
...Cinta datang kepada mereka yang masih berharap setelah kekecewaan---yang masih percaya setelah pengkhianatan, dan yang masih mencintai setelah mereka terluka....
...---, 🍁 ,---...
.......
.......
.......
...---...
"Molie dapatkah kau menemukan istana Apollo di tengah hutan pinus?"
Lucy melihat sahabatnya; menatap dalam seakan memohon kepada rubah itu agar ia mau membantunya. akan sangat sulit bagi Lucy untuk menemukan lokasi istana tersebut, karena ia yakin Kendric telah memasang pola sihir agar lokasinya tidak dapat di tembus. Tetapi Lucy percaya bahwa Molie akan dapat menemukannya.
"Ku mohon ...,"
Molie mendekatkan dirinya sembari mengelus Lucy menggunakan kepalanya sebagai bentuk perhatiannya. "Putri, naiklah ke punggung ku. Aku akan membawa anda ke istananya."
Lucy mendengarkan Molie---ia menunggangi rubah gagahnya. Dan dalam ancangan, Molie langsung melompat tinggi dan jauh menembus kawanan angin tak berwarna lalu kemudian jatuh mendarat dengan sangat baik tepat di tengah hutan pinus. Keempat kaki gagahnya berlari dengan sangat ringan seakan berpijak di atas salju bukanlah hal yang sulit untuknya.
Pergerakan Molie yang begitu cepat membuat Lucy harus melindungi wajahnya dari serpihan salju yang terasa tajam dan saat angin berhembus semakin kencang ditambah dengan pergerakan Molie yang agresif, rasa angin yang menyentuh kulit Lucy semakin terasa seperti duri yang mengikis kulitnya.
Hutan luas dengan minim pencahayaan dari matahari membuat hutan ini jauh lebih gelap dan suram, apalagi dengan kondisi pohon yang menjulang tinggi seakan ingin meraih angkasa.
Molie berlari mengambil arah utara, melompati beberapa batu besar yang terkubur di bawah salju. Dalam jarak 10 meter terlihat Molie telah mengambil ancang-ancang untuk segera melompat kembali. Dengan jarak pandang yang tidak jelas Lucy baru menyadari bahwa Molie mengambil arah yang cukup ekstrem.
Karena di depan mereka terdapat tebing tinggi----dengan hilir sungai yang telah membeku di bawah jurang nya.
"Putri, berpegangan lah dengan sangat kuat kepadaku," Ujar Molie yang di turuti langsung oleh Lucy.
Saat persiapannya sudah siap. Molie kembali melompat---terjun begitu saja ke dasarnya. Dan saat hentakan pertama sebagai pijakan Molie untuk mendarat, berhasil meretakkan hilir sungai yang cukup besar. Untungnya retakan itu tidak membuat lapisan esnya hancur.
Molie kembali berlari mengikuti arus sungai menuju sebuah tempat yang akan menuntun mereka menuju istana lama Apollo. Molie tahu persis bagaimana sihir Kendric akan bekerja untuk menjebak lawannya, karena itu ia memilih untuk mengambil jalan memutar melewati tepiannya.
Kalung Lucy yang di berikan oleh ibunya. Bercahaya dan sebuah pola sihir berbentuk bintang mematahkan sihir yang mencoba menutupi istananya---kini telah terlihat kembali.
Molie berlari menepi untuk mengikis jarak, Kemudian melambatkan lajunya disaat mereka telah berhasil sampai hingga di depan gerbangnya.
Lucy turun dari punggung Molie. Tempat dan lingkungan yang sama terasa tak asing baginya. Ia ingat terdapat sebuah lubang di dekat dinding besar sebagai gerbang istananya. Lucy menyusuri dindingnya hingga ia berhasil menemukan celah yang dimaksud.
Dan saat kakinya menapaki halaman luas istana, di sana ia benar-benar paham kenapa dulu Robert sangat ingin mencegahnya untuk masuk dan alih-alih ia jadikan tempat itu sebagai buruan karena banyak hewan buas sebagai alasannya.
