
...--,'•🌷•',--...
...Cintaku begitu indah seperti setangkai mawar merah, sangking indahnya---Aku tidak tahu kapan durinya akan melukaiku....
...-,**•🌷•**,-...
.......
.......
...---...
"Baiklah, maafkan aku. Kalau begitu, aku pergi dulu."
Lucy tersenyum setelah Kendric mengelus wajahnya, kemudian dia pergi untuk menemui Robert. Dan tinggallah Lucy sendirian di dalam kereta kuda, yang begitu sunyi.
Perlahan Lucy melepaskan mantel hangatnya, dan meletakan dengan rapih disebelahnya, "Rasanya jadi sepi, ya ...."
Tokk, tokk.
"Salam Putri. Saya, Sylfia Monaccriya menghadap anda. Atas perintah Baginda, saya akan menggantikan beliau untuk menemani anda sore ini."
Seperti biasa Sylfia selalu terlihat berwibawa, dia hanya akan bicara saat perlunya saja dan benar-benar menjalankan tigasnya dengan sangat baik.
"Sylfia, untunglah kau datang dengan cepat. Aku sempat kesepian." Lucy tersenyum menyambut Sylfia.
"Sebaiknya kita segera pergi, udara dingin tidak baik untuk anda Putri."
"Kau benar---ah," Saat ingin mengenakan selendangnya. Angin datang menghempas cukup kuat, sehingga menerbangkan selendang milik Lucy.
Melihat angin membawa selendangnya menari di udara, kemudian jatuh ditengah jalan yang ramai----membuat Lucy diam. Kedatangan angin ini cukup aneh, bahkan terasa sangat tak alami.
"Saya akan mengambilkannya, mohon anda menunggu saya sebentar, Putri."
"Tidak perlu, selendangnya juga mungkin sudah terinjak. Kau tidak perlu mengotori tanganmu, Sylfia." Tapi Sylfia tidak mendengarkan Lucy, sehingga dia berjalan untuk mengambil selendang miliknya.
Lucy bersandar pada kursinya, mencoba membuat posisi ternyaman untuk merilekskan tubuhnya. Ia menghela nafas dan menutup sementara matanya, semenjak dia datang kesini Lucy jadi mulai terbiasa melupakan rasa sakitnya terhadap perilaku Harlie.
Meski harus ia akui, terkadang perasaan itu datang disaat ia termenung seorang diri. Itu sebabnya ia tidak mau ditinggal sendirian apalagi jika Kendric tidak ada.
"Kira-kira, kapan Kendric akan datang lagi ya?" Gumam Lucy tanpa sadar.
Apa anda kesepian, wahai Maharani ku ...
Tring!
Lucy membuka kedua matanya, saat ia mendengar suara lembut namun tegas--menusuk telinganya. Dan kini dihadapannya terdapat seekor kelinci putih dengan mata berwarna biru, di kepalanya ada lambang bulan sabit yang cukup menarik perhatian.
Sepertinya, hewan kecil ini buka roh suci biasa atau bisa dibilang dia bukan peri seperti Tyrsha.
"Kau siapa?"
Ini pertemuan pertama kita sejak kelahiran mu, aku sungguh menantikannya selama ini.
"Kau mengenalku?"
Tentu saja, bukankah kau yang menghidupkan ku dari jiwa murni mu.
Lucy memiringkan kepalanya sedikit, ia tidak terlalu paham dengan ucapan kelinci menggemaskan ini. "Kapan aku melakukannya?"
Tanpa di mantrai, Manna mu akan membentuk sinzü dengan sendirinya, sehingga aku pun tercipta.
"Aku ..., masih tidak mengerti."
Anda sungguh Tuan ku yang begitu malang, kelahiran mu begitu dinantikan oleh langit. Tapi seakan Alam menjadi serakah, anda pun harus melawati kehidupan yang tak adil.
"Kau sepertinya bukan mahluk kecil biasa, ya. Apa kau tahu sesuatu mengenai diriku?"
Tentu saja, anda Yang Mulia Maharani Serenity, Tuan yang harus ku layani sebagai Soul Of Life mu. Hanya saja, kehidupanmu tidak akan semudah seperti Maharani sebelumnya.
"Maharani?"
__ADS_1
Yang Mulia, kau dilahirkan untuk menjadi Vasellica di Negeri para Dewa. Akan tetapi, takdirmu sebagai Robin tak bisa terbantahkan. Mau tidak mau, sebagai kandidat Robin selanjutnya kau harus memberikan keseimbangan pada alam ini secara sempurna. Dengan kata lain, kau harus memberikan darah dan-----
"Putri saya telah kembali, maaf membuat anda menunggu lama."
