The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Trying to Get Over the Line


__ADS_3


...----...


*Kediaman Ratu Agung.


Lezzy duduk dengan sangat menawan di sudut ruangan, menikmati waktu pagi yang begitu menghangatkan harinya. Meski salju masih menghiasi daratan, tapi sepertinya hari ini tidak membuat seorang Lezzy merasa kedinginan.


Ia bahagia, Putra-Putrinya telah memiliki seseorang yang dapat menjadi Mate yang berarti bagi mereka. Meski harus ia akui, banyak kesedihan di setiap mereka ingin bersama.


Ia melihat keluar jendela sembari menyeruput secangkir teh hangat, ia harap semua ini akan segera berakhir. Sehingga ia bisa melihat keluarga kecilnya selalu dalam kebahagiaan seperti impiannya.


"Nenek, Sofia berkunjung!" Suara lantang terdengar dari seorang gadis kecil yang berlari dengan sangat menggemaskan kearah Lezzy.


Mata Demon yang tidak pernah di miliki keturunan bangsa iblis manapun, begitu terlihat seperti permata kebahagiaan bagi siapapun yang melihatnya. benar, Sofia memiliki warna mata merah magenta.


Mungkin karena Aletha adalah bangsa Dewa sehingga warna khas bangsa Demon bercampur. Tapi ia yakin cucunya ini mewarisi tekad kuat dari kedua orang tuanya, karena hal ini cucunya juga termasuk Putri yang spesial selayaknya Lucy.


Lezzy mengangkat cucu pertamanya lalu memangku nya. Ia mengambil sisir yang dibawakan Ariel kepadanya, kemudian menyisir lembut rambut Sofia yang semakin panjang.


"Nenek, hari ini kau masih terlihat cantik. Bahkan lebih cantik daripada Ibu." Rayu Sofia sembari tersenyum lebar.


"Masih? Apa setiap hari kau menemui Nenek karena ingin melihat wajah Nenek jadi keriput?"


"Tidak, tidak. Sofia tulus mengatakannya, Sofia juga sangat merindukan Nenek."


Lezzy tertawa melihat tingkah Sofia. Tak lama pelayan datang membawa cemilan manis untuk Putri kebanggaan Kerajaan, dengan semangat Sofia meraih sepotong kue red velvet kesukaannya.


"Jadi Sofia, bisa kau katakan alasanmu menemui Nenek kali ini?"


Sofia berhenti untuk mengambil kue manis itu, dengan respon gugup ia melirik Lezzy lalu tersenyum lebar. Dia lupa sekarang trik manjanya tidak berlaku untuk Nenek nya. Kalau saja itu adalah Kakeknya (Fedrick) pasti sudah berhasil.


Sofia memainkan pita di gaun cantiknya dengan sangat imut. Seakan gadis kecil ini tengah kepergok mencuri sebuah lollipop dia terlihat malu-malu untuk mengatakannya. "Em, Nenek. Apa Nenek bisa bantu Sofia?"


"Mengenai?"


"Sofia dengar dari para pelayan. Uni Lucy sudah kembali, Sofia ingin bertemu dengannya."


"Memangnya Sofia belum bertemu?"


Sofia mengangguk kecil, "Sofia baru tahu setelah mendengarnya dari para pelayan di kediaman sunny. Uni juga tidak mendatangi Sofia," Terlihat kesedihan dari raut wajah cucu mungilnya yang begitu menggores pilu batin Lezzy.


"Kenapa Sofia tidak mendatangi, Uni saja?"


"Tidak bisa, itu karena Kakek terus-terusan berada di kediaman sunny untuk main bersama. Setiap Sofia mau keluar, Kakek akan bilang di luar sedang ada monster emas yang dapat menusuk mata karena Kilauan nya yang berbahaya. Sofia tidak mengerti maksud Kakek apa, tapi Sofia sangat merindukan Uni Lucy. Nenek, bantu Sofia untuk bertemu Uni. Jika Kakek datang untuk membawa Sofia, Nenek bisa langsung menghalangi Kakek."