Meski tidak memiliki gen Demon secara sempurna tapi ia tetaplah keturunannya, sehingga aroma darah dan perasaan sensitif akan jumlah kematian yang telah terbunuh begitu dapat ia rasakan dengan sangat baik.
Tidak perduli sehebat apapun mereka menyembunyikan ataupun tanpa perlu ada mayat yang tergeletak di halamannya, Lucy pun sudah sangat tahu bahwa telah begitu banyak nyawa yang hilang di tanah ini.
Lucy mendekati istananya dengan penuh perasaan gugup. Ia membuka pintu utama--berjalan dengan tatapan kosong sembari menaiki tiap anak tangga yang memiliki cabang kelantai atas, raut wajahnya tidak lagi menunjukkan senyum ramah melainkan tatapan datar---berjalan lurus dengan menaiki tiap anak tangga menuju lantai atas.
Istana megah tanpa ada satupun penghuni yang menempatinya meski itu adalah pelayan sekalipun. Lucy terlihat begitu lemas hingga ia harus berpegangan pada pembatas tangga, disaat semua ucapan Lily mengenai keberadaan dan apa yang ada di dalamnya menjadi jelas, dan hanya tinggal menemukan satu benda untuk membuktikan bahwa Lily tidak sedang berbohong kepadanya.
Lucy berhasil memasuki area lantai empat yang terlihat jauh lebih kumuh dan tak terurus dibanding lantai sebelumnya. Langkah Lucu semakin berat disaat sebuah pintu berlapis emas menjadi hal yang paling menarik di tengah kegelapan, membuatnya semakin ketakutan.
Takut bila semua ini hanyalah permainannya, takut bila apa yang sedang Lucy coba percayai menjadi asumsi bodoh. Lucy berhenti di depan pintu tersebut, ia masih perlu mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu tersebut dan semakin cemas jika apa yang ia lihat adalah hal yang paling tidak ingin ia ketahui.
Kedua tangan Lucy menjadi berkeringat dingin dan getaran kecil terlihat jelas dari jemari tangannya. Lucy menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya agar ia siap jika semua itu benar.
__ADS_1
Lucy menyentuh pintu emas itu dengan pelan membuat decitan pintunya terdengar sangat besar. Molie tidak memilih untuk mengikuti masuk, ia hanya duduk terdiam sembari melihat Lucy berjalan memasuki ruang kamar gelap dengan sebuah lentera yang tadi ia ambil karena tergantung di sisi pintunya.
Hal pertama yang Lucy lihat hanyalah kegelapan, mungkin karena beberapa gorden bertirai besar menjuntai dari atas dan jatuh kelantai dengan sangat tebal. Sehingga sangat sulit bagi Matahari menerobosnya. Tetapi bukan berarti Lucy tidak dapat melihat dengan baik.
Justru malah perhatiannya terfokuskan pada satu benda berbingkai besar yang terpajang menghadap kearah pintu. Sebuah lukisan potrait yang terlihat sudah sangat lama dan lusuh tapi terawat dengan sangat baik, menjadi benda pertama yang berhasil ia lihat.
Lucy mendekati lukisan yang mungkin saja adalah benda yang sebelumnya telah menjadi rumor legenda di wilayah Apollo ini. Dengan hati-hati, Lucy mengarahkan lentera nya lebih dekat lagi ke lukisan sehingga cahayanya mampu menunjukkan wajah dari lukisan tersebut.
Lucy terdiam saat wajah rupawan yang benar-benar sudah menjadi sangat familiar di mimpinya kini terlukiskan dengan sangat baik di hadapannya. Sosok wanita yang terus ia lihat berulang-ulang sehingga ia muak dengan petunjuk yang di berikan mengenai dirinya, wanita yang memiliki nasib hidup mengenaskan dan harus mati terbunuh di tangan manusia hanya kerena sebuah tuduhan tak masuk akal.
Surai rambut hitamnya dan juga mata kelam malamnya yang seindah mutiara, adalah wajah yang sempat Lucy kagumi---sang Dewi Vernitysha. Tapi Lucy kecewa bukan karena hubungan yang terjadi diantara mereka melainkan, ia kecewa bahwa siapa yang paling pembohong disini adalah kekasihnya sendiri.
