The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Choice ; A Drop of Holy Blood


__ADS_3


...---...


.... ...


.... ...


.... ...


...***...


"Tapi Kendric, sekali saja andalkan aku juga. Kau tidak perlu menjadi kuat di hadapanku. Menangis lah jika itu menyesakkan. Berteriak lah, jika itu memang sakit. Aku mate mu, aku bagian dari jiwamu jangan terluka seorang diri. Aku-----hiks, aku tidak mau kehilangan mu."


"Oh tidak, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir sayang. Jangan tunjukkan kesedihanmu dengan melihatku seperti ini. Aku akan baik-baik saja, luka ini tidak seberapa."


"Kendric, kau tidak mengerti ...."


Lucy tahu saat ini Kendric membutuhkan bantuan, tapi sebagai seorang Pria ia tidak akan bisa menunjukkan sisi lemahnya kepada siapapun. Tak bisakah kau lebih mengandalkan ku.


" Darah, gunakan darahmu Lucy ... "


Lucy terdiam, saat sebuah suara mengetuk pikirannya. Nampaknya sisi lain dari jiwa Lucy mencoba membantu memberikan petunjuk untuk masalah ini.


Apa benar dengan darahnya itu sudah cukup? Tapi ada sebuah pantangan baginya mengenai setetes darah miliknya. Dulu----sekitar usia Lucy beranjak 15 tahun. Lezzy pernah melarang Lucy untuk jangan pernah memberikan darahnya kepada siapapun ataupun sekedar terluka.


Ini dapat menimbulkan masalah, tapi Ibunya tidak memberikan penjelasan dengan memberitahu alasannya dan ingatan mengenai ini sudah mulai terlupakan seiring dirinya beranjak dewasa, hanya saja ia kembali mengingatnya dengan jelas saat suara itu mengatakannya.


Sehingga Lucy hanya menuruti tanpa tahu apapun, mungkin karena masih muda Lucy hanya berfikir jika Putri Kekaisaran terluka tidak kah Ayahnya akan menghukum pelayan yang bertugas melayaninya.


Apalagi, jika di lihat dari perlakuan Fedrick dalam melindungi Putri kecilnya. Tentu siapa pun akan berpikir sama seperti Lucy.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Lucy dilema saat melihat Kendric batuk parah hingga terlihat beberapa bercak darah pada telapak tangannya yang tadi di gunakan untuk menutup mulutnya.


Tidak boleh, Lucy tidak punya waktu untuk memikirkannya dua kali, jika ini bisa menolong Kendric dia pasti akan melakukannya. Lucy menjauhi Kendric menuruni ranjang tidur, dia terlihat mencari sesuatu, lalu mendapatkan beberapa potongan pecahan kaca dari vas bunga yang ada di lantai.


Lucy meraihnya dan kembali ke posisi di sebelah Kendric. Sesaat Lucy terlihat ragu tapi pikirannya terus membisik untuk mempercayai cara ini, jika tidak bisa menyembuhkan secara sempurna tapi ia berharap setidaknya racun itu dapat di hentikan.


Lucy mencoba menyayat tangannya, namun ternyata Kendric memperhatikan sehingga ia mencegah tangan kanan itu untuk melukai telapak tangan kirinya.


"Apa yang sedang kau coba lakukan, Lucy." Kendric terlihat serius, ia rasanya akan marah jika mengetahui tindakan apa yang sedang Lucy rencanakan.


"Aku ingin menghilangkan racunnya,"


"Dengan cara melukaimu?"


"Kendric, luka ku tidak akan sebanding denganmu. Dan juga darahku, memiliki kekuatan khusus yang mungkin bisa meringankan racunnya."


"Tidak, kau tidak boleh melakukannya----LUCY!!"


Lucy tidak mau mendengarkan, ia pun menarik paksa tangannya dan dengan cepat melukai telapak tangannya sendiri sebelum Kendric bergerak untuk menghentikan aksinya. Darah segar mengalir cukup banyak, hingga menetes di atas selimut putih.


"Oh tidak sayang, kenapa kau begitu nekat?!" Kendric mencoba menadahi darah Lucy di tangannya, sembari menutup lukanya tersebut dengan sehelai kain yang ia ambil disaku celananya.


"Kendric lepaskan, kau hanya perlu meminumnya, kalau tidak setetes saja, kumohon------"


"Lucy, aku lebih baik menahan rasa sakitnya selama berhari-hati daripada harus menggunakan cara ini."


