The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Love and Secrets


__ADS_3

...Saat rahasia menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan dia yang dicintai, maka saat itu juga hubunganmu memang sudah rentan; hingga pada akhirnya kepercayaan akan di tuntut untuk memilih....


...--.•🍁•.--...


.......


.......


.......


...---...


"Kenapa kau begitu bersemangat untuk mempelajarinya, apa karena aku?"


"Kenapa alasannya jadi dirimu? Aku bersemangat karena ini tetang pelajaran baru, apalagi aku baru mengetahuinya."


"Kukira kau bersemangat karena aku yang mengajarimu." Kendric terlihat sedikit kesal, lalu bangun dari posisi berbaring nya dan berdiri sembari menyingkirkan tirai kain yang menutupi ranjang tidur. " Tidurlah lagi, hari masih terlalu dini untuk bangun."


Melihat Kendric akan segera pergi, buru-buru Lucy menahan tangan Kendric. "Kau ingin kemana?"


"Aku akan ke ruang kerjaku untuk tidur di sana, kau bisa tidur dengan nyaman disi----"


"Tidak mau. Aku ingin kau menemaniku tidur."


Untuk beberapa saat keduanya saling diam, apalagi untuk seorang Kendric yang mendapat permintaan seperti ini. Kendric menghela nafas sembari menyembunyikan kedua matanya dengan jemari tangannya, mencoba menenangkan dirinya.


dia lirik Lucy yang masih setia menatapnya dengan wajah polosnya itu. "Kau ini benar-benar kejamnya. Padahal sejak tadi aku berusaha mengontrol diriku."


"Memangnya apa yang aku lakukan, sampai kau bilang seperti itu?"


"Tidak kah ucapan mu terlalu berbahaya jika dikatakan dalam keadaan seperti ini?"


"Maksudmu?"


Kendric tersenyum, dia kembali duduk lalu meletakan kedua tangannya berada disisi kanan dan kiri Lucy, sehingga posisinya berada diatasnya dengan jarak bertatap muka hanya sejauh 25 cm.


Jarak yang terpaut dalam kedekatan hingga mampu merasakan hembusan nafas hangat, membuat Lucy mengalihkan wajahnya. Kendric tersenyum tipis dengan respon lucu dari Lucy, lalu mendekati telinga mungil Lucy


"Lucy, meski aku selalu menjaga sikap ku---tapi mau bagaimana pun, aku ini pria normal. Jadi, lebih perhatikan lagi saat kau berbicara seperti itu dengan seorang pria."


"Aa!" Lucy meringis sakit saat Kendric menyentil kening Lucy.


Sedangkan Lucy dengan cepat bangun--membuat posisinya menjadi terduduk lalu dengan ragu merangkul tubuhnya sendiri. "Ja-jangan salah paham, yang ku maksud bukan hal mesum seperti itu. Tapi ..., aku----"


"Apa? kenapa sekarang kau jadi malu-malu?"


"Berhenti menggodaku. Aku hanya ingin kau menemaniku sampai aku tertidur saja, aku hanya takut bermimpi buruk lagi. Apa-apalagi kamar ini begitu gelap."


"Mengenai mimpi itu, apa begitu menakutkannya?"


"Itu, mengenai mimpi tadi---"


'....kuharap kau tidak akan berakhir sepertiku. '


Lucy menggelengkan kepalanya, mencoba mengabaikan mimpi itu. Apalagi wajah wanita malang itu, tapi kira-kira siapa sosok pria bermata merah itu ya?


"Ada apa dengan mimpimu?"


Lucy kembali melihat Kendric dan buru-buru mencari alasan. "Tidak ada, hanya mimpi buruk biasa saja. Jadi, apa kau bisa menemani...ku?"


"Ekhem! Melihat kau begitu menginginkan aku tetap di sisimu, tentu aku tidak mungkin menolak permintaan Mate ku."


"Jangan salah paham, pokoknya hanya sampai aku bisa tidur. Awas jika kau macam-macam." Lucy menatap tajam kearah Kendric.


