
.......
.......
.......
"Apa ini milik ibu?"
"Bukan, tapi ini pemberian dari Nenekmu."
Lucy terlihat mengusap permata bintang pada bandul matahari itu. Ia jadi kepikiran dengan sosok Neneknya. "Ibu, aku selalu penasaran dengan sosok Nenek. Bolehkah Lucy tanya, dimana Nenek saat ini?"
Pertanyaan Lucy menuai perasaan sedih, dan membuat mereka yang mendengarnya harus di paksa mengingat kejadian pada perang waktu itu. Oh tidak! Apa Lucy salah berbicara lagi. Setiap di tanya mengenai Neneknya. Ibunya ini akan selalu terlihat sedih, bahkan Aletha juga.
Kendric mendekati Lucy, dia terlihat begitu tertarik dengan kalung yang ada di tangan Lucy yang terlihat sangat familiar untuknya.
Aletha yang mengikuti arah pandang Kendric, menjadi sedikit serius. Ia ingat jika sebelum kepergian Selini Thea. Beliau meminta pada Olyfia untuk memberikan kalung itu kepada Lezzy tapi sungguh saat itu dia terlalu fokus pada kondisi sang Vasilissa, sehingga tifak terlalu memperhatikan bentuk kalung itu.
Melihat Kendric yang terus menatap kalung itu membuatnya jadi sadar akan sesuatu. Kalau tidak salah, ada satu Dewi yang begitu di cintai Imorrtal tapi sebenarnya di benci oleh seluruh kaum Dewa. Karena sosoknya yang begitu murni dan suci itu sangat sempurna untuk menjadi penguasa alam, karena dia tercipta dari harapan roh suci dan menjadi Dewi pertama yang terlahir sebelum adanya Selini Thea sebagai Dewi Bulan.
Jadi keberadaannya sangat disegani karena kekuatannya yang sangat besar. Tapi sayang, karena di Imorrtal hanya mampu di kuasai oleh Matahari dan Rembulan. Dewi itu di pandang dengan dua wajah oleh seluruh Dewa. Dan memanfaatkan sikapnya yang begitu berbudi luhur.
Aletha ingat, Dewi yang tak lain adalah Dewi Vernitysha itu menjadi seorang Robin yang memiliki arti Alam Kemutlakan. Tapi memiliki takdir hidup yang mengenaskan, tak banyak yang mereka ketahui tentang sosoknya dan seiring berjalannya waktu keberadaannya hanya sebuah nama
Tapi dirinya tertulis di sebuah prasasti tepat di bawah patung sang Dewi--berada di alun-alun kota Leryvora. Di sana di tuliskan, bahwa sang Robin mati karena hati murninya yang begitu tulus mencintai kaum Imorrtal. Dan ia pun rela membunuh dirinya sendiri, membiarkan mana sucinya terbagi untuk di berikan kepada seluruh Dewa sebagai bentuk anugerahnya menjadi Saintes.
Namun sayang, lagi-lagi itu semua cerita bohong yang telah di manipulasi oleh para Tetua. Karena Aletha tahu, Dewi itu mati akibat tuduhan tak masuk akal dan mati dengan sangat mengenaskan. Tidak banyak yang tahu mengenai hal ini.
Dan permasalahannya adalah kalung yang di pegang Lucy adalah milik Dewi itu. Tapi kenapa Dewi Seleni Thea menyimpan dan ingin Lucy memilikinya?
Apa Dewi tahu kalau Lucy adalah keturunan Robin selanjutnya? Karena Robin sebelumnya, gagal menjalankan misinya sebelum Gerhana Alabasta terjadi. Meski harus ia akui ada atau tidaknya Gerhana Alabasta, takdir Robin adalah pengorbanan.
"Kendric, ada apa?" Lucy yang merasa tatapan Kendric terasa kosong saat memperhatikan kalung milik peninggalan Neneknya, mencoba menyadarkannya dari pikirannya.
"Aku hanya merasa, Nenek mu begitu menyayangimu karena dia menitipkan kalung berharga itu."
"Syukurlah jika kau berpikir begitu. Karena sepertinya aku juga sangat menyayanginya." Lucy kembali melihat ibunya. "Ibu ..., tidak masalah jika ibu masih belum siap mengatakannya. Lucy akan menunggu."
