
*Imorrtal
~Wilayah Apollo
"Apolleon, aku akan pergi menyerahkan diriku kepada Manusia."
"Vernitysha apa kau sudah tidak memikirkan ku? Lalu, bagaimana aku bisa menghadapi Kendric?"
"Kau tidak perlu mengatakannya, kau hanya perlu menjaganya."
"Vernitysha kau tidak bisa membodohi nya,"
"Ini keputusanku, kau harus sependapat dengan ku."
"Aku tidak setuju! Kau tidak akan pergi kemanapun, aku tidak akan menyerahkan mu kepada mereka!" Apolleon mencoba seberusaha mungkin menahan kepergian Kekasih tercintanya, sang Mate yang amat ia sayangi.
"Maaf, aku harus pergi ...." Vernitysha berjalan begitu saja, mengabaikan segala macam panggilan dari kekasihnya.
"Berhenti," Apolleon mengikuti setiap langkah Vernitysha. Ia tidak akan melepaskannya begitu saja. "Kumohon berhenti. Vernitysha aku bilang berhenti!" Apolleon menahan Vernitysha---ia menggenggam erat tangan kekasihnya, berharap ia mau mendengarkannya.
"Vernitysha, ini adalah rencana Octopus untuk menyingkirkan mu dari Imorrtal."
Lelah mendengar segala macam bentuk penolakan. Ia juga tidak mau mengambil cara ini, tapi apa dayanya---ia lebih memilih pergi daripada melihat kehancuran itu dengan kedua matanya. Itu adalah yang paling ia takuti jika Alabasta terjadi.
Vernitysha berbalik menghadap kekasihnya---sosok pria berambut emas dengan cirihas Dewa Matahari, mata merah bak sebuah permata ruby. Sosok Ayah yang terlihat seperti salinan dari wajah Putranya, Kendric.
"Aku harus pergi, jika aku tetap bersembunyi, Octopus akan melakukan hal bodoh untuk memusnahkan mahluk bumi. Aku tidak bisa membiarkannya."
"Yang Octopus inginkan adalah kematian mu, agar tujuannya tercapai. Jika kau mati lalu bagaimana dengan bencana Alabasta yang telah di legenda kan sebagai pesan alam."
"Tidak kah kau sadar, bahwa keberadaan ku ada untuk mematuhi alam tanpa memiliki ikatan dengan siapapun dalam menjalin hubungan?"
Vernitysha membelai surai rambut emas sang kekasih, "Apa bedanya dengan kematian ku saat Alabasta tiba? Apa kau lupa siapa aku."
"Aku tidak akan lupa, hanya saja aku akan mencari cara lain agar dirimu tetap hidup dan kita akan kembali pulang ke istana, tempatmu pulang bersama dengan Putra kita. Kendric yang paling membutuhkan mu, tolong pikirkan kembali."
"Hentikan. Kau harus menerimanya, mau bagaimana pun semua usahamu akan sia-sia, karena tugasku sebagai Robin adalah kematian untuk bisa menghentikan bencana Alabasta. Tapi saat ini semua telah tidak berguna, aku sudah kehilangan kekuatanku. Pohon dunia menjadi lemah dan Krhanos akan memanfaatkan hal ini."
"Kalau begitu bagaimana dengan masa depan?"
"Aku akan memberikan anugrah Robin kepada keturunan bulan. Setidaknya, kematian ku bisa mencegah pohonnya mati."
Apolleon mengacak-acak rambutnya sebagai bentuk tanda frustasinya. "Aku tidak bisa kehilangan mu, Tysha."
"Leon, mungkin ini pilihan yang tidak bisa kau terima. Tapi demi dunia ini, demi alam ini, dan demi masa depan Kendric mengertilah ...,"
"---Tidak, aku tidak akan menurutimu untuk yang satu ini." Apolleon menarik paksa Vernitysha kembali, mereka yang berada di tepian danau antara hutan Mapel dan hutan Pinus mencoba saling menarik pergi pada tujuan mereka masing-masing.
"Apolleon! Lepaskan aku."
"Tidak akan pernah---"
"AIDEN! "
Rubah putih menawan berlari cukup kencang dia yang telah menerima perintah dari Tuannya, menghampiri Apolleon dan mengekangnya dengan rantai perak. Sebuah kekangan yang di gunakan juga untuk menahan Krhanos. Vernitysha memilih untuk mencegah Matenya terseret kedalam masalahnya, ia tidak ingin kedua cahayanya hilang karena kesalahannya sehingga Vernitysha harus mengambil tindakan yang lebih keras.
