
.......
.......
.......
...---•°` 🍁 `°•---...
"Kendr----"
"Baginda Kendric."
Sautan Lucy terpotong saat Robert hadir untuk menjemput Kaisar langit yang akan segera membahas hal penting akibat yang terjadi semalam.
"Maaf mengganggu waktu anda, Baginda. Para Tetua dan Petinggi lainnya telah menunggu anda untuk segera hadir." Robert membungkuk 40 derajat menyapa pasangan langit di hadapannya.
"Lucy aku harus pergi, tadi kau ingin mengatakan apa? "
"Em, bukan hal yang penting. Pergilah, aku akan menunggumu kembali."
"Baiklah, aku akan segera menemui mu lagi dan membawakan beberapa hadiah yang bisa kubawa dari ibu kota."
"Terimakasih, asalkan kau baik-baik saja itu sudah cukup untukku."
Kendric memberikan kecupan singkat pada kening Lucy lalu pergi bersama Robert menuju tempat paling menyebalkan yang pernah ia jumpai.
Lucy menjadi lemas setelah kepergian Kendric. Dalam tarikan nafas panjang, Lucy seperti orang yang habis melewati hal paling tersulit sampai sebegitu tegangnya.
' Pada akhirnya aku tidak bisa menanyakannya .... '
Lucy terlihat murung dan itu membuat Molie melompat dan duduk di posisi Kendric tadi. Dia menyentuhkan hidungnya ke pipi Lucy.
"Apa yang anda khawatirkan Putri?"
"Tidak ada Molie, hanya rasanya pikiranku sedang di guncang sesuatu hal saja."
"Anda bisa berbagi keluhan anda kepada saya, Putri."
"Terimakasih."
Di tengah Lucy menenangkan pikirannya dengan bersandar pada Molie. Keheningan nyaman itu harus terusik disaat kebisingan dari kerumunan Maidery di belakang taman yang tak jauh dari sebuah bangunan Castle besar menarik perhatian Lucy.
Lucy mendatangi keramaian di sana. dari sudut bangunan itu, ia melihat Maidery yang tengah menjemur kain putih terlihat begitu asik membahas sesuatu hal yang menghebohkan dunia Imorrtal.
"Apa kau dengar semalam?"
"Aku juga dengar. Bahkan suara auman tersebut begitu sangat besar, aku sampai merinding dan tidak bisa tidur."
"Bahkan, penjaga yang menjaga perbatasan sampai berlari ke markas karena suara menyeramkan semalam."
Angin yang bertiup kencang mengibarkan barisan kain putih yang terjemur rapih di padang salju belakang Castle tua. Perlahan Lucy mendekati mereka, apa telah terjadi sesuatu selama dia tidak ada disini?
"Maaf mengganggu, apa telah terjadi sesuatu disini?"
Para sekumpulan Maiderry muda itu menatap Lucy sedikit canggung. Mereka jarang bertemu dengan kekasih Tuan mereka. Hanya gosip yang menyebar tentang sosoknya yang mereka ketahui, bahwa seorang Raja para Dewa membawa wanita asing yang bahkan auranya masihlah samar.
Lucy merasakan keheningan yang sangat hampa saat tatapan mereka sedikit sinis kepadanya. Apa karena dia Pendatang dari dunia asing? Makanya mereka menatapnya seperti itu.
Sekarang dia mengerti bagaimana perasaan menjengkelkannya Aletha sewaktu datang ke Darkness World, ada begitu banyak pelayang yang membicarakan Aletha dan itu pasti sangat mengganggunya.
"Kalau bukan hal yang patut aku ketahui, kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian." Lucy hendak beranjak pergi tetapi salah satu pelayan dengan rambut yang tergulung oleh pita menghadangnya.
Wajah imutnya yang terlihat seperti kepiting rebus menarik perhatian Lucy. Apa dia terlalu gugup? Padahal Lucy tidak melakukan apapun.
"Apa kau sedang sakit?" Sahut Lucy.
"Ti-tidak, tentu saya tidak sedang sakit. Hanya saja ini pertama kalinya bagi kami dapat berbicara dengan anda Putri. Maaf atas perlakuan kami tadi, saya bisa membantu menjelaskannya." Pelayan polos itu terus menunduk sembari menahan perasaan gugupnya.
"Aku tidak suka---saat seseorang berbicara denganku dia justru menatap kearah lain." Lirih Licy, dan seketika pelayan di hadapannya langsung mengangkat kepalanya dengan wajah kagum.
