The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Behold, the Great Lord of Heavens!!


__ADS_3

...Dalam satu dunia ada begitu banyak Raja yang bertahta. Tetapi hanya akan ada satu Kaisar dari ribuan Raja yang berdiri, Sebagai Penguasa Langit!...


...----- ⋆ ˚。⋆୨୧˚ 🍁 ˚୨୧⋆。˚ ⋆ -----...


.......


.......


.......


...---...


*Imorrtal, Leryvora.


~Light'æthepolus Kingdom


Kendric duduk di kursi tahta sebagai penguasa Imorrtal. Bersandar menatap penuh ambisi kepada hal yang tengah ia bayangkan saat ini---kursi tahta yang berdiri di atas puluhan mayat dari para menteri yang mendukung pola pikir Octopus. Dengan begitu tinggi jiwa patriot di dalam diri mereka---sangat menjunjung Tuan yang salah.


Beberapa jam yang lalu Kendric di datangi oleh seluruh menteri karena aksinya mendeklarasikan revolusi pada dua hari lalu. Bertanya dengan pola pikir keadilan---para menteri mencoba menghakimi sosok Kendric.


Tapi ia tidak akan menyesal dan merasa takut di sudut kan seperti ini. Justru Kendric balik menyidik kepada menteri Dewa yang menjadi pilar-pilar kedamaian di bangsa Dewa ini. Bahwasanya, Kendric mempertanyakan keadilan yang mereka sebutkan tadi dan menerapkan sistem revolusi kepada bangsa Dewa yang menganut statisme ilmu sihir gelap, sebagai jawaban yang tepat.


Dalam arti lain ia meminta para Menteri itu untuk menghancurkan sekte sesat tersebut, jika begitu menjunjung keadilan dan kedamaian. Tapi hak itu tentu tidak akan mereka lakukan, karena sama saja mereka menyetujui untuk membunuh diri mereka sendiri, karena mereka adalah anggota dari kelompok pemberontak tersebut. Semua Opini Maharaja seketika di bantah dan mendapat banyak kritikan, tapi Kendric bukanlah Penguasa yang menegakkan kata bijaksana.


Ia berpikir secara rasional sesuai keadaan bukan dengan hati. Sehingga ia menuntut tindakan bukan argumen belas kasih, karena mereka mencoba mengalihkan topik dan menyudutkan bahwa Maharaja adalah sosok yang begitu terlalu khawatir terhadap kesetiaan bangsawan, justru menarik kunci geranat yang tidak seharusnya mereka utik.


Kendric tertawa keras sembari melepas topeng yang selalu menutupi wajah nya. Lalu seketika dari langit-langit ruang kekaisaran---lembaran kertas jatuh berhamburan menghujani ruang kursi tahta. Sehingga para Dewa mengambil dan membaca hal apa yang ingin Maharaja tunjukan, dan alangkah terkejutnya saat mereka melihat catatan daftar rencana serta nama kelompok para pasukan Titania yang menjadi fondasi atas semua kinerja yang Octopus lakukan, tercatat dengan sangat baik hingga tidak terlewati satu kalimat pun di sana.


Mereka panik dan menatap penuh keterjutan pada apa yang mereka lihat. Sehingga Kendric dengan sangat baik hati akan memberitahukan fakta yang bahkan langit pun menganggap keajaiban terhadap sosok nya.


"Ini semua---!!!" Mereka terlihat gemetaran saat menggenggam kertas yang berserakan di bawah mereka.


"Aku akan menghabisi semua yang menjadi faktor kekacauan dunia. Kalian terlalu lama mengendalikan reli dunia sebagai papan catur kekuasaan, apa kalian puas telah berjaya hingga ke detik ini?"


Kendric yang tidak ber delik sedikitpun dari posisi duduknya---dengan sangat sombong menatap penuh sindiran terhadap mereka yang tidak lebih hanyalah pion bidik yang di kendalikan Octopus tanpa tahu apapun.


"Karena sudah dengan berani menipu dunia ku dan mencoba mengambil keuntungan dengan berbagai cara dari kematian penguasa terdahulu----akan ku pastikan, kalian beristirahat dengan terhormat di tangan ku."


"Baginda, to--tolong tenangkan diri anda. Kami tidak mengerti dengan ini semua. Bukankah anda yang saat ini mencoba membunuh bangsa Dewa?"


"Aku hanya membunuh pendosa. Mereka yang terikat dengan Titania adalah pemberontak."


"Anda tidak bisa menghakimi kami. Kami adalah Dewa yang menjaga Perdamaian bagaimana mungkin anda menuduh seperti itu."