"Maaf, tapi aku benar-benar harus pergi."
"Tidak---Aratemish cegah Vernitysha pergi!"
Orang terpercaya Apolleon dari babgsa malam tidak akan datang mendengar perintahnya. Semua karena Vernitysha membuat Aratemish melakukan kontrak darah kepada Kendric, sehingga ia tidak akan mendengarkan Apolleon saja.
"Aratemish tidak akan datang, dia hanya akan pergi jika Kendric yang menyuruhnya."
"VERNITYSHA!! Kau tidak harus selalu mendengarkan langit. Kau hanya perlu bersamaku, akan kupastikan alam baik-baik saja jadi kumohon-----kembali lah."
Vernitysha tetap memilih pergi, ia berjalan mundur sembari menggelengkan kepalanya. Dengan sangat berat hati, ia harus meninggalkan orang-orang tercintanya. Octopus memang bersalah, tapi Octopus juga punya banyak rencana untuk menyangkalnya. Mereka juga masih belum tahu hal apa yang sedang ia rencanakan.
"Maaf Apolleon ...,"
...--🍁--...
"Bunuh penyihir itu!!"
"Penyihir adalah ancaman untuk kita!!"
"Ikat yang kuat, lalu bakar wanita licik itu!"
Berulang kali, suara makian dari sekumpulan Manusia yang membawa berbagai senjata tajam serta obor. Menunjuk kasar kepada seseorang yang mereka sebut adalah penyihir.
Vernitysha benar-benar menyerahkan diri. Untuk mencegah mereka melakukan pembantaian besar, Vernitysha harus menuruti mereka--menunjukkan diri dan menerima kematiannya yang sangat tidak adil kepada kaum manusia.
Ia di perlakukan lebih buruk daripada seorang budak. Ia di lempari berbagai macam benda, hingga sosoknya berdiri lemah dalam ikatan tiang pada alun-alun kota. Tapi hal yang paling mulia darinya----tidak sedikitpun ada rasa kebencian yang ia tunjukkan kepada manusia yang memcoba menghakiminya secara tak wajar.
__ADS_1
"Segera bunuh wanita penyihir itu!! Pendosa harus dihukum."
"Dengan berpura-pura sebagai utusan Dewa, kau membohongi kami semua. Padahal kau ingin mempersembahkan kami sebagai tumbal kepada kaum Demon. Sungguh wanita licik!"
"Sudah jelas dia bukan Manusia tapi penyihir gelap yang membawa malapetaka, Tuan pendeta sebaiknya segera lenyap kan saja wanita pendosa ini!"
"BENAR! BUNUH DIA!!" Sorak semangat memenuhi pendengarannya. Kematiannya akan di saksikan oleh kaum yang ia lindungi dengan segenap nyawanya.
Para Dewa tidak sedikitpun ada yang membela, mereka yang masih merasa iri dengan keberadaan Robin mencoba memanfaatkan situasi ini sebagai batu loncatan yang sempurna dalam menyingkirkannya----itulah mengapa mereka disebut sebagai kaum sombong yang lupa akan dirinya!
Perlahan wanita itu membuka matanya setelah banyak mendengar makian dari sekumpulan manusia. Mata hitam yang terlihat seperti mutiara malam, menatap tajam hanya kepada satu orang di hadapannya. Sosok pendeta yang menjadi kambing hitam sebenarnya dalam masalah ini.
"Rencana mu sungguh sempurna, Occtäpelliūse."
"Kau hanya akan menggangguku."
"Suatu saat nanti, akan lahir keturunan Rembulan yang akan mewarisi gelar ku. Dia yang akan menghentikan semua kejahatan mu di peraturan dunia ini."
"Itu tidak akan pernah terjadi," Pria itu memandang dingin kearah wanita yang akan segera di hukum mati. "Karena ini hari terakhirmu, aku ucapkan selamat beristirahat Dewi Vernitysha----bukan, aku harus memberi salam dengan benar. Selamat tinggal sang Ratu Alam, Yang Mulia Robin."
Prajurit yang bertugas sebagai algojo menyiramnya dengan sangat kasar membasahi dirinya dengan minyak, lalu salah satu penduduk memanah wanita itu tepat di jantungnya. Sebuah busur panah dari senjata Titan Olimopus Magratccha! yang mampu membunuh seorang dewa dengan sangat fatal.
