
.......
.......
.......
...----...
~Taman Belakang Kerajaan.
Lezzy membawa putrinya ke taman miliknya, meski salju sedang menyelimuti daratan namun tidak akan mempengaruhi taman ini. Hanya karena rasa cinta Fedrick yang sejak dulu selalu merawat taman ini untuk Lezzy. Tak Sedikitpun bunga di taman itu gugur atau bahkan menyisihkan ranting kekosongan.
Jauh dibelakang taman terdapat sebuah hutan yang belum pernah Lucy lihat, bahkan dilihat dari lantai atas kerajaan saja memang tidak ada hutan ini. Atau jangan-jangan ada lapisan sihir yang membuat tempat ini tak terlihat.
Berbeda halnya dengan hutan Lorddarks Zone dulu, yang bahkan sekarang telah menjadi hutan Wisteria. Tapi disini begitu lebih hangat, tak ada setitik crystal salju yang berhasil memasuki wilayah ini.
Rangkaian bunga yang terlihat tak biasa memanjakan mata Savier Lucy. bahkan lorong-lorong jalan setapak terbuat dari kayu pohon terus menjatuhkan kelopak bungan Arfrodisce.
Bunga yang menjadi lambang gerbannya ikatan pernikahan, sepertinya Ibunya mendapatkan pria yang sangat tepat untuk setia mencintainya.
Bahkan Ayahnya saja masih bisa seromantis ini meski usia mereka tak lagi muda. Entah mengapa Lucy jadi semakin mendekatkan dirinya dengan Lezzy sembari bermanja pada lengan Ibundanya.
"Ada apa denganmu? Kenapa jadi seperti ini, padahal tadi Ibu khawatir kau sangat pendiam."
"Ibu, bagaimana pertemuan Ibu dengan Ayah? Dulu, Lucy pernah bertanya tapi Ayah langsung berpura-pura sibuk."
Lezzy tertawa kecil sembari menggenggam tangan putrinya yang sudah tak semungil dulu. "Tidak ada yang spesial dari pertemuan kami, justru malah menakutkan."
"Apa Ayah melukai ibu?"
"Hem ..., sedikit."
"Ha?! Ayah sungguh melukai ibu, apa Ayah sangat mengerikan waktu itu?"
"Jangan khawatir, Ayahmu tak berniat melukai ibu seperti dipikirkan mu. Dulu, Ibu kira pertemuan kami hanya sebuah mimpi, apalagi saat melihatnya."
"Apa karena Ayah tampan, makanya ibu rasa seperti mimpi saat bertemu dengan Ayah?"
"Sejak kapan putriku ini pandai berkata manis?"
Lucy tertawa kemudian memeluk erat lengan Lezzy. "Kalau begitu, bagaimana penilaian Ibu terhadap ayah saat pertama kali bertemu?"
Lezzy terlihat seperti mengingat masa pertemuannya yang bisa dikatakan konyol jika di ingat kembali, apalagi saat pertemuan pertama mereka--Fedrick sudah main start first kiss nya.
Kalau di ingat lagi kok jadi memalukan ya, tapi dia mencoba mengatakan seadanya kepada putrinya. Bahwa jatuh cinta tak meski harus selalu bahagia.
"Ayahmu sangat menyebalkan. Dia pria yang selalu mengajak ribut terus. bahkan, Ibu pernah sangking kesalnya dengan Ayahmu. Ibu mendorongnya dari ranjang tidur atau sering menarik kuat rambutnya."
"Ha?! Ibu sungguh melakukan hal itu? Bagaimana bisa seorang Lord di usir begitu saja dari tempat tidur, ahahaha!! Lucy jadi penasaran bagaimana reaksi Ayah setelahnya."
"Tentu saja dia bereaksi lebih memalukan, sampai-sampai Ibu ingin mual mendengarnya."
"Memangnya Ayah bilang apa?"