"Baiklah, kau tidak perlu khawatir. Sekarang tidurlah."


Lucy kembali berbaring, Kendric membantu menarik selimut tebal untuk menghangatkan tubuh kekasih tercintanya. Kemudian dia beranjak bangun dan segera duduk di sofa panjang tempatnya menghilangkan rasa penatnya, sembari melihat Lucy yang tertidur menghadap dirinya dengan mata yang terpejam. Ini bagikan mimpi baginya. Hampir selama 500 tahun lebih, ia mengamati Lucy yang tengah tertidur secara diam-diam.


Melihatnya yang sebatas dari bingkai jendela tanpa punya waktu untuk menunjukkan dirinya. Bahkan Kendric akan langsung bersembunyi atau pergi saat dirasa Lucy akan segera terbangun. Tapi sekarang, ia dapat melihatnya dengan begitu jelas dan sangat dekat dengannya.


Mungkinkah dia akan segera terbangun dari mimpi indah ini? Tidak, membayangkannya saja sudah membuatnya kesal. Jika boleh memilih dia lebih suka untuk tidak bangun saja, dan terus bermimpi sehingga dia punya waktu untuk terus bersama Mate nya.


Kendric bersandar pada penyanggah sofanya, sembari menghela nafas lelah. Telah banyak yang ia lakukan hanya untuk bisa bertemu dengan kekasihnya.


Sekarang rintangan akan semakin susah untuk bisa ia lewati dengan mulus. Idak perduli meski dia adalah Maharaja di dunia ini.


Musuhnya terlalu berat dan begitu sangat licik. Satu rantai yang berhasil ia patahkan, maka akan menyambung rantai masalah baru lainnya. Perannya sebagai Maharaja begitu melelahkan, semua beban yang ia papah di punggungnya perlahan melumpuhkan jiwanya.


Meski dia sendiri dapat mengatasinya, tapi karena permohonan dari seorang wanita di masa lalunya, membuatnya jadi tidak bisa bertindak semaunya. Jika tidak Kendric pasti sudah meratakan seluruh Imorrtal meski itu akan berdampak bagi Bumi dan juga Darkness World mengingat betapa dahsyatnya kekuatan Kendric sebagai Dewa terkuat diantara Dewa yang lain.


Dalam termenung nya, Kendric melirik secarik surat dari Aletha. Memang ia pergi siang tadi untuk menemui Hannes membahas buku Carzie, sehingga ia harus meninggalkan Lucy saat berjalan-jalan di kota replika.


--.🌻.--


Baginda, tak lebih yang bisa saya katakan. Tapi mengenai buku Carzie dan pesan apa yang di tinggalkan Selini Thea, saya memohon izin untuk bertemu secara langsung.


Berharap anda akan datang ke Lucifer Kingdom bersama Maharani Lucy, mari bahas semua masalah yang telah dirahasiakan kepada Pemimpin Darkness World.


Jika ingin mengalahkan Octopus, mau tidak mau Lord Welliam dan juga Paduka Fedrick harus mengetahui semua rahasia ini.


Sudah waktunya, dunia mengetahui kabar yang sebenarnya. Mohon anda lebih bijak dalam memikirkan permintaan surat ini.


Salam Keagungan dari saya,


Dewi Perang dan Keadilan mu.

__ADS_1


- Thea tou Polemou -


----.••> 🌻 <••.----


Singkatnya Aletha mengiriminya surat untuk bertemu secara langsung tanpa ada rahasia. Jika membayangkan isi surat itu, Kendric jadi memikirkannya berkali-kali. Tapi jika dia bahas mengenai semua masalah ini, Lucy akan tahu identitasnya yang sebenarnya? Dan apakah dirinya akan di benci?


Gorden yang ada di belakang sofa bergerak pelan membawa masuk serpihan salju akibat ulah angin malam. Keadaan menjadi hening meninggalkan jejak dentingan jam yang masih menjadi melodi kesunyian.