Alur yang sangat indah, kematian mu akan menjadi konflik pembuka untuk kehancuran dunia, Vernitysha ...
"BAKAR DIA!!"
Satu demi satu manusia melemparkan obor yang mereka bawa kearah wanita itu. Api membesar hingga melahap tubuh wanita itu, ini mengerikan dan sangat menyakitkan. Bahkan, meski tubuhnya tengah direnggut oleh kobaran api, wanita itu tidak sedikitpun berteriak atau memaki kaum manusia yang menghukumnya.
Hingga ledakan besar terjadi ditengah sorak-sorak kesenangan penduduk yang berhasil membunuh wanita cantik tak bersalah. Api yang tadinya meluap ruah kini tergantikan oleh kebulan asap tebal yang mampu menyelimuti seluruh tempat di sana.
Secara samar, terlihat sesosok pria tengah menangkub tubuh wanita tak berdaya itu, dan untungnya luka bakar tidak terlalu parah terukir di tubuhnya. Dalam setengah sadar menghadapi kematian, Vernitysha meraih wajah pria yang amat ia cintai.
"Terimakasih banyak, untuk kehidupan ini Apolleon." Vernitysha memberikan senyuman sebagai salam perpisahan kepada sang Mate.
Apolleon yang berhasil lepas dari kekangan rubah putih, menyesali keterlambatannya. Ia memeluk erat seakan mencengkram jiwanya yang telah tiada, kematiannya membawa luka yang begitu dalam untuk sang Matahari.
"Jangan pergi---jangan tinggalkan aku Tysha ..."
Seakan ia di landa api kemarahan, Apolleon murka ia tidak terima atas kematian yang Vernitysha alami. Dalam aura gelap yang begitu kuat hingga mampu menggentarkan daratan dengan dahsyat.
Mata Dewa itu menatap benci dengan napsu membunuh yang tinggi. Apolleon menurunkan berbagai macam balasan kepada mahluk Bumi yang merebut kehidupan Mate nya, ia menghancurkan ratusan rumah penduduk dengan angin topan.
Pada malam itu hujan lebat mengguyur dataran nya, petir-petir menjadi cambuk yang menghantam pemukiman. Istana kerajaan yang melindungi raja serakah harus tertelan bumi beserta isinya, saat gempa bumi mengguncang.
Seakan bulan menjadi buta atas kehancuran dan menjadi tuli saat para Manusia meminta pertolongan Dewi bulan yang menjadi temaramnya cahaya di waktu malam. langit gelap berubah menjadi merah sepekat darah. Kepergian Vernitysha membawa penyesalan teramat besar kepada kaum Manusia.
"Pendeta anda dimana? Kami telah membunuh penyihir jahat itu!"
"Tolong! Tolong! Ini sungguh menyakitkan."
Seakan mereka mendapat karma. Sosok hitam bermata permata darah, menghabisi mereka dengan sangat keji hingga ledakan serta kehancuran terjadi dimana-mana.
"Pendeta! "
"Ayah, ibu! Tolong aku!! "
"Tidak! Jangan bunuh kami---Argh!! "
"Lari selamatkan diri kalia---akh!"
"Ayah, hiks...., ibu! "
"Oh dewa tolong selamatkan kami."
Octopus sedikit gentir saat sang Raja Matahari menunjukkan taringnya. Dia menjadi buas hanya karena melihat Vernitysha, untungnya wanita itu sudah mati jadi setidaknya mereka tidak akan bisa bersama----Atau lenyapkan saja keduanya?
Apolleon yang melihat Octopus datang dengan kakinya sendiri kehadapannya, membuatnya semakin murka. Dia lah dalang yang harusnya di bunuh tapi dia justru terlihat begitu di pujai di mata Manusia.
"Kau juga ingin menyerahkan nyawamu?"
"Bukan aku yang akan mati disini, Apolleon. Akan sangat bagus jika raganya di persembahkan untuk kegelapan."
"Kepar*t!"
Seakan Apolleon paham bahwa Octopus berniat menghabisinya, dia pun tidak akan tinggal diam. Apolleon mencoba menyerang Octopus tetapi keduanya hampir seimbang, pertarungan yang menambah kehancuran bagi bumi tidak tertelakan.
Akan tetapi ada satu moment dimana Apolleon kehilangan fokusnya. Apolleon terkejut saat melihat sosok kecil dari cerminanya berdiri tidak jauh di belakang Octopus. Apolleon khawatir jika Octopus menyadari kehadiran Putranya yang entah sejak kapan sudah menyaksikan peristiwa gila hari ini.
