
Tepat di tengah hutan Peri. Lucy melihat telaga air yang terdapat dua pohon Wisteria dengan lampu lentera sebagai penerangan di sana.
Melihat Tyrsha menjatuhkan sehelai daun Mapel keatas airnya, Lucy pun melihat kedalam air saat dirasa Tyrsha memberi petunjuk kepada dirinya. Awalnya Lucy hanya melihat bayangan dirinya, tapi perlahan genangan air jernihnya memantulkan sosok asing namun terasa familiar.
Ia melihat adanya seekor rusa putih, dengan rasa ingin tahu jemarinya mencoba meraih bayangan yang terpantul dari telaga tersebut. Namun ia terlalu terbuai, sehingga hasilnya Lucy pun terjatuh kedalam telaga. Ia sempat panik karena berpikir bahwa telaga nya sangat dalam----seakan sumber mata air itu melahap dan menenggelamkan nya.
"Jangan khawatir, tenangkan dirimu dan coba untuk menyesuaikan keadaan."
Di tengah kepanikan nya, sebuah tangan menggapai Lucy dan mencoba membantu dirinya berdiri dengan seimbang di dalam dimensi tersebut. Lucy mencoba menenangkan diri dan menyesuaikan pergerakan di sana dengan lebih baik. Kemudian menatap perlahan kearah sosok yang membantunya.
"Terimakasih, aku-----"
Wajah jelita, surai rambutnya yang melebihi cahaya rembulan. Senyuman yang membawa ketenangan bagi siapa saja yang melihat pasti akan langsung terpesona dengan sosok nya. Terlebih yang membuat Lucy diam adalah sosoknya yang begitu ingin Lucy temui setelah mendengar kisahnya.
"Nenek,"
Mendengar panggilan yang sangat di rindukan. sosok di hadapan nya----sang Dewi Bulan Seleni Thea. Ia tersenyum, memeluk serta menggapai wajah mungil yang menjadi duplikat dari Putrinya.
Seleni Thea melepas rindu setelah sekian lama ia hanya dapat mengamati perkembangan cucu terkasih nya. Baik itu Welliam ataupun Lucy, ia ingin memanjakan mereka dan bermain sesuka hatinya. Tapi keadaan tak bisa membebaskan dirinya untuk lebih dekat dengan anak dari Putrinya (Lezzy).
"Kau begitu cantik seperti Lezzy. Sayang, "
Lucy tidak percaya ia dapat bertemu dengan nya. Sungguh, wajah dan sosoknya jauh lebih jelita daripada Lukisan kaca di villa taman Ibu nya yang pernah ia lihat sebelumnya. Tapi apa yang membuatnya ada di tempat seperti ini? Atau karena dirinya akan segera mati maka ia bisa melihat alam baka?
"Nenek, bagaimana kau ..., kau-----"
"Tenangkan dirimu, nak. Sayangnya aku memang sudah lama tiada. Sosok ku saat ini hanyalah serpihan dari jiwa bersalah ku yang belum tenang. Kau adalah alasan ku masih meninggalkan jiwa rapuh ini, Lucy. Sejak dulu aku selalu khawatir dengan kehidupan Lezzy dan juga masa depan kedua cucu ku. Meski tak banyak yang bisa ku bantu, tapi aku ingin mempermudah kalian."
"Kalau begitu apa Nenek akan membantu Kendric juga?"
Seleni Thea merapihkan helaian rambut ke sela telinga Lucy. "Bukan aku, tapi dirimu."
"Tapi---"
"Siapa kau saat ini? Apa yang ingin kau lakukan? Jika pun bisa, saat ini bulan serta matahari tak bisa melawan Octopus. Itu sebabnya kau di butuhkan, Lucy. "
"Tapi menjadi bintang juga tak selalu bisa di andalkan, Nenek. Aku hanya ingin meminta bantuan mu untuk menahan Kendric."
"................"
"Aku tidak akan lari menjadi Robin. Aku akan melakukan tugasnya, aku akan merelakan semua yang ku punya di kehidupan ini---termasuk dirinya." Lucy meraih tangan Seleni Thea "Nenek, meski kau hanyalah jiwa tidak sempurna mu. Dapatkah aku merepotkan nya."