Pelayan itu tersenyum, "Sebenarnya, semalam kami mendengar suara yang mengerikan. Seperti raungan sosok yang sepertinya bukan hewan liar, bahkan seluruh penjuru tempat Imorrtal mendengarnya dan itu sangat menghebohkan Leryvora."
"Katanya juga itu suara dari monster legenda yang sudah cukup lama tertidur dan akan segera bangkit." Lanjut pelayan yang lain.
"Monster legenda? "
"Kami pernah mendengar cerita singkatnya tentang monster pemakan segalanya, ia begitu tamak dan sangat cepat haus darah karena keberadaannya sangat mengkhawatirkan jadinya mahluk repatah meminta kepada Dewa Matahari dan Dewi Bulan untuk menyegelnya di jurang kegelapan."
"Bahkan meski dia sudah terkurung, tersebar kabar bahwa monster itu akan bangkit lagi---ih! Kalau aku berharap dia tidak pernah bebas." Sambung rekan pelayan yang lain.
__ADS_1
"Apa monster itu sungguh ada? "
"Eum, sepertinya ada tapi karena bisa juga hanya sebuah cerita legenda jadi tidak bisa membuktikan keberadaannya."
"Tapi raungan semalam sangat nyata."
Di tengah perdebatan para maidery. Lucy masih saja terlarut dalam pikirannya, dia memang merasa asing dengan kehidupan di Imorrtal tapi kenapa rasanya monster itu membuat sebagian jiwanya merasa terguncang. Entah mengapa rasanya sangat menganggu dirinya, apa benar itu bukan sekedar mitos?
"Ah! Tapi bukankah meski monster itu datang, masih ada Baginda Kendric yang akan mengalahkannya." Seketika ucapan riang dari pelayan imut di sebelah Lucy kembali menarik kesadaran Lucy.
"Kau benar. Matahari akan selalu menyertai baginda, aku jadi merasa tenang."
"Em? Apa monster itu ada kaitannya dengan Kendric?"
Sautan Lucy membuat suasana hening, bahkan bagi para Maidery yang menatap Lucy dengan tatapan heran, itu hal yang sangat aneh untuk di tanyakan karena seluruh penghuni Imorrtal tahu betul siapa Kendric. Mereka kembali saling berpandangan sebelum akhirnya menatap Lucy dengan keraguan.
"Em ..., bukankah anda seharusnya sudah tahu, mengenai sosok Yang Mulia, Putri?"
Sosok Kendric?
Para pelayan yang melihat reaksi Lucy tiba-tiba menjadi menegang. Apa mungkin Putri Lucy tidak mengetahui tentang sosok agungnya di dunia Imorrtal ini?
Sebaliknya dengan Lucy yang juga merasa ada yang aneh jika melihat reaksi mereka tampak terkejut. Bukankah Kendric hanya seorang mentri? Tunggu, kalau di pikir tidak ada Mentri yang di sebut baginda jika bukan dia adalah seorang-----Raja?
Ia pernah sempat berpikir, jika Vasilissa hanya di tujukan untuk seorang raja lalu apakah benar Kendric yang mengaku sebagai Mate nya adalah sosok seorang Raja. Tapi Raja yang seperti apa dia?
Dunia ini memiliki banyak perbedaan dengan Dakrness World. Apa Danke sebutan lain untuk Raja?
"Pu--putri, mungkinkah anda tidak tahu kala-------"
"Putri Lucy."
Panggilan tegas yang memotong serta mengalihkan perhatian semua orang di sana, membuat mereka segera mencari pemilik sumber suara tersebut. Danbenar saja tidak jauh dari posisi Lucy, Sylvia berdiri di belakangnya dengan tatapan serius.
Dia berjalan mendekat, seraya memberikan salam hormatnya kepada Lucy. Kedatangan Sylvia membuat para Maidery menunduk ketakutan dan segera bubar.
Di Imorrtal kedudukan Dewa yang tinggi berdasarkan darah bangsawan adalah yang paling murni sehingga menatapnya adalah sebuah aib bagi kehidupan mereka, jika menatapnya secara terang-terangan.
Tapi apakah Sylvia akan sama seperti bangsa Imorrtal yang lain? Tentu tidak. Sylvia menyela karena dia tidak ingin mereka mengatakan identitas Kaisar langit yang sebenarnya kepada Lucy.
"Kalian mau kemana? Aku belum----" Lucy berniat mengejar mereka tetapi saat itu juga Sylvia menghalanginya.
"Tapi aku masih memikirkan masalah yang terjadi semalam."
"Tidak ada yang perlu anda khawatirkan Putri Lucy. Mereka hanya bergosip saja."
