
Malam Saat Lucy baru tiba di kediaman Wisteria
Malam masih panjang, keadaan kediaman Wisteria begitu sunyi hingga tak mendengar tapak kan kaki dari penjaga yang berkeliling rumah untuk berjaga.
Dari bilik kamar Lucy yang masih tersinari cahaya rembulan, angin berhembus dengan sangat pelan menarikan gorden yang terhuyung angin. Dentingan jam, menjadi alunan paling merdu saat ini.
Molie yang tertidur di dekat kasur Lucy masih setengah tertidur karena harus menjaga Tuan Putrinya. Hingga Molie terjaga saat mendengar suara tawa riang yang begitu mungil, sembari memanggil seseorang.
Robin ...,
Bangunlah, Robin ....
Lucy yang tertidur mulai terganggu akibat panggilan halus yang tak berhenti bersuara. Perlahan dia membuka matanya, lalu terbangun sembari menerawang lingkungan di sekitarnya.
Robin ....
Lucy benar-benar sadar saat suara itu kian semakin jelas, bahkan bisa ia rasakan ada aura lain yang begitu unik menurutnya. Lucy turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan sembari membuka jendela kamar.
Kami sudah lama menanti kehadiranmu, Robin.
"Si-siapa? siapa yang berbicara?"
Lucy memastikan baik-baik keadaan diluar dan di dalam kamar. Tapi tidak ada siapa-siapa, hingga akhirnya suara itu terus terngiang. sebenarnya siapa Robin itu?
Kau mencari ku, Robin?
Lucy melihat kearah rak buku, dari sela buku yang tersusun terlintas cahaya kuning yang begitu terang terbang dari rak nya kemudian terbang cepat keluar jendela.
Hai Robin ...
Lucy tertegun melihat peri kecil berpakaian dari daun yang terdesain begitu indah di tubuh mungilnya. Tapi, peri ini begitu berbeda dengan kaum Fairy di Pixifly Darkness World.
Peri ini jauh lebih mungil dan terlihat memiliki energi mana yang lebih kuat dari kaum Fairy. Tapi, apa di dunia manusia ada kaum fana seperti mereka juga? setahunya, dunia ini netral bahkan kekuatan seperti supranatural saja dianggap main-main atau lebih tepatnya hanyalah cerita khayalan
"Kau siapa?"
Kalau kau, siapa?
Lucy bingung. kok dia malah balik bertanya? kan dia duluan yang mendatanginya, atau karena Lucy pendatang baru hingga kaum seperti Fairy tertarik dengannya?
Mungkin jika dia memperkenalkan nama aslinya tidak masalah, tapi bagaimana jika mahluk kecil ini berbahaya?
Kau takut, aku berbahaya Robin?
"Tidak,"
Kalau begitu, aku tanya kau siapa?
"Namaku, Lucy daiana Lorddark's. Aku berasal dari kaum Demon."
Demon? Tidak, kau adalah Robin---Robin kami yang yang telah lama hilang.
"Robin? Bukan, aku Lucy mungkin kau salah mengenali seseorang."
Tidak! Kau adalah Robin.
"Robin?"
Nee ..., Robin. Ikutlah denganku, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.
Peri itu terbang memutari Lucy. "Eh, siapa?"
Jika kau ingin tahu, ikutilah Rusa itu.
Lucy melihat keluar jendela, menatap seekor rusa putih yang bercahaya ditengah malam-----pada halaman belakang rumah.
Ayo Robin, para roh yang lain juga tengah menunggumu.
Peri kecil itu terbang keluar jendela menghampiri Rusa Putih tadi, kemudian keduanya pergi ke taman belakang. Lucy terlihat ragu, bisa saja ini jebakan tapi dia jua sangat penasaran.
Apa sebaiknya dia memanggil Aletha? Lebih baik tidak, resikonya biar dia tanggung sendiri saja.
' Jangan khawatir, aku akan menjagamu Putri.'
Benar, masih ada Molie yang bersamanya. Lucy melompat turun dari jendela, lalau jatuh dengan sangat lembut. Untungnya dia memiliki kekuatan lebih untuk mengendalikan gravitasi.
Dia berlari mengejar Rusa dan peri tadi
melihat keduanya memasuki sebuah hutan di belakang rumah, membuat Lucy menatap kediaman Wisteria.
Pasalnya hutan itu di batasi dengan gerbang Inari besar yang sudah berlumut. Mungkin di dalam hutan terdapat semacam kuil? Entahlah, sejak Lucy datang dia belum berkeliling rumah ini.
