
...---...
Meski Kendric sudah mengeluarkan aura membunuh, tapi Sofia tak menyadari bahaya apapun dari pria yang baru ia lihat hari ini. Sofia hanya diam sembari mengamati apa yang ingin di lakukan Kendric. Tangan Kendric terus mendekati leher kecil itu, bersiap untuk membunuhnya.
"Paman tampan, kenapa anda bisa ada di kamar Uni Lucy? Apa paman teman Uni? Atau teman Papa?"
Sapaan lembut itu menghentikan aksi bodoh Kendric yang ingin menghabisi Sofia, yang ia kira adalah mata-mata musuh. Kendric melihat sekilas mata Demon yang begitu indah itu dari bocah cantik di hadapannya.
Dan dia pun sadar bahwa gadis kecil ini bukanlah musuh melainkan putri Aletha dan Mate nya. Bisa ia rasakan sihir besar dari dalam diri gadis itu begitu mirip dengan mereka. Lagipula ini pertama kalinya dia melihat Putri Aletha, tapi tidak kah dia terlihat mirip dengan seseorang?
"Aku teman Ibumu dan juga kekasih Uni Lucy mu." Tangan Kendric yang hendak meraih leher Sofia, kini beralih menjadi mengelus sayang kepala Putri Aletha itu.
Tekanan udara akibat aura membunuh Kendric perlahan menghilang, dan berubah menjadi sangat hangat bahkan Sofia begitu menyukai usapan itu. Rasanya pria ini adalah duplikat matahari pagi yang begitu Sofia sukai.
"Paman adalah kekasih Uni?"
"Bisa di bilang aku dan Uni mu...memiliki hubungan seperti Ayah dan Ibumu."
"Oh! apa Paman tampan adalah kekasih rahasia Uni?"
"Kekasih rahasia?"
"Uni selalu menyulam sebuah sapu tangan, dan beberapa pelayan bilang Uni punya orang yang dia sayangi. Apa mungkin itu paman?"
Kendric tersenyum sinis, mungkin kekasih rahasia yang dimaksud Lucy saat itu adalah Harlie. Meski ia enggan mengatakannya tapi akan lebih baik jika dia punya sekutu di kerajaan demon ini.
"Tentu saja, itu adalah aku. Apa kau tahu dimana Uni mu menyimpan sapu tangan itu?"
"Tidak ada. Saputangan cantik itu sudah tidak ada, karena Uni sudah merusaknya. Aku tidak tahu kenapa Uni melakukannya tapi akan sangat sayang jika di rusak. Padahal Aku ingin punya satu." Sofia terlihat sedih, tapi Kendric justru merasa senang. Karena semua yang berhubungan dengan ikan itu sudah tidak ada lagi.
"Kemarilah," Kendric menyuruh Sofia untuk naik keatas kasur dan duduk di sebelahnya. Sofia pun menurutinya, ia memanjat kasur tinggi itu dengan sedikit kesusahan sebelum akhirnya Kendric membantunya untuk naik dengan aman.
"Katakan, siapa namamu?"
"Sofia, Sofia Arthecyna Lorddarks."
"Sofia? Nama yang cukup familiar. Baiklah kalau begitu aku akan memanggilmu Little Winkly saja."
"Bukankah Sofia sudah memberitahu nama asli Sofia, kenapa Paman pnggil Little Winkly?"
"Karena itu sebutan yang sangat cocok untuk menjadi pengganti Aletha sebagai Arthena."
"Ar.., Arthe---apa?"
"Bukan apa-apa, kau masih terlalu kecil untuk tahu." Kendric mencubit pipi tembem Sofia. "Paman tampan, dimana Uni Lucy?"
Kendric merubah posisi menjadi miring dengan tangan menyanggah kepalanya, "Harusnya aku yang bertanya, dimana Uni mu saat ini?" Sofia nampak berpikir dengan jari mungilnya mengetuk keningnya dengan sangat lucu, seolah ia sedang berpikir dengan keras.
"Ah! Apa Uni bertemu dengan Queen karollin? Nenek juga belum datang."
"Queen Karollin?"
"Dia adalah Ratu lautan dari wilayah Neptuna, tadi Sofia sempat bertemu dengannya dan bilang ingin bertemu dengan Uni."
