The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Reaching for the Lost Sun


__ADS_3

*Bumi


~Osaka, distrik Wisteria.


Hal pertama yang harus Kendric kunjungi adalah Bumi, ia kembali lagi ketempat dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Lucy di bumi. Sebulan sekali ia akan melakukan kegiatan ini secara berulang dan tidak akan pernah membuatnya bosan.


Kendric berdiri menatap kolam yang terdapat tumpukan koin di dalam nya. Kendric mengambil satu koin yang sudah pasti dapat ia kenali bahwa itu koin Lucy dulu, dari banyaknya koin yang usang hanya koin miliknya yang masih tetap utuh. Sebenarnya sebulan sekali kebersihan kuil akan mengambil koin tersebut sebagai koin amal tapi Kendric melarangnya untuk mengambil semua tumpukan itu, dan sebagai gantinya ia melakukan dana bantuan kepada pihak kuil.


Koin ini memang tidak akan bisa membeli sesuatu yang berharga---10 sen yang terlihat usang dan sudah berlalu cukup lama, siapa yang akan mau mencurinya? Tapi bagi Kendric 10 sen ini jauh lebih berarti dari permata apapun.


"Anda datang lagi rupanya." Seorang pendeta kuil yang sudah terlihat tua, mungkin berusia 80 tahun. Datang menghampiri Kendric setelah menyambut beberapa anak-anak yang berkunjung.


"Meski ini pertama kalinya saya berbicara dengan anda, tapi ini bukanlah hal pertama kali saya melihat anda datang ketempat ini."


"Semua orang pun pernah datang lebih dari sekali." Ujar Kendric tanpa mengalihkan pandangan nya kearah kolam koin tersebut.


"Begitu kah, ah--saya terlalu tua untuk menyadari pengunjung lain." Sambutnya dengan senyuman, "Tapi, dari banyaknya pengunjung yang datang, anda memiliki aura yang sangat bersinar. Seakan anda berasal dari dunia lain."


Kata-kata polos yang ter tutur dalam pembicaraan nya menarik perhatian Kendric. "----kau berbicara seakan mengetahui semesta."


Pendeta tua itu duduk di tepian kolam Koin dengan senyum ramahnya, seakan tidak takut dengan siapa sosok yang ia hadapi ini. "Saya hanya seorang pendeta tua yang pernah melihat keajaiban dari seorang Dewi."


"Dewi?"


"Ah, itu sudah sangat lama. Saat itu saya masih menjadi pendeta kuil biasa di dekat distrik Wisteria--yang melakukan perjalanan hari kesucian pada malam Festival Kurama no Hi-Matsuri. Saat itu harusnya saya pergi ke gunung Kurama, tapi sebuah hal di luar nalar terjadi---Apa anda bisa menebak?"


"------Tidak. Aku tidak tertarik."


"Tuan sungguh sangat baik, Kalau begitu aku akan menceritakan nya."


"Hei----" Kendric bingung, padahal dia sudah bersikap dingin. Tapi pria tua tersebut malah mengabaikan nya, lihatlah senyum ramah nya. "Haa..., terserah dirimu."


"Hahaha ..., em, biar saya ingat-ingat dulu---Aa~Saya sudah ingat, usia saya sudah cukup tua harap maklumi." Kendric berjalan dan duduk di sebelah pria tersebut sembari mengabaikan nya dan menatap keramaian pengunjung.


"Hari itu, saya sangat ingat, semua orang tiba tiba saja berubah menjadi batu dan mengerikan nya para mahluk besar muncul di tengah kota dan memakan jiwa jiwa manusia. Jika para ilmuan melihatnya mereka pasti akan mengatakan bumi kedatangan alien---tapi aku percaya mereka adalah roh jahat Ayakasi."

__ADS_1


Kendric terkejut mendengarnya, Jika di Imorrtal ataupun Darkness World sudah 100 tahun maka bumi pasti kejadian 10 tahun lalu. Ah, kalau di ingat perbedaan waktu bumi dengan dunia mereka sangat berbeda jauh. Lagipula selama ini, Kendric lebih banyak menghabiskan waktu di wilayah Selena Lighty daripada pergi menelusuri dunia.


