The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Calling ; A Statement


__ADS_3

Angkasa kelabu menghujani dataran tinggi serta hutan Moonlight Pack dengan butiran salju yang mengandung racun Miasma. Untungnya sihir pelindung yang memiliki mana Kendric dapat membantu menetralisir racun dan mengurangi Miasma nya. Hanya saja keadaan sekarang mulai semakin menegangkan hingga menimbulkan banyak pembicaraan di kalangan bangsa Werewolf, hal ini karena Lucy perlu mencari kelompok musuh yang menyamar di antar mereka.


Sebelum nya Lucy sudah berdiskusi dengan Kendric---cara mengetahui musuh diantara sekawanan Serigala. Hanya ada satu cara yaitu dengan membuat seluruh penduduk merubah diri menjadi seekor Wolf secara bersamaan.


Lucy dan para tokoh terkemuka memberikan isyarat menyuruh bangsa Werewolf untuk segera melakukan Shift, setelah mengatakan bahwa di antara mereka ada musuh yang bersembunyi serta hal apa yang sudah terjadi pada makanan yang mereka dapat dari hutan.


Mereka tidak akan ragu---dengan kesadaran masing-masing seluruh bangsa Werewolf melakukan Shift nya termasuk anak-anak. Dan sungguh benar saja; ada sebuah sihir peniru yang tidak akan pernah bisa merubah wujud sebagai Serigala itu karena mereka mahluk yang sejak dahulu di lindungi anugrah Dewi Bulan. Sehingga saat seorang penyihir tingkat tinggi sekalipun mencoba merubah wujud sebagai Serigala mereka tidak akan bisa dan hasilnya sihir akan gagal.


Musuh yang merasa terancam terlihat sangat gelisah sampai-sampai mereka lari----mencoba ?menyelamatkan diri. Untunglah Lucy membagi pasukan Kerajaan mengelilingi area pembuktian, apalagi para Wolf petarung juga ada di sekitaran mereka sehingga menangkap mereka bukanlah hal yang sulit.


Terlihat mereka berjumlah lebih dari 100 orang dengan terdiri dari berbagai kalangan kecuali untuk ana-anak. Lucy merasa kesal dengan tindakan yng masih saja Harlie lakukan, apa kali ini ia lakukan untuk Tuan nya Katastrofi.


Apa si bodoh itu masih berharap Tuannya akan hidup lagi?


Akan tetapi sialnya separuh dari mereka melakukan bunuh diri dengan cara meledakan diri menggunakan sihir perjanjian bila tertangkap. Hal ini memang tidak bisa di hindarkan karena tindakan mereka langsung di lakukan saat para Kesatria mencoba mengamankan.


Dampak buruknya adalah anak-anak yang melihat hal mengerikan seperti ini pasti memiliki trauma. Bahkan Lucy saja untuk pemandangan seperti ini masih sagat awan untuk ia jadikan terbiasa.


"Mereka terlalu bodoh untuk setia kepada Tuan yang salah." sindir Kendric.


Lucy melihat Kepala Suku. "Bawa anak-anak ke tempat yang aman, para Wolfy Petrung akan bergabung dengan Kesatria kerajaan. Untuk kelompok wanita dan yang tidak bisa bertarung tetap berada di dalam camp tanpa keluar gerbang." Lucy memerintah.


"Putri, kami minta maaf atas sikap kami terhadap anda."


"Kalian tidak perlu terlalu memikirkannya. Sekarang, tolong bantu singkirkan mayat mereka lalu introgasi musuh yang sempat terselamatkan."


"Baik Pitri."


Para Tetua yang merasa malu dengan kejadian ini tidak akan pernah lagi memandag remeh Putri Lucy. Beliau wanita yang kuat meski harus mencoba beradaptasi dengan situasi yang mungkin jarang ia temui di istananya.


Lucy dan Kendric kembali ke tenda mereka. Dengan perasaan kurang berkenan Lucy membanting dirinya di atas kasur yang telah tersedia untuknya beristirahat. Kendric duduk di tepian ranjang seraya meraih surai rambut Lucy yang berbaring dengan posisi tengkurap.


"Apa kau merasa bersalah?"


