
...--- Kisah Vernitysah ---...
Imorrtal, dunia para Dewa yang wujud dan asal usulnya masih begitu misterius bagi bangsa manusia. Akan tetapi para manusia menghormati kaum mereka sebagai titik menaruh harapan bagi kerajaan mereka.
Di saat ada begitu banyak ragam Dewa serta Dewi yang lahir dari harapan doa. Di saat yang kuat menaruh simpatik kepada mereka yang lemah, dan di saat bangsa langit terus di puja serta di puji---mereka semakin lupa diri dan berpikir merekalah yang paling unggul di alam ini.
Sehingga haus akan harapan dan pujaan membuat bangsa Imorrtal menjadi sombong penuh dengan kebodohan. Untungnya mereka memiliki Rembulan dan Matahari, golongan Dewa terkuat yang masih memiliki akal sehat dalam memimpin kaumnya.
Kekuasaan tertinggi di pegang oleh keturunan Dewa Matahari dan Dewi Bulan menjadi senat penasehat atau bisa dibilang sebagai sosok kedua yang berhak memimpin. Disaat mereka menjadi liar, sebuah keputusan di ambil secara serentak bahwa pemimpin Imorrtal haruslah satu tidak boleh ada dua.
Semua itu karena para kumpulan Tetua yang memiliki pengikut terbanyak yang dapat berselisih dengan langit. Meski begitu mereka tidak akan berani dengan Matahari sehingga mereka hanya menjadi menteri yang memiliki posisi setara dengan hakim bagi Imorrtal.
Mereka mengeruk segala hal dari Manusia melupakan tugas terbesar untuk melindungi yang terlemah. Bulan dan Matahari begitu khawatir, sehingga kedua penguasa itu pergi mencari pohon dunia----sebuah pohon di alam roh suci yang menjadi induk bagi kekuatan para Dewa atau di sebut sebagai Yggdrasill memiliki kekuatan besar sebagai jantung alam.
Dewa Matahari memasuki teritorial alam roh suci sebagai perwakilan langit. Ia hanya menginginkan sehelai daun dari pohonnya untuk meminta izin memiliki kekuatan 5% dari pohon tersebut.
Dewa matahari berhasil mencari pohon dunia, namun di saat ia mengutarakan keinginannya. Pohon dunia justru bercahaya semakin terang, menghadirkan sesosok wanita cantik yang berjalan keluar dari dalam pohon itu sendiri. Wanita berambut hitam dengan mata bak mutiara menghipnotis pandangan sang Raja Dewa.
Wanita jelita itu berjalan seakan menunjukkan rasa penasarannya terhadap mahluk Imorrtal yang baru pertama kali ia jumpai. Sehingga ia memperhatikan secara agresif dengan pengetahuan polosnya mengenai kasta Dewa.
"Boleh aku tahu siapa anda, Lady?"
"Aku penjaga pohon dunia, sosok Robin yang mengatur keseimbangan alam atas izin Yggdrasill, Vernitysha Athananysous Nordik. Bagaimana denganmu Yang Mulia Matahari?"
"Saya Apolleon Aerternitash Helios, Dewa Matahari yang dianugerahkan sebagai Alpha di Imorrtal."
Pertemuan yang seolah telah di atur langit berlanjut dengan sangat baik. Keduanya saling berbagi pemahaman dan berbagi solusi atas apa yang boleh dan tidak boleh di langgar oleh bangsa Dewa. sesekali juga Selini Thea sebagai Dewi Bulan membantu Vernitysha mengenal dunia Imorrtal yang selama ini hanya bisa ia lihat dari cermin air.
Vernitysha yang menjadi saintes bagi bangsa Dewa menerima perlakuan dengan sangat baik sehingga kehadirannya begitu amat di cintai di ketiga alam. Akan tetapi Vernitysha milik pohon dunia dia tidak bisa terlalu berlama-lama di luar teritorialnya karena dia adalah Robin.
Ia hanya boleh keluar jika waktunya pemurnian alam di Bumi atau saat dirinya akan pergi menemui Krhanos di tempat kurungannya guna memeriksa bahwa rantai yang mengekangnya terpasang dengan baik.
Akan tetapi kedekatannya dengan Dewa Matahari melebihi perasaan seorang rekan, keduanya saling jatuh cinta menetapkan hubungan sebagai pasangan Mate.
