
.......
.......
.......
"Kau jadi banyak menasehati ku, setelah menjadi seorang Ibu ya? Bikin kesal saja." Sindir Kendric.
"Akan aku anggap, sebagai pujian. Lagipula, itulah tugasku sebagai Senat penasehat penguasa Imorrtal." Balas Aletha dengan senyuman.
"Kau itu sekarang menjadi buronan, bukan senat kepercayaan Dewa lagi."
"Lihatlah sikap tidak berperasaan mu itu! Aku kasihan dengan Lucy, karena harus menjadi pasangan dari monster sepertimu."
"Hei, perhatikan kata-----"
"Mama!" Sofia berteriak memanggil Aletha sembari berlari kearah mereka, di susul oleh Lucy. "Mama, lihat bunga Camelia yang Sofia kumpulkan untuk Papa."
"Jangan lari-lari, nanti kau bisa terjatuh." Sambut Aletha sembari mengusap wajah Putrinya yang terdapat noda tanah. "Mama, ayo kita temui Papa. Uni Lucy bilang, Sofia harus sekali-sekali mengunjungi Papa di ruang kerjanya. Agar Papa tidak jatuh sakit akibat kelelahan bekerja." Anak perempuan berusia lima tahun itu terus menarik-narik gaun ibunya agar menyetujui keinginannya.
"Baiklah. Sekarang beri salam, kepada Uni dan juga Pamanmu." Pinta Aletha.
Sofia mendekati Kendric dan Lucy di hadapannya. "Uni akan segera pergi main lagi?"
Lucy mengangguk, "iya."
"Hem, nanti mainnya jangan lama-lama ya. Sofia jadi merindukan Uni dan sangat kesepian jika tidak ada Uni. Paman tampan juga, harus lebih sering datang ke sini untuk main bersama dengan Sofia. Karena Sofia sangat sayang Paman."
Kendric duduk setengah berjongkok dihadapan putri kecil itu. " Paman dengar, Little Winkly suka bermain dengan para hewan?"
"Iya, mereka sering menjadi teman bicara Sofia saat hanya sendirian. Nanti Sofia kenalkan dengan Tiga teman Sofia, ya."
"Aku tidak sabar menanti hari itu. Tapi, karena Paman akan pergi dan tidak bisa mengunjungimu lebih cepat. Paman ingin memberikan hadiah. Dia akan menjadi teman sekaligus pelindung untukmu."
"Melindungi Sofia?"
"Tentu saja, karena Paman tidak mau Little Winkly ku ini kenapa-napa."
"Kalau begitu, dimana hadiahnya? Sofia tidak sabar ingin punya teman baru."
Kendric memberikan sebuah batu permata hitam berukuran kecil kepada Sofia. Gadis kecil itu terlihat keheranan, begitu juga dengan Aletha maupun Lucy.
"Ini namanya batu jiwa, atau biasa disebut Soul Of Life." Jelas Kendric.
Seketika Aletha menjadi ingat. Soul Of Life terlahir adanya dorongan sihir kuat yang meluap dari Tuan nya. Jika para Dewa yang berasal dari kalangan bawah tidak memiliki dorongan dari bentuk manna mereka, biasanya mereka akan menggunakan batu jiwa sebagai acuan untuk menetralkan sihir mereka. Sehingga Soul Of Life mereka baru bisa terbentuk.
Mungkin saja Kendric ingin memancing sihir Sofia yang memiliki darah Dewi, agar ia dapat membentuk Soul Of Life nya sendiri.
"Batu itu akan berubah menjadi hewan, tergantung pada keinginanmu untuk merubahnya seperti apa. Kau hanya perlu membayangkan saja hewan kesukaan Little Winkly."
Seakan mengerti dengan yang di jelaskan Kendric. Sofia menurutinya dan mulai membayangkan seekor hewan. Perlahan batu hitam itu mulai menunjukkan retakkan pada permukaannya dan memunculkan sinar hijau dari celah retakannya.