"Ini adalah cara yang lebih cepat. Racun itu bisa membahayakan nyawamu. Jadi, berhenti menahan ku."


"Tidak, kau tidak boleh melakukannya. aku tidak mengizinkanmu. tunggulah aku akan segera menyembuhkannya."

__ADS_1


Lucy terlihat kehabisan kesabaran. dia bosan berkali-kali di perlakukan seperti boneka kaca. dengan perasaan kesal, Lucy mengambil inisiatif sendiri untuk menarik kembali tangannya lalu dengan menggunakan taring mungil Demon nya. ia menggigit pergelangan tangan kirinya, mengumpulkan darahnya sebanyak mungkin kedalam mulutnya.


"Lucy, berhe--mmm!"


Lucy mencengkram kemeja Kendric lalu menarik pria itu untuk mendekatkan diri, saat itu juga Lucy langsung mencium Kendric membantunya untuk meminum darah yang ada di mulut Lucy.


Kendric terlihat terbungkam sesaat dengan serangan tidak terduga dari Lucy. Tapi mau di kata apa, Kendric juga sudah tidak bisa mendorong jauh sosok wanita tercintanya saat ini. Karena mau bagaimanapun, Kendric memang tidak akan berdaya jika sudah berhadapan dengan pasangan bintang fajar nya.


Sebuah tubuh yang begitu ia rindukan untuk menjadi sandaran bahwa ia masih memiliki tempat untuk pulang dan beristirahat sejenak dari segala macam konflik yang tidak pernah berakhir ini.


Kendric pun menyerah, ia pun meneguk darah manis bagaikan buah persik mengembun di pagi buta. Sebagai gantinya Kendric mengambil alih kuasa penyerangan, ia membalas ciuman manis itu dengan sedikit kasar mengeluarkan segala kerinduannya pada wanitanya.


Kendric goyah, ia juga sebenarnya ingin menunjukkan sosok terlemahnya hanya kepada Lucy. Merasa marah, ingin berteriak, ataupun menangis di tengah siksaan ini. Dan melepas semua beban menumpuk dalam pelukan sang kekasih.


Seakan dirinya menjadi egois untuk mempertahankan apa yang sudah di genggamannya. Kendric mencumbu Mate nya dengan perasaan haus, ia cemburu pada matanya yang pernah berpaling ke pria lain, dan iri pada bibir ranumnya yang selalu memanggil nama pria brengs*k selain dirinya untuk di sanjung dalam doa nya.


Kendric memeluk erat tubuh mungil itu, menghirup dengan penuh obsesi pada aroma manis yang begitu membuainya. Wajah polosnya yang rupawan terlihat begitu menggoda hingga sukses menggoyahkan pikirannya. Ia bernafsu tinggi dalam mewujudkan keinginannya untuk memiliki wanita ini seutuhnya.


Lucy melenguh kecil, saat cumbuan itu beralih kejenjang tengkuk rembulan nya yang halus. Sembari meninggalkan gigitan kecil dan nakal sebagai bentuk tanda kepemilikan, Lucy sadar arah sensasi ini berubah menjadi meresahkan. Ia pun mencoba membuat jarak tapi Kendric justru malah memeluk erat dirinya.


"Tunggu, jangan----Kendric! "


Lucy berhasil mendorong Kendric menjauh, sebelum ia benar-benar kehilangan akal nafsunya untuk melepas seluruh tali pengait gaunnya yang sudah terbuka setengah. Lucy terlihat tersirat malu sembari menyentuh tengkuknya. Ini sudah tidak benar, Lucy berniat menyembuhkan lukanya bukan membangkitkan nafsunya.


Tapi sepertinya Kendric tidak terlihat bersalah dan menyesalinya, malah justru sekarang sang maharaja ini menunjukkan wajah tampan super seksinya----yang sedang mengusap sisa darah Lucy pada sudut bibirnya akibat ciuman tadi, lalu menjilatinya dengan senyuman nakal.


"Ini hukuman mu----karena tidak mendengarkan ku."


"Apa? Aku berniat menolong mu. Tapi kau malah mengambil kesempatan, apa benar kau ini terluka, ha? "


"Tadi kan aku sudah bilang, bahwa aku akan baik-baik saja."


"Berhenti bercanda. Yang lebih penting---bagaimana kondisimu? "


"Sekarang kau masih mengkhawatirkan ku? Lebih baik pikirkan lukamu, " Kendric meraih tangan kiri Lucy, ia membuka balutan kain yang menutup lukanya.