Terlebih Kendric tertuju pada Ibunya yang tak lagi bernyawa. Karena penasaran dengan arah pandangan Apolleon, Octopus pun menoleh kebelakang. Namun belum sepenuhnya menoleh, Apolleon mencegahnya lebih dulu alhasil Octopus yang kelabakan dengan serangan cepat Apolleon----langsung menarik busur panah di tangannya hingga berhasil menusuk di jantung sang Matahari.
Artefak dewa yang telah memakan jiwa para Dewa hebat dalam satu malam, membuat Octopus berpikir ini adalah keberuntungannya meski terasa mengganjal dengan pergerakan Apolleon yang terkesan buru-buru.
Apolleon jatuh terduduk dengan sedikit berlutut----tengah menahan rasa sakit dari lukanya. Ia menatap seakan memberikan peringatan kepada Kendric agar tidak mendekat. Octopus pun menjadi sangat penasaran dengan tatapan Apolleon yang masih saja melihat kebelakang dirinya.
__ADS_1
Dengan instingnya Octopus kembali menoleh kebelakang mencari sesuatu yang di tatap Apolleon. Tetapi di sana tidak ada siapa pun selain pung-puing bangunan yang telah hancur, meski begitu ia memang merasa ada sesuatu yang bersembunyi dari balik dinding retak di belakangnya.
Octopus perlahan berjalan mendekati bongkahan dinding di hadapnnya---yang sebenarnya terdapat Selini Thea dan Aratemish. Sebelum Octopus menyadari keberadaan Kendric, dengan cepat Seleni Thea menutup mulut sang Pangeran dan bersembunyi di balik puing-puing.
"Dewi, saya akan mengalihkan perhatiannya. Tolong anda bawa pergi Pangeran kembali, keberadaan Pangeran tidak boleh di ketahui."
"Apa kau akan menghadapinya seorang diri? Bagaimana dengan Matemu, bukankah dia saat ini tengah mengandung? Akan lebih baik jika kau ikut bersamaku dan menjaga Pangeran."
"Saya adalah tangan kanan beliau, saya sudah sangat siap bila harus menyerahkan nyawa saya jika itu menyangkut keselamatan Tuan Apolleon. Dan bila saya tidak kembali dengan selamat, maukah anda menerima permintaan yang mungkin saja adalah beban untuk anda."
"Mengenai?"
"Saya harap anda mau melindungi keturunanku dan membantunya memimpin Darkness Wolrd dengan baik. Saya yakin, Octopus akan berulah kembali dan itu mengkhawatirkan ku."
"Kau tidak prlu khawatir. Luna dan Alext akan menjadi pelindung bagi penguasa Lord di Darkness Wolrd."
"Terimakasih, Dewi. Kalau begitu, setelah berhasil membuat jarak aman segeralah pergi dari sini bersama Pangeran."
Selini Thea dengan berat hati harus menyetujuinya. Aratemish segera keluar dari persembunyian----alih alih sebagai pemeran pengganti Kendric yang harusnya Octopus temui.
"Kau sungguh anjing yang penurut sekali. Tuan mu akan sangat bangga jika kau menyusulnya juga."
"Aku akan sangat tersanjung jika bisa mati untuknya karena pengakuanya, daripada menjadi pecundang yang bahkan tidak pernah ia lirik sedikitpun."
"Aratemish!"
Kedua pia berbeda bangsa itu bertatung habis-habisan. Di saat itu terjadi Selini Thea memanfaatkannya untuk melarikan diri, dengan sangat terpaksa ia harus membawa Kendric yang terlihat memberontak. Tapi demi memenuhi janjinya kepada sahabat-sahabatnya, Selini harus mengambil keputusan terberatnya.
...---🍁---...
Hari telah berlalu. Sebuah kabar datang kepada Selini Thea, bahwa Aratemish pun ikut gugur dalam peristiwa tersebut. Ia yang telah melihat ramalan masa depan hanya bisa pasrah dan membiarkan semua sesuai berjalan demi masa depan yang Vernitysha katakan.
Sejak melarikan diri, Selini Thea membawa Kendric ke wilayah Apollo. Sebuah pulau teraman yang dapat Kendric tinggali selain alam roh suci. Kendric menjadi sangat pendiam dan tidak acuh untuk menunjukkan tatapan dinginnya kepada Selini Thea.