Sofia semakin tertarik saat sesuatu mencoba keluar dari dalam batu---dan ternyata seekor kupu-kupu yang memiliki sayap hijau yang berkilau sangat indah. Kupu-kupu itu mulai terbang mengelilingi Sofia lalu hinggap di jemari mungil, saat Sofia mencoba menyentuhnya.
Kupu-kupu yang terlihat mirip seperti permata alam itu, sukses membuat Sofia terkagum-kagum. "Mama lihat, kupu-kupunya cantik mirip dengan yang di mimpi Sofia." Ujarnya di iringi tawa riangnya.
"Mimpi?"
"Iya, Sofia sering bertemu kupu kupu di mimpi Sofia. Katanya kupu-kupu itu akan datang menemui Sofia untuk main bersama."
Ini pertama kalinya Aletha mendengar hal ini. Itu karena Sofia memang tidak pernah menceritakannya, Aletha memang tahu bakat spesial yang di miliki Sofia dalam berhubungan baik dengan berbagai jenis hewan. Apalagi kupu-kupu itu memiliki aura manna yang begitu familiar untuknya.
"Aku tidak menduga bahwa batunya akan berubah menjadi kupu-kupu. Aku kira akan menjadi kelelawar karena Ayahnya bangsa Demon yang menyebalkan."
"Pikiran macam apa itu?"
"Hanya Asumsi saja." Balas Kendric kepada Licy yang meliriknya dengan tatapan merinding. 'Yah, anggap saja, ini juga bentuk dari rasa bersalahnya.'
"Paman, siapa nama kupu-kupu ini?"
"Itu terserah padamu. Dia akan menjadi teman sekaligus pelindungmu, maka Little Winkly sendiri yang harus memberinya nama."
"Em, bagaimana jika Talitta. Benar, Sofia akan memanggilnya Talitta." seru bocah itu.
__ADS_1
"Syukurlah, Uni jadi tenang sekarang. Jika Sofia sekarang sudah punya teman yang siap melindungi mu. Hem, tapi Uni jadi sedih karena Sofia akan lebih sering main dengannya."
"Makanya Uni cepat kembali nanti kita main sama-sama."
"Baiklah-baiklah." Lucy kembali melihat kearah Kendric. "Kita juga sebaiknya kembali, aku sedikit kelelahan hari ini. Apalagi besok harus melewati dimensi yang bikin pusing itu lagi."
Kendric dan Lucy berdiri, mereka melihat Aletha. Terlihat Aletha seprti menatap rindu dengan jenis kupu-kupu itu.
"Kakak, kami akan kembali ke kediaman kami."
"Iya, kau juga pasti lelah karena semalaman berkeliling melihat Festival."
Lucy memberi hormat kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan rumah kaca itu. Tapi saat Kendric hendak pergi, Aletha terus-terusan menatapnya seakan meminta penjelasan mengenai bentuk Kupu-kupu itu yang sama persis dengan miliknya.
Kendric malas di tatap seperti itu, sehingga dia melirik Aletha. "Itu bukan Hugo, dan kupu-kupu itu memang terhubung dengan jiwanya. Tapi bukan aku yang memanggilnya, melainkan naluri Sofia sendiri yang menginginkannya. Mendengar cerita di mimpi Sofia, mungkin saja dia memang ingin melindunginya sebagai penebusan kesalahannya dulu. Jadi, kau tidak perlu khawatir." Jelas Kendric dengan singkat, kemudian pergi begitu saja.
Aletha melihat kembali kupu-kupu hijau yang terbang kearahnya seolah ia sedang menyapanya setelah sekian lama. Aletha tersenyum, lagi-lagi dia mendapatkan hadiah tak terduga lainnya.
"Kuharap, kau segera melahirkan keponakanku yang sama cantik dan kuatnya denganmu, Kak Aletha ...."
Aletha tertawa dengan sangat lega dengan semua kenangan kelam di masa lalu. Dia mendekatkan kupu-kupu itu ke wajahnya.
"Tolong bantu aku untuk menjaganya, Tahlia ...."