"Dalam hal apa?"
"Tolong cegah Kendric menghampiri ku. Meski ia berlari, berjalan,atau apapun itu. Tolong hentikan dia."
"Aku tidak tahu akan bisa menahan nya seberapa lama. Mungkin saja, ini juga akan menjadi hal kejam untuk ia lihat. Aku akan mencoba nya. "
"Satu hal lagi, dapatkah aku-----------Nenek." Seleni Thea menatap tidak percaya, dengan hal apa yang akan ia coba katakan di akhir pertemuan mereka, justru menjadi pemicu keinginan Lucy sendiri.
"Sepertinya aku sudah bisa pergi dengan tenang. Jika itu kemauan mu dan kau bersedia. Aku tidak mempermasalahkannya nya. Tanpa kau meminta pun ia sudah memilih mu." Seleni Thea tersenyum bahagia tanpa perlu lagi mengkhawatirkan masa depan.
"Kalau begitu...," Seleni Thea mengangkat tangan nya dan dimensi gelap itu memecah menjadi beberapa alam. Langit yang saling terbelah serta terdapat pusaran galaxy yang seakan membuka gerbang menuju Imorrtal.
__ADS_1
"Ini adalah batasan dunia, sebuah ujung dari segala pintu dimensi yang berada tepat di akar Pohon Dunia. Ah, Kendric menciptakan dan menyebutnya sebagai Apologize Dreamchater."
Lucy maju beberapa langkah menatap kagum dan juga ngeri dengan besarnya kehendak serta kekuatan Kendric. Mereka seperti berada di tengah angkasa mahakuasa, tak ada kata yang mampu menandingi dari tatapan kagum atas pujian nya. Meski ia pernah di bawa ke dimensi ini, tapi terlihat hal yang berbeda dari biasanya ia lihat.
"Saat ini Kendric menutup semua akses menuju Imorrtal tapi ia membuka gerbang melalui Dreamchater, karena ini terhubung dengan Pohon Dunia tentu hanya ada satu pintu yang tidak dapat ia tutup. Langit atas adalah Bumi, di bawah mu adalah Darkness World. di depan mu----pusaran galaxy yang di selimuti kegelapan adalah Imorrtal."
"Kenapa hanya Imorrtal yang terlihat gelap?"
"Karena Kendric menarik semua miasma kedalam dunia para Dewa. Itu sebabnya kau tidak bisa melihat apapun."
Lucy benar-benar tidak habis pikir dengan mate nya, "Ayo, kita harus segera pergi."
"Tunggu," Seleni Thea menahan kembali. "Berikan kepadaku, mawar yang di berikan Ibu mu."
Lucy menunjukan mawar hitam tersebut. Saat Seleni Thea menyentuhnya, mawar itu berubah menjadi belati sepanjang 25 cm, pedang kecil yang memiliki ukiran mawar yang dilapisi permata hitam pekat.
"Pergilah, Aiden akan membawa mu menuju Altar suci. Biar aku yang menahan nya."
Lucy memeluk Seleni Thea. "Terimakasih banyak atas perhatian mu kepada kami Nenek. Maaf, aku sempat membenci dunia Imorrtal padahal Nenek ku tumbuh dan tinggal di sana."
"Sikap para Dewa memang selalu buruk, Nak. Jika saja aku tidak kehilangan eksistensi, aku pasti akan menjadi egois untuk membawa Lezzy ke Imorrtal. Tapi jika ia tinggal bersama ku, apa mungkin aku melihat kedua cucu ku?"
"Jika Nenek melakukan nya, bisa-bisa Ayah yang akan menjadi Krhanos nya." Gurau Lucy mencoba mengenang moment terakhir bersama Nenek nya.
Seleni Thea melepas genggaman tangan nya dari cucu tercinta nya. "Sekarang pergilah. Selamatkan dunia ini, bintang fajar ku."