"Lucy ....,"
Panggilan lembut yang selalu Lucy sukai kini terdengar seperti makian, saat sosok yang sedang Lucy pertimbangkan hadir di waktu yang sangat---entah harus dikatakan pas atau justru adalah hal yang sungguh sial.
Dalam jarak lima meter darinya berdiri. Sepasang kekasih yang terikat dalam hubungan Mate saling menatap di tengah temaramnya ruangan. Kendric bergegas meninggalkan perbatasan dengan sangat terburu-buru disaat surat kabar yang di kirimkan oleh Sylvia adalah hal yang paling darurat, bahwa Lucy saat ini mulai mencari tahu bencana Alabasta.
Tentu Kendric tahu ini sudah tidak bisa diabaikan, sehingga Kendric dengan gelap mata menghabisi para roh suci yang telah terkena kutukan Krhanos dan segera berlari menuju istana Apollo.
Entah harus bagaimana menyampaikannya, firasatnya mengatakan bahwa semua telah berakhir, hari-hari indahnya dengan Mate tercintanya akan segera berakhir jika dia mengabaikan sebuah benda yang tersimpan secara berharga di lantai empat istana Apollo. Seberusaha mungkin Kendric benar-benar ingin merahasiakannya karena ini menyangkut sosok Lucy yang telah menjadi bagian dari takdir seorang Robin.
"Kali ini, rahasia apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku?"
"Lucy aku tidak bermaksud menutupi apapun darimu. Aku, aku---" Kendric terlihat mengeratkan rahang giginya, ia terlalu bisu untuk bisa menjelaskan semua kebohongan ini.
Melihat Kendric yang tidak punya kepercayaan diri untuk bisa mengatakan segalanya membuat Lucy geram dan sangat-sangat mengecewakannya.
"Kau tahu Kendric, beredar rumor mengatakan bahwa kau memiliki lukisan seorang wanita yang kau kasihi. Berita hebat yang aku sendiripun tidak tahu mengenai itu." Lucy berjalan mendekat.
"Tapi aku tidak sama sekali mempercayai rumor tersebut, karena aku tahu wanita yang ada di lukisan itu bukanlah Mate mu dan aku adalah Mate yang kau tunggu sejak lama, itu yang kau katakan kepadaku dulu. Atau jikapun benar kau mencintaiku hanya karena aku memiliki kemiripan dengannya sebagai Robin, aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku akan tetap mencintaimu Kendric---hiks!"
"Tapi hal yang paling membuatku marah, dan kecewa adalah saat aku mengetahui siapa dirimu di dunia ini lewat orang lain. Sebuah fakta yang bahkan---mungkin, tidak akan aku ketahui jika tidak ada yang memberitahuku."
Lucy menunjuk sembari mengatakan segala kekesalannya yang menumpuk kepada pria di hadapannya.
"Baginda Kendric Athananysous Helios? Yang Mulia Maharaja? Dewa Matahari?" Kendric diam melihat semua kemarahan Mate nya yang sungguh di luar bayangannya.
"Sejak kapan nama mu berubah? Sejak kapan gelar mu menjadi Maharaja? Dan sejak kapan statusmu adalah Dewa di Imorrtal ini Kendric!"
Kendric geram, ia sudah tidak bisa menahannya lagi apalagi melihat Mate nya sampai menangis seperti itu. "Ya! Nama, gelar, dan status yang kau pertanyakan, semua itu memang diriku. Aku adalah seorang Maharaja bagi para Dewa, aku yang memegang semua takdir mahluk hidup. Tapi bagaimana aku mengatakannya jika aku adalah sosok yang paling kau benci, bagaimana kau akan percaya dan menerimaku kalau aku saja bagian dari kasta Dewa yang sangat kau abaikan wujud dan kisahnya."
"Aku tidak akan tahu jika kau tidak mengatakannya. Kendric, kau yang paling tahu kenapa aku membenci sosok Dewa." Lucy mencengkram pakaian Kendric.