Seketika kupu-kupu itu kembali terbang kearah Sofia. Sedangkan Aletha menatap pintu yang sudah tertutup, lebih tepatnya menatap kepergian kedua penguasa langit.
"Aku percaya, kalian akan selalu tetap bersama sampai akhir. Wahai Maharaja dan Maharani ku."
...--.o🍁o.--...
Lucy dan Kendric mengambil jalan berputar untuk menuju Castle Estelle. Itu karena di jalan utama ada banyak kepala bangsawan yang datang untuk membahas sebuah rapat yang di adakan Welliam.
Sepertinya Welliam memutuskan untuk membahas mengenai bencana di luar kendali mereka lebih cepat. Karena Gerhana Alabasta bukan sesuatu hal yang patut di pandang remeh.
Keputusan Welliam juga adalah hal yang tepat. Sejak pertemuam Welliam dengan Kendric di malam itu, ia semakin bersemangat saat Kendric mengatakan untuk mengirim bawahannya menuju hutan terlarang bangsa Vampire, yang sudah hampir 5 abad ini tidak prnah di masuki. Padahal disana terdapat satu bangunan peninggalan Carlitos saat dulu Katastrofi gunakan untuk menculik dan menyekap Lezzy.
Dan hasilnya, setelah Briant ke sana dia menemukan beberapa buku catatan mengenai Albasta ini. Meski masih tidak pasti karena sebagian tulisan menjadi buram akibat termakan usia, untung saja masih ada sedikit informasi yang di dapat dari buku itu. Karena semua itu adalah rencana awal Octopus, tentu mereka tida menuliskan secara rinci, mulai dari awal proses gerhana hingga berakhirnya gerhana.
Jadi untuk membuat persiapan, tiga bulan lebih awal adalah jalan terbaik meski tidak begitu akurat karena waktu yang singkat menuju bencana besar.
"Kakak terlihat sangat sibuk. Sebenarnya apa yang kau lakukan terhadap kakak, sehingga dia menjadi giat begitu?"
"Hem, kau benar. Yang namanya penguasa itu ya..harus sibuk dalam mengerjakan masalahnya. Ayah juga begitu, syukurla mereka termasuk Lord yang bertanggung jawab, bukannya santai-santai tidak jelas." Cibir Lucy.
Sedangkan Kendric yang mendengarnya merasa tersindir. Kan dia satu-satunya kaisar yang hidupnya sangat santai dalam mengurusi urusan istana, semua pekerjaannya selalu ia oper ke Robert.
Bahkan untuk bisa menghadiri pertemuan di konverensi agung saja hanya 2 kali dia mendatanginya. Itu pun setelah ia mengambil alih tahta Imorrtal. 'Jangan sampai Lucy tahu' itulah yang dibenak Kendric dengan was-was.
Lucy memcoba fokus dengan lingkungan di sekitarnya. Kalau dipikir lorong istana sebelah selatan ini tidak pernah ia lewati lagi. Ada rasa awam sekaligus rindu dengan tempat ini.
Tunggu, kalau tidak salah lorong istana ini menuju kesalah satu Castle tempat tinggalnya sewaktu kecil. Benar sebelum Lucy berusia 10 tahun, ia tinggal di Castle Litch. Dengan nalurinya, Lucy tiba-tiba saja memimpin jalan dan berjalan mendekati Castle masa kecilnya itu.
"Tempat apa ini? Sepertinya ini bukan Castle Estelle." Ujar Kendric yang sejak tadi terus mengikuti langkah Lucy.
"Ini tempat tinggalku saat aku masih kecil, sebelum Ayah menghadiahkan Castle Estelle sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-11."
"Ha.., Rasanya rindu sekali. Sejak pindah kediaman, aku tidak pernah mendatangi tempat ini lagi." Sambung Lucy sembari meraba dinding Castle yang terbuat dari batu marmer.
Meski Castle ini tidak berawak, tapi syukurlah tempat ini masih di rawat dengan sangat baik. Walau sebenarnya untuk cat Castle perlu di terangkan sedikit. Lucy terus menyusuri istana masa kecilnya hingga ke daerah taman mini di belakang istana.