"Ekhem. Lezzy apa yang kau lakukan? Memangnya salah, aku hanya ingin tidur dengan Istriku saja," Lezzy memperagakan ucapan Fedrick diwaktu dulu. "Bisa-bisanya dia bilang seperti itu. padahal, kami baru bertemu menikah aja belum. Waktu itu Ibu belum tahu kalau Ayahmu seorang Lord, bahkan dia pernah berbohong kalau dia adalah tangan kanan Lord."
"Ternyata Ayah lebih mengutamakan perasaannya daripada rasa malunya, lagipula kenapa harus berbohong. Kan, tingga bilang saja--hahaha." Lucy tertawa mendengar masa lalu ibu dengan ayahnya.
"Em ..., tapi, apa pernah ibu mencoba pergi dari Ayah? Maksud Lucy, bagaimana tanggapan Ibu mengenai sosok Ayah yang pada saat itu sangat----"
"Kejam?" Lucy sedikit ragu, tapi itu bukan hal yang perlu dirahasiakan.
Meski ia bersyukur tak pernah melihatnya, malah Ayahnya jadi sangat lembut kepada keluarganya. Tapi rumor itu sudah menjadi bagian keluarga Demon yang selalu dipandang kejam oleh kaum lainnya.
Lezzy menghadap putrinya, "Meski dulu aku takut saat menyadari bahwa Fedrick adalah Lord yang dirumorkan. tapi tak pernah sedikitpun Ibu ingin meninggalkannya. Entahlah, hanya saja saat itu yang ibu pikirkan bukan sosok kejamnya. Tapi hanya Ayahmu satu-satunya pria yang tulus menerima kekurangan ibu, dan dia tetap menunggu Ibu meski kami pernah berpisah sangat lama."
Belum pernah Lucy lihat Ibunya terlihat malu-malu mengatakan soal Ayahnya. Pasti telah banyak yang mereka lalui dulu, hingga jadi sebesar taman ini atau bahkan tak terkira rasa cinta mereka.
"Ibu pasti sangat mencintai Ayah."
__ADS_1
"Tentu saja, meski sikap ayahmu terkadang menyebalkan. Tapi Ibu sangat mencintainya, itu sebabnya kenapa kalian bisa lahir. Karena kalian adalah bukti cinta kami."
perasaan euphoria Lucy menjadi semakin tinggi, rasanya ia begitu senang bisa terlahir menjadi putri mereka. "Ibu, Lucy sangat menyayangi Ibu." Lucy kian bermanja-manja pada Lezzy.
"Jika kau begitu sayang, jangan buat Ibu khawatir lagi."
"Em, Lucy minta maaf sudah sering buat Ayah dan Ibu khawatir. Tapi, Licy janji itu tidak akan terjadi lagi. Karena ...."
"Karena Kendric ada di sisimu?"
Lucy terlihat malu untuk menunjukkan wajahnya yang sudah terlihat memerah. Meski Lezzy sendiri belum pernah melihat bagaimana wajah putrinya yang dulu pernah menyukai Harlie, tapi dia tahu reaksi yang Lucy tunjukkan begitu bisa ia baca. Karena Lucy sungguh tidak main-main dengan perasaannya.
"Kini giliran Ibu yang bertanya. Menurutmu, bagaimana Kendric di matamu?"
"Em ...," Lucy melepaskan genggamannya dari lengan Lezzy kemudia berjalan dua langkah di depan Lezzy.
Dia terlihat sedang memikirkannya sembari tersenyum malu-malu. "Kendric pria yang hangat, dia selalu menanggapi hal kecil--apapun yang aku lakukan. Bahkan dia akan bersikap sangat berlebihan jika dirasa aku kurang nyaman dengan sesuatu ...."
Lucy meraih kelopak bunga yang jatuh keatas telapak tangannya, lalu mendekapnya dalam pelukan hangat. Seraya mengingat masa-masa waktu berdua mereka saat berada di kota replika.
"Apa ibu tahu, Kendric membuatkan kota replika di kediamannya khusus untuk Lucy. Dia bilang akan lebih aman jika aku tetap di kediamannya, tapi aku tak merasa terkekang sedikitpun, justru sangat menikmati kota kecil yang dia berikan untuk Lucy."