"Karena para Dewa tidak mengatakan mengenai takdir dan pilihan mana yang harus aku raih. Jika kau memang sangat ingin aku bersamamu, dimana kau di saat aku memerlukan jawaban itu? Dimana dirimu saat aku terluka hanya karena permainan Mate, jika memang Harlie bukan Mate ku---kau seharusnya mengatakannya sejak awal sehingga aku tidak salah paham kepada mu."
"Kendric, aku menderita, aku terluka merasa sesak saat terjebak selama beratus tahun lamanya hanya untuk berharap ada perasaan balik dari seorang pria yang ternyata bukanlah mate ku yang sebenarnya."
"Lucy, bagaimana aku tidak mengabaikan mu jika setiap saat harapanmu di tunjukkan hanya untuknya---kau ingin perasaanmu terbalas sedangkan aku adalah Mate mu?"
"Itu sebabnya aku membutuhkan jawaban dan penjelasan, jika memang kau sungguh mencintaiku kepada tidak dari dulu kau datang dan mencegahnya."
"Jika aku mengatakannya apa kau akan percaya begitu saja?"
"Ya, aku akan mencoba mempercayainya. Kendric, tidak kah kau berpikir betapa gilanya aku saat diriku---seorang Vasilissa, wanita yang di ditakdirkan dapat di terima di hati para Raja; Dipermainkan hanya karena dia terlahir secara spesial, cintanya yang datang seperti pembunuh dan aku harus memilih satu di antara puluhan atau bahkan ratusan raja."
"Kau baru saja menghadapi Harlie, hanya satu Raja. Bagaimana jika para raja menginginkan ku, apa kau akan mengabaikan ku juga dan beralasan karena tidak kuat melihat Mate nya bersama dengan pria lain? Sedangkan aku justru membutuhkan posisimu untuk menjadi kepercayaan ku, aku butuh sosok mu---tunjukan bahwa kau layak menjadi Mate dan Vasilias untukku."
__ADS_1
"Lucy aku sudah membuktikannya. Seperti yang pernah kau katakan kepadaku, aku mencintaimu dengan tulus, aku tidak mengabaikan mu, aku tidak menolak mu, aku tidak berpaling darimu----"
"Tapi kau mengkhianati kepercayaan ku, Kendric! Hiks, kau boleh naif, kau boleh egois. Tapi kau perlu tahu, yang menjadi permasalahannya adalah---kau tidak bisa berkata jujur kepadaku."
"Kau memang Maharaja nya, dengan begitu mudahnya kau membalas Harlie karena perlakuannya. Merahasiakan hal besar apa yang sedang terjadi di luar sana, seakan semua akan baik-baik saja jika aku tidak mengetahuinya. Tidak perduli sekuat apa dirimu, setinggi apa statusmu, semua tidak ada artinya jika kau terlalu menjadi pengecut untuk mengatakan alasan yang sebenarnya!"
"Lucy aku, aku hanya ingin kau tidak terluka lebih parah lagi---Dan aku hanya ingin kau tetap bersamaku, apa itu salah?"
Lucy menggelengkan kepala, "kau tidak salah, tapi kau tidak bisa menjadi seserakah itu, apa kau pernah memberikan ku kesempatan untuk berpendapat, tanpa harus menggunakan kata perumpamaan padahal yang ingin kau tanyakan adalah sosokmu sendiri."
"............."
"Tidak, bukan?! Sekarang jawab aku. Apa urusanmu di luar sana dan alasan mu tidak mengizinkan ku keluar dari wilayah Apollo---karena mungkin telah terjadi sebuah bencana besar di luar sana?"
Kendric tidak bisa menyangkalnya lagi, terlalu banyak kebohongan yang ia tutupi sehingga membuat perasaan takut akan kehilangan dari sosoknya menjadi nyata.
"Benar. Bumi, Darkness World, dan Imorrtal sedang tidak baik-baik saja. Tapi percayalah, aku berniat mengatakan semuanya setelah menyelesaikan semua ini. Kau hanya perlu menunggu dan diam dengan baik di istana ku, sebentar saja aku akan menunjukkan kebebasan kepadamu."