"Bukan begitu. Hanya saja, ibu jadi merindukannya karena Nenekmu----telah tiada dan ibu sedih kau belum pernah bertemu ataupun menyapanya."
"Nenek sudah tiada."
Aletha menyentuh pundak Lucy. "Lucy, sebenarnya Nenekmu---meninggal saat kami berperang melawan Tahlia, beliau melindungi Kakakmu dan juga diriku dari seragan Tahlia. Aku ingin menceritakan hal ini kepadamu, tapi aku----"
"Jangan merasa bersalah seperti itu kak. Walau aku kecewa, karena hanya aku yang belum pernah bertemu dengannya. Tapi setidaknya aku sangat bersyukur, kalian dapat kembali dengan selamat meski harus mengorbankan dirinya sebagai kompensasi atas kembalinya kalian. Nenek pasti sangat bahagia saat tahu ia dapat menyelamatkan kalian."
__ADS_1
"Uni Lucy, jangan bersedih. Kenapa kalian terlihat sedih? Padahal yang paling sedih adalah Sofia. Karena besok Uni harus pergi lagi ..." Rengekan Sofia mengembalikkan suasana diantara mereka.
"Sebaiknya kalian menghabiskan waktu kalian yang tersisa disini, bersama dengan Sofia. Aku akan menemui Fedrick." Lezzy berjalan meninggalkan ruang makan. Menyisihkan Aletha, Kendric dan juga Lucy serta Sofia yang berencana untuk pergi ke taman kaca dekat Paviliun Arratha.
...--.o🍁o.--...
Lucy mengikuti setiap langkah kecil yang Sofia tunjukkan sebagi bentuk kesenangannya, karena sudah lama ia tidak bermain dengan Uni tersayangnya ini. Ia melompat-lompat kecil dan berlari kesana-kemari, sembari menyentuh tiap kelopak bunga yang tumbuh dengan hangat di dalam rumah kaca ini.
"Uni, coba kau kenakan di rambutmu. Pasti sangat cantik," Sanjung Sofia saat memberikan setangkai bunga Camelia kepada Lucy. "Hem, aku tidak tahu bahwa bunga Camelia ini dapat mekar dengan sempurna meski sedang musim dingin."
"Uni, lupa? Kan, bunga Camelia bisa mekar karena Papa bilang Camelia nya tidak bisa layu meski musim gugur datang. Karena Papa menggunakan sihirnya yang luar biasa, agar Sofia dapat melihatnya setiap saat." Sambung Sofia dengan sangat bangga atas kehebatan Ayahnya. Lucy sungguh merindukan tingkah lucu keponakannya ini.
"Baiklah, bagaiman jika Sofia petik beberapa bunganya. Lalu antar kan keruang kerjanya." Sofia yang mendengarnya terlihat senang, dia pun berlari mengambil keranjang bunga untuk mengumpulkan bunga Camelia.
Berjarak beberapa meter dari posisi mereka, Aletha serta Kendric duduk menikmati teh sembari mengamati kegiatan antara Lucy dan juga Sofia.
Kendric menyeruput tehnya sembari memejamkan matanya--menikmati waktu tenang ini sejenak. Sedangkan Aletha sedang menerima laporan dari burung Soul Of Life nya, Carina.
"Begitu rupanya." Gumam Aletha, tanpa ada tanggapan ekspresi yang di tunjukan, pada informasi yang dia dapat dari Carina.
"Aku memerintahkan Carina untuk menyebar ke seluruh wilayah Darkness World ataupun Bumi. Tapi sepertinya, keberadaan buku Carzie memang tak tertinggal pada kedua dunia ini. Terakhir kali, aku melihatnya ada di markas Titania. Aku sangat menyesal karena hanya merobek bagian kecil dari buku itu tanpa berniat membawanya. Menurutku, buku itu masih ada di Imorrtal."
Kendric membuka sedikit kedua matanya seraya meletakan cangkir teh pada tangannya. Ia menyilang kan kakinya dengan tangan kanan menopang kepalanya, dan membiarkan jemari kirinya mengetuk meja. Mencoba membuat alunan di tengah kesunyian diantara mereka berdua.