"Lucy, apa kau ingin pulang ke Darkness World?"


Lucy yang belum seutuhnya tertidur membuka matanya. Melihat Kendric yang terlihat menunggu jawabannya, perlahan Lucy bangun lalu berlari kecil untuk duduk disebelah Kendric.


"Kau tadi bilang apa?"


"Apa kau ingin pulang?"


"Apa aku sungguh boleh kembali?!"


"Sepertinya kau memang ingin cepat-cepat pulang ya. Apa aku terlalu memaksamu untuk tinggal disini?"


"Bukan begitu, aku suka tinggal disini bersamamu. Tapi, aku juga punya rumah dan keluarga. Lagipula aku pergi karena alasan tertentu dan berjanji pada ibu untuk tinggal di Bumi dengan baik. Sofia juga pasti sudah merindukan ku ...."


"Baiklah, kau tidak perlu bersalah begitu. Aku juga berniat untuk pulang bersama mu dan menyapa keluargamu."


"HA?!"


"Kenapa?"


"Ka-kau sungguh ingin bertemu keluargaku?"


"Hm. Lagipula, jika kita ingin menikah nanti bukankah aku perlu restu orang tuamu?" Lucy merasa malu tersipu saat kalimat itu terdengar. "Lucy, aku tidak mau dianggap jahat hanya karena membawa seorang Putri ke istanaku."


' Tapi, jika Ayah tahu aku pulang bersama seorang pria. Tidakkah Ayah akan langsung memenggal kepala Kendric ?! '


"Tidak, tidak, tidak. Ayah dan Kak Welliam begitu Protectif kepadaku, bisa gawat jika mereka kelewat marah."


"Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya." Memandang mata merah Kendric yang begitu terlihat tenang, menyadarkan Lucy bahwa Pria di hadapannya adalah sosok yang tepat untuknya. "Baiklah ...., tapi kau yakin bisa mengatasinya?"


"Untuk bisa bersamamu, aku harus yakin." Lucy tersenyum, lalu bersandar pada Kendric sehingga keduanya saling merangkul. "Aku percaya padamu. Jadi, kapan kita akan ke Darkness World?"


"Mungkin dua hari lagi, karena aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan disini. Bagaimana, apa tidak masalah untukmu?"


Lucy mengangguk, "Jangan khawatir, aku akan menunggumu."


"Termakasih."


Dalam rangkulan hangat yang Kendric berikan membuat kenyamanan bagi Lucy, tak perduli angin malam mencoba mencuri kesempatan untuk membiarkan musim dingin memasuki ruang kamar itu. Kedua nya saling memeluk erat disela waktu berdua mereka.


Hingga pada akhirnya kehangatan itu melelapkan kedua pasangan berbeda alam itu dalam tidur yang begitu nyenyak. Kendric yang berniat hanya sebatas menunggu Tuan Putri nya tertidur, justru malah ikut terlelap bersamanya.


...--.•• 🍁 ••.--...


Baru semalam salju turun menghujani wilayah yang di penuhi cahaya mentari, kini membuat daratan penuh dengan setumpuk es yang begitu dingin, hingga mampu melukis helaan nafas hangat yang terlihat dari mulut seorang wanita jelita.


Rasanya baru kemarin Lucy bermain lari dengan beberapa ilalang dan bunga yang masih bertahan melewati musim gugur. Tapi kini semua tanaman itu telah tertidur di balik selimut salju--mewarnai paksa seluruh daratan pelangi hanya dengan warna putih.


Bahkan mantel dan gaun hangatnya saja masih belum cukup melindunginya, sehingga Lucy harus memeluk dirinya sendiri. Pagi tadi sehabis sarapan bersama, Kendric langsung pergi untuk menyelesaikan urusannya sedangkan Lucy asik berjalan-jalan di taman seorang diri.