Lezzy akui suaminya ini begitu over terhadap Sofia sama halnya dengan Lucy. Tapi kasihan juga jika cucu manisnya harus tersiksa hanya untuk menemani permainan kekanak-kanakan suaminya ini.


Tunggu. Apa monster emas yang di maksud Fedrick adalah Kendric?


"Nenek?"


"Em, jangan khawatir. Hari ini, adalah khususnya Sofia main dengan bebas. Jika Kakek mengganggu, Nenek akan mengurungnya dan tidak akan mengizinkannya keluar agar tidak mengganggu Sofia lagi."

__ADS_1


"Sungguh? Sungguh? Janji ya Nenek?!"


Lezzy tersenyum riang lalu mengikuti sumpah kecil dengan janji kelingking pada jari mungil Sofia. Melihat itu Sofia semakin tertawa lalu memeluk Lezzy dengan erat.


"Nenek memang yang paling cantik, paling Sofia sayangi!"


Lezzy melepaskan pelukannya lalu mengetuk pelan kening Sofia. "Jika Ayahmu mendengar ini, bisa-bisa dia marah lho."


"Nenek tenang saja, Sofia tetap sayang Papa."


"Baiklah, sekarang waktunya untuk menemui Uni mu."


"Hem!" Sofia turun dari pangkuan Lezzy. Dia meraih tangan Lezzy untuk berjalan sembari bergandengan tangan menuju Castle Estelle.


Kedua pelayan yang berdiri di samping kanan dan kiri pintu. menarik pintu putih mempersilahkan kedua keagungan Lucifer Kingdom untuk keluar dari ruangan sang Ratu Agung. Sepertinya Sofia sangat merindukan Lucy, bahkan dia berjalan sembari melompat-lompat kecil dengan tawa khasnya yang begitu menggemaskan.


Namun senyum Lezzy perlahan memudar saat melihat seorang wanita bergaun ungu, berjalan berlawanan tepat di hadapan mereka. Selangkah demi selangka wanita anggun itu mulai mendekati Lezzy.


Ariel dan Auriel yang sejak awal mendampingi sang Ratu Agung. Menatap tidak suka dengan kedatangan Ratu lautan yang masih saja belum menyerah meski sudah di tolak berkali-kali.


"Salam keagungan untuk anda yang menjadi rembulan di langit hollie, Yang Mulia Queen Alicia. Dan semoga kedamaian selalu menyertaimu, Putri Sofia." Queen Karollin membungkuk memberi hormat kepada Lezzy dan Sofia.


"Angkatlah kepalamu." Mendengar titah Lezzy, Queen Karollin menegakkan kembali dirinya. Ini sudah ke-27 kalinya dia terus mendatangi kekaisaran dan berhadapan dengannya.


Lezzy tidak mengerti lagi bagaimana caranya menyingkirkan wanita menyebalkan ini. Meski sudah di usir secara halus berkali-kali bahkan dengan titahnya, wanita ini masih saja bersikeras menemuinya untuk minta izin bertemu dengan Lucy.


"Sofia memberi salam kepada ratu lautan Neptuna, semoga anda sehat selalu Yang Mulia Queen Karollin."


"Itu karena Uni Lucy yang mengajarkan semua pelajaran tata krama Nobel. Uni bilang, menghormati orang tua dan menghargai pendapat seseorang adalah yang paling bijaksana dalam menjadi seorang Putri bangsawan."


"Seperti rumornya, Putri Lucy sangat terpelajar dan berwibawa."


"Tentu saja, Uni sangat hebat dan begitu pintar seperti Mama dan Papa. Sofia tidak mau guru lain selain Uni Lucy untuk mengajarkan Lucy beberapa pelajaran kekaisaran."


"Seandainya saya bisa bertemu dengannya, pasti sebuah kehormatan besar bagi saya jika melihat beliau dari dekat."


