Muzakka tidak bisa bergerak karena di rantai oleh miasma.


Dari sudut di balik pohon tua, Sosok pria agung yang menjadi panutan di Imorrtal terus mengamati Lucy sejak pertikaian mereka. Ia menggeram kesal, saat mana yang di keluarkan oleh lambang di keningnya membuatnya merinding dengan fakta itu.


"Jadi, Mate mu adalah Kaisar Dewa? Aku tidak merasakan adanya kebangkitan Dewi dari dirimu. Tapi akan sangat merepotkan jika keturunan Selini Thea yang memiliki darah Demon seperti dirimu, adalah Mate nya!"


Lucy sangat mengenali sosok pria itu, karena wajah tuanya selalu muncul di mimpinya. "Jadi, apa kau berniat akan menghabisi ku, Octopus?"


...✧༺🍁༻✧...

__ADS_1


__ADS_2