Langkah Lucy menjadi melambat tatkala ia melihat sebuah pohon beaar yang sudah sangat tua masih berdiri dengan kokoh disana. Ranting pohon yang tidak menunjukkan tunas bunga ataupun daun, meninggalkan kesan nostalgia pada benak Lucy.
Kendric melirik kearah Lucy saat dia mulai mendekati pohon itu sembari menyentuhnya. Apakah dia ingat?
"Lucy---"
"Kendric. Aku mau memperkenalkanmu dengan sahabat kecilku."
"Sahabat?"
"Sebenarnya, tidak bisa di bilang sahabat karena aku telah melupakan pohon ini untuk waktu yang sangat lama."
"......."
"Sejak insiden itu---entah mengapa aku selalu mendatangi pohon ini. Aku tidak begitu ingat, alasan aku terus mendatangi hingga menghabiskan waktuku bermain dibawah pohonnya. Entah karena rindang atau sinar matahari yang terlihat dari celah dedaunan begitu sangat cantik untuk aku pandang. Tapi rasanya aku seperti sedang menunggu sesuatu.
"........"
__ADS_1
"Kalau tidak salah waktu itu aku berusia 7 tahun dan begitu sangat tidak penurut dengan ibu. Sehingga aku melakukan hal nekat tanpa memanghil pelayan ataupun penjaga." Lucy terus menatap pohon gundul itu berdiri dengan sangat gagah di atas tumpukan salju. "Rasanya jadi ingin menaikinya lagi ...." Lirih Lucy.
"Jika ingin naik, ya tinggal naik saja. Kemarilah aku akan membantumu untuk menaiki pohon ini."
"Apa?! Tunggu, aku hanya asal bicara. Sebenarnya aku---kyaaa!!" Lucy berteriak saat Kendric mengambil inisiatif untuk memeluk pinggangnya kemudian dalam sekali lompatan, mereka berhasil bersingga di atas pohon. Dengan berpijak pada batang pohon yang masih kokoh, meski pohon ini terlihat tua.
"Ke-kendric," Lucy terlihat gemeteran kecil, sampai-sampai mencengkram pakaian Kendric dengan sangat kuat.
"Ada apa ini? Kau takut ketinggian?"
"Bu-bukan begitu. Sebenarnya dulu sewaktu kecil aku pernah terjatuh dari pohon ini."
"Apa kau terluka?"
"Ti-tidak, karena Kak Welliam datang menolongku lebih dulu. Saat itu aku sangat terkejut jatuh dari atas pohon ini, jadinya aku-aku sedikit punya trauma bila naik ke atas pohon."
"Jangan khawatir, ada aku yang memegang mu. Akan ku pastikan kau tidak akan jatuh."
Lucy yang tadi terlihat ketakutan, perlahan menjadi tenang. Bukan karena posisinya sudah aman, melainkan ucapan Kendric terdengar sangat familiar. Perlahan ia menoleh--mengangkat kepalanya menatap wajah Kendric yang tak pernah lepas memandanginya.
...---...
..."Boleh, Lucy tanya? Apakah kakak adalah pangeran yang di utus untuk menjemputku?"...
..."Kalau begitu, cepatlah tumbuh dewasa Tuan Putriku ..."...
...---...
Ah! Yang barusan itu apa? Lucy memegang kepalanya, saat terlintas memory asing di kepalanya.
"Lucy, ada apa denganmu? Apa sebaiknya kita turun saja? Sepertinya candaanku sudah kelewatan."
"Tidak apa, aku baik-baik saja. Duduk di atas sini juga sangat bagus, sepertinya aku sudah mulai bisa tenang. Jangan khawatir," Lucy mulai duduk dengan hati-hati sembari memainkan kakinya yang menggantung.
Kini giliran Kendric yang bernostalgia, karena sudah lama juga---ia akhirnya bisa duduk berdua di atas pohon ini bersamanya. Yang membedakan hanya perbedaan usia mereka saja.