Apolleon serta Vernitysha secara diam-diam mengikat sumpah sehidup semati di hadapan pohon dunia layaknya meminta restu dari sang alam. Tentu hal ini di saksikan oleh Selini Thea sebagai satu-satunya yang hadir sebagai sosok teman terpercaya mereka.
Saat bersama untuk waktu yang cukup lama, Vernitysha melahirkan keturunan pangeran mentari untuk Apolleon. Akan tetapi ini tidaklah mudah, karena takut pemimpin Tetua mengetahui hal ini Vernitysha dan Apolleon memutuskan untuk tetap berada di alam roh suci sampai Apolleon berhasil menyelesaikan---mendirikan sebuah pulau Apollo untuk mereka tinggali bersama.
Vernitysha mulai menyadari betapa Octopus sangat berbahaya karena dia mencoba mendekati kutukan yang di larang pohon dunia. Hanya saja mereka masih belum tahu seperti apa pergerakannya sehingga mereka bertiga memutuskan untuk mengamati secara diam terlebih dahulu.
"Dewi Vernitysha, sang Ibu bagi para Dewa. Saya memberi hormat kepada anda."
"Akhir-akhir ini anda selalu datang ke Leryvora, bukankah Ketua harusnya diam saja di kuil? "
Octopus seperti tersinggung, bahwa yg di maksud Vernitysha adalah kau bukan Maharaja nya jadi jangan suka ikut campur dalam urusan dunia manusia.
"Saya hanya ingin melihat wajah baru di kota Leryvora saja, Dewi. Saya dengar Yang Mulia Apolleon membuatkan patung anda sebagai wujud terimakasih Imorrtal kepada anugrah pohon dunia lewat anda. Dan hari ini adalah peresmian patung anda diperlihatkan, kepada publik."
"Terimakasih, kau bisa kembali menikmatinya, aku pergi dulu."
Octopus yang melihat kepergian Vernitysha menuju ruangan Apolleon, membuatnya menjadi menatap penuh kebencian. Octopus adalah bawahan Krhanos yang diam-diam bergerak untuk mencoba membangkitkan nya.
Tetapi sosok Robin malah turun langsung dan memiliki hubungan akrab dengan matahari dan rembulan. Octopus tidak menaruh curiga pada kedekatan mereka, karena Vernitysha tidak akan bisa berada di sisi Matahari karena ia tidak boleh berada di luar alam roh suci terlalu lama.
Sedangkan Selini Thea bukanlah Mate Apolleon. Mungkin bisa saja terjadi pernikahan kesepakatan secara politik, tapi mereka telah setuju bahwa Imorrtal harus di pimpin satu orang. Dan inilah keberuntungannya, sekarang yang menjadi hambatannya adalah sosok Vernitysha tersebut.
Dia yang begitu murni akan sulit untuk di bunuh. Akan tetapi ia memiliki rencana lain yang tersirat dalam benaknya---dan ini adalah permulaan bagus untuk menanam konflik agar tujuannya membangkitkan tuannya berjalan lancar, walau harus di sesali kalau segel itu tidak akan melemah saat bulan dan rembulan masih menunjukkan sinarnya.
Hal itu bukanlah masalah serius, ia masih bisa mengandalkan bencana Alabasta walau harus menunggu dengan sangat sabar hingga waktunya tiba. Yang penting singkirkan sang Robin terlebih dahulu---dan terciptalah sebuah ide bagus di pikiran Octopus.
"Ini aneh, bukannya anak kecil itu bilang ada seorang pria tua yang sedang terluka? Apa aku harus tanya mereka?" Vernitysha menghampiri seorang pendeta dan seorang pangeran dari kerajaan bumi.
"Aku ingin tanya sesuatu kepada kalian."
Vernitysha adalah satu-satunya Dewi yang harus menunjukkan wujudnya sebagai pembawa ilahi dari pohon dunia ke bumi. Ia di kenal dengan sangat baik, setiap sepuluh tahun sekai Vernitysha akan melakukan pemurnian terhadap alam di dunia manusia dan harus segera kembali setelah semua upacara selesai.
"Oh, Dewi. Saya begitu sangat senang anda datang." Pangeran itu tersenyum.
"Apa ada yang lihat pria tua yang sedang terluka?"
"Maaf Dewi kami tidak melihatnya, apa perlu saya bantu mencarikannya?"
"Sebaiknya begitu, karena ini adalah hal yang sangat penting. Bisa saja pria itu berjalan sedang meminta bantuan dari orang di sekitarnya."