Molie yang sejak awal ada di sana sebagai penyimak diantara reuni mereka. Berjalan mendekati pusaran galaxy tersebut, sedangkan Lucy menatap lara, enggan untuk mengakhiri pertemuan mereka---tapikan kalau dia mengorbankan diri, mereka akan bertemu lagi?
...***...
Remang kegelapan menyambut Lucy serta Molie, mereka tidak dapat melihat apapun. Hanya ada kebulan asap dan tanah tandus di pinakan nya. namun itu tidak bertahan lama, karena sapuan angin besar menyapu habis asap tersebut---seakan Lucy tertampar, ia melihat sosok besar dengan wujud mengerikan tengah bertarung dengan seseorang.
Perkelahian mereka menciptakan badai dan kehancuran di sekitaran nya. Terlebih miasma di sini begitu sangat berat. Ledakan besar serta tanah yang terpecah belah, menjadi bukti atas besarnya perlawanan serta pertahanan mereka.
"Jadi apakah raksasa itu adalah Krhanos, Molie?"
Molie mencoba mengenali sosok tak di kenal itu melalui indra penciuman nya. "Dia adalah Octopus yang telah memakan jantung Krhanos---Pantas saja, Alabasta terjadi di luar perkiraan!!" Molie menatap murka kepada mahluk mengerikan tersebut.
Jika Octopus berhasil dengan rencana nya bagaimana dengan Kendric? Lucy mencari-cari sosok yang sejak tadi mengganggu pikiran nya. Di tengah kepanikan nya, Lucy dapat melihat seorang Pria dengan luka dan beberapa darah di seluruh tubuhnya. Tengah menantang Octopus.
Kondisinya terlihat memburuk, tidak perduli bagaimana racun Gravos menikamnya---membuktikan bahwa ia adalah cahaya paling terang di tata Surya alam ini.
Lucy terluka melihat mate nya terus berjuang menerima beban dari penderitaan seluruh dunia di atas mahkota nya. "Moli---bukan, Aiden. Tunjukan altar nya!"
Molie jadi merasa ragu setelah berhasil membawa Lucy ketempat ini. Karena bagaimana pun setelah tugasnya berhasil. Ia akan segera berpisah dengan Tuan Putri nya.
"Tempat itu tidak jauh dari sini, Putri."
Molie membawa Lucy ketempat seharusnya. Sebuah tempat yang dulunya adalah kuil suci untuk pra Dewa puja kepada Pohon Dunia. Karena hanya tempat ini yang menerima berkat Yggdrasil, maka di putuskan Krhanos harus di segel di Kuil Litch----karena keberadaan nya lah yang membuat tempat ini menjadi lembah kematian, menyisihkan bangunan kuil Robin yang telah menjadi reruntuhan.
"Meski bangunan Kuil nya telah hancur, tapi altar nya masih terlindungi."
Lucy menyentuh pilar-pilar bebatuan yang ada di sekitaran altar dan beberapa monumen tersisa yang memiliki ukiran aksara lama, seakan menceritakan kisah legenda di zaman tanpa cahaya.
__ADS_1
"Putri selama perjalan kita ke sini, saya telah memberitahukan semua langkah-langkahnya. Sekarang tinggal anda mulai saja Putri."
Lucy menghadirkan perantara yang di butuhkan untuk pensucian. Di tangan kanan terdapat belati pemberian Nenek nya dan tangan kiri adalah tongkat sihir Robin yang telah di rubah menjadi ranting pohon Mapel dengan delapan buah lonceng di tiap dedaunan nya.
Lucy menatap---memandang sang Kekasih yang terus berjuang melawan Octopus meski inti jiwanya telah terluka sangat parah.
"Kendric ...,"
...***...
Beralih pada posisi Kendric yang terlihat mengatur rencana ulang setelah menyerang dan bertahan secara beruntun. Ia melihat rekan nya Robert yang sudah berada di batas kemampuan nya, jika ia sampai mundur juga semua akan selesai dan dunia damai serta aman untuk Mate nya tidak akan pernah terwujud!