"Jika kau berpikir seperti itu, kau tidak benar-benar membebaskan ku---kau justru semakin mengekang ku. Lalu, apa dengan diriku diam saja, kau bisa menyelesaikan masalah bencana Alabasta ini?"
Lucy semakin paham kenapa dia tidak bisa menemukan apa itu bencana Alabasta, itu karena Kendric terlalu menutupi kebenarannya.
"Sekarang aku memahaminya. Alasanmu tidak mengizinkan ku berinteraksi dengan Tyrsha, karena kau tidak ingin aku mengetahui hal apun mengenai Vernitysha----Karena bencana ini berkaitan dengan sosok Robin tapi kau justru merahasiakannya."
Lucy seakan hancur dan seakan tak berdaya saat terlalu banyak rahasia yang ia sembunyikan darinya. Lucy hanya ingin kejujuran dalam hubungan mereka, ia hanya ingin berguna tapi justru malah menjadi candaan konyol seperti ini.
Lucy menjadi terpukul saat dia mengingat ucapan Harlie, bahwa ia terlahir menjadi Putri yang tidak tahu apapun tentang hal di sekitarannya.
"Lucy, aku mengaku salah----" Kendric mencoba meraih kekasihnya, ia pun menyesali atas kebodohannya yang begitu naif. Menjadi sangat egois hanya karena dia adalah Maharaja.
Lucy menolak perhatian Kendric, ia menepis pelan saat tangan hangat itu mencoba meraihnya untuk menghapus air mata penderitaan ini. "Aku perlu waktu untuk sendiri, Kendric."
"Tidak, oh sungguh aku menyesalinya. Lucy kumohon jangan lihat diriku dengan kebencian mu----"
"Aku tidak membencimu, aku tidak akan bisa membenci mu. karena aku terlalu mencintaimu. Kau menyuruhku untuk menggenggam tanganmu, aku menggenggamnya. Kau menyuruhku untuk percaya padamu, aku mempercayainya. Hanya saja," Lucy mundur beberapa langkah dari Kendric.
"---Aku terlalu kecewa dengan sikapmu, Kendric."
Kata-kata Lucy menampar keras seorang Kendric. kalimat yang paling ia takuti justru terdengar dengan sangat miris dari mulut kekasihnya dan yang paling menggores hatinya hingga merasa bersalah, saat Mate nya mengatakan akan selalu mencintainya meski dirinya sudah membohonginya.
Dia berusaha memberikan siksaan kepada Harlie karena sikap brengs*knya, sedangkan dia juga tidak jauh beda dengan Harlie jika masih saja menyakiti Lucy.
"Pulangkan aku ke Darkness World."
"Lucy, jika kau perlu waktu sendiri, kau tidak perlu kembali---"
"Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan segalanya sekarang. Tapi jangan pernah temui aku, sebelum dirimu benar-benar siap mengatakan kebenarannya---termasuk sosok Robin yang paling kau sembunyikan dariku."
Lucy berjalan melewati Kendric meninggalkan segala macam bentuk perasaan yang sangat rumit kepada hubungan mereka. Mendengar itu, Kendric jatuh terduduk---berlutut di hadapan lukisan wanita yang sangat ia sanjung kan.
"Aku tidak bisa mengatakannya, bahwa tugasnya menjadi Robin adalah pengorbanan untuk mencegah kehancuran. Aku tidak akan sanggup melihatnya berakhir---pergi seperti dirimu, Ibu."
...---, -🍁- ,---...
Hai semuanya,
sebuah info kalau author tidak bisa Up pada tgl 1 dan 2 Januari, duh sayang sekali😢🙏🏻
Tapi jangan khawatir, mari bertemu kembali pada tgl 3 dengan kejutan spesial awal tahun---Crazy Up!! 🥳🥳🥳
__ADS_1
[ 09.00 WIB ]
Terimakasih atas dukungan kalian selama 2021 ini❣️