Robin, lewat sini ....
Lucy memilih nekad untuk mengikuti peri itu, dan saat kaki polos tak beralas menyentuh tanah lembab----melewati gerbabg Inari tua seketika suasana berubah.
...TRING...
...Menari, menari, menari lah alam .......
...Bernyanyi, nyanyi, nyanyi lah para roh suci ......
...Gembira, gembira, bergembiralah mahluk hidup .......
...Sambutlah kehadiran sang ratu para peri alam, sambutlah dia yang menjunjung tinggi kasih sayang mahluk malam dan siang....
...Sang keturunan cahaya Serenity sebagai maharani bagi langit....
__ADS_1
...Tunduk dan hormatilah kepada generasi Robin selanjutnya, Putri Yang memiliki nama Demon namun mengartikan bintang sebagai penantian kedamaian dunia....
Tepat saat suara misterius itu berucap, perlahan hutan yang mulai berguguran akibat musim semi-----ditumbuhi tanam indah yang dapat bercahaya ditengah malam.
belum lagi kehadiran hewan legenda dan para peri yang turut menyambut kehadiran Lucy, nyanyian hutan yang belum pernah Lucy dengar terdengar sangat indah di pendengarannya.
Seakan dirinya berada di sebuah cerita dongeng yang pernah ia dengar sejak kecil ia rasakan saat ini, angin musim dingin tak begitu menggigil kan tubuhnya melainkan ia menjadi lebih hangat saat ini.
Di ujung hutan dapat Lucy lihat Rusa putih itu menunghunya seakan masih ada hal yang ingin di tunjukan kepada Lucy. Seiring langkahnya berjalan melewati peri dan mahluk kecil lainnya---mereka menyapa dirinya.
Huwa, sudah sangat lama aku tidak melihat keturunan Robin lahir kembali.
Robin bagaimana jika kau tinggal di sini saja, Negri peri begitu indah. Hutan ini juga terhubung dengan gerbang menuju Imorrtal. Dan hanya dapat di akses oleh mereka yang menjadi seorang Robin
Lucy tidak bisa membalas ucapan mereka, karena ini sangat membingungkan bahkan dia saja tidak tahu apa itu Robin ataupun Imorrtal.
Apa dunia manusia memang mempunya tempat rahasia lainnya? Tapi dari banyaknya cerita yang dia dengar, yang ia tahu Bumi adalah kondisi normal yang tidak mungkin terdapat peri yang tinggal di dunia ini.
Tring ...
Robin ....
Peri kecil itu lagi-lagi membimbingnya. dia mengikuti peri itu, hingga terletak terdalam hutan Lucy melihat sebuah kolam air dengan dua pohon Wisteria sebagai penghiasnya dan beberapa lampu untuk penerangnya.
Rusa putih itu berdiri di pinggir kolam. Lucy mendekat dan duduk di sebelah Rusa itu, beberapa peri mengelilingi mereka.
Robin, lihatlah ke air ini. Kau akan setera bertemu dengannya.
"Dengan siapa?"
Vasilias mu ....
Siapa lagi Vasilias itu? malam ini terlalu banyak kejadian hingga membuatnya pusing. Lucy menuruti peri itu lalu dia melihat kearah air, kabut yang menutupi permukaannya perlahan mengilang kemudian memperlihatkan sekilas gambaran seorang pria.
lalu berubah menampilkan dua pohon Mapel yang tengah berguguran. kedua pohon yang masih asing bagi Lucy sangat menarik perhatiannya, tiba-tiba saja tangan Lucy bergerak untuk menyentuh dedaunannya yang terasa seperti jatuh keatas permukaan air.
Raihlah, dan jangan lepaskan genggaman mu darinya, Robin ....
TRING!
Lucy membuka matanya, dia terlihat seperti baru saja terbangun dari mimpi panjang. Saat dia sadar, dia sudah berada di kamarnya lagi dengan kondisi Aletha berjalan-jalan di hadapannya sembari memegang sebuah benda yang manusia sebut sebagai ponsel.
Tunggu, apa semua hanya mimpi? Lucy melihat kearah jendela dan memang hari sudah sangat terik, apa sudah pagi?
"Akhirnya kau bangun, tadinya aku akan pergi tanpa berpamitan secara langsung denganmu. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu, bagaimana tidurmu malam ini?"
"Kak Aletha?"