"Kendric, apa tidak ada cara cepat menyelesaikan semua ini? Miasma ini terlalu berbahaya, sekarang Harlie malah memperburuk keadaan. Jika saja aku bisa bertemu dan membicarakan hal ini dengan baik, apakah ada kemungkinan mereka tidak perlu bertarung sesama bangsa Darkness World."


"Semua bukan salah mu, tindakan Harlie tidak ada kaitannya denganmu, pria itu saja yang memang bodoh sejak lahir. Kalaupun jika benar invasinya di lakukan untuk mengancam kerajaan untuk mendapatkan mu, itu juga bukan salah mu."


Lucy bangun dia menghadap Kendric yang setia memperhatikannya dengan mata merahnya yang selalu membingkai wajah Lucy dalam ingatannya.


Lucy menghela nafas. Bagaimana dia tidak merasa bersalah, ada banyak nyawa melayang karena keserakahan Harlie. "Apa menurut mu aku bisa melakukannya?" Lucy terlihat termenung.


Melihat wajah sedih Lucy membuat Kendric tergerak untuk mengangkat wajahnya kembali menatap dirinya. "Dimana kepercayaan kekasih ku sebelumnya? Bukankah kau sangat terlihat keren tadi. Bahkan saat diskusi, kau mampu mengambil keputusan dengan baik, itu artinya kau bisa memimpin mereka meski tanpa bantuan ku ataupun keluarga mu."


"---Apa Kendric tidak berpikir aku naif? "


"Tidak ada mahluk hidup yang tidak bersikap naif. Yang kau lakukan wajar dan benar jadi dimana salah nya?"


"........."


"Aku tau kau bersimpati terhadap anak bernama Kiara itu. Kau berusaha mencari jalan keluar dari penderitaan mereka secepat mungkin. Tapi terkadang bergerak secara tergesa-gesa juga tidak baik, kita melangkah pelan-pelan saja."


"Hem, Kendric terlihat tenang ya. Padahal kemarin malam saja kau terlihat sanagat kacau, dimana Kendric yang merengek meminta maaf padaku."


"Tidak baik pria menunjukkan kelemahannya terlalu lama. Apa kau masih belum rela memaafkan ku?"


Lucy membuang muka sebagai jawaban Kendric. "Tapi..., aku sungguh benar-benar ingin mengakhiri ini."


"Lucy, tidak hanya kau saja, semuanya pasti memiliki harapan yang sama. Hanya saja Miasma dan penderitaan ini tidak akan berakhir sebelum puncak Alabasta terjadi----"

__ADS_1


"Lalu, apakah hanya dengan cara kematian ku baru bencana ini akan berakhir?"


Kendric benar-benar tidak menyangka gumaman kecil yang paling ia takuti terdengar langsung dari mulut Mate nya. Setelah mendengar cerita Ibunya ataupun bila tidak, Lucy pasti sudah tahu bahwa takdir Robin adalah pengorbanan di saat Alabasta terjadi.


Tidak! Kendric benci dengan takdir itu. Dengan perasaan takut akan kehilangan nya di tambah perasaan marah. Kendric mencengkram kuat kedua lengan Lucy sehingga respon tekanan itu menyadarkan Lucy.


"Aku tidak suka dengan ucapan mu Lucy. Pasti ada cara lain untuk menghentikan bencana nya tanpa harus kau mengikuti takdir mu sebagai Ronin, percaya lah padaku. Aku akan segera menemukan cara lain."


Untuk pertama kalinya Lucy melihat sosok dingin Kendric yang terlihat marah atas apa pada pengakuannya. "Meski itu adalah cara terakhir, berjanjilah untuk tidak mencoba memilihnya!" Ucap Kendric dengan penuh tekanan.


Melihat ekspresi wajah Kendric, Lucy tahu Kendric pun enggan untuk meraih pilihan itu. Maka Lucy mencoba menenangkan sang mentari sebelum kehilangan arah cahayanya. Lucy meraih wajah pemuda di hadapannya yang tengah merasa gelisah, sebisa mungkin Lucy menyembunyikan perasaannya yang juga takut memilih meninggalkan Kendric karena takdirnya.


"Jangan khawatir, aku percaya Kendric pasti punya rencana lain. Aku akan menunggu dan selalu bersamamu."