Tyrsha sudah kembali ke Bumi dan saat ini Molie malah sedang hibernasi atau bisa dikatakan tertidur untuk melewati musim dingin. Tapi ini aneh, tidak biasanya Molie hibernasi, dia kan bukan hewan biasa, dia itu termasuk roh suci.


Apa ada yang aneh dengan Molie?


Entahlah, lagipula Lucy ingin sekai-sekali pergi seorang diri tanpa ada Molie yang mengawasi. Walau dia tahu sebenarnya ada beberapa pengawal bayangan yang mengamatinya, itu pasti karena Kendric ingin menjamin keselamatan Lucy saat dirinya tidak bersamanya.


"Hem, udaranya semakin dingin. Sepertinya sampai sini saja jalan-jalannya." Lucy berniat kembali ke Castle nya yang baru saja di siapkan Sylvia, mengingat kediaman lamanya telah menjadi tempat usang.


Namun langkah mungil Lucy harus berhenti ditempat, saat ia melihat seekor rubah putih berekor sembilan dengan satu lambang bintang menyerupai daun maple kecil berwarna emas di kepalanya. Saat ini Rubah itu sedang memandanginya dari jarak yang tak terlalu jauh.


Sebelumnya dia di sapa oleh seekor kelinci berlambang bulan sabit, tapi kini giliran seekor rubah yang mendatanginya. Apa ada sebuah alasan kenapa ia sering berjumpa dengan hewan tak biasa seperti mereka?


Lucy hendak mendekatinya, namun Rubah itu justru berlari menjauhinya meninggalkan siluet cahaya emas yang perlahan menghilang. Lucy melihat sekelilingnya kemudian berlari mengejar Rubah cantik itu.


Setiap jalan yang harus berbelok Rubah itu berhenti seeakan tengah menunggu Lucy, kemudian ia akan berlari lagi saat dirasa Lucy kian mendekatinya. Hingga Rubah itu membawa Lucy ke pintu masuk sebuah labirin yang terlihat tak biasa, habisnya Lucy tidak tahu kalau tak jauh dari taman belakang Castle ada sebuah labirin seperti ini.


Robin, lewat sini ....


Tunggu, apa barusan Rubah itu yang memanggilnya? Melihat Rubah itu yang masih menunggunya sepertinya memang ingin dirinya mengikutinya. Tapi tempat ini terasa asing untuknya, bagaimana jika di dalam sana ia berjumpa dengan bahaya?


Robin, takdirmu yang lain tengah menunggu kehadiranmu ...


Lagi-lagi Rubah itu mencoba mempengaruhi Lucy. meski ia ragu dan bingung, tapi Lucy mencoba untuk bertekad mengikuti Rubah itu. Dilihat dari sosoknya sepertinya Rubah itu tidak punya niat buruk kepadanya.


"Tidak tahu ah! apa pun yang akan terjadi, biar ku hadapi sendiri nanti."


Setelah bertekad, Lucy pun mengikuti Rubah itu hingga ke tempat terujung di labirin rumit ini. setelah banyak melewati lika-liku jalan untuk menemukan jalan keluar lain dari labirin ini, kini Lucy berhasil sampai ke sisi seberang dari pintu masuk labirin.


Entah sejak kapan Rubah itu kini sudah berada di balik sebuah gerbang besar yang sepertinya menjadi pintu lain untuk masuk kesebuah tempat. Apa sekarang Rubah itu ingin Lucy ikut masuk kedalam hutan penuh salju dibalik gerbang ini?


"Oh sungguh? setelah aku lelah dengan labirin ini, kau masih ingin aku mengikuti mu? Jika ada yang ingin kau bicarakan katakan saja, aku ----"


Rubah itu tidak mendengarkan Lucy dan kembali berlari memasuki hutan itu. Karena dia sudah di buru rasa penasaran, mau tidak mau Lucy harus mengikutinya.


Tapi untunglah gerbang ini terbuka dengan sendirinya sebelum Lucy menggunakan kekuatannya. Lucy berjalan sudah cukup jauh bahkan salju yang ia pijaki semakin tebal membuat langkahnya jadi susah berjalan, mana gaunnya sangat panjang lagi.