Kendric seketika langsung bangun dan terduduk sembari berpikir. Kenapa bangsa merepotkan itu datang kekaisaran? Tapi jika dia menerawang dan melihat keadaan di kediaman Estelle, memang tidak bisa ia rasakan keberadaan Lucy sedikitpun.
Apa Ratu itu berusaha membujuk Lucy untuk bertemu dengan Harlie, kepar*t! Jangan sampai Lucy bersimpati dengan kondisi Harlie saat ini. Apa sebaiknya dia bunuh saja Raja ikan itu sekarang?
__ADS_1
"Little Winkly, apa kau menyukai paman bersama dengan Uni mu?"
"Kenapa paman bicara seperti itu? Tentu saja Sofia suka, paman juga sangat tampan dan begitu hangat seperti Papa."
"Dengar, saat ini ada monster yang berusaha memisahkan paman dengan Uni mu."
"Apa?! Jadi ucapan Kakek mengenai monster emas itu benar?"
"Monster emas?"
"benar, Kakek bilang monster itu sedang berkeliaran di istana."
Sial! Apa Fedrick mencuri start duluan agar Kendric tidak dapat dekat dengan Sofia, bisa-bisanya dia merubah sosoknya menjadi seorang monster! Tapi kapan lagi dia bisa menggunakan Sofia sebagai perisai, jika saja kedua demon itu masih bertolak belakang mengenai hubungannya.
"Benar, monster itu mencoba mengambil Uni mu dari Paman. Kau tahu? Paman akan sangat sedih jika tak bisa bertemu dengan Uni Lucy lagi, apa Sofia tega melihat Paman berjauhan dengan Uni mu?"
Meski Sofia tidak terlalu mengerti alur pembicaraan Kendric, tapi yang menjadi garis besar adalah saat ini Monster menyeramkan itu mencoba menculik Uni Lucy nya dan membuat paman tampan di hadapannya ini sedih. Tidak bisa, Ibunya pernah bilang yang namanya monster adalah kejahatan dan itu harus di hentikan!
"Aaaa !!" Sofia berteriak histeris, dia tidak mau hal itu terjadi.
"Jadi bagaimana menurutmu?"
"Tidak boleh! Sofia tidak mau hal itu terjadi! Tidak ada yang boleh memisahkan Uni Lucy dari Paman tampan. Paman, kita harus segera menyelamatkan Uni."
Kendric tersenyum. Seperti menjadikan Sofia sebagai sekutunya telah berhasil. Sekarang tinggal membuat pertunjukan menghebohkan di hadapan Ratu lautan itu.
"Tentu saja, kau mau bantu paman bukan?" Sofia mengangguk dengan sangat semangat. "Kalau begitu, mari kita selamatkan Tuan Putri yang sedang terjebak di menara samudra. Sebelum, para Monster ikan itu menawannya lebih lama."
"Paman tampan tenang saja, Sofia akan melindungi paman jika Monster itu menyerang!"
Kendric tertawa melihat kepolosan putri dari seorang Dewi perang. Oh, apa sebaiknya Sofia dia jadikan kandidat penerus Dewi Timorias saja? Toh posisi Tahlia masih kosong, atau posisi Aletha sebagai Dewi Polemou saja?
"Tapi sebelum itu, aku perlu beberapa mawar."
"Tentu saja, seorang pangeran tidak boleh membawa tangan kosong saat menyelamatkan seorang Putri."
"Ha?"
...--.o🍁o.--...
*Kediaman keluarga.
~Castle utama Lucifer Kingdom.
Pagi tadi saat ia terbangun, Lucy sempat terkejut melihat Kendric tertidur disebelahnya. Awalnya dia ingin marah karena Kendric tidak menempati janjinya dan bersikeras memasuki kamarnya. Tapi ia jadi tidak tega memarahi ataupun membangunkannya, saat kedua matanya yang selalu menatap dingin menjadi lemah dan tertutup dengan sangat sayu.
Apalagi, sinar matahari yang masuk dari celah jendela menyinari wajah tampannya. Membuat bulu mata emas lentiknya terlihat sangat menawan. Bahkan saat tidurpun dia masih bisa begitu mempesona. Oh, apakah ia sangat beruntung memiliki Mate sesempurna dirinya?
