
Gelap, kosong, hampa. pikiran Lucy berada di ujung benang kusut tanpa menemukan jawaban kenapa ia berada di tempat asing yang sangat membingungkan seperti ini. Seakan ia tersesat dalam kegelapan, ia melupakan keberadaan dan alasannya bertahan untuk seseorang yang tergambar buram di benaknya.
Lucy hanya berjalan lurus tanpa tujuan, tapi tidak ada sedikitpun titik terang untuk memberinya bantuan keluar dari tempat ini karena mau sampai kapanpun ia berjalan seluruh tempat ini hanya terlihat gelap---seakan ia di tinggalkan seorang diri.
Lucy pasrah ia sudah sangat lelah terjebak dalam kehampaan ini, sehingga ia pun jatuh berlutut dengan kedua matanya yang sayu. Jika seperti ini jiwanya akan benar-benar menghilang.
"Aku benci keheningan ini. Aku ingin keluar dari sini!" lucy menutup kedua telinganya, seakan ia berhalusinasi, seluruh pikiran nya terus tertuju pada kata kembali.
"Kau ingin keluar dari sini?"
Suara wanita asing menyeruak memenuhi seluruh dimensi. "Aku ingin kembali."
"Kemana?"
Lucy terdiam, benar, apa yang akan ia lakukan setelah keluar dari sini, Pulang? Tapi kemana.
"Aku, aku tidak tahu."
Lucy terlihat bingung, untuk saat ini saja ia tidak tahu siapa dirinya. Apa identitasnya dan alasan nya untuk keluar juga belum memiliki motif yang jelas. Tapi entah mengapa perasaan gelisah pada lubuk batin nya mendesaknya untuk keluar dari dimensi tersebut.
"Akan kah kau tahu siapa dirimu saat ini?"
Lucy perlahan mengangkat kepalanya menatap lurus sosok waita rupawan yang di kelilingi kelinci putih.
"Bagaimana caranya kau kembali jika kau melupakan dirimu sendiri?"
"Siapa kau?"
"Kalau kau siapa?"
Lucy berdelik kebingungan, kenapa wanita itu menanyakan nya? "Tentu saja aku---" Lucy tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Benar, sosok seperti apa yang harus ia perkenalkan kepada wanita di hadapan nya. Siapa dirinya pun masih belum di ketahui.
Wanita itu menghela nafas kemudian berjalan mendekati Lucy sehingga Lucy pun dapat melihat wajahnya. Rambut putih yang terlihat seperti permata perak dengan bola mata merah menghias wajah rupawan nya.
"Mungkin karena kau hanya sebuah jiwa yang tersesat di langit yang luas, kau sampai melupakan hal penting dari sosok mu."
"Apa maksudmu?"
Sosok di hadapan Lucy menunjukan sebuah cermin yang melayang, di sana ia terlihat shock dengan apa yang Lucy lihat. Bagaimana bisa rupa wajah mereka terlihat mirip? Jika saja wanita itu memiliki rambut hitam dan mata biru, mereka pasti seperti anak yang terlahir kembar.
"Siapa kau sebenarnya? Apa yang ingin kau lakukan terhadapku."
Sosok itu berdiri di belakang Lucy sembari mencengkram kuat kedua bahu Lucy, membuat mereka saling menatap dari pantulan cermin.
"Coba sentuh cermin itu dan apa yang ingin kau ketahui ada di sana."
Lucy menyentuh cermin tersebut, dan secara cepat cermin itu menunjukan reka kehidupan dalam waktu singkat sehingga kepala Lucy terasa sakit hingga seperti akan memecah belah pikiran nya. Lucy menarik kembali tangan nya, bergerak mundur menjauhi cermin tersebut. Dadanya sesak keringat kecemasan turun melewati pipi dan berakhir jatuh dari dagu mungilnya.
Apa yang ku lihat tadi? Semua itu------diriku?
Lucy kembali melihat sosok kembaran nya yang terlihat asik bermain dengan tiga ekor kelinci di dekatnya.
"Kau adalah----Aku?"
"Apa hanya itu yang kau tahu? Bagaimana dengan seseorang selain keluarga?"
Siapa? Meski ia masih mencerna apa yang ia lihat. Lucy masih tidak paham dengan maksud tujuan nya, bukankah sedari kecil ia selalu dekat dengan keluar. Ataukah harus ia menyebutkan nama Harlie? Tidak, itu buruk! Entah mengapa Lucy benci jika nama itu terucap dari mulutnya sendiri.
"Kau sungguh tidak mengingat nya?"
"Apa yang kau maksud adalah Harli----"
"Lucy ...," Panggilan yang merusuk sukma menarik perhatian Lucy untuk kembali menatap cermin tersebut.