"Kenapa tidak? Kebetulan Nenek dan Sofia mau menemui Uni yang sudah pergi selama sebulan."


"Pergi?"


Lezzy harus menghentikan pembicaraan mereka, dia menarik pelan Sofia ke sisinya membuat kesan canggung terhadap Queen Karollin. "Soafia, ada yang perlu Nenek bicarakan dengan Queen Karollin. Kau pergilah duluan bersama Ariel, Nenek akan menyusul."


"Hem, baiklah."


Lezzy memberi isyarat lewat mata kepada Ariel. "Mari Putri, izinkan saya mengiringi anda."


Sofia memberi salam perpisahan kepada Lezzy dan Karollin. Sesaat setelah kepergian Sofia dan pelayan terpercayanya mulai menghilang di ujung lorong, Lezzy menjadi sangat serius dalam menghadapi Queen Karollin.


"Anda masih sangat kejam dalam menyambut tamu dari Neptuna, Yang Mulia."


"Kali ini apa alasanmu menemui ku? Jika kedatangan mu untuk meminta izin bertemu dengan Putriku, maka jawabanku tetap sama."


"Yang Mulia, bagaimana bisa anda menjadi sekejam ini, bukankah anda sang Ratu bijaksana? Saya hanya ingin bertemu dengan Putri, saat ini Putraku sedang dalam keadaan menyedihkan. Bahkan saya sebagai Ibunya sangat terluka melihat kondisinya."

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya anda kembali dan mengurusi King Harlie yang sedang sakit. Bukankah Queen Althenia tidak mengizinkan keluarga kerajaan Neptuna masuki wilayah Lorddarks? Dalam beberapa waktu terakhir saya masih menghormati anda, jangan buat saya harus menggunakan tindak kekerasan Queen Karollin. Jadi, pergilah ...."


Lezzy berjalan melewati Karollin begitu saja. Dengan amarah yang tertumpuk ia mencengkram gaunnya sendiri, Karollin sudah tidak bisa menahannya. Saat ini kondisi putranya begitu mengenaskan. Ia harus bertemu dengan Putri Lucy bagaimanapun caranya dan segera membawanya ke Neptuna untuk bertemu dengan Harlie.


"Mereka adalah pasangan Mate, Yang Mulia!"


Suara lantang yang begitu menarik perhatian semua pelayan yang ada di lorong istana, menunjuk kearah Karollin yang tiba-tiba saja meninggikan nada bicaranya. Hingga mampu menghentikan langkah Lezzy.


"Putri Lucy dan King Harlie adalah Mate yang ditakdirkan untuk bersama. Bagaimana bisa anda memisahkan keduanya? Padahal tali Mate telah terikat kuat. Yang Mulia saya mohon kemurahan hati anda," Karollin mendekati Lezzy lalu berlutut dihadapan Lezzy. Membuat sebagian pelayan yang menyaksikan hal langka tersebut, menjadi rusuh hingga berbisik ria mengenai sikap Ratu Agung.


Lezzy benci dengan situasi ini, seolah dialah yang paling kejam. Tapi, memang mengenai Lucy dan Harlie tidak banyak yang tahu. Welliam sudah mengancam para bangsawan yang hadir di pesta itu untuk tidak sedikitpun membicarakan Lucy yang di tolak.


Tapi, gosip adalah kabar berita yang cepat tersebar dalam hitungan detik. Tidak perduli sebesar apa kau menutupinya, mulut dan mata akan memutar balikan fakta untuk memberi isyarat mengenai sebuah peristiwa yang di rahasiakan.


"Saya tidak akan pergi dan menyerah untuk bertemu dengan Putri Lucy. Saya hanya butuh waktu sebentar, saya mohon Queen Alicia izinkan saya bertemu dengannya." Air mata menumpuk di pupil mata wanita cantik itu, ia meraih dan mencengkram ujung gaun Lezzy, membiarkan para pelayan kian membicarakan hal tak bijaksana sang Ratu.