"Sylvia ...." Ini aneh bahkan sangat mencurigakan jika Sylvia sampai menutupinya juga. Semakin dekat dengan dunia ini, semakin banyak rahasia yang menjerat di sekeliling Lucy.
Lucy bukanlah Putri yang bodoh dia juga memiliki insting yang cukup sensitif. Tapi jika dia memaksa mendobrak rahasia, itu akan menimbulkan kekacauan. Sepertinya ia harus sedikit bersabar dengan rasa penasarannya ini. Lagipula dia belum tahu garis besar dari yang aneh diantara lingkungannya.
Kuharap tidak ada yang mencoba mengkhianati ku lagi ....
Molie menarik gaun Lucy memberikan isyarat untuk segera pergi. Dan seketika Lucy pun tersenyum, "Kau benar. Musim masih belum berganti, aku akan mengikuti saran mu Sylvia. "
"Terimakasih Putri. "
.......
.......
.......
Lucy menyeruput teh nya, dalam sebingkai jendela yang menjadi penghubung portal pemandangan wilayah Apollo. Lucy meresapi suasana musim dingin yang masih tetap terlihat indah meski di lihat berkali-kali pun.
"Putri, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu."
"Tapi keberadaan Monster yang pelayan itu katakan cukup menggangguku. Entah rasanya, ada sesuatu dalam diriku yang merasa kesal."
Molie menatap Lucy yang masih melihat pemandangan dengan raut khawatir. Ia ingin mengatakan kebenarannya tapi ia juga takut Putri pelita ini akan semakin redup cahayanya jika kabar itu datang lebih cepat.
Apalagi dia sudah semakin curiga dengan sosok Kendric yang terbesit sangat aneh jika semua yang berkaitan tentangnya justru tertutupi.
"Putri bagaiman jika anda memikirkan hadiah yang ingin di berikan kepada Baginda saja."
"Hadiah?"
"Apa anda tidak berpikir untuk membalas hadian cincin tersebut, bahkan Baginda akan memberikan hadiah yang lain saat kepulangannya nanti."
Lucy melihat cincin di tangannya. Kalau di pikir ia tidak pernah membalas apa yang selalu Kendric tunjukkan kepadanya. Perasaan hangat dan santunan kata yang menyentuh bahkan hingga punjungan hadiah yang selalu mewah.
Mungkin Molie benar, ia seharusnya membalas hadiah ini. Toh akan sangat menyenangkan jika membayangkan ekspresi Kendric saat pulang dia sudah menyiapkan hadiah untuknya.
__ADS_1
"Tapi sebaiknya aku berikan apa ya? Jika aku memberikan disert makanan kesukaannya---aku tidak tahu apa yang dia suka. Kalau pedang? Ha.., dia tidak pernah membawa pedang kemanapun. Bahkan pakaiannya saja sangat santai untuk dikatakan seorang pemimpin di Apollo."
Apa sebaiknya di kasih pakaian yang benar saja ya? Toh pakaian Kendric selalu membuat mata jadi berbahaya. Belum lagi kain putih yang melonggar di bagian dadanya dan selalu menampilkan lekukan otot gagahnya yang sangat eksotis----ah! Kenapa memikirkan hal itu malah membuat Lucy semakin malu.
Pikiran nakal dari mana ini?! Tapi, Lucy juga bisa cemburu, bagaimana jika pelayan wanita menatapnya dengan sangat lapar karena kesempurnaan wajah dan tubuhnya yang super menggoda?
Memangnya di Imorrtal ini sangat kekurangan bahan kain ya?
Lucy terlihat berperang dengan pikirannya yang terlarut dalam kecemburuan batin wanita. Tapi Molie dapat mengerti apa yang di pikirkan Tuan Putrinya ini.
"Apa anda masih bingung Putri?"
"Heum ...., " Lucy bersandar malas di atas meja, ia menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangan yang melipat sebagai penompang kepalanya.
"Bagaimana jika permata atau berlian langka dari istana? "
"Molie, kau tidak lihat seberapa luasnya Apollo sebagai wilayah kekuasaannya? Bahkan tak sebanding dengan Lucifer Kingdom. Sudah pasti di Istananya ini menyimpan milyaran permata langka."
"Kalau hal yang mewah tak sebanding, anda dapat memberikan yang sederhana tapi tak ternilai rasa berharganya."
"Maksudmu? "
Molie menggerakkan ekor rubah lebat dan lembut ke wajah Lucy yang terlihat sangat antusias. "Putri bisa mengandalkan kemampuan menyulam bukan? Buatkan Baginda sebuah saputangan sebagai tanda perhatian anda kepada Baginda, Putri. "
"Tapi ..., menyulam masih sedikit berat untuk bisa aku lakukan lagi."