Cermin itu kembali menunjukan klise adegan dari sosok pria tampan yang menghabiskan waktunya cukup lama bersama nya. Sosok yang selalu ia rindukan walau hanya mendengar nama nya saha.
Sosok yang paling mengganggu pikiran nya nya sejak tadi dengan rupa wajah yang buram terkenang. Seakan batinnya berteriak, Lucy menyentuh wajah pria bak matahari pada cermin tersebut, bahwa ia harus menemui nya. Pria yang mampu memberikan segala bentuk kasih sayang yang Lucy impikan dalam hubungan Mate.
Kedua mata Lucy yang sempat terlihat sayu perlahan terlihat cerah hingga memupuk air mata. Dia, sosok pria yang saat ini paling Lucy inginkan. Kenapa? Kenapa bisa ia sampai harus melupakan nya? Dan kenapa Lucy harus ada di sini?
"Tidak---buka matamu, lihat aku. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku Lucy."
Lucy menatap tidak percaya pada semua ingatan yang sempat ia lupakan. Akhir dari keputusan hidupnya adalah kematian yang sangat memilukan. Sampai akhir pun Kendric tidak sedikitpun melepaskan nya dan dengan perasaan bersalah Lucy meminta maaf sembari memandang Kendric yang terlihat hampir gila memeluk raga nya.
__ADS_1
Kedua tangan Lucy bergetar ketakutan. "Kendric, hiks, Maafkan aku...."
Lucy telah mengingat semua nya. Hari itu ia memutuskan untuk mengorbankan jiwanya sebagai seorang Robin. Jadi apakah dia benar-benar sudah mati? Apa mungkin tempat gelap ini adalah alam akhir kehidupan? Lucy memang dangat percaya diri mengemban takdir Robin tanpa berpikir----bagaimana caranya ia kembali menemuinya? Jikapun reinkarnasi ada, langit mana yang harus ia tuju untuk meminta dilahirkan kembali?
Tidak bisa! Ia harus kembali, Lucy harus menepati janjinya bahwa dia akan kembali dan menemui Kendric seperti janjinya. "Aku harus kembali."
"Kemana?"
"Aku harus pergi menemui Kendric-----"
"Ahaha, kau sangat lucu diriku. Kau tidak bisa kembali, bukankah kau telah mengorbankan dirimu sebagai Robin yang paling di cintai Yggdrasil?"
"----Aku. Apa sungguh tidak ada cara untuk kembali?"
"Bukan kah kau yang menginginkan nya? Bukankah kau menerima jiwa mu sebagai Robin? Lalu kenapa kau terlihat menyesalinya."
"Aku tidak pernah ingin mati dengan seperti ini. Tapi di lain sisi mengabaikan dunia hanya untuk hal egois, apalagi sampai membuatnya menggantikan ku, bukanlah cara yang terbaik juga."
"Lalu apa yang ingin kau inginkan? Apa yang akan kau lakukan jika benar-benar bisa kembali."
"Aku ingin menemui nya. Aku ingin mencarinya, bukan kah dia adalah Mate----"
"Omong kosong! Kau tidak pernah benar-benar mencintai nya, kau telah memilih raja yang salah. Bahkan karena kau memilih Harlie, takdir dari Jiwa Robin harus bangkit dan menekan ku agar tidak mendominasi tubuh bintang ini. Itu sebabnya kau tumbuh menjadi wanita lemah! Dan itu terus menyiksa ku karena perlakukan Mate yang salah!"
"Kau ingin kembali? Kembalilah jika kau mampu."
"Sudah kuduga, kau pasti mengetahui cara untuk keluar dari sini."
"Benar, aku mengetahuinya. Tapi tidak akan mungkin bagimu untuk bisa keluar dari sini. Kau maupun aku akan terus terjebak di sini."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Bukankah sudah jelas. Meski aku membantu mu melihat ingatan kehidupan mu, kau masih tidak mengingat nya."
"Katakan kepadaku dengan jelas, apa yang ingin kau sampaikan Vasellica."
"Aku pernah mengatakan nya, sebelum bencana Alabasta terjadi. Kau harus mengingat janji di masa kecil. Itu adalah petunjuknya, Tapi apa kau mengingat nya? Tidak bukan, semua telah terlambat kau memutuskan untuk mengakhiri hidup mu sebagai Robin dan kita terjebak dala rotasi alam yang tabu."
Janji? ah, Lucy ingat sosok nya selalu membahas ini berulang kali sebelum ia mengemban takdir nya sebagai Robin. Janji yang seperti apa yang di maksudnya? kepada siap ia melakukan nya? Lucy masih belum mengingat nya.
"-----Aku tidak bisa melakukan nya."
"Kenapa?"
"Karena pada intinya kau adalah jiwa yang paling utama. Kau yang harus mengambil keputusan, Robin ataupun Vasellica hanyalah mahkota yang membutuhkan satu wadah untuk dijadikan ratu di atas kepalanya."