"Baiklah, saya akan memanggil pengawal. tapi bukannya anda harus segera kembali ke alam roh suci Dewi."
__ADS_1
"Saya akan segera kembali setelah melihat pria itu baik-baik saja,"
"Sungguh mulia. Jika hidupku bertahan lama mari bertemu kembali sepuluh tahun lagi----pada Festival Asteri ini, Dewi."
Pangeran Mahkota itu berbalik arah mencoba berjalan, tapi tepat di saat itu pendeta di sebelahnya memberikan sebuah pisau baptis kepada Vernitysha tentu ini membuatnya kebingungan.
"Ada apa Pendeta Romnas?"
"Dewi, anda terlalu baik kepada semua mahluk."
"Iya?"
Pendeta itu menjentikkan jarinya, membuat waktu berhenti lalu memberikan paksa pisau itu kepada Vernitysha. Pendeta itu mendorongnya dan karena posisi yang begitu pas, pisau di tangan Vernitysha menusuk pangeran dengan sangat dalam. Tentu hal ini membuatnya shock dan sangat terkejut dengan apa yang di lakukan pendeta tersebut kepadanya.
"Kyaaa---"
Waktu kembali berjalan, keadaan yang sangat cepat sulit di cerna untuknya. Semua orang yang ada di tempat itu saling menatap dengan ketakutan, begitu juga dengan Pangeran yang saat ini tengah terjatuh sembari memegang perutnya yang berdarah.
Vernitysha menggelengkan kepalanya sembari berkata bukan aku, bukan aku. Seketika kekuatannya untuk menjadi sosok Dewi menjadi hilang tidak dengan ikatannya dengan pohon dunia sebagai Robin.
Karena terdapat sebuah pantangan bagi Dewi sepertinya---bahwa ia dilarang keras membunuh atupun melukai semua mahluk hidup di tiga dunia ini, sengaja ataupun tidak di sengaja!
Vernitysha menjatuhkan pisau ditangannya, dia berjalan mundur hingga menabrak pendeta di belakangnya. Sosok pendeta yang melindungi wajahnya dari balik jubah putih berbisik kepadanya.
"Bagaimana rasanya membunuh kaum lemah yang sangat kau lindungi, Robin ..."
Saat itu juga Vernitysha tersadar bahwa ini jebakan yang telah di susun Octopus saat dia sedang lengah dan tidak sedang bersama Apolleon.
Octopus mendorong Vernitysha sehingga ia pun terjatuh dengan tangan yang menyentuh noda darah yang tergenang di lantai istana.
"Penyihir! Aku mendapatkan ilahi dari pohon dunia bahwa wanita ini bukanlah seorang Dewi---dia adalah penyihir yang bekerja sama dengan bangsa Iblis! Bumi telah dijadikannya sebagai altar kegelapan untuk membunuh kalian!"
Octopus berteriak---memicu kontroversi yang sangat luar biasa, karena manusia adalah mahluk yang mudah terprovokasi. Octopus mengambil pisau yang jatuh lalu menyayat telapak tangan Vernitysha membiarkan darahnya jatuh di atas luka Pangeran yang tengah merenggang nyawa.
"Lihatlah. Darah nya tidak bisa menyembuhkan luka pangeran. Dia telah menipu kita selama ini, dan bagaimana dia menyuburkan alam dan mengobati kalian itu karena dia meminta bantuan bangsa Demon untuk membodohi kita. Penyihir hitam yang akan membawa bencana besar bagi seluruh dunia!"
Tentu saja darahnya tidak akan bisa menyembuhkan Pangeran, itu karena dia telah kehilangan kekuatannya atas otoritasnya terhadap Yggdrasill. Inilah sebabnya pohon dunia melarang Robin keluar dari otoritasnya, karena sengaja ataupun tidak. Ia harus menerima hukuman langit terlebih ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
"Dasar penipu!"
"Laporkan pada Raja bahwa wanita ini adalah pembunuh dan seorang penyihir yang setia kepada bangsa Demon!"
Satu demi satu kebencian di tunjukkan kearahnya sebagai pelakunya. Tapi sungguh bukan Vernitysha yang menginginkan hal ini. Melihat kehancuran Vernitysha di depan mata, membuatnya tersenyum menyindir.
"Octopus," Vernitysha bergumam seraya menatap penuh dendam kepadanya.
Di saat semua sedang berisik menyalahkannya, Octopus justru terhempas jauh hingga menghantam dinding. Itu karena kehadiran seorang pria berjubah hitam datang menendang Octopus dengan sangat berani.