Kendric lemah dan merasa kalah, ia menyandarkan kepalanya di atas pundak kiri Lucy. Seraya menyembunyikan banyak kecemasan yang ia takutkan. "Tunggu lah, aku sedang mencari buku milik Kakek mu. Aku yakin ada satu buku milik Carzie yang tersembunyi---buku itu pasti punya jalan keluarnya. Aku tidak akan menyerah."


Lucy memeluk kekasihnya, "Jangan terlalu terburu-buru. Tenangkan dirimu, bukankah Kendric bilang bergerak tergesa-gesa itu tidak baik? Aku yakin kau pasti akan segera menemukannya."


...--o🍁o--...


Angin menyilir melewati Lucy dalam sapannya. Entah bagaimana ia berada di tengah hutan yang setiap tumbuhan nya bercahaya, udara yang begitu sejuk serta bersahabat membuat Lucy berjalan menyusuri hutan tanpa arah.


Ia terkagum dengan hutan yang bekum pernah ia datangi, bahkan ada terdapat pohon Mapel yang turut bercahaya terang pada daun emasnya. Lucy tidak keberatan jika ini hanya imajinasinya atau hutan Moonlight Pack terkadang begini, tapi bukannya saat ini ada Miasma yang sedang melanda?


Di ujung jalannya, Lucy di pertemukan dengan satu pohon raksasa yang memiliki ukuran sangat besar. batang pohon peraknya seperti serpihan kristal dengan dedaunannya yang menyerupai permata. Cahaya yang pohon itu keluarkan juga begitu terang tapi tidak menyakiti matanya karena silau kegagahannya.


Seakan ia terpanggil, Lucy berjalan mendekati pohon itu dan menyentuhnya. Nyanyian alam dari Roh suci terdengar mengalun merdu pada pendengarannya.


"Generasi dari Putriku telah hampir sepenuhnya bangkit."


Lucy mundur beberapa langkah dari pohon besar itu saat bisikan suara datang entah dari mana.


"Siapa yang berbicara?" Lucy menoleh kesekelilingnya, mencari sosok yang mencoba mengajaknya berinteraksi.


Sekali lagi angin berhembus menggugurkan beberapa helaian daun dari pohon besar di hadapannya---terlihat seperti helaian bulu, seakan Lucy tersadar ia menyadari bahwa Pohon besar di hadapannya adalah pelaku dari suara tersebut.


"Robin yang kehilangan arah karena takdir ganda mu, membuatmu tersesat di cahaya yang memilukan."


"Apa kau yang berbicara?"


"Temui dan tanglah kepadaku. Apapun; masa depan, hubungan Mate mu, bencana Alabasta, kehidupan alam, kematian seseorang, takdir, kau bisa menanyakannya satu dari rahasia dunia. Aku akan memberitahukan petunjuknya."


"Dimana aku bisa menemukan mu? "


"Pohon Dunia, Yggdrasil."


.......


.......


.......


...--'o🍁o'--...


"Ha!"


Lucy menarik nafas dengan sangat panjang. Kedua matanya terbuka dan terbangun dari tidurnya. Sesaat dia memperhatikan situasi, sepertinya sejak laporan yang datang kepadanya siang tadi membuat Lucu kelelahan hingga tanpa sadar ia tertidur.


Lucy mengambil air minum di dekat meja kerjanya. Ia melihat jam menunjukkan waktu sore yang hampir memasuki matahari terbenam. Tapi Lucy baru menyadari bahwa Kendric tidak ada di tenda pemimpin pasukan atau di sebut Karola Inti, karena tenda istirahat Lucy dengan tenda Karola Inti berbeda.

__ADS_1


Apa Kendric kembali lagi ke tenda mereka? Lucy berjalan keluar dan benar saja untuk timur sudah hampir menelan waktu senja. Sebentar lagi malam pasti akan ber singgah, walau awan kelabu menutupi langit Darkness World tapi cahaya mentari yang terlihat di beberapa celah awan masih terlukis walau hanya menampik sesaat.


"Putri apa makan malam anda ingin segera di siapkan?" Tanya seorang Kesatria penanggungjawab dapur camp.


"Bisakah kau menyiapkannya 1 jam lagi?"


"Baik Putri, segera kabari kami jika Putri perlu sesuatu."


"Iyaa, terimakasih."