"Ya? Ada apa denganmu, Lucy. kau seperti baru kembali dari tempat lain saja? Apa mimpimu terlalu indah untuk ku ganggu?"
"Ada apa denganmu, sejak semalam aku tidur di sebelah mu."
"Sungguh? Lalu bagaimana dengan hutannya?"
"Hutan? memang di belakang kediaman ini terdapat taman hutan. Ada apa denganmu?"
"Bukan, sepertinya aku tadi sedang bermimpi. Kakak, sudah mau pulang?"
"Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan Sofia terlalu lama."
"Tapi ini baru sehari."
"Kau lupa dengan perbedaan waktunya? Jangan khawatir, pergilah ketempat yang ingin kau datangi. Carina akan mendampingi mu, aku harap kau lebih bahagia disini."
"Aku baik-baik saja kak."
"Lucy, setelah kau bersiap aku akan langsung pulang jadi tidak bisa ikut sarapan bersamamu, tidak apa kan?"
Lucy mengangguk, kemudian Aletha memeluk Lucy sebelum dia kembali. Rasanya dia seperti ditinggal secara perlahan, Aletha membuka gerbang untuk kembali ke Darkness World.
"Titip salam, untuk Sofia ...."
Aletha tersenyum lalu menghilang ditengah pusaran portal dimensinya. Tak lama Carina memasuki kamar Lucy, dia memberi hormat.
"Apakah hari ini ada tempat yang ingin anda kunjungi, Putri?"
"Em, bagaimana dengan toko buku? Kak Aletha pernah bilang, toko buku di dunia manusia begitu unik dan banyak beragam buku menarik."
"Kalau begitu, mari saya bantu anda untuk bersiap."
"Terimakasih."
-----.O ๐ O.-----
Di dalam toko buku yang berada tak jauh dari jalan raya, terlihat gadis cantik tengah menunggu seseorang selesai membayar semua pilihan bukunya.
Dia adalah Lucy, yang mencoba membaur dan mengetahui dunia manusia lebih dalam lagi. Di saat dia tengah menunggu Carina, Lucy melihat seorang wanita tengah panik sembari menunjukkan sebuah gambar pada layar ponselnya.
Wanita itu melihat kearah Lucy lalu berjalan mendekatinya, kebetulan dia menunggu di luar toko---apalagi parasnya yang cantik seperti turis yang berasal dari Eropa, menarik perhatian banyak orang yang melihatnya.
"Nona, apakah anda melihat putriku? Dia berusia 5 tahun, tingginya sepinggang mu. Putriku bernama Inari, Mayako Inari. Kumohon perhatikan baik-baik wajahnya."
Lucy yang masih belum terbiasa berinteraksi dengan kaum manusia terlihat gugup dan tak tahu harus apa.
"Ma-maaf, aku tidak tahu."
__ADS_1
Lucy merasa bersalah melihat wanita paruh baya itu terlihat sedih sembari berjalan pergi, tapi Lucy juga tidak tahu apa-apa. apalagi Negeri ini begitu luas seperti yang dibilang Carina.
Robin ...
Suara itu! Lucy kembali terjaga saat suara lembut yang sama persis dengan mimpi yang bisa dia katalan cukup nyata.
Robin ....
Lucy mengikuti suara itu yang menuntunnya hingga ketepi penyebrangan jalan, dan saat itu juga dia berdiri diam menatap pohon Maple yang saling berguguran jatuh di keramaian masyarakat.
Seakan dia telah jatuh hati kepada tumbuhan musim gugur ini, Lucy perlahan mulai berjalan maju mengimbangi para pejalan kaki yang berlalulalang.
Ia mengabaikan sekelilingnya dan hanya terpukau pada pohon Maple yang begitu persis seperti di mimpinya. Saat terdapat sedaun Maple yang jatuh seakan kearahnya, Lucy tergerak untuk meraih daun seperti bintang itu.
Raihlah, dan jangan lepaskan genggaman mu darinya ....
"Lucy ...."
Saat Lucy berhasil meraih daunnya, sebuah panggilan lembut merusung hatinya yang sempat hampa. Lucy dipaksa berbalik dan menghadap Pria yang terlihat begitu khawatir karena menantikan seseorang.
Entah mengapa surai rambutnya yang persis seperti mentari terasa tak asing baginya, dan juga mata hitamnya sekilas terlihat seperti permata delima.
Kedua insan yang masih saling temu tatap mata yang membawa sirat aneh direlungan hati, membuat pohon Maple menghujani keduanya.
"Kau, mengenalku?"