"Benar, tolong katakan maksud dari rencana anda Baginda."


"Kau ingin aku menjelaskan dengan situasi kita saat ini? Apa kau tidak merasa bersalah Castello Prhodith?" Ujar Kendric masih dengan sikap angkuh nya.


"Berani sekali kalian masih menunjukkan wajah polos di hadapan ku setelah melihat semua catatan daftar hitam kalian. Sebelumnya aku meminta kalian untuk mencari dalang atas kasus Tahlia dalam tempo satu bulan, tetapi apa hasil yang kudapat? Tidak ada bukan?"


"Me--mengenai hal itu, para Tetua mereka---"


"Kau tahu sesuatu tapi tidak melaporkan nya kepadaku?!! Apa kalian mencoba melawan ju dan menjadikan Octopus sebagai kandidat, begitu?"


"................ " Hawa yang berkumpul di ruang kekaisaran ini sungguh menenggang kan bahkan terasa mencekik leher mereka.


Tidak ada jalan keluar, mengelak pun percuma karena terlalu banyak bukti. Bahkan untuk bermain drama saja sudah mustahil karena panggung bukan lagi untuk di tonton, melainkan menjadi tempat audisi bagi mereka yang ingin menguasai alur jalan nya peraturan ini berputar.


Mereka pun dengan sangat angkuh berpikir optimis kembali saat merasa unggul dengan apa yang mereka capai dalam ratusan abad menggerakkan dunia Imorrtal dalam genggaman mereka. Membuat para menteri itu menjadi sombong dan menganggap Maharaja bukanlah maslaah besar---mengingat mereka dulu pernah menumbangkan satu penguasa rembulan bagi Imorrtal.


Topeng kesetiaan yang terpasang di wajah mereka berubah menjadi sosok gimik ekspresi realita. Sehingga Kendric menarik lebih banyak sudut senyum kepuasan, melihat musuh nya memilih menyerah dan menunjukan watak asli mereka.


"Ini membosankan, karena rencana telah di ketahui bukankah kita harus segera menyingkirkan dia?" Ujar Dewa Baratamon, dengan gimik merendahkan Kendric sehingga kata provokasi pun mengendalikan pikiran para Menteri.

__ADS_1


Mereka menjadi sangat percaya diri untuk menerima deklarasi perang itu, lagipula masih ada Tetua Octopus yang akan menjadi perisai serta tombak untuk mereka. Jadi, kenapa harus taku?


"Aku suka ekspresi wajah kalian----Sebelum menjadi wajah orang mati di bawah kaki ku!"


"Kepar*t! Kau harus segera menyingkir dari kursi itu. Karena hanya Tetua Octopus lah yang berhak mendudukinya." Teriak salah satu dari mereka.


Kendric menunjukan ekspresi wajah ketidaksukaan nya---yang membawa tekanan saat mata merahnya menyalak di tengah temaram nya ruangan. Dengan masih setia pada posisi angkuhnya, Kendric memberikan tatapan dingin kepada mereka.


"Aku mempertaruhkan kepalaku untuk kursi yang kalian banggakan ini. Jadi, cobalah untuk mendapatkan nya." Kendric tersenyum layaknya seorang Psycopath yang tengah menikmati rule kematian game ini. "----Itupun, jika kalian bisa."


"Habisi dia!!"


Satu teriakan menjadi start awal peperangan di mulai. Mereka mencoba menyerang dengan berbagai macam sihir yang terlihat terus ber hantaman dengan dinding perlindungan yang Kendric buat. Sehingga dentuman sihir yang saling ber pantulan mengguncangkan seisi istana.


Di tengah kebulan asap dan serangan aksi pemberontakan tersebut. Dewa Baratamon mencoba melihat kedalam kebulan debu yang mulai menutupi ruangan, dengan mata Dewa nya yang begitu tajam atas anugrah penglihatan. Melihat apakah Maharaja itu telah tumbang atau cacat karena hujaman sihir penyerang yang begitu amat dahsyat kekuatan nya.


"Tidak mungkin-----Argh!!"


Baratamon harus menerima pahitnya balasan yang ia terima. Saat itu ia terkejut bahwa serangan bertubi-tubi mereka hanyalah hal yang sia-sia, ketika tidak ada satupun sihir yang berhasil menembus pertahanan sang Maharaja. Sedangkan Kendric masih dalam pose Maha Dewa nya yang terlihat santai dengan tangan yang menompang kepala---seakan ia bosan dengan serangan tersebut.