Lucy menoleh, menatap Sylfia dengan raut cemberut. Habisnya, ia sangat penasaran dengan sosoknya sebagai Robin yang selalu di sapa hangat oleh seluruh roh suci.
Tapi harus tertunda karena kedatangan Sylfia yang tidak tepat. Anehnya lagi, baru sebentar Lucy mengalihkan pandangannya kelinci itu sudah tidak ada.
"Anda baik-baik saja, Putri?"
"Aku ..., aku baik-baik saja."
"Jika anda tidak enak badan, sebaiknya kembali saja Putri. Musim dingin telah tiba dan mungkin hari ini akan turun salju."
Lagi-lagi rasa ingin tahu kembai memburunya, semua yang dikatakan kelinci itu benar-benar membuat Lucy tidak nyaman. Sebenarnya siapa dirinya ini?
"Putri?"
"Kau benar, sebaiknya kita kembali saja."
"Baik Putri. Tolong kembali ke istana, Aster." Setelah Sylfia memberi perintah kepada kusir kereta kuda. Mereka pun kembali ke Istana.
...--.🍁.--...
"Robin, Vasilissa, Vasellica, Serenity---akhir-akhir ini terlalu banyak nama yang kudapat ya. Hm, apa dugaan ku saja? Sepertinya penulisan Vasilissa dan Vasellica hampir sama."
Lucy membaca baik-baik tulisan Arclanta dengan aksara buruk alanyasendiri, karena sejak dulu tak terlalu pintar dalam bahasa Arclanta jadi dia tidak tahu bagaimana menuliskannya ataupun artinya.
"Harusnya dulu aku tidak malas mempelajarinya saat ibu memaksa ku untuk mengerti tentang bahasa Arclanta. Sekarang aku malah menyesal. Karena tidak paham artinya sepertinya harapanku untuk tahu hanya lewat kelinci itu. Tyrsha dan Molie masih tidak mau mengatakan lebih detailnya." Lucy mengamati tulisan di buku yang ia tulis, rasanya ada perasaan deja vu dengan kalimat Vasilissa.
"Aku yakin, pernah mendengarnya----atau aku pernah membacanya? Apa ini efek kebanyakan membaca cerita, jadinya aku lupa kisah mana yang pernah kubaca," Lucy berusaha mengingat tentang kalimat Vasilissa. "Tidak tahu ah! Semakin dipikirkan malah bikin sakit kepala." Lucy mencoret tulisan nama itu pada sebuah buku yang ada diatas meja.
' ----Kau dilahirkan untuk menjadi Ratu di Negeri para Dewa ....'
"Para Dewa ya ..., Sepertinya aku tidak akan pernah mendapat anugrahnya. Bahkan harapan ku saja selalu diabaikan," Lucy terlihat murung.
Lucy jadikan bukunya diatas meja sebagai alas bantal keplanya. Sembari menatap malas langit malam yang tak begitu gulita ataupun terang, Lucy menatap rembulan yang terlihat indah persis seperti di sebelahnya. Entah mengapa hanya di sini Lucy dapat melihat bulan dengan begitu jelas dab cukup dekat.
Apa karena wilayah ini melayang? Tapi Jika dilihat dengan sangat serius, ternyata bulan juga kesepian. Tiap malam hanya dia yang menjadi penerang di gulitanya nabastala.
"Kau yang seperti inipun, sudah sama seperti bulan."
Lucy menoleh, melihat Kendric datang dengan cara tiba-tiba. Berdiri dengan sangat gagah di atas pagar balkon dengan jass bangsawan nya yang berkibar lepas akibat ulah angin, mengingatkan Lucy dengan selembar cerita dongeng yang mendeskripsikan kehadiran pangeran kepada Putri menara.
"Apa aku sungguh mirip rembulan?"
"Tentu saja, kau cantik seperti bulan malam ini." Mendengar itu Lucy terlihat sedikit kecewa, habisnya yang dia maksud adalah kesepian bulan bukan keindahannya. Tapi, biarlah dia juga cukup tersanjung dengan pengakuan Kendric.
"Apa urusanmu sudah selesai, Kendric?" Kendric turun, kemudian berjalan dan duduk di sebelah Lucy pada bangku taman di balkon kamar Lucy. "Maaf, aku terlalu lama meninggalkanmu."