"Baginda Pangeran, dengarkan ini. Anda akan tinggal disini, Pangeran harus bersembunyi tanpa di ketahui oleh mereka. Bukan karena aku ingin mengatur mu, kau punya hak mu sendiri tapi untuk saat ini biarkan aku yang mengambil alih tahta. Pangeran bisa menjadi Maharaja menggantikan posisi Ayah mu, setelah saya tiada."
Tanpa melihat Selini Thea, Kendric yang seakan telah menjadi dewasa dengan karakternya yang terbentuk dari peristiwa kematian orangtuanya, membuat Kendric menjadi sosok yang sangat di segani untuk di dekati.
"Aku tidak segila itu dengan tahta. Tapi, aku tidak sudi jika pria itu yang mengambil alih kuasa atas Imorrtal."
Selini Thea merasa prihatin dengan anak berumur sepuluh tahun tapi memiliki mental dewasa yang terlalu cepat. "Mengenai Darkness World dan Bumi-----"
"Tidak perlu kau bicarakan. Aku hanya bisa memberikan kristal emas abadi milik ibu kepadamu, selanjutnya terserah kau saja----bagaimana kau akan menggunakannya untuk melindungi Darkness World. Aku tidak suka berhutang janji kepada Ibu ataupun Aratemish."
"Baginda----"
"Aku akan mengurus diriku sendiri, jangan ganggu aku."
Sejak hari itu, Kendric benar-benar menutup diri. Tidak ada satupun yang dapat melihat pulau Apollo sehingga kabar mengenai peninggalan Dewa Matahari menjadi semakin samar, karena hanya ada rembulan yang mereka jumpai sebagai penguasanya Imorrtal.
.... ...
.... ...
.... ...
Tahun terus berganti, hari berlalu dengan sangat cepat. Banyak peristiwa besar yang terjadi disaat Kendric hanya menjadi mengamat di dalam kehidupan mahluk hidup. Setelah sekian lama, kiniia kembali menunjukkan sosoknya yang jauh lebih kuat dan berwibawa. Kendric mendatangi Selini Thea yang sedang membuat sesuatu.
"Kau dan Aletha memiliki kehidupan yang mirip." Kendric muncul pada tepian jendela behiru saja.
"Seperti?"
"Terlalu mencintai manusia. Apa yang ingin kalian harapkan? padahal mereka hanyalah pembawa masalah. Aletha saja harus mengasingkan dirinya hanya karena bocah itu? Sekarang kau seperti menjadi tahanan Imorrtal karena Mate mu. Lihatlah, kau saja tidak bisa bersama Putrimu sejak kelahirannya."
"Baginda, anda bicara seperti itu karena belum merasakannya. Kalau begitu adakah seseorang yang berarti untuk mu saat ini?"
"Tidak ada." Jawaban singkat Kendric membuat Selini Thea paham bahwa itu karena peristiwa masa lalunya.
Selini Thea tersenyum, "Bagaimana jika anda menggantikanku memberikan rajutan boneka ini kepada cucu perempuan ku? Sekalian kau lihat dia, kau tahu saat ini dia sudah berusia 7 tahun loh, dia sangat menggemaskan---mirip seperti Lezzy."
"Sudah berapa kali kau membicarakan cucu perempuanmu kepadaku---Ah, mungkin sejak ia lahir."
"Ayolah, aku tidak bisa menemuinya karena keadaan ku saat ini. Kau cukup mengantarnya saja, Bagaimana?"
Kendric mengehela nafasnya---lelah dengan semua permohonan dari wanita tua ini. "Baiklah-baiklah, hanya mengantarnya saja kan?"
"Ouh, mumpung kau sedang berbaik hati, tolong kau jaga juga cucuku ya ..., dia akan menjadi bintang fajar saat dewasa nanti."
"Berhenti memohon, dan juga jangan menitipkan hal merepotkan seperti itu. Aku bukan seorang pengawal."
Selini Thea tertawa kecil, "Anda pasti akan menyukainya jika melihat betapa menggemaskannya cucuku itu."
"Tch! Kau dan dia sama saja. Terlalu banyak permohonan yang membuatku pusing." Kendric merebut boneka tersebut lalu pergi begitu saja setelah mengomel. Sedangkan Selini Thea terlihat senang.
__ADS_1
"Aku sudah menepati janjiku, Vernitysha ..."
...---, -🍁- ,---...