Mendengar dari cara Lucy membicarakan Kendric. Dia memperlakukan Lucy hampir tak jauh beda dengan Fedrick yang begitu sangat menjaganya, tapi yang membedakan adalah cara mereka membuatnya merasa bebas dan bahagia.
"Akhirnya, ada juga tempat dimana kau bisa bebas tanpa harus terkekang, sayang." Gumam Lezzy.
"Ibu bilang sesuatu?"
"Tidak, lalu apa yang paling kau sukai dari Kendric?"
"Matanya ..., kedua matanya yang seperti permata delima yang begitu indah, selalu bisa membuat Lucy terdiam. Caranya memandang Lucy yang begitu lembut mampu membuat perasaan yang begitu membahagiakan, Lucy suka melihat Kendric yang hanya diam sambil memandangiku. Padahal aku selalu banyak bicara tapi dia tidak risih, haha ..., kalau di ingat lagi jadi lucu ya." Lucy terlihat malu untuk mengatakannya.
"Ha ..., rasanya baru kemarin aku menggenggam jemari mu yang mungil. Tapi hari ini, rasanya ibu harus segera merelakan putri tersayang ibu bersama pria lain."
Lucy kembali ke sisi Lezzy, "Jangan bicara seolah Lucy akan berpisah dengan Ibu. Mau bagaimanapun, aku akan tetap menjadi putri kecil ibu." Lucy bersandar pada pundak Lezzy sembari memeluk erat lengan hangat sang Ibunda.
"Kalau begitu, kenapa kau masih saja ragu Lucy? Bukankah sudah jelas bahwa Kendric adalah pria yang kau cari selama ini?"
"Lucy tidak ragu, hanya ... Lucy ingin tahu---bagaimana bisa aku merasakan kehadiran mate secara berturut-turut."
"Maksud Ibu?"
"Masuklah, kita bahas hal ini di dalam."
Karena sangking asiknya mereka mengobrol, Lucy jadi tidak terlalu memperhatikan lingkungannya. Saat Lucy melihat Ibunya memasuki rumah kecil yang ada di tengah hutan ini, ia hanya dapat mengikutinya sembari menganalisa rumah kecil yang lebih mirip seperti gubuk.
Tapi alangkah menakjubkannya, disaat Lucy berhasil memasuki rumah itu, yang ternyata memiliki ruangan besar seperti sebuah villa. Oh, ini begitu mengagumkan.
Disela Lucy tengah terkagum, ia menjadi terheran ketika melihat sang Ibu diam dengan raut sedih melihat sebuah lukisan kaca besar yang sebagiannya terbuat dari permata.
Lukisan kaca itu adalah seorang wanita yang memiliki paras cantik yang tak bisa Lucy ucapkan lewat kata-kata.
Dibawah bingkai jendela terdapat batu nama yang tertulis nama seseorang. Seakan Lucy jadi mengerti bahasa Arclanta, huruf-huruf itu membantu Lucy memahami nama sang wanita jelita itu.
"Selini Thea ...."
Lezzy yang secara perlahan menatap putrinya, begitu sangat terkejut. "Kau bisa membaca namanya?"
"Tiba-tiba saja Lucy jadi paham. Em, Ibu dia siapa?" Wajah sedih dari Ibunya tak kunjung hilang, apa Lucy salah bicara? "Ibu---"
"Dia Nenek mu, Lucy."
"Ne..nek?" Lucy terlihat tak mempercayainya, selama ini Ayah atau Ibunya selalu tak pernah membahas masalah keluarga mereka. Sehingga Lucy menjadi buta akan sebutan Kakek atau Nenek.
"Maaf, harusnya Ibu katakan lebih awal mengenai dia." Lezzy melihat Lucy, dia mengusap sayang wajah putrinya yang sudah begitu lama menderita.