Pria itu yang tak lain adalah Kendric yang baru saja membantu anak kecil---langsung menggenggam erat tangan Lucy seakan tak ingin melepaskannya.
"Melihatmu ada disini, membuatku ingin segera menjemputmu. Tuan Putriku ...."
"Ka----"
TIN!! TIN!! TIN!!
Lucy terkejut saat beberapa mobil mengelak soni mereka yang berdiri di tengah jalan penyebrangan, Kendric tidak sadar lampu penyebrangan telah kembali menjadi warna merah.
Sedangkan Lucy terlihat sangat terganggu dengan ini semua, suara bising dan tatapan masyarakat yang melihat mereka membuatnya mengingat kembali kejadian di pesta malam itu---dimana, semua orang menatapnya dengan ketidak sukaan.
Buru-buru Lucy melepaskan tangannya yang tadi digenggam Kendrick dan berlari--kembali ke toko buku untuk menemui Carina dan segera kembali pulang.
Kendrick melihat tangannya sendiri, rasanya hampa saat dia pergi begitu saja. Tapi, Lucy bukanlah Putri yang akan meninggalkan sepatu kacanya untuk ia cari.
Lucy juga tidak akan mengambil apel merah untuk ia sanjung dalam tidur panjangnya.
Atau bahkan, Lucy bukanlah Putri yang meminta sebuah mawar untuk ia mintai ganti rugi sebagai tawanannya.
Melainkan, Lucy adalah satu-satunya Putri yang mampu meninggalkan perasaan rindu di relungannya. Mengambil hatinya sebagai Raja langit yang tak tergoyahkan.
Mungkin, justru Kendric lah yang akan meminta Lucy untuk tetap di sisinya sebagai mawar yang begitu sangat ia jaga dengan hati-hati.
Sekarang Kendric paham kenapa Selini Thea menitipkan cucu perempuannya kepada dirinya. Mungkin untuk alasan inilah, ia harus menjaganya hingga Lucy dapat di panggil sebagai Maharani tercintanya.
"Kali ini, ku pastikan kau tidak akan kembali kepadanya lagi!! Tidak walau hanya harapan doa ...."
---.o0๐0o.---
*Darkness World.
~Kediaman Roserria.
Aletha duduk di meja riasnya sembari mengeringkan rambutnya. selama ini dia lebih suka jika hal pribadinya ia kerjakan sendiri, tapi mungkin tidak masalah jika itu adalah Fivian.
Setelah kembali dari Bumi. Ia menghabiskan waktunya untuk mengobati rasa rindunya kepada Putri tercinta.
"Hari ini, kau mengabaikan ku terus, ya?"
Welliam mendekati Aletha lalu memeluk istri tercintanya dari belakang, mengobati rasa rindunya juga terhadap sosoknya.
"Kau ini, masih saja cemburu dengan Putrimu sendiri."
"Habis kau mulai mengabaikan ku dan memilih memperhatikan Sofia. Apa sebaiknya kita tunda dulu untuk anak selanjutnya?"
"Welliam, berhentilah seperti anak-anak!"
"Baiklah-baiklah. Jadi, bagaimana keadaan disana?"
"Semuanya baik-baik saja. Lucy juga mulai terlihat baik, aku harap dia segera menemukan kebahagiaannya."
"Jangan khawatir, adik ku perempuan yang kuat. Lalu, bagaimana mengenai perusahaan mu? Apa sudah mulai bangkrut?"
"Welliam! Wisteria Group selalu yang terbaik dalam melayani konsumen ataupun mengeluarkan produk terbaru."
"Aku yakin persaiang bisnis di sana begitu mengerikan."
" Ya, bahkan sangking mengerikannya aku sampai memutar otak untuk melawan mereka. Terutama untuk perusahaan si nomor 1 yang mampu menyaingi perusahaan ku."
"Aku jadi penasaran, siapa perusahaan yang berani bersaing dengan Istriku ini?"
"Hm, memangnya aku belum bilang ya? Mengenai Helios Group?"
Welliam menggelengkan kepalanya, "sepertinya belum."
"Helios Group adalah perusahaan nomor 1 di Bumi dan pemiliknya adalah Kaisar Langit, Kendric Athananysous Helios."
"Apa?!"
---,*๐*,----
Penasaran kelanjutannya?
__ADS_1
Tunggu jam 8 malam ya, Author masih harus bagi waktu Up nya kalau soal 2 chapter.
Terimakasih telah menanti cerita ini๐โค