"Lucy, boleh aku tahu kenapa kau memanjat pohon ini?"
"Tentu saja, itu karena dulu Molie tidak bisa turun dari atas pohon. Aku yang masih 7 tahun, begitu khawatir dan berpikir kalau memanggil penjaga tidak akan sempat, karena Molie terus melolong. Jadi aku nekat naik keatas pohon."
"Selain itu?"
"Selain? Sepertinya tidak ada kata selain. Karena memang hanya Molie alasanku terjatuh dari atas pohon. Parahnya lagi setelah ibu tahu, aku di kurung di kamarku untuk merenungkan kesalahanku, selama kurang lebih 5 hari."
Mendengar itu mood Kendric rasanya kembali turun, sedangkan Licy keheranan dengan perubahan ekspresi Kendric yang sepertinya kecewa dengan jawabannya. Lah, bukannya ucapannya benar?
Lucy menyandarkan kepalanya ke bahu Kendric guna mengisi mood Kendric yang terlihat buruk. Mumpung masih dalam pembicaraan, kira-kira bagaimana kabar Molie ya?
Karen Molie tertidur untuk hibernasi musim dingin. Jadinya, Lucy memutuskan untuk tidak membawanya pulang. Toh Kendric bilang dia akan kembali lagi ke Apollo.
"Aku rindu Molie."
"Tahanlah, besok kan kita akan kembali. Aku yakin saat itu Molie juga pasti sudah bangun."
"Em, Kendric. Saat kita kembali ke Apollo, apa aku bisa menemui Tyrsha dan para roh suci lainnya? Selama disini aku selalu memperhatikan dan sepertinya mereka memang tidak ada Di Darkness World selain kaum Fairy."
"Lucy, sebenarnya aku tidak suka kau terlalu akrab dengannya."
"Kenapa? Tyrsha kan peri cantik yang baik."
Kendric kian benci saat Tyrsha berhasil mencuri perhatian Lucy. "Pokoknya, jika dia mengatakan hal yang berhubungan dengan cerita Robin. Abaikan saja, dia itu tipe peri yang suka membohongi orang-orang."
"Masa sih? Kayaknya dia tidak pernah berbohong."
"Jika aku bilang berbohong, ya pembohong. Mengerti?!"
"I-iyaa," Lucy terlihat canggung mendengar perintah Kendric. "Tapi bagaimana bisa kau berpikir seperti----"
"Diam dan tidurlah, kau memerlukan istirahat setelah semalaman tidak tidur." Kendric menjentikkan jarinya.
Dan Lucy pun mulai merasakan kantuk berat---ia pun terhuyung jatuh kebelakang. Namun, Lucy tidak jatuh kebawah melainkan langsung berbarbaring diatas ranjang tidurnya lengkap dengan pakaian yang berubah menjadi piyama. Itu karena sihIr teleportasi milik Kendric yang mengendalikan ruang dan waktu.
Kendric meraih helaian rambut Lucy, sembari melihat Lucy yang sudah tertidur pulas. Lalu secara perlahan, atas izin Kendric. Hari yang seharusnya masih menunjukkan waktu siang, mulai berubah menjadi malam.
Seakan ia mampu mengendalikan siang dan malam sesuka hati, matahari pun menjadi tidak berani melawan dan tetap memilih menenggelamkan cahayana di ufuk barat. Mempersilahkan malam untuk menemani sang putri bulan tertidur pulas.
"Sepertinya, aku masih membutuhkan waktu untuk bisa mengatakan yang sebenarnya." Kendric menghentikan aksinya memainkan rambut Lucy. Dan berjalan menuju jendela, memandang langit malam yang tak pernah berubah.
__ADS_1
"Sekarang, aku ingin lihat. Sudah sampai mana Racun itu menyiksanya." Senyum sakarstik merubah di sudut bibirnya, kedua mata merahnya yang seakan tengah menembus pandang---membayangkan seseorang yang sedang tersiksa di dasar lautan.
...---.🍁.---...