"Lucy, semua yang terjadi kepadamu adalah takdir yang memang harus kau lalui sayang. Hal itu juga pernah Ibu alami, berada di posisi dimana kau harus memilih satu diantara raja yang bisa bersanding denganmu."
"Lucy tidak mengerti, Ibu."
"Lucy, kau terlahir dengan sangat spesial. Sebagian dari hidupmu tak akan pernah di lalui mahluk malam lainnya, karena kau putriku."
__ADS_1
"Apa yang membedakan ku?"
"Karena kita keturunan Vasilissa, sayang. Ibu takut kau akan terluka jika mengetahui bahwa kau bagian dari Vasilissa dan tak sanggup menatap kenyataan. Tetapi ibu terlalu lengah hingga kau sudah terluka karena takdir mate nya."
"Vasillissa...Vasilissa--" Entah mengapa nama itu pernah ia dengar berulang kali, bukan hanya sekali rasa familiar ini menjadi berkecamuk di
kepalanya.
"Apa kau melupakan kisahnya?"
"Kisah---siapa?"
"Setiap malam ibu selalu membacakannya untukmu, sayang. Bukankah karena itu kau begitu obsesi dengan buku fiksi seperti kisahnya?"
"Buku, Vasilissa----Ha!"
.
.
“.....Queen kembali ke dunianya bersama Lord untuk memimpin kerajaan, dengan penuh tanggung jawab mereka mendirikan kembali kerajaan mereka, dan membuat kedamaian untuk rakyat mereka, tamat..”
“Mama, apa Lucy juga bisa menjadi Ratu, seperti Queen Vasilissa itu?”
“Hem, jika kau percaya cerita Vasilissa ini, suatu saat kau pasti akan menjadi sosok Ratu sepertinya....”
.
.
Lucy ingat, itu buku yang ibunya tulis sendiri sebagai cerita semasa kecilnya. Bahkan ia pernah berkali-kali membawakan buku itu untuk Sofia, tapi waktunya tidak pas sehingga buku itu terakhir kali ada bersamanya.
Meski begitu ia tidak pernah membaca buku itu lagi sehingga ia mulai buram dengan alur kisahnya. Dan kenapa saat ini berada di kamar Lucy, itupun karena Welliam ingin adiknya membaca kembali buku itu, karena dia ingat setiap hari Lucy selalu bermimpi ingin menjadi seperti Ratu Vasilissa. Karena itu juga, Welliam selalu berdebat dengan Lucy sewaktu dini dulu.
Tapi, aneh. Padahal sejak dulu Licy begitu menyukai buku ibunya, tapi kenapa sekarang malah melupakan kisahnya.
"Ibu, bukankah, cerita ibu dulu berkaitan dengan Ratu Vasilissa. Kalau begitu apa cerita ibu memiliki makna lain?"
"Tentu sayang, karena kisah itu adalah kisah Ibu dengan Ayahmu. dunia ini masih memiliki rahasianya sendiri, sedangkan kita, sebagai mahluk terpilih harus menemukan jawabannya."
"Memangnya ada apa dengan sosok Vasilissa ini, bu?"
"Vasilissa adalah bentuk anugrah dari seorang rembulan sayang. Semua yang menjadi keturunan Selini Thea, akan meneruskan gelar Vasilissa dimana dia akan menjadi ratu di atas para ratu. Kau harus berkuasa dan memimpin sebuah dunia menuju kedamaian."
"Hanya saja ..., semakin tinggi kedudukan mu. Maka akan semakin berat juga beban yang ku tanggung Lucy. Salahsatunya adalah hubungan Mate, kau ditakdirkan untuk menjadi Ratu dan hanya pantas bersanding dengan para raja. Namun Vasilissa memiliki satu mate dari sekian banyak kandidat raja." Jelas Lezzy.
"Itu artinya, mungkin saja jika Lucy bertemu dengan Raja dari bangsa lain--Lucy, Lucy juga bisa merasakan kehadiran mate yang lain?"