Keputusan Lucy untuk membakar semua koleksi saputangan yang tersusun rapi di ruang khusus kamarnya, membuat kesan trauma terhadap barang seperti itu kepada Lucy. Ia saja sampai tak bisa mengingat tehnik menyulam dengan sangat baik, apa ini dampak dari keputusasaannya dulu.
"Putri, yang anda berikan bukan masa lalu kelam anda. Tapi pernyataan kesungguhan hati Putri, bahwa anda sudah tidak memiliki rasa terhadap King Harlie. Melainkan rasa cinta anda yang sudah sangat besar kepada Baginda Kendric."
Lucy kembali menegakkan tubuhnya. Sekarang dia sudah sangat berani menyatakan bahwa dia sudah sangat mencintai sosok Kendric. Untuk malasah Harlie, hanya masa lalu yang membuatnya harus menjadi lebih kuat daripada dirinya yabg dulu.
Tak apa, lagipula saputangan adalah salah satu hal yang wajib dalam hubungan Mate. Semacam pemberian perhatian atau balasan hati.
Tapi hal apa yang harus dia buat dalam sulaman itu? Semua jenis filosofi bunga, hewan bahkan ukiran nama sudah banyak ia sulam hanya untuk Harlie yang bahkan tidak ada satupun balasan baik dari dirinya. Sampai-sampai ia membuat bunga Wisteria di saputangan itu---ha ..., ia malah menodai cinta kedua kakaknya saja.
Entah mengapa Lucy jadi sadar betapa bodohnya dia dulu -_-
"Sylvia, apa kau tahu sesuatu hal yang di sukai Kendric selama ini?"
Sylvia yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dirinya, bergerak maju mendekati Licy. "Saya tidak begitu dekat dengan beliau, bahkan diantara kami hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Baginda orang yang sangat misterius, Putri. Bahkan Tuan Robert yang sangat akrab dengan beliau tidak dapat memahami sosoknya dengan baik."
"Apa Kendric begitu tertutup? Bukankah Robert adalah tangan kanannya. "
"Mohon maaf Putri, saya tidak dapat menentukan hal yang di sukai Baginda. Karena setahu saya semua yang beliau lakukan adalah hal yang sama di matanya. Tapi menurut saya, anda lah yang paling mengerti Baginda. "
"Aku? Sepertinya tidak juga----karena aku juga sedikit malu saat tahu bahwa tidak banyak yang ku ketahui tentangnya. Tapi dia justru yang paling paham diriku ...."
Lucy kembali murung, sebenarnya rahasia apa sih yang di gunakan Ayah serta Kakaknya untuk memahami pasangan mereka?
Tring!
"Lucy ...."
Lucy menoleh keluar jendela saat panggilan merdu merasuki pendengarannya. Dan seketika hal yang terasa seperti deja vu teringat dalam bayangan sesaat.
Saat itu juga ia tertegun melihat sehelai daun cantik berwarna coklat keemasan yang terhuyung terbawa angin kemudian jatuh menggenang di atas cangkir tehnya.
Lucy meraih daun menyerupai bintang tersebut dan perasaan hangat mengalir di dalam hatinya seakan menetralkan beberapa hal yang sempat membuatnya resah.
Kalau di ingat pohon ini yang menghubungkan hingga membuat ikatan kami jadi semakin dekat.
Lucy tersenyum haru saat mendapatkan hal apa yang pantas di jadikan filosofi dari kisah cinta mereka. Ia pun kembali melihat Sylvia dengan wajah ceria, hingga membuat Sylvia malah kebingungan.
"Aku sudah menentukannya. Sylvia, dapatkah kau menyiapkan beberapa alat menyulam? Dan satu hal lagi, apa hutan Maple di dekat istana barat masih tetap utuh meski dalam kondisi bersalju seperti ini?"
"Hutan Maple?"
...---. o🍁o .---...
Informasi Karakter Novel!
Catatan!
Aletha adalah sosok wanita anggun yang mencerminkan jiwa kebangsawanan tinggi. Meski ia terlihat sangat dingin dan cuek, tapi kecantikannya sebagai Dewi murni tak dapat di pungkiri.
Sosok jelitanya sering menarik perhatian para pengawal dan pelayan pria, karena kecantikan dia yang terlihat sangat lembut dan seindah Wisteria. Hal itu mampu menutupi fakta bahwa ia adalah seorang Dewi Perang yang sangat beringas serta tangguh di tanah Peperangan penuh noda darah.
(Saat ia menjadi Dewi Perang seutuhnya, Warna asli rambutnya berwarna silver keperakan)
__ADS_1