Dan parahnya, ia membalas Baratamon yang dengan berani mengintip dirinya seakan memamerkan kekuatan mata itu kepada Kendric. Sehingga ia menunjukan apa itu kuasanya sebagai Maha Dewa yang dengan mudah dapat mengambil kembali anugrah itu dengan sebuah paku emas yang berhasil melesat dan menusuk matanya.


"Argh!!" Teriakan Baratamon menarik perhatian, saat ia masih meringis kesakitan terhadap mata kanannya dan paku tersebut tidak juga kunjung lepas.


Mereka berhenti menyerang dan kembali melihat ke depan, saat rasa penasaran mengambil alih kuasa pikiran. Perlahan kebulan asap itu mereda dan secara samar menunjukan sosok Kendric yang tidak tersentuh sedikitpun, dengan serangan gila yang telah meretakkan separuh bangunan istana.


"Sudah puas?"


"Bagaimana bisa---anda?!!"


Mereka menjadi ragu serta meruntuhkan ego kuat pada pendirian mereka melihat Maharaja itu masih dengan sangat angkuhnya menatap mereka dari kursi tahta. "Karena akan sangat memuakkan melihat kalian lagi dan lagi! Mari selesaikan semua pendosa di Imorrtal."


"Tunggu, apa yang akan anda lakukan?!"


"Meski begitu, kalian dapat pastikan bahwa Maharaja nya adalah sosok yang asli---keberadaan ku adalah mutlak bahkan langit pun tidak akan mampu mengelak nya."


"Omong kosong! Kau bukanlah keturunan Apolleon, bagaimana bisa Dewa yang tidak di ketahui asal usulnya menjadi sosok yang menerima kasih Matahari paling banyak? Kau hanyalah bocah Nak!"


"AHAHAHHAHA!!!" Kendric tertawa paling keras seakan menghina opini bodoh dari mereka. "Mungkin sudah waktunya kalian tahu mengenai ini."


"................. " Seluruh bangsawan itu menunggu kalimat yang menjadi kendali tali ketegangan di tempat ini.


"Aku Putra Dewa Helios, Paduka Apolleon. Serta Robin, Dewi Vernitysha. Sosok Matahari yang di lindungi Lagit dan atas kehendaknya aku adalah Maharaja bagi Imorrtal. Kendric Athananysus Helios." Ujar Kendric membawa banyak asumsi kekecewaan bagi seluruh Menteri di sana.


"Putra Apolleon?"


"Bahkan ibu nya adalah Dewi Vernitysha?"


"Itu berarti, mereka merahasiakan hal ini dari kita semua? Kalau begitu Selini Thea----Sial! Mereka sejak awal telah mengetahui hal ini."


"Itu tidak masuk akal---!!!"


Mereka semua terdiam saat mengamati kembali wajah Maharaja itu yang terlihat begitu mirip bahkan terlihat seperti cerminan Apolleon. Sosok Dewa yang selalu mereka benci karena keagungan dan Keperkasaan nya menjadi Dewa Matahari---pada masa nya.


"Bagaimana bisa aku tidak menyadari bahkan marga baptisnya adalah Helios!"


"KALIAN SEMUA DEWA KEPAR*T AKU AKAN MEMBUNUH MU!!"


Kendric suka dengan rule kekacauan yang berjalan sesuai keinginan nya. Maka Dengan senang hati ia akan menerima tawaran ini. Kendric menjentikkan jarinya dan dalam waktu kurang dari sedetik----barisan oedang sihir berjumlah ratusan terpampang dengan sangat gagah dan menakutkan di belakang Kendric bahkan hampir memenuhi seisi ruangan tersebut.


Kendric yang saat ini terlihat di mata para musuh nya seperti seekor singa berjiwa harimau---dimana ia adalah penguasa tenang di padang savana tetapi memiliki nafsu memburu yang kuat sebagai raja hutan yang sangat terkenal dengan sikap soliter nya.


Benar, cukup dirinya sendiri yang mampu menghabisi mereka!

__ADS_1


Hasilnya ketakutan menghancurkan segalanya, mereka mencoba kabur tapi ruangan itu adalah tempat eksekusi terbaik bagi mereka yang selalu mengemis tahta.


"---Pastikan kalian mengingat, sosok Maharaja sepertiku meski di neraka sekalipun!!"


Detik selanjutnya sihir pedang itu benar-benar menghujani mereka---mengoyak, menebas, memenggal, mencabik hingga menodai seluruh aset istana yang ada di ruang singgasana tersebut dengan darah. Seakan Kendric adalah penguasa yang sangat cocok duduk di tahta bernoda darah.


Dan seperti itulah, bagaimana bisa Kendric hanya terduduk di tahta dengan tumpukan mayat di ruangan kekaisaran.