Tapi pemandangan itu tak berlangsung lama, saat suara Auriel dari balik pintu memintanya untuk segera bertemu dengan Ibundanya. Karena tidak enak membangunkan Kendric ia pun membiarkan kekasihnya tetap tertidur lelap, dan mempersiapkan dirinya dengan hati-hati takut kalau aja ia tak sengaja membangunkannya.
Dan sekarang berakhirlah Licy di ruang tamu kerajaan, dengan duduk diantara Lezzy serta Aletha. Tapi Lucy tak menyangka tamunya kali ini adalah Ratu dari wilayah yang sedang Lucy hindari, peristiwa pesta itu sudah cukup membuatnya trauma tapi kenapa sang Queen Karollin ingin bertemu dengannya?
"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf sebesarnya atas perlakuan tidak sopan putra saya, Putri."
Lucy menjadi kaku dengan situasi saat ini. Tapi dia adalah Putri yang berbudi luhur sehingga ia pun harus bijak menanggapi peristiwa itu.
"Tegakan kembali tubuh anda Ratu. Anda adalah Ratu penguasa bangsa Merrmaid tidak baik jika harus membungkuk dengan sangat rendah seperti itu kepada saya, mengenai apa yang terjadi pada pesta itu--saya juga telah melupakannya." Lucy mengalihkan pandangannya, walau enggan tapi timbul perasaan bersalah.
Pasti bangsa Merrmaid juga mendapat tekanan kuat dari pihak kekaisaran. Apalagi Kakaknya begitu membenci King Harlie.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa ..., apa anda sudah bisa memaafkan tindakan King Harlie?"
"Queen Karollin!" Aletha meninggikan suaranya, bagaimana bisa wanita ini begitu tidak tahu malunya mengatakan hal itu. Tidak tahukah bahwa Lucy banyak menderita karena sikap Putra bodohnya itu?!
Bisa-bisanya dia mengucapkan kalimat itu dengan mudah, seakan kesalahan Harlie hanyalah hal sepele yang dapat di selesaikan dengan kalimat permintaan maaf saja.
"Saya tahu, tapi sungguh. Saat ini keadaan King Harlie sedang tidak baik-baik saja, selepas acara itu dia semakin bertingkah aneh bahkan sesekali melukai dirinya."
"King Harlie, melukai dirinya? Memangnya apa yang terjadi padanya Yang Mulia Queen?"
"Saya tidak tahu, tapi sepertinya hal ini ada kaitannya dengan--dengan sikap anda yang memilih memutuskan hubungan dengan Putra saya. King menja----"
"Sungguh lancang! Hari itu putramu sendiri yang memutuskan hubungan mate, bagaimana bisa anda menyalahkan Putri Lucy dalam hal ini?!"
"Saya mohon ampun, Queen Althenia. Saya tidak bermaksud menyalahkan Putri, tapi ..., apa yang saya katakan adalah kebenarannya. Setelah Putri pergi meninggalkan istana, dua hari setelahnya King Harlie menjadi aneh hingga menjerit kesakitan pada kepala dan juga jantungnya. Putri bukankah pasangan Mate tidak boleh membiarkan pasangannya tersakiti?"
"Mate? Sayangnya saya sudah bukan Mate nya lagi."
"Tidak, Putri, setiap mahluk hanya mempunyai satu pasangan. Jika anda ikut menolaknya, apakah anda akan menemukan pria yang cocok untuk anda? Meski pernikahan politik sekalipun, apa anda juga akan bahagia bersama pria yang bukan Mate anda? Putri saya mohon jangan sakiti diri anda lagi dan menyeret King Harlie dalam kondisi buruk. Anda hanya perlu kembali dan memperbaiki hubungan ini."
Aletha kesal, bahkan sangking marahnya ingin rasanya dia menarik pedang Wisteria nya dan menebas kepala wanita tak tahu malu ini! Tapi, dia harus menahan amarahnya saat Lucy masih menggenggam tangan Aletha--memberi isyarat untuk menahan amarahnya.
Karena Lucy tidak mau keadaan ini menjadi lebih buruk jika Ratu Karollin sampai harus mati. Lucy menghela napas lalu kembali melihat Queen Karollin.