Argh! ini membuat Lucy frustasi "Lalu apakah aku sungguh benar-benar telah mati?!"
"Kau tidak sepenuhnya mati. Jika saja tidak ada kristal mawar hitam milik peninggalan Nenek. Kau sudah di pastikan akan pergi ke alam terakhir mahluk hidup."
"Apa itu mawar yang di berikan ibu?"
"Itu adalah Kristal yang menyimpan yudeta kehidupan dan dapat menjadi kartu keberuntungan untuk menentang kematian di aturan langit. Tapi Kristalnya hanya bisa menjaga sisa dari jiwa, jika kau ingin kembali kau harus melakukan usahamu sendiri, tapi jika kau menyerah mawar nya akan menuntun mu menuju perbatasan akhirat."
"Jadi, intinya jika aku bisa mengingat janji masa kecil. Aku bisa kembali bukan?"
"------Benar."
Dia hanya perlu mengingat nya bukan? Lucy kembali melihat cermin berharap jika cermin itu menunjukan hal lain dari semua ingatan nya. Tapi sayangnya, cermin itu sudah tidak berfungsi karena dia telah melihatkan semua rekaman kehidupan nya. Jadi, haruskah ia mengandalkan otaknya sendiri?
"Okey, tenangkan dirimu. Fokuskan pikiran mu, tarik nafas, aku pasti bisa mengingatnya." Lucy menutup kedua matanya, ia berpikir dengan sangat keras. "---Mmm, Aa!! Aku sungguh tidak bisa mengingat apa pun!"
"Bukan kah aku sudah bilang. Kau tidak akan bisa mengingat nya,"
"Tidak, aku pasti akan mengingat nya tolong beri aku waktu untuk berpikir." Lucy bersikeras memikirkan jawaban atas ingatan tersebut.
Melihat Lucy yang terus memandang cermin membuat Vasellica tersebut mencengkram gaun putihnya dengan banyak emosional yang bercampur aduk.
"Cukup, semua sudah terlambat! Semakin lama kau berada di sini, maka semakin banyak juga waktu yang berlalu di luar sana."
"Tunggu, berapa lama aku ada di sini?"
"Sudah hampir dua jam, sejak pengorbanan mu."
__ADS_1
"Lalu, sudah berapa lama di dunia kehidupan?"
"---Sudah 100 tahun berlalu."
Lucy telah pergi selama itu? Meski ia hanya sementara di batas dua dunia akhirat, kalau begitu ia telah meninggalkan Kendric selama itu---Oh, tidak! ia harus cepat kembali. "Kendric...,"
"Menyerah lah, dia mungkin sudah melupakan mu. Dia mungkin sudah merelakan mu, meski kau kembali pun dia pasti akan----"
"Memang nya kenapa? Jika dia melupakan ku, maka aku tinggal membuatnya mengingat ku. Aku, yang memintanya untuk tidak menunggu. Karena aku yang akan mendatanginya."
"Ha! Kau begitu percaya diri. Tidak kah kau merasa, semua ini salah mu. Jika saja kau tidak melupakan nya. Jika saja kau tidak mengatakan bahwa Harlie adalah Mate mu. aku, bukan, kau pasti bisa mengabaikan sosok Robin tersebut dan saat ini semua kematian sia sia ini tidak akan terjadi! Kau terlalu mengemban takdir Robin dan mengabaikan sosok lain di dalam dirimu." Vasellica tersebut menangis seakan menumpahkan segala macam bentuk ungkapan terbenamnya selama ini.
Lucy tidak tahu, selain dirinya ada sosok lain di dalam dirinya juga yang terluka karena pilihan nya. Ia merasa bersalah, tapi tidak tahu harus melakukan apa. Seekor kelinci putih mendatangi Lucy, ia melompat lompat seakan ingin di gendong.
Maka Lucy pun mengangkatnya, dia memperhatikan lambang bulan sabit di kepala kelinci tersebut lalu mencerna hal yang sedikit mengganjal pada benaknya---Antara kelinci dan sosok Vasellica di hadapan nya.
"Cukup! Aku tidak mau merasakan di campakkan lagi! Kendric pasti telah berubah dan melupakan semuanya. Aku lebih rela menyerah dan pergi ke alam akhir, aku akan membuang segala bentuk penyesalan daripada harus merasakan kehilangan lagi."
Melihat sikap Vasellica yang terlihat seperti anak kecil yang tengah emosional. Membuat Lucy menyadari sesuatu hal apa yang aneh di antara mereka---Lucy tersenyum.
"Sekarang aku mengetahuinya, kau ataupun semua takdir yang mungkin masih belum bisa kau terima."