Tapi seketika rasa kesal Lucy luluh saat dari posisinya berdiri---dirinya bisa melihat sebuah Castle yang berdiri kokoh di tengah hutan salju ini.

__ADS_1



Lucy yakin sejak tadi ia tidak merasakan adanya hawa keberadaan mahluk disini. Maksudnya, hutan ini memang tidak pernah terjamah oleh siapa pun. Tapi kenapa ada kediaman ditengahnya, kira-kira siapa yang tinggal disana?


Sepanjang perjalannya menuju ke Castle itu, Lucy banyak di sapa oleh para roh suci dari ras Undine. wujud mereka yang hampir menyerupai serpihan salju dan mahluk Ograf kecil. Lucunya lagi Ograf itu memilik postur tubuh mirip seperti boneka salju.


Sampainya Lucy di halaman depan Castle misterius itu---lucy tidak lagi melihat Rubah cantik yang tadi menuntunnya kesini. Apa di Castle ini takdir tengah menunggunya?


Lucy kembali berjalan lurus, mencoba mendekati pintu utama Castle dan menjelajahi lebih jauh tempat ini.



Pintu besi yang hampir membeku akibat suhu dingin, membuat Lucy kesulitan untuk membukanya. Dia mencoba mengambil jalan memutar siapa tahu ada pintu atau jendela lain, jika dia gunakan sihir pasti akan menimbulkan suara besar dan orang-orang yang ada di Kerajaan Apollo akan datang kesini.


Namun tanpa disadari nya, dari arah belakang Lucy di ikuti sesosok berjubah hitam yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Lucy datang ke Castle ini.


"Mungkin, jika aku lewat lubang kecil ini---aku bisa masuk kedalam. Kan, tubuhku cukup langsing."


"Berhenti!"


Lucy hampir sepenuhnya memasuki lubang celah dari dinding Castle tua itu, jika saja tidak ada suara pria yang menahannya mungkin Lucy sudah berhasil masuk.


Karena kedatangan sosok itu cukup mengejutkannya, Lucy buru-buru berbalik melihat sosok itu. Tapi sepertinya ini bukan pertemuan baik untuknya, jika pria berjubah hitam itu saat ini tengah menatap tajam dirinya.


"Castle ini, bukalah tempat yang bisa anda datangi sesuka hati, Putri Lucy!"


Lucy ingat, sosok ini adalah pria yang datang menemui dirinya dan Kendric saat waktu makan bersama di taman. Jika tidak salah, Kendric memanggilnya dengan nama, "Robert?"


"Saya sangat tersanjung, anda dapat mengingat nama saya, Putri."


Lucy terlihat gugup, apalagi saat ini tatapan ramah yang waktu itu ia lihat tak sedang dalam modenya. Karena Robert terlihat begitu dingin, apalagi dengan pedang berlumuran darah ditangan kananya.


Apa yang Robert lakukan disini dengan pedang berdarah itu? Apa Castle ini adalah tempat terlarang untuk bisa dimasuki siapa pun.


Robert melirik pedang ditangannya, sepertinya Lucy bukanlah Putri yang biasa melihat darah padahal dia adalah Putri bangsa Demon.


Dari sikap bengisnya, Robert kembali ke mode ramahnya. Dia tersenyum menyapa Lucy, "Maaf, sepertinya saya mengejutkan anda."


"Ah, tidak masalah. Tapi----" Lucy melirik kearah pedang Robert lagi.


"Saya habis berburu beruang, Putri. Baginda bilang ingin memberikan anda mantel hangat dari kulit beruang putih, jadinya saya sedang berburu untuk anda---Aa!! Harusnya saya tidak memberitahukannya." Robert terlihat menyesali atas kebodohannya.