Mau bagaimanapun, Karollin tetaplah seorang Ratu jauh sebelum Lezzy datang ke Darkness World. Terdengar Lezzy menghela nafas, ia juga tidak boleh menjadi egois. Meski ia memang tidak menyukainya tapi seburuk apapun kondisi ini, ia harus tetap bijaksana dalam menghadapi masalah rakyatnya.


"Bangunlah, aku akan memberikanmu kesempatan sekali untuk bertemu dengan Putriku. Tapi, jika kau berniat untuk mempertemukan Lucy dengan Putramu. aku tidak yakin, apa aku bisa menghentikan Putraku untuk menghancurkan wilayah Neptuna."


Queen Karollin terlihat ketakutan, tapi demi Putranya dia harus segera memberitahukan kondisi Harlie. Ia tahu Putranya begitu bodoh karena menolak pasangannya dan tak memikirkan dampak buruknya. Tapi dia seorang ibu yang tidak bisa melihat luka sekecil apapun di tubah putranya.


"Auriel, segera bawa Lucy ke ruang tamu kerajaan."


"Baik, Yang Mulia."


...--.o🍁o.--...


*Castle Estelle


Sofia berlari kecil menuju kamar Lucy dengan sangat riang, sangking senangnya dia sampai mengabaikan sapaan lembut dari banyaknya pelayan yang ada di Castle itu. Karena memang hanya Lucy yang selalu menemani Sofia main ataupun belajar. Sehingga keduanya begitu dekat.


"Kak Ariel bisa kembali, Sofia mau tetap disini bersama Uni Lucy, Nenek juga akan segera tiba. Jadi, jangan khawatir."


"Baik Putri." Ariel menunduk hormat sembari mundur tiga langkah, sebelum akhirnya berjalan menjauh dari pintu kamar sanga putri bintang.


Melihat kepergian Ariel, Sofia mendorong pintu kamar Lucy, lalu memunculkan sedikit kepalanya kedalam. Melihat dan mencari keberadaan Lucy yang siapa tahu masih tertidur dan Sofia berniat memberikan kejutan, pasti sangat asik.


Ia berjalan dengan berjinjit kecil layaknya pencuri yang menghendap-hendap kedalam rumah. Sofia kian tertawa kecil melihat Lucy masih tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Dalam hati, ia menghitung mundur mulai dari tiga, dua, satu dan--BAA!!


Sofia berteriak seraya menarik selimut tebal itu, tapi seketika ia terdiam dengan wajah polosnya yang kebingungan. Apa dia salah masuk kamar? Tidak kok, ini memang kamar Uni nya. Tapi siapa pria tampan yang tengah tertidur dengan sangat menawan ini?


Gadis kecil itu kian tertegun dan mundur dua langkah dari ranjang tidur, saat dirasa pria berambut mentari itu mulai terbangun. Benar, sosok itu adalah Kendric yang semalam tetap memilih tidur disebelah Lucy setelah pertemuannya dengan Welliam.


Tapi, bukannya Lucy yang menyambut pagi hangatnya malah seorang gadis kecil yang tidak ia kenal. Bahkan ia tidak menyadari kedatangannya, apa dia utusan dari Octopus? Cih, sekarang mereka mengirim bocah kecil untuk memata-matai kediaman matenya?


Kendric menatap dingin kearah Sofia, seakan dia adalah singa lapar yang merasa tidurnya terganggu. Tangan gagahnya mencoba meraih leher mungil yang bisa saja remuk dalam sekali genggaman.


Meski Kendric sudah mengeluarkan aura membunuh, tapi Sofia tak menyadari bahaya apapun dari pria yang baru ia lihat hari ini. Sofia hanya diam sembari mengamati apa yang ingin di lakukan Kendric. Tangan Kendric terus mendekati leher kecil itu, bersiap untuk membunuhnya.


"Aaaa!!"


--.• o🍁o •.--

__ADS_1


__ADS_2