"Jika itu urusan yang penting, kau tidak perlu minta maaf. Lagian kau pergi hanya beberapa jam yang lalu bukan ratusan tahun."
"Tapi tetap saja, aku bisa gila jika tidak melihatmu." Kalimat romansa yang terdengar secara terang-terangan membuat Lucy malu, padahal dia sering membaca kalimat itu di sebuah novel.
"Apa yang sedang kau tulis?" Lucy buru-buru menutup buku itu dengan sangat gelagapan, "Aku, aku hanya sedang menulis keingintahuanku saja."
"Apa yang ingin kau ketahui lagi?"
"Tidak ada kok," Lucy terlihat tidak bisa menyembunyikan kebohongannya. "Katakan saja."
"Itu ..., aku-aku hanya tidak menyangka jika para Dewa sungguh ada. Tyrsha bilang mereka memang ada sejak dulu kala."
"Apa selama ini kau tidak mempercayainya?"
"Bukan tidak mempercayai, tapi kaum seperti mereka begitu buram di Darkness World. Dunia kami, hanya percaya Dewa itu adalah To Fos tou Fengariou dan To iliako fos. Itupun mereka selalu berada dibawah naungan Lord dan Queen, Ayah dan Ibu juga tidak pernah membahas tentang mahluk seperti itu. Sehingga aku hanya beranggapan mereka adalah mahluk kuat tak nyata."
"Lalu bagaimana tanggapanmu mengenai mereka?"
Lucy diam pandangan menjadi kosong dan begitu menusuk dingin, berkali-kali kilas ingatan penderitaannya yang selalu merajam jiwa untuk berharap bahwa ia akan selalu baik-baik saja menjadi hancur dan tak berdaya. Hanya karena dia----dia yang selalu menjadi harapan Mate nya, Hingga mengharuskannya berharap pada Dewa agar mengabulkan permohonannya.
Tapi, dikala itu Dewa mengabaikannya! Dan yang terjadi Lucy terus saja terluka oleh perlakuan Harlie hanya karena harapannya kepada cinta tak masuk akal itu.
"Aku, aku membenci mereka. Terutama kepada Maharaja langit."
__ADS_1
D E G H!!
Kendric terbungkam dengan perasaan terkejut, kalimat singkat yang begitu menusuk selembung hatinya mengiris kepedihan atas status hak nya sebagai kaum yang di benci Lucy.
"Jika mereka sungguh ada, aku ingin bertemu dengan pemimpin mereka dan menanyakan semua ketidak adilan dalam hidupku ini. Jika memang benar Maharaja adalah peraturan langit yang paling mutlak dalam merajut takdir mahluk hidup, aku ingin dia menjawab semua penderitaan ku."
"Apa---apa yang ingin kau ta...nyakan?" ketakutan Kendric selama ini benar-benar terjadi, tidak mungkin mahluk kecil seperti Lucy tidak akan terluka hanya karena takdir buruknya yang disebabkan olehnya sendiri.
Lucy menundukkan kepalanya, dia mencengkram kuat gaunnya. Selama ini dia selalu menahan semuanya seorang diri, menangis menderita secara diam-diam tanpa diketahui semua orang bahwa dia terluka.
Sejak kecil, Lucy selalu berdoa dan berharap kepada para Dewa. Bahwa ia tidak akan menitihkan air mata walau hanya sehari. Menjadi Putri paling bahagia seperti yang di inginkan semua orang, Atau menjadi wanita yang di cintai Matenya dengan tulus.
"Jika Maharaja mampu merubah dan mengabulkan harapan, kenapa? Kenapa Maharaja mengabaikan ku, dan selalu menuntut penderitaan atas permainan takdir ini?"
"Tidak Lucy, Aku---maksudku, Maharaja itu tidak pernah mengabaikan mu atau ingin mempermainkan mu."
"Lalu kenapa Dewa tak datang menolongku padahal setiap saat aku selalu berdoa, bahwa dia juga bisa menyelamatkanku dari penderitaan ini atas semua permainan takdir seorang Mate. Aku tidak perlu terluka atau di khianati ...."
' Itu karena, aku tidak mungkin mengabulkan semua harapanmu untuk bisa bersamanya. Sedangkan aku adalah Matemu yang sesungguhnya, aku tidak akan bisa merelakanmu Lucy! '
Kini Kendric sadar, seakan dirinya baru saja memetik buah dari bala yang ia tanam sejak dulu. Kendric ingin sekali mengutuk dirinya sendiri, jika saja sejak dulu ia menghentikan Lucy yang berusia 15 tahun untuk bertemu dengan Harlie di sebuah pesta istana.