"Tidak bisa, lukamu perlu di sembuhkan."


Wajah Lucy terlihat kian memerah malu, saat Kendric kembali berulah dengan aksi nakalnya yang menjilati luka sayatan dan bekas gigitan yang ada di pergelangan tangannya, tanpa membiarkan sisa darah menodai tangan Mate nya.


Beberapa kali juga Kendric menggigit manja jemari lentik itu, sampai-sampai membuat Lucy semakin malu dengan sensasi perlakuan Kendric.


Luka pada telapak dan pergelangan tangan itu perlahan mulai menghilang dan menjadi sembuh. Tapi tetap saja, memangnya dia tidak bisa menyembuhkan dengan cara normal, seperti menggunakan beberapa obat ringan atau sihir yang hanya merapal kan mantra saja?


"Hentikan, memangnya kau bangsa Demon yang suka dengan darah?"


"Tadi kan kau suruh aku meminumnya."


"Tapi tidak untuk hal ini----ah! Aku bilang berhenti, kenapa kau jadi seperti ini sih? "


Kendric tertawa, "entahlah, mungkin karena kau sudah membuatku gila dengan setiap centi dari tubuhmu." Kendric menggenggam jemari mungilnya dan mencium punggung tangan Lucy.


"Ish, aku jadi menyesal melakukannya tadi."


Gerutu Lucy sembari menutup wajahnya---menahan malu atas perlakuan Kendric. Sedangkan Kendric tertawa senang melihat reaksi lucu dari kekasihnya.


Kayaknya tadi arah alurnya tidak seperti ini deh, tapi dalam sekejap kedua pasangan ini malah menjadi semakin romantis. Meski begitu, Lucy merasa lega jika darahnya benar-benar bekerja untuk menghilangkan racun tersebut. Walau tidak untuk luka cakaran di dada Kendric yang mungkin memang memerlukan waktu untuk membuatnya kembali pulih.


Untuk sesaat Lucy dan Kendric saling berpandangan---lalu di susul dengan iringan tawa dari keduanya saat menyadari pertengkaran mereka tadi sedikit kekanakan, dan juga begitu harmonis untuk menjadi penutup dari rasa rindu yang terbayarkan, walau sempat harus di wakili dengan perasaan saling mengkhawatirkan.


Kendric meraih wajah Lucy, ia menyatukan keningnya dengan milik Lucy. "Kedepannya, kau tidak boleh melakukan hal ini lagi. Jangan lukai dirimu atau berikan apapun yang dapat mengancam nyawamu, tidak satupun orang---atau bahkan diriku, Lucy."


" Kenapa? "

__ADS_1


Karena itu semakin membuat Kendric takut. Dengan menyadari bahwa darah Lucy begitu spesial, bahkan berhasil menetralkan kembali racun sihir gelap. Kendric menjadi takut, jika bencana Alabasta terjadi dan tidak ada yang bisa di lakukan nya untuk menghentikan miasma nya. Lucy harus menggunakan seluruh darahnya untuk menolong dunia.


Mungkin terdengar egois. Tapi sekali saja Kendric bersikap tamak akan seseorang yang ia cintai, bila perlu ia ingin mengurungnya di Castle nya saja---hanya untuk dirinya. tanpa mengetahui apa pun. Meski begitu ia juga tahu, Lucy benci di kekang dan itu akan menjadi bumerang untuknya.


"---kau hanya perlu berjanji padaku."


Lagi-lagi sikap familiar ini, meski secara tak langsung Kendric juga melarang Lucy seperti yang di lakukan Ibunya. Ia ingin tahu, tapi ia tidak bisa memaksanya, mungkin saja ini memang untuk kebaikannya. Sungguh?


"Baiklah, tapi kau juga harus berjanji kepadaku. Bahwa kedepannya, aku tidak mau melihatmu terluka seperti ini lagi."


Kendric tersenyum sayu sembari membenamkan kepalanya di atas bahu kiri Lucy----mencoba menyembunyikan raut wajah bersalahnya.


"Baiklah, aku tidak akan terluka lagi." Kendric menutup kedua matanya. '----hanya untuk saat ini, tidak dengan kedepannya.'


Sinar mentari menyelinap masuk dari gorden panjang kamar Kendric, hari semakin menjelang pagi dan terik langit begitu ciri khas dengan sambutan sejuk dari angin timurnya. Kini Kendric pun sudah terlelap dalam tidurnya, dengan posisi berbaring dan menjadikan pangkuan Lucy sebagai bantalnya.