Karena sudah cukup lama ia berada di sana melihat sisa waktu tak berguna mereka. Ia memutuskan berdiri dan sebuah pedang menghampirinya dengan begitu cepat. Tetapi seiring Kendric berjalan menuruni tangga kursi tahta, terdapat seorang Dewa yang terlihat masih dapat selamat. Ia merangkak---keluar dari tumpukan jasad Dewa di sana meski telah kehilangan kedua kakinya.


Meski begitu Kendric berjalan mengabaikan dirinya. Dewa Båssërghk berdecih melihat keangkuhan nya. "Alam a--akhan, menghukum mu." Kendric berhenti lalu melirik dingin dengan Dewa di belakangnya.


"Kau tahu---Uhuk! Robin hanya milik alam bukahan..., mi..lik Apolleon. Ahahaha!! Kau akan di hukum, karena menjadi Putra----Ugh!!"


Kendric membantunya mati lebih cepat sebelum mengatakan hal yang paling ia benci saat ini. Seakan Ia harus di ingatkan, bahwa Robin tidak di perkenankan memiliki Mate! Ia kembali melangkah melewati mayat mereka tanpa ada rasa iba ataupun sesal setelah menghabisi mereka.


Kendric berjalan seorang diri menyusuri istana sunyi serta sepi, hanya terdengar langkah kakinya yang menggema di sepanjang istana. Sisa darah yang masih menetes dari pedangnya menjadi jejak bahwa di istana ini, sang Maha Dewa telah melakukan revolusi untuk membinasakan Pendisa yang menentangnya.


Hingga....,


GRUOOOOO!!


"Kyaaaa!!"


"Tolong!!"


"Tolong ampuni kami, ya Maha Dewa!!"


Suara bising dari luar istana, menjadi nada terbaik dari istana sunyi tadi. Kendric menatap penuh kepuasaan melihat kota Leryvora telah hancur dan di selimuti oleh lautan api akibat pasukan naga milik Kendric.


Karena sesungguhnya, sejak dua hari ini Imorrtal terus di gempur oleh perang yang membuat kondisi dunia tambah kacau dan menderita, terlebih harus berdampingan dengan bencana miasma.



Teriakan keputusasaan mereka saat memohon belas kasih dari cahaya mentari nya, membuat Kendric justru lebih ingin mendengar penderitaan mereka dan mengabaikan segala macam harapan-----seperti, saat mereka yang memanfaatkan kasus Ibunya dan mengabaikan ketidak adilan yang di hakimi oleh bangsa manusia.


Kendric berdiri dari balkon istana yang dapat melihat langsung bagaimana hancurnya kota Leryvora yang selalu berwarna putih seputih awan dan sebersih birunya langit. Kini harus terporak-poranda dengan warna hitam nya asap, cerahnya warna oren dari kobaran api. Serta merah sepekat mawar dari anyirnya darah.


Peperangan ini banyak memakan korban jiwa dari rakyatnya sendiri. Ia merentangkan tangan lalu sebuah lambang Dewa Matahari terukir dengan sangat besar serta terang di langit---menarik semua perhatian dari aksi para naga serta pasukan kesatria kekaisaran.


Mereka yang melihat Kendric, langsung berhenti dan merendahkan diri seakan memberi hormat kepada Maharaja di Imorrtal ini.


"Mulai hari ini, bebaskan Imorrtal dan seluruh dunia dari genggaman para Tetua. Dirikan kembali tujuan Imorrtal yang sebenarnya---mereka yang mengikat janji setia kepada pemberontak atau berkerja sama dengan Tetua Octopus untuk membangkitkan Krhanos harus di hukum mati!!"


"HABISI PENDOSA!!"


"KEMBALIKAN KEJAYAAN IMORRTAL!!"


GRUUOOO!!



Teriakan para kesatria serta para naga kembali menggelegar di langit Kota Leryvora yang sangat buruk karena miasma yang terus menjarah. Mereka kembali dengan semangat memporak-porandakan ibu kota palsu yang terlihat lebih mirip dengan cerminan neraka saat ini.


Kendric semakin menyukai kekacauan ini dan melihat reaksi musuhnya mendengar deklarasi peperangan. "Jika kau ingin menciptakan bencana, jangan tanggung-tanggung Octopus."


"Salam Baginda, Altar suci Robin telah di temukan. Roh suci Aiden akhirnya memberitahukannya." Ujar bawahan Kendric.


"Pastikan kalian menyeret kepala Tetua itu dan hancurkan juga Kuil Suci tersebut, aku akan pergi melihat Altar Suci."


"Baik Baginda."


...✧༺ 🍁 ༻✧...

__ADS_1


__ADS_2