Mungkin Lucy tidak perlu seperti ini, menyimpan banyak dedikasi luka dengan berbagai macam bentuk dan alasan. Kendric hanya dapat mengamati Lucy dari jauh terus seperti itu hingga ia beranjak dewasa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dirinya bisa berbicara dengan bertatap muka di pesta pernikahan Aletha. Hari itu bukannya dia tidak ingin menjawab ataupun membalas sapaan Lucy, tapi ia terlalu terkejut karena Lucy mau mendatangi dan mengajaknya berbicara terlebih dahulu.
Semua salahnya, harusnya ia segera sadar bahwa Vasilissa adalah Mate yang lemah akan sebuah keberadaan. Karena ia juga lalai dalam menjaga cintanya, Lucy pun harus jatuh ke hati raja yang lain.
Itu baru satu Raja yang ia temui dan ia kenang, bagaimana jika keluarga Lucy mengizinkan Lucy ikut dalam kelas bangsawan diluar istana dan bertemu dengan seluruh raja dari berbagai kaum.
Tidak kah, seluruh Raja itu akan bertarung untuk memperebutkannya karena obsesi mereka terhadap kastanya yang berketurunan Vasilissa? Sial! memikirkannya saja sudah membuat Kendric kesal.
Ia hanya ingin Lucy melihatnya seorang dan menganggapnya sebagai Mate yang diakuinya. Tapi, Kendric tak ingin di benci Lucy sekarang bagaimana dia harus menjelaskannya?
"Kendric?"
" ......... " Kendric masih diam dan terkejut.
Sepertinya Lucy sudah kelewatan dalam berbicara, meski semua memang benar dari lubuk hatinya. Tapi itu perasaannya yang dulu karena sekarang semua sudah tak sama lagi.
"Maaf, aku harusnya tak berbicara seperti itu. Sekarang aku sudah tidak perduli mereka ada atau tidak ada, karena saat ini aku sudah memilikimu ...."
Kendric kembali dibuat terbungkam, saat Lucy merah tangan kanannya dan menempelkan diwajahnya yang begitu hangat.
"Rasa sakit itu terus berkurang setiap kau selalu bersamaku, seakan kehadiranmu tak asing untukku. Aku mulai mengenal arti dicintai dan merasa sangat bahagia, aku yakin kau tidak akan pernah membohongi perasaan ini seperti dia. Karena itu----Aku mencintaimu," Lucy tersenyum lembut seraya menggenggam tangan Kendric yang ada di wajahnya.
' Senyuman mu melukaiku Lucy, bagaimana jika tatapan lembut mu hari ini---suatu hari nanti akan memandang dingin kearah ku. Bagaimana Jika kalimat cintamu bisa saja berubah menjadi membenciku, aku tak sanggup memperkenalkan diriku secara jujur---Jika aku adalah Dewa Maharaja yang paling kau benci itu. '
Awan tebal menutup cahaya rembulan, membiarkan gulita menguasai angkasa. Ranting pohon yang menggugurkan dedaunan layu, terpaksa harus jatuh tanpa ada rumput yang menyapanya.
Seakan Kendric ingin menutupi perasaan penyesalannya, ia memeluk Lucy dengan erat.
"Lucy ...."
Kumohon,
"Aku juga mencintaimu."
Jangan hukum aku secepat ini ....
Diantara gelapnya malam, langit berawan tebal menepikkan setitik cahaya putih yang jatuh secara beramai dan begitu lembut. Butiran dari serpihan musim dingin itu jatuh dan mendarat di telapak tangan Lucy.
"Salju ...," Gumam Lucy.
Pertanda turunnya salju ditengah kedilemaan hati, memperingati mereka bahwa---Badai musim dingin yang sebenarnya AKAN SEGERA DIMULAI !!
...---,'o🍁o',---...
Terimakasih banyak atas dukungan kalian yang sudah berapa kali membuat Author kagum😭 Maaf jika Author telat Up, karena kehidupan real yang super duper sibuk karena jam kerja yang full🙏
Mohon ditunggu kelanjutannya, cerita ini tidak akan sampai hiatus kok hanya kurang tepat mengambil jadwal Up nya. Sekali lagi terimakasih atas pengertiannya
Salam Manis
__ADS_1
~Author
@AndreaNl🍁