Dari perasaan waspada menjadi lebih tenang, melihat Robert begitu ceroboh perasaan curiga tadi langsung hilang. "Lain kali, kau harus memperhatikan kata-katamu," Lucy tertawa kecil. "Aku ucapkan terimakasih. Jadi dimana buruan mu?"


Robert yang berdiri dihadapan Lucy langsung menyingkir agar Putri Demon ini bisa melihat seekor beruang yang sudah tak bernyawa.


"Oya, tadi kau bilang, Castle ini ti-tidak bisa kudatangi. Boleh aku tahu alasannya?"


"Putri, disini terlalu banyak hewan buas yang memiliki spirit sihir kuat. Dulu, kerajaan Apollo berada di Castle ini. Tapi karena terlalu banyak hewan buas yang memakan korban, Baginda memutuskan untuk pindah ke daerah aman. Walau masih satu wilayah, tapi di kerajaan Apollo yang baru jauh lebih aman sekarang."


"Jadi begitu, pantas saja Castle ini terlihat sangat tua."


"Sebaiknya kita pergi, Putri. daerah ini hanya di peruntukkan untuk berburu tidak untuk di kunjungi. Dan saya harap anda tidak mengatakannya kepada baginda bahwa anda kesini."


"Kenapa?"


"Karena, Baginda pasti akan sangat mengkhawatirkan anda. Dan Sylfia juga bisa dimarahi jika ia tak mengawasi Putri saat ini."


Lucy baru sadar dia pergi seorang diri. Meski ia lebih suka berjalan-jalan tanpa di temani. Tapi ia tidak mau menyusahkan Sylfia. "Aa .., kau benar."


"Mari Putri." Tak mau berlama-lama, dengan cepat Robert membawa Lucy menjauhi daerah Castle ini sebelum Lucy mengetahui kebenarannya.


Karena sebenarnya, Robert sangat lega saat ia berhasil menghentikan aksi Lucy untuk memasuki Castle. Kalau tidak itu bisa jadi hal fatal, karena hanya tinggal selangkah lagi Lucy akan melihat beberapa mayat yang berhamburan penuh genangan darah.


Atas perintah Kendric sendiri, Robert bertugas membunuh semua pelayan dan Kesatria atau siapa pun yang mencoba memasuki Castle itu. Tidak perduli itu dari kubu musuh atau pun bawahannya.


Karena Castle itu adalah tempat terlarang yang menyimpan sejuta rahasia kenangan masa lalu Kendric yang begitu kelam, bersama sorang wanita yang menjadi panutan alam sebagai Dewi Vernitysha.


...---,'o🍁o',---...


...- Next Episode Spoiler -...


.......


.......


.......


"Jika Ayahmu masih tidak menerimaku sebagai pasanganmu. Bersiaplah, aku mungkin akan benar-benar menculik mu dan membawamu pergi hingga mereka tidak bisa merebut mu dariku!" Lucy meraih tangan Kendric dan meletakkannya di pipi mulusnya.


"Aku akan selalu mencintaimu, Pangeran ku. Tidak perduli, apapun kesalahanmu."


.......


.......


.......


"Apa kau sudah gila, Kendric?!" Aletha terlihat marah setelah mendengar pengakuan yang mengejutkannya. "Jika kau merahasiakan identitas mu yang sebenarnya, Lucy malah akan semakin membencimu!"


"Ini yang terbaik untuknya, Aletha. Aku juga berniat membunuh siapapun yang berusaha menunjukan sisi lain dari sosoknya sebagai Robin, karena sampai kapan pun Lucy hanya akan menjadi keturunan Vasilissa tidak untuk menjadi Robin juga."


"Kendric, jika kau masih saja egois. Peristiwa 98 abad tahun yang lalu akan kembali terulang, dan bisa saja kali ini Lucy akan menjdi korbannya sama seperti----"


"Diam! Jangan ungkit lagi masalah wanita yang sudah mati itu, Aletha Wisteria!"

__ADS_1


...------ " TO BE CONTINUE " ------...


...~ The Queen Of Vasellica Moon ~...


__ADS_2