"APA KAU SUDAH KELELAHAN? SEHEBAT APAPUN DIRIMU. KAU TIDAK AKAN BISA MENAHAN RASA SAKIT DARI RACUN NYA."
"Aku tidak akan mengukir sejarah mati di tangan mu, Octopus!"
"KAU SUNGGUH BESAR KEPALA! TIDAK AKAN ADA SEORANG PUN YANG BISA MENGALAHKAN KU. KAU ATAUPUN REMBULAN!! AKU ADALAH SANG MAHADEWA, AKU ADALAH LANGIT YANG HARUS KALIAN JUNJUNG! AHAHAHA!!"
Kendric mengepalkan tangan nya, racun di jantungnya begitu sangat merepotkan terlebih kondisi lemah ini sangat membebani nya! Sekarang apa sudah waktunya ia menggunakan cara terakhir? Tapi ia belum tahu dimana Altar suci berada. Jika saja Molie memberitahukan nya, ia pasti akan menyegel Krhanos dan Octopus lalu menghancurkan altar nya bersama jiwa nya juga.
"AKU ADALAH------"
"Makhluk sampah yang selalu menodai dunia suci!"
Octopus dan Kendric menatap kearah langit timur yang ternyata berdiri Molie sebagai wujud Aiden. Menyatakan bahwa karir kejayaan Octopus tidak akan berlangsung lama.
"Apa kau ingin menjadi tawanan ribuan tahun seperti Tuan mu, Octopus?"
"AIDEN?!" Octopus berdelik benci melihat sosok raja roh suci, berada di teritorial kekuasaan nya. "AKU TIDAK AKAN BISA TERSEGEL KARENA AKU BUKAN KRHANOS! KAU TIDAK BISA MENGALAHKAN KU."
"Lucu sekali, justru akan sangat mudah membunuh Krhanos dalam wujud orang lain. Karena ia telah menjadi satu bagian dengan darah dan daging mu. Terimakasih telah memakan Jantungnya! Akan sangat merepotkan jika Robin harus menyegelnya lagi dan lagi."
"Apa maksud-----Jangan bilang!" Menyadari kedatangan Molie yang begitu aneh. Kendric panik dan takut bila dugaan nya menjadi kenyataan.
Molie menatap segan kepada raja para dewa. "Mohon maaf baginda, tapi takdirnya memang untuk menyelamatkan dunia."
"Aiden!!"
"Tuan Putri, memang harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang Robin."
Kendric mengeraskan rahangnya menatap benci atas kelicikan dari sosok Soul Of Life Robin. Tidak seharusnya ia mempercayainya! Di tengah perdebatan tersebut. Sebuah cahaya keagungan yang begitu menyilaukan, menarik seluruh perhatian mahluk hidup.
Dari arah belakang Molie---berjarak 6 KM dari posisi mereka. Sebuah altar suci yang tidak banyak di ketahui telah di aktifkan. Terlihat dalam balutan cahaya, berdiri seorang malaikat jelita pembawa kasih dan sayang untuk menolong seluruh dunia dari genggaman kegelapan.
Kendric menatap tidak percaya, sosok yang ingin ia lindungi. Sosok yang ingin ia sembunyikan. Serta sosok yang begitu di cintai nya, harus berada di tempat yang paling berbahaya. Tempat dimana ia akan kehilangan cahya pelita nya sebagai bintang fajar.
"Jangan---Lucy, tidak. Jangan lakukan itu ...," Kendric mengabaikan mahluk berbahaya paling mencolok di sana. Ia berjalan melewati Octopus seakan itu bukan hal yang penting lagi.
Kendric berusaha kuat mendekati kekasih yang paling ia rindukan. perset*n! tidak ada yang bisa ia percayai di dunia ini. Lagi-lagi Pohon Dunia menyeret takdir Mate nya juga---seakan ia merebut satu-satunya hal paling berharga dalam hidupnya!
"----Aku mencintaimu, Kendric."
"LUCY!!" Kendric menggunakan kekuatan tersisa dari mana nya untuk bergerak cepat---berteleportasi ketempat mate nya.
...✧༺ 🍁 ༻✧...
__ADS_1