Lucy kembali berjalan menyusuri camp menuju tendanya, berharap ia juga akan bertemu dengan Kendric. Tapi bukannya ketemu Kendric, Lucy justru malah berhadapn dengan seorang pria bertubuh kekar dan tinggi. Rambut serta kuping serigala berwarna coklat dengan mata emasnya.


Seorang pria tampan yang berasal dari bangsa Werewolf, menatap Lucy dalam keterpesonaan. Lucu tidak mengenal pria ini dan juga sikap pria yang hanua diam sembari melihat Lucy membuatnya sedikit terganggu.


"Aku tidak tahu kalau di wilayah Moonlight Pack ada wanita secantik permata. Kau tidak terlihat seperti bagian Werewolf. Katakan dari bangsa mana kau?"


"Ya?"


Pria itu berjalan memutari Lucu sembari mencoba mengendus aroma Lucy. Sedangkan Lucu merasa aneh dengan perlakuan pria tersebut. "Maaf, anda sedikit kurang sopan."


"Hm? Kenapa aku tidak sopan di wilayah ku? Aku tidak pernah di tuntut dengan sikap ku dalam bentuk apapun, harusnya kau senang di dekati Alpha seperti ku."


"Apa didikan----tunggu, Alpha?! "


Pria itu terlihat sombong membanggakan dirinya sebagai Alpha bangsa Werewolf di Moonlight Pack. Ia tersenyum sembari merangkul Lucy dalam pelukannya seakan telah menjadi akrab.


"Benar, aku Alpha paling perkasa setelah Tetua Albert. Muzakka Demostikh Lunnier, pemimpin bangsa Werewolf." Ujarnya dengan sangat percaya diri.


Lucy mencoba melepaskan dirinya dari pelukan tidak nyaman ini. Jika Alpha Werewolf telah kembali kenapa tidak ada yang memberitahukannya, terlebih sikapnya sangat tidak sopan. Apa dia tidak tahu kalau Lucy adalah Putri Bangsawan Kekaisaran.


"Nona, entah bagaimana, sepertinya aku memiliki perasaan tertarik kepadamu. Aroma mu juga sangat manis menggoda, apa kau bersedia kupersunting sebagai istri? Kebetulan di Moonlight Pack posisi Luna belum ada yang memegangnya."


"APA?! "


"Demi Dewi Bulan yang melindungi bangsa Werewolf. Mungkinkah kau Mate ku yang lain---apa kau di kirim Dewi Selini Thea untuk menjaga Pack sebagai Luna?"


Lucu ingat kalau tidak salah Alpha Werewolf yang sekarang adalah yang paling termuda dalam menduduki posisi Alpha dalam sejarah nya. Ia pria remaja berusia 428 tahun bahkan lebih muda dari Lucy.


Sikap kekanakannya ini sangat merepotkan tapi kekuatannya memang tidak bisa di pandang remeh karena untuk mencapai posisi Alpha tidak lah mudah. Meski begitu ia bukanlah pemimpin yang memiliki catatan buku hitam, cara memimpin sering di puji bangsa lain karena sikap tanggungjawab nya.


Kalau di pikir Alpha juga seorang Raja. Mungkinkah dia seperti ini karena diriku adalah Vasilissa ...


"Tu---tunggu, tolong lepaskan dulu----"


"Entah mengapa kau sangat mempesona, jika aku memiliki Luna seperti mu, mati sekarang pun aku rela." Ujarnya dengan polos.


"Kalau begitu matilah sekarang juga!"


Lucy maupun Muzakka yang merasakan aura membunuh menusuk punggung mereka----segera berbalik melihat Kendric yang sudah menatap layaknya predator buas. Gawat, Kendric pasti akan sangat berbahaya jika sudah menargetkan musuh bukan? Harlie saja ia tebas begitu saja saat menyentuhnya apalagi bocah serigala ini?


"Sebaiknya kau melepas ku sebelum kepalamu terpisah dari tubuhmu."


"Hm, kenapa? Apa anda takut aku akan kalah darinya, Nona kau begitu sangat lucu dalam menghibur---Argh!"


Kendric tiba-tiba saja sudah mencengkram tangan yang merangkul Lucy. Ia menarik miliknya kembali kedalam pelukannya seraya memberikan tatapan dingin yang mampu membuat serigala itu diam merinding.


"Jangan sentuh, Mate ku! "


...----, o🍁o ,----...

__ADS_1


__ADS_2