Sosok itu menutupi wujud Vernitysha menggunakan jubahnya, "Dewi maaf saya terlambat. Darkness World tiba-tiba saja menjadi kacau dan perang pun terjadi kembali."
"Aratemish ...,"
"Kita harus segera pergi Dewi, Yang Mulia Pangeran pasti mengkhawatirkan anda."
Aratemish adalah sosok Demon yang melakukan sumpah setia kepada Apolleon. Dan telah di beri kepercayaan menjadi penjaga untuk melindungi Vernitysha atas perintah sang Dewa Matahari.
"Lihatlah pemimpin Demon itu membantunya! Cepat bunuh wanita itu!" Octopus mencoba bangkit sembari menunjuk kearah mereka agar suksesi kematian segera terjadi kepada Robin.
Para manusia mencoba menangkap kedua mahluk tidak bersalah itu, dengan banyak tuduhan tak berasumsi kepadanya. Tapi Aratemish tidak perduli, dia mencoba melewati mereka dan membawa Vernitysha keluar dari sana.
"Aratemish! Kau dan semua keturunanmu adalah targetku juga. Jangan harap kau bisa lari!"
Sejak kejadian itu keadaan menjadi sangat kacau para manusia terus memburu dan mencari keberadaan Vernitysha. Raja yang murka memerintahkan untuk membunuh manusia yang berani membela Vernitysha dan akhirnya terjadi pembunuhan masal besar atas nama sang Robin.
Vernitysha yang bersembunyi di alam roh suci selama sebulan, menjadi sangat lemah serta terus di hantui rasa ketakutan, saat manusia bodoh itu terus melakukan pembunuhan atas unjuk rasa pemberontakan mereka kepada Vernitysha.
Pohon dunia pun perlahan menjadi layu, jika terus seperti ini Alabasta akan terjadi lebih cepat. Tidak bisa, Vernitysha harus segera melakukan pemutusan hubungannya dengan pohon dunia.
Dia melihat Putranya yang berusia 10 tahun tertidur dengan tenang di sebelahnya. Tanpa ingin berniat mengganggunya, Vernitusha pergi diam diam kehadapan pohon dunia.
Dia menyayat tangannya memberikan darahnya kepada pohon dunia sebagai bentuk pengorbanan terakhirnya agar pohon itu tetap bertahan sampai generasi Robin terlahir kembali. Ini juga demi menyelamatkan semua mahluk ia harus pergi. Vernitysha meraih permata yang ada di batang pohonnya, membuatkan sebuah kalung dengan setetes darahnya pada liontin kalung tersebut.
"Aiden, kau adalah Soul Of Life bagi keturunan Robin. Demi menjaga pohon dunia tetap hidup dan demi melindungi alam ini, pergilah bersama Selini Thea ke wilayah Warewolf di Darkness World. Lakukan lah hibernasi sampai generasiku terlahir untuk mencegah bencana sebagai Robin selanjutnya." Vernitysha menatap Rubah putih berekor sembilan dengan lambang bintang di kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan Pangeran, Dewi?"
__ADS_1
Vernitysha menahan tangisannya, ia merasa bersalah kepada Putra yang telah ia besarkan dalam kurungan di alam peri tanpa membiarkannya melihat dunia luar seperti halnya dulu. Padahal, hanya tinggal sebentar lagi Apolleon akan membawa mereka pergi menuju istana Apollo yang ia dirikan.
Atas izin pohon dunia, Apolleon menumbuhkan hutan Maple yang begitu luas di sisi istananya agar ia dapat bertahan lebih lama tanpa harus khawatir keluar dari alam roh suci.
"Ibu mau pergi kemana?"
Vernitysha melihat Putranya yang menghampirinya mungkin karena menyadari ia tidak ada di sebelahnya, saat tidur tadi. "Putraku Kendric. Maukah kau bermain menepati janji sampai ibu kembali?"
Sosok Kendric yang sudah terlihat datar tanpa ada ekspresi yang ia utarakan sebagai luapan perasaan, selalu menanggapi hal sekecil apapun dari keinginan ibunya.
"Kenapa ibu sering sekali mengajukan permainan seperti anak kecil seperti itu?"
"Memangnya kau saat ini bukan anak-anak? Kenapa sifat mu begitu beda dengan Ayah mu."
"Mungkin karena Ayah terlalu payah."