Lucy sangat menikmati melihat wajah damai Kendric yang sedang tertidur, daripada saat dia melawan mati-matian racun tadi. Ia tahu itu pasti sangat menguras tenaga. Sebagai tambahannya Lucy mengusap lembut surai rambut emasnya yang terlihat seperti duplikat cahaya mentari.


Lucy sudah begitu amat mencintai pria ini, ia memberikan kepercayaannya bahwa Kendric adalah Mate yang ia cari selama ini.


" Semoga saja, waktu damai kebersamaan kita tidak akan pernah berakhir."


Lucy mengecup singkat kening sang Mate sebelum berniat meninggalkan ruangan kamar Kendric, untuk membersihkan dirinya dan membiarkannya beristirahat.


Tapi sesuatu hal menarik perhatian Lucy. Ia terlihat tergerak untuk mengambil kain putih yang tadi sempat Kendric gunakan membalut luka Lucy.


Dengan niat baik, Lucy ingin mencucinya sebelum di kembalikan ke Kendric, tapi ia justru di buat terpaku saat melihat bahwa kain itu adalah sebuah saputangan berajut khusus.


Terlebih corak motif dan tehnik menyulam yang begitu di kenalnya, persis seperti saputangan, "Yang aku berikan kepada Harlie. "


...---o🍁o---...


Kembali pada posisi Octopus yang terlihat kacau hingga kalang kabut dengan semua kekacauan yang terjadi pada kuil sucinya. Sebagian tabung sihir hancur, dan jalan rahasia juga turut runtuh, semua karena penyusup brengs*k itu.


Octopus mengalunkan ketukan jari pada buku Carzie. Jika musuh, pasti mereka mencari penawar miasma nya, tapi itu hal yang sia-sia. Karena tidak akan ada satupun yang tertulis di kedua buku ini.


Dan sesungguhnya terdapat satu buku lagi yang belum di temukan dan itu adalah cara kerja membatalkan sihir terlarang. Tapi buku itu sudah hilang atau bahkan terbakar saat pengajuan hukuman mati dari Mate Selini Thea. Tapi tetap saja, ini menyebalkan.


"Argh! Semuanya tidak berguna!! " Octopus menghempas semua alat-alat laboratorium yang tersusun di atas meja dengan sangat kesal.


Di tengah kesunyian itu, hadir seekor burung Polatukh atau burung besar pemangsa daging yang bisa di katakan sebagai Soul Of Life milik Octopus yang bertugas mengawasi lembah kematian.


"Kroaak! Kroaak! Aku membawakan pesan dari lembah kematian, Kroaak! " Burung itu berkicau dengan sangat keras, sembari terbang melayang memutari Octopus.


"Octopus, berhenti mencari dirinya di Darkness World. Karena aku dapat merasakannya---dia begitu dekat dengan kita."


"Siapa yang di maksud?"


"Keturunan Robin, Kroaak! Ada di Imorrtal. "


Begitu burung pemangsa ini menyampaikan pesannya, kepala Octopus menjadi jernih kembali. Dia membakar foto lukisan putri Aletha, saat menyadari bahwa Sofia bukan keturunan Robin.


"Sebar burung Croax untuk melacak di luar ibu kota, dan persempit pencariannya untuk di wilayah ibu kota Leryvora----tidak, siapa pun orangnya jika itu wanita ambil darahnya dan tuangkan bersamaan dengan miasma nya. Jika itu menjadi jernih, bawa wanita itu, tapi jika bukan segera bunuh langsung."


Perintah Octopus kepada pasukan Titania yang begitu sagat banyak---pada sisi ruangan yang tidak terlihat.


"Aku tidak terlalu perduli lagi dengan kaum Demon karena ikan itu mau ku manfaatkan untuk melakukan pemberontakan. Tapi tidak dengan generasi Robin!"


Octopus melihat lukisan Aratemish di sudut ruangan yang tertutup gorden ungu, sembari mengenang kenangan masa lalu dimana kejadian tragedi kematian Robin terdahulu, dia juga perlu berhati-hati dengan penyusup kuat itu, bagaimana bisa dia tahu? siapa dirinya?


"Tapi sebelum itu, berpuas lah untuk saat ini saja---AHAHAHAHA!! " Tawa Octopus menggema luas di bangunan kuil suci tersebut.


...---, o🍁o ,---...

__ADS_1


New Cover Novel ❣️



__ADS_2