"Ini hanya dugaan ku, sepertinya buku Carzie yang kau lihat di benteng Titania, adalah palsu atau hanya remake dari buku asli. Jika tidak, mana mungkin Octopus mau memberikan catatan berharga itu kepada Tahlia."
"Entahlah, karena selama Robet mencari tahu di sekitaran Kuil agung. Tak sedikitpun Octopus menunjukkan tanda-tanda bahwa dia memilikinya."
"Apa mungkin buku yang asli memang telah di musnahkan?"
"Itu tidak mungkin, sedangkan mereka berhasil memanipulasi sihir."
"Kalau begitu, kenapa tidak coba mencarinya di sekitar Castle Crystal Moon. Kediaman milik Dewi Selini Thea?"
"Aku sudah berkali-kali mencari cara untuk bisa memasuki kediaman Selini Thea, tapi sayang bulan menolak kehadiranku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Selini Thea membuat Bulan menolak kehadiranku, apa sebenarnya dia sudah memiliki rencana lain?"
"Itu berarti, titik kesimpulannya. Buku itu memang masih ada di Imorrtal, kau hanya perlu memperluas titik pencariannya."
Tuk! Kendric menghentikan ketukan jari pada meja di hadapannya. Dia melihat burung elang yang terbang cukup berani melawan udara dingin, dari balik atap kaca pada taman ini.
"Ada apa? Sepertinya sejak tadi, kau seperti memiliki banyak pikiran."
"Aku hanya memikirkan mengenai kalung miliknya yang ada pada Lucy saat ini. Aku memang tidak tahu bagaimana Selini Thea mendapatkannya, tapi apa mungkin Selini sudah memprediksi bahwa setelah kematiannya hal ini akan terjadi."
Aletha terlihat memandangi Kendric untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia kembali melihat bayangannya sendiri yang terpantul pada cangkir teh miliknya.
"Kalau di pikir, Dewi Selini Thea adalah Dewi Bulan pertama dan menjadi kaum Imorrtal kedua yang terlahir sebagai seorang Dewi setelah kehadiran Dewi Vernitysha. Bahkan, beliau seperti ibu bagi para Dewa dan Dewi seperti kita. Aku rasa, kedekatan Dewi Vernitysha dengan Dewi Selini Thea sudah seperti seorang sahabat," Aletha bergumam, tanpa menyadari bahwa saat ini mood Dewa Matahari di sebelahnya kian memburuk.
__ADS_1
Tatapan sinis yang Kendric berikan pada burung elang di langit cakrawala di atas sana, dapat dirasakan oleh sang raja langit sekalipun. Sehingga elang itu menundukkan kepalanya, menatap mata permata merah yang membawa tekanan besar untuknya. Seakan insting hewan buasnya menyadari marabahaya, elang itu terbang pergi meninggalkan wilayah kekaisaran Darkness World.
"Mungkin saja, diantara mereka berdua memang ada maksud rahasia. Dan Dewi Vernitysha, memilih diam terbunuh tanpa ada perlawanan setelah di tuduh dengan begitu hina. Agar dapat menyelamatkan duni-----"
"Hentikan, ucapan tidak masuk akal mu Polemou. Tidak perduli apa yang mereka rencanakan atau bagaimana wanita itu tertulis di sejarah, bagiku dia hanya Dewi yang sudah mati." Ucap Kendric begitu acuh.
Aletha tidak akan berani membicarakan hal ini jika sang Kaisar sedang dalam keadaan buruk. Tapi memang, usia mereka dengan Dewi Selini Thea begitu sangat jauh, sehingga kisah kedekatan antara Dewi pertama serta Dewi kedua itu sangat minim.
Bahkan Aletha hanya bertemu dengan sosok Vernitysha sekali di hutan para roh suci. Dan setelahnya ia tidak pernah melihat sosoknya hingga kabar kematiannya menjadi berita paling heboh di Imorrtal.
"Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia."
"Hn." Jawab Kendric dengan singkat.
"Ahahaha, mari Sofia bantu membersihkan daun di rambut Uni." Tawa Sofia seketika mengalihkan perhatian mereka dan untunglah suasana menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya.