Lezzy yakin sekarang perasaan Lucy sama sepertinya dulu. Di saat ia menemukan cintanya, tapi maha cipta menyeret pria lain sebagai kekasih bayangannya. Dan mereka di tuntut untuk memilih raja yang pantas bersanding dengannya sebagai Vasilias.
Lezzy harus menegaskan ini, karena sesuatu hal besar yang ia katakan sejak dulu, tibalah di hari ini. Ia menggenggam erat kedua lengan Lucy menatap dalam putrinya yang terbilang seperti cerminannya.
"Dengarkan ini baik-baik Putriku, meski kau merasa ini gila sampai rasanya kau begitu kesal. Tapi inilah hidupmu, ini takdir yang harus kau jalani. Kau mungkin akan melihat para raja yang tergila-gila dengan sosok mu sebagai Vasilissa tapi---Vasilissa punya mate nya sendiri dan itu adalah Vasilias-mu. Raja yang berdiri di atas para raja, dia satu-satunya kekasih yang harus kau genggam erat tangannya."
"Bagaimana aku bisa tahu, jika semua raja merasakan bahwa aku adalah mate nya."
dan--mungkinkah Kendric seperti itu karena aku seorang Vasilissa? Aku harap itu tidak ...
"Lucy, mate mu yang sebenarnya akan menunjukkan sisi yang berbeda. Ia akan memperlakukanmu dengan sederhana, memanjakan mu dengan harapan terpendam mu. Sehingga kau akan terlarut dalam kebahagian saat bersamanya, Lucy ibu tak bisa membantu banyak. Tetapi kau harus bisa meyakini satu diantara raja itu, adalah sosok yang kau percaya sebagai raja di hatimu."
"Apa hal ini pernah ibu lewati?"
"Ya, dulu ibu rasanya sangat frustasi. Saat ibu sudah terlarut dalam kasih Fedrick, ibu justru di kejutkan dengan pengakuan gila dari Katastrofi dan King Kristof, yang begitu bernabsu tinggi hanya karena sosok ibu sebagai Aliki Vasilissa. Tapi setidaknya, yang ibu percayai dari Ayahmu adalah caranya dia menerima dan memperlakukan ibu dengan penuh kasih. Puluhan hingga ratusan tahun kami berpisah secara berkali-kali, tapi dia tetap menunggu ibu. Tak perduli sekejam apa sosoknya, dan semengerikan apa sikapnya ibu tetap mencintainya."
"Lucy, ibu percayakan semua ini kepadamu. Sebagai generasi Vasilissa dan keturunan Selini Thea, kau harus bijak dan lebih dewasa lagi dalam melewati cobaan ini. Jika kau sangat mencintai Kendric, jangan pernah lepaskan kepercayaan mu darinya. Tak perduli sebesar apa kesalahannya kau harus tetap bersamanya, mungkin saja itulah caranya dia melindungi mu sebagai kekasihnya dari mata nabsu raja yang lain. Jika salah satu diantara kalian lengah saja---kemungkinan perpisahan adalah akhir dari cinta kalian."
Lucy menggelengkan kepalanya dengan cemas. Entah mengapa ia belum pernah merasakan setakut ini, "Lucy tidak mau berpisah dengannya. Lucy ingin tetap bersama Kendric, mungkin harus Lucy akui bahwa perasaan ini dan semua perlakuannya terhadap Lucy begitu asing tapi Lucy sangat nyaman bersamanya, Ibu bertemu dengannya begitu sangat berbeda saat Lucy bertemu dengan Harlie ...."
Lezzy tersenyum, ucapannya ini sudah bisa membuktikan bahwa kemungkinan besar Kendric lah belahan jiwanya. Hanya saja, mereka yang terpilih terus dibutakan oleh takdir.
Akan tetapi, bila Kendric benar-benar tidak bisa menjaga Lucy dari mata raja yang lain, apa mungkin takdir bisa berputar?
"Jangan pernah tinggalkan dia, Lucy."
__ADS_1
...---.o"🍁"o.---...