"Kalau begitu, apa yang anda inginkan dari saya?"
Karollin mencoba meraih tangan Lucy, "Saya mohon, ikutlah bersama saya untuk bertemu dengan King Ha---"
"Tidak anda tidak boleh masuk tanpa seizin Queen Althenia. Hei! Apa yang anda laku----"
BRAK !!
Tiba-tiba kerusuhan diluar ruangan mengalihkan perhatian ke-4 wanita bangsawan yang masih membicarakan hal serius. Lalu, pintu masuk itu terbuka dengan kasar saat seorang pria menendangnya hingga membuat kerusakan pada engsel pintu.
Mereka yang berada di dalam dan di luar ruangan terkejut hingga terdiam melihat aksi nekat pria tampan itu. Dan seketika Lucy membulatkan matanya, saat melihat Pria yang menjadi dalang dari kerusuhan ini adalah orang yang saat ini banyak membuatnya tersenyum.
Benar, sosok tampan dengan rambut emasnya yang begitu mencolok. Belum lagi dia datang dengan sebuket bunga mawar merah yang sebagian kelopaknya harus terjatuh akibat sikapnya yang begitu gila. Mata merah bagaikan permata itu menjerat pelayan wanita dalam keterpesonaannya.
Seakan dia adalah pahatan mahakarya tuhan yang begitu sempurna sehingga begitu indah untuk di pandangi oleh kaum hawa. Kendric berjalan dengan sangat gagah kearah Lucy lalu menarik tangan Lucy membuatnya terbangun dan tertarik kedalam rangkulannya.
Sehingga tangan Queen Karollin menjadi hampa saat mencoba memegang tangan sang Putri bintang fajar. Aletha di buat shock dengan sikap Maharaja nya yang terlihat gila bahkan tidak pernah ia lihat.
"Bagaimana bisa kau membiarkan aku terbangun sendirian di kamar, setelah kita melewati malam panjang yang sangat indah. Apa kau akan kabur begitu saja setelah melakukan sesuatu dengan ku, dan melepas tanggung jawab mu sebagai kekasihku?"
"Uhuk!" Lezzy yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, kini menjadi shock berat mendengar ucapan Kendric yang terdengar sangat vulgar?
Lucy sepuluh--tidak! seribu kali lipat lebih shock dengan ucapan Kendric yang terdengar ngelantur. Malam apa? Emangnya dia melakukan apa semalam?! Bahkan Lucy saja tidak tahu kapan kendric menyelinap masuk ke kamarnya! Oh tidak, padahal tidak ada yang terjadi semalam diantara mereka, tapi entah mengapa ia jadi malu sendiri mendengar ucapannya.
Apalagi banyak pelayan dan pengawal yang mendengar ucapan Kendric. Mati sudah dirinya, jika Kakaknya atau Ayahnya mendengar hal ini! "Ken-Kendric apa yang kau katakan? Jangan membuat lelucon---"
"Apa itu benar, Lucy?"
Lucy merinding saat mendengar suara familiar milik seorang pria yang begitu dekat dengannya sejak lahir. Lucy pun menatap sosok itu dari balik tubuh Kendric yang memeluknya. "A-ayah ...."
Tidak hanya Fedrick tapi Welliam pun ikut berdiri di ambang pintu yang sudah setengah hancur. Karena mereka merasakan tekanan sihir kuat milik Kendric, dengan sigap mereka melakukan sihir teleportasi menuju sumber kegaduhan. tapi setelah sampai mereka justru mendengar hal yang membuat jiwa Ayah dan Kakak itu membara.
Kendric melirik mereka lalu menunjukan senyum kepuasan, mencoba menggoda kedua demon yang tengah menahan amarahnya itu. "Tentu saja benar, bukan begitu sayang?" Lucy memelototi Kendric dengan ucapannya yang bikin tambah salah paham. Bagaimana bisa dia memberikan bingkisan batu nisan kepadanya?
"Kendric, beraninya kau menodai putriku !!!"
__ADS_1
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun lamanya. Suara Lord Fedrick kembali terdengar dengan sangat lantang hingga mampu meretakkan jendela kaca Kerajaan.
...--.• o🍁o •.--...