"Jika Ayahmu mendengarnya, dia bisa sedih loh." Vernitysha mencoba mengalihkan suasana saat di hadapan Putranya.
"Segera katakan saja, bagaimana peraturan permainannya."
"Sampai Ibu bilang selesai maka kau boleh melanggarnya. Kata kuncinya adalah melindungi yang terlemah."
Seakan Kendric telah memahami peraturan permainannya di apun dengan tenang menatap sang Ibu, "Manusia? Ibu ini aneh aku saja tidak pernah turun ataupun keluar dari sini, bagaimana caranya diriku menjaga mereka."
"Kendric, kau pasti akan segera keluar. Ibu tidak akan lagi melarang mu, tapi sebagai gantinya kau harus menepati janji untuk yang satu ini."
"Baiklah-baiklah, ibu tidak perlu seserius itu. Bukankah ibu akan selalu melihat mereka."
Vernitysha hanya dapat tersenyum sebagai tanggapannya terhadap Putra satu-satunya. Ia memeluk seakan meraup sebanyak mungkin kenangan yang tersisa bersama anak tersayangnya.
"Ibu keluar sebentar, jadilah anak baik dan jangan selalu bertengkar dengan Tyrsha. Kau mengerti?"
"Kenapa tidak ibu tinggalkan saja Tyrsha di bumi, dia itu merepotkan."
"Kendric ..., "
"Iya, iya. Kendric akan mendengarkan Ibu."
"Bagus, ini baru Putra Ibu. Nanti, Aratemish akan sering mengunjungimu. Kau harus menjaga sikapmu, oke." Kendric mengangguk sebagai tanggapan.
Sekarang masalahnya hanya dengan kekasihnya, Apolleon yang mungkin akan sangat dengan tegas menolak keputusannya. Dia harus segera bertindak sebelum pohon dunia benar-benar layu dan mati. Tapi sebelum itu, ia perlu bertemu dengan Selini Thea terlebih dahulu.
.... ...
.... ...
.... ...
"Selini Thea, kau adalah satu-satunya temanku di Imorrtal dan orang yang dapat ku percaya." Vernitysha terlihat setengah berlutut di hadapan temannya sembari menangis.
"Tysha, jangan seperti ini. Katakanlah dengan tenang, aku akan berusaha membantumu."
"Aku tidak akan bisa bertahan sebelum bencana Alabasta terjadi. Meski semua ini adalah jebakan Octopus, aku pun tidak bisa melawan karena mereka adalah bangsa manusia. Kau yang paling memahaminya, aku hanya ingin meminta bantuan mu untuk terakhir kalinya."
"Jangan katakan seperti itu, kau akan baik-baik saja. Kau adalah Robin bagi para mahluk hidup, kau bagaikan ibu untuk seluruh Dewa. Imorrtal tidak akan rela kehilanganmu."
"Aku tida bisa, sebelum masa depan menjadi lebih buruk. Akan lebih baik jika aku menyerahkan diri."
"Aku tidak bisa menerima ini. Apolleon juga pasti tidak akan setuju dengan keputusanmu, Tysha."
Vernitysha melepas kalung yang ia buat dari permata pohon dunia, lalu memberikannya kepada sahabatnya. "Aku yakin kau pasti sudah melihat masa depan dari ramalan purnama. Seperti yang sudah kau ketahui, masa depan telah berubah. Jadi kumohon dengarlah permohonan ku, berikan kalung ku kepada keturunanmu yang mewarisi gelar ku sebagai pengganti Robin selanjutnya."
"Vernitysha ..., "
"Katakan kepada anakmu kelak, bahwa bintang fajar akan segera bertemu dengan sang matahari. Hanya itu petunjuk dariku, Selini."
"Apa kau sedang melepaskan Mentari mu untuk di pasangkan dengan keturunan ku?"
Vernitysha mengangguk kecil, ia terlihat begitu sangat terluka. Dengan penuh perasaan bersalah, ia pun meraih tangan sahabatnya.
"Selini Thea, permintaan terakhirku yang lain adalah----selama eksekusi ku, jangan biarkan dia turun ke bumi dan melihat kematian ku. Karena aku tidak ingin Putraku menjadi sangat membenci kaum manusia atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku. Sungguh, aku ingin menunjukkan dunia yang baik untuk seluruh mahluk hidup."
"Baiklah, aku akan memenuhi janjiku ..."
...---, -🍁- ,---...
__ADS_1