"Aletha, aku selalu penasaran. Apa mungkin Putrimu adalah reinkarnasi dari bocah manusia yang kau selamatkan dulu?" Tanya Kendric tanpa mengalihkan pandangannya.
Tidak di sangka, pria dingin yang tidak pernah perduli pada apapun dengan kehidupan manusia. Dapat mengingat seorang anak manusia yang tidak ada apa-apanya di mata merahnya itu. Walau dia tidak pernah ikut campur tapi Aletha yakin, Kendric selalu memperhitungkan semua peristiwa besar dan kecil dari makhluk hidup di ketiga dunia ini.
"Daripada di sebut reinkarnasi. Aku lebih suka jika di sebut sebagai keajaiban sebagai hadiah dari penebusan dosa yang kulakukan terhadapnya dulu. Aku ingin memberikan kasih sayang orang tua yang utuh dan masa kanak-kanak yang tidak bisa ia dapatkan dengan bahagia. Dulu, dia belajar menjadi dewasa terlalu cepat sejak kematian orangtuanya."
"Jadi kau hanya merawatnya karena rasa bersalah saja?"
"Tentu saja tidak. Aku bahagia, sangat bahagia. Di kehidupan keduanya ini, ia terlahir sebagai putri ku dan juga Welliam. Rasanya, seperti kau dapat melihat langit cerah lagi setelah terlalu lama hidup dalam bendungan penyesalan. Perasaan lega yang tidak dapat di utarakan menjadi arti lain saat aku hanya bisa berkata terimakasih sebanyak-banyaknya kepada sang pencipta."
"Selama puluhan abad, kuhabiskan waktuku di medan perang hanya untuk membunuh dan terus membunuh. Seakan, semua permintaan ingin di bunuh dari mereka tidak pernah berhenti memaksaku untuk melihat darah dan penderitaan. Tapi sebagai seorang Aletha, diriku ingin juga melihat proses pertumbuhan mahluk hidup tanpa harus aku bunuh usianya."
Aletha memandangi Sofia yang masih asik bermain dengan Lucy di dekat tanaman Camelia. Rasa bersyukur yang terulas dalam tarikan senyuman di wajahnya. Menjadi tanda bahwa dia puas dengan pencapaian yang ia raih selama ini.
"Aku ingin terus menuntun langkahnya sembari melihatnya tumbuh dewasa, menjadi wanita berkarisma kuatbserta lemah lembut. Tanpa harus mengkhawatirkan hidupnya, seperti di kehidupannya dulu."
Kendric tahu seperti apa yang Aletha maksud. Karena dia sudah cukup lama melihat Dewi perang yang begitu disegani, terus terbebani dengan tugasnya yang harus memotong tali kehidupan orang-orang menggunakan pedangnya.
Kendric kembali menyeruput tehnya dengan tenang. Seakan ia pun menjadi lega melihat teman semasa kecilnya, terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya. Karena Arthena yang selalu bersikap dingin kini telah tiada.
"Setidaknya, kondisimu saat ini sangat baik daripada hidup bersembunyi seperti dulu." lirih Kendric dengan acuh.
"Baginda," Kendric menoleh kearah Aletha saat dia berdiri sembari menatapnya. "Meski anda membenciku aku tetap ingin mengatakannya." Aletha menarik napas menghilangkan ketegangan ini.
"Mungkin saya tidak seharusnya ikut campur dalam urusan pribadi anda. Tapi, akan lebih baik jika anda jujur lebih awal kepadanya. Karena bagiku mau bagaimanapun, anda terlihat tidak jauh berbeda dengan pemimpin bangsa Merrmaid itu. Aku percaya, Lucy dapat memahaminya. Dan juga, yang Lucy butuhkan adalah hubungan tulus tanpa ada kebohongan diantara cinta kalian."
Kendric menatap tanpa ada reaksi untuk beberapa saat. Hingga suara tawa kecil yang lebih tepat adalah tawa sindiran, terdengar darinya.
"Kau jadi banyak menasehati ku, setelah menjadi seorang Ibu ya? Bikin kesal saja." Sindir Kendric.
"Aku percaya, kalian akan selalu tetap bersama sampai akhir. Wahai Maharaja dan Maharani ku."
__ADS_1
...--.🍁.--...