"Apa yang kau tahu, ha? Langit menentangnya dan semua sudah berakhir."
"Masih belum, dan langit berpihak di hubungan ini."
"Kau begitu angkuh, selama kau belum mengingatnya maka kau tidak akan bisa kembali."
"Benar, sampai detik ini aku tidak akan pernah bisa mengingat nya. Tidak akan pernah, meski aku mencoba sekuat tenaga karena jawaban itu ada pada dirimu."
Lucy mendekati sosok Vasellica tersebut kemudian memeluknya, menyampaikan kabar hangat bahwa sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
"Meski kau menolak ini semua, tapi Robin memang sudah menjadi takdirku ataupun dirimu, dan kenapa Yggdrasil menginginkan nya. Bukankah jika aku memilikimu akhir hidup ku tidak akan berakhir seperti Vernitysha?"
"Maksud mu?"
"Diriku, aku sungguh meminta maaf untuk semua beban yang kau pangkul atas keputusan ku. Aku tahu kau lah yang membantu ku menahan semua rasa sakit yang Harlie tunjukan, kau mencoba berkali-kali menyelamatkan ku. Tapi aku masih terlalu kecil untuk menyadari keberadaan mu, sehingga kau terus terbungkam di dalam diriku tanpa kusadari." Lucy mengusap air mata Vasellica tersebut.
"Hentikan omong kosong mu, kau tidak pernah menerima jiwa-----"
"Kini aku tidak akan mengabaikan mu lagi, aku juga tidak akan mementingkan pikiran egois ku. Seperti yang kau bilang, aku terlalu mengemban peran Robin yang memiliki simpatik tinggi terhadap mahluk hidup."
"Tapi kini aku sudah menyadarinya. Meski Robin dan Vasellica adalah takdir yang bertolak belakang, dan selama aku masih menjadi Robin sosok ku sebagai Vasellica juga akan ter tertawan dalam diri ku."
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Vasellica kau satu-satunya sosok dalam diriku yang belum bisa aku terima---karena terlalu banyak mengharapkan hubungan Mate aku mengabaikan mu dan tumbuh menjadi sangat bodoh."
"Aku akan kembali kepada nya, begitu juga dengan dirimu. Mari temui Vasilias kita. Karena kau dan aku adalah satu jiwa. Kita bukanlah dua orang yang berbeda, kau maupun aku---sama sama hidup sebagai Lucy Daiana Lordsarks. Hanya saja kau selalu membatasi interaksi mu dengan ku."
Sosok Vasellica itu terkejut bahwa Lucy dapat menebak semua hal yang terjadi selama ini. "Apa mungkin kau telah mengingat nya?"
"Belum. itu sebabnya aku membutuhkan bantuan mu, karena kau adalah separuh jiwa ku yang hilang, cermin itu memperlihatkan semua tapi hanya dirimu yang ingat bukan? Itu karena kau adalah ingatan dari masa kecil ku. Dan inilah sebabnya kenapa aku tidak bisa mengingat nya."
Lucy melepas pelukan nya dan menatap tersenyum, "Semua akan baik-baik saja. Kendric satu-satunya Vasilias untuk seorang Lucy, jadi kau tidak perlu takut di lupakan, Tuan Putri Lucy."
Sosok Vasellica itu seketika berubah menjadi Lucy kecil berusia 7 tahun. Lucy sudah tahu sikap amarah dan emosi yang suka berubah ubah darinya adalah cerminan dirinya sewaktu kecil. Lucy kecil menangis, entah mengapa ia merasa senang saat keberadaan nya di akui dan dapat di banggakan oleh dirinya sendiri tanpa takut akan terkurung ataupun terlupakan.
Tentu saja, bagaimana Lucy akan mengingat janji itu jika dia masih belum menerima sosok Vasellica nya. Apa dulu Ibunya seperti ini juga?
"Jadi, dapatkah kau membantuku?"
Lucy kecil itu mengusap air matanya kemudian menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin. "Em!!"
"Terimakasih, Tuan Putri."
Dan ruang hampa dan gelap tersebut hancur menjadi ribuan kelopak mawar hitam. Lucy menatap langit penuh bintang, berdiri diatas genangan air yang di hujani doa serta harapan untuk dirinya. Pasti selain Kendric ada begitu banyak orang yang sangat mengharapkan ia kembali.
"Jadi apa yang harus di lakukan?"
Lucy kecil menunjuk kearah belakang Lucy, lalu dia berteriak sembari berlari memanggil nama Molie. Saat Lucy mengikutinya ia menoleh kebelakang dan entah bagaimana saat ini ia sudah berada di tengah taman dengan suasana hangat. Matahari terik dan beberapa bunga yang mekar segar----Tunggu, bukankah ini pemandangan di istana lama nya sebelum ia pindah ke kediaman istana Estelle?
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...