Bahkan untuk ke Darkness World saja bisa terbilang jarang bahkan sampai dapat di hitung dengan jari---berapa kali ia menampakkan diri di hadapan keluarga Demon itu dalam 100 tahun ini.


"Pada malam tersebut, seorang Dewi datang dengan sangat menawan. Ia melawan para Ayakasi, dengan seekor Rubah besar berwarna putih tanpa ada rasa takut, tapi itu tidak berlangsung lama. Saat Dewi itu pergi menuju wilayah kuil di belakang kediaman pemilik distrik Wisteria, saya kehilangan jejaknya. Untuk pertama kalinya bagi saya melihat seorang Dewi yang menjaga dunia ini dari roh jahat."


"Apa anda tahu, tidak lama setelah itu keajaiban yang saya lihat begitu sangat luar biasa. Dunia kembali baik-baik saja dan para Ayakashi hilang, alam menjadi pelita di tengah gelapnya malam, psra rasi bintang membentuk sekumpulan ikan yang begitu indah di langit. Saya benar-benar ingin bertemu dengan nya untuk mengucapkan terimakasih."


Kendric tahu siapa Dewi yang di sebutnya, pasti dia adalah Lucy yang waktu itu mencoba pergi ke Imorrtal. "Apa kau tidak salah lihat? Bukankah ceritamu adalah hal konyol karena faktor usia?"


Pria tua tersebut tertawa lagi "Aku sudah banyak ditertawakan dengan cerita itu, tapi aku tidak akan marah, karena Manusia mahluk yang mempercayai hal yang dia lihat bukan apa yang dia dengar. Tapi anda pasti mempercayai nya."


"Kenapa kau begitu yakin?"


"Karena anda tidak tertawa, itu berarti anda bukanlah manusia. Anda juga pasti yang paling mengetajui kejadian tersebut lebih dari siapapun, benarkan?" Ujarnya masih dengan sangat ramah sembari memijat pelan persendian kakinya.


"Rupanya begitu, kau salah satu Manusia yang bisa melihat mahkluk fana." Uajar Kendric setelah melihat ada begitu banyak roh suci mungil dari ras Undine di sekitaran Pria tersebut, kalau tidak salah manusia di negeri ini menyebutnya sebagai Kappa.


Pria tua itu tertawa sembari memberikan potongan timun kecil ke salah satu roh suci berbentuk kura kura. "Ah, saya tidak merasa berbesar hati dengan hal seperti itu. Meski ada hal yang sangat menakjubkan, tapi banyak juga yang saya lihat mahluk jahat seperti Ayakasi."


Kendric kembali melihat kerumunan ia tidak menyangka akan menceritakan hal ini kepada seseorang terlebih dia adalah manusia. "Kau benar, kejadian di malam itu bukan lah hal kebohongan. Aku sangat mengetahuinya bahkan tidak akan pernah bisa melupakan peristiwa itu---Apa yang di lakukan nya hingga dunia ini bisa kalian lihat lagi."


Kalimat terakhir dari Pria tua tersebut membuat Kendric diam dan suasana menjadi hening. Kendric menatap langit, mungkin saat ini sudah memasuki akhir musim dingin. Lalu apakah tahun ini ia juga akan melihat Musim Semi seorang diri?


"Dari banyak nya manusia kau yang paling beruntung dapat melihat kejadian itu, tapi sayangnya malam itu adalah kesempatan terakhirmu untuk melihatnya."


"Hem, sepertinya aku telah menyinggung hal paling tidak berkenan bagi anda, saya sungguh minta maaf."


"Itu bukan salah mu."


"Tapi saya yakin beliau akan kembali." Ucapan yang tiba-tiba saja--menarik perhatian Kendric. "Karena tempat ini adalah tempat kalian pernah datangi bersama, bukan? Itu sebabnya anda selalu berharap untuk bisa bertemu dengan nya."


"Sebenarnya, saya pernah melihat anda mengunjungi kuil ini bersama Dewi tersebut 10 tahun lalu. Ditambah lagi, sebulan sekali anda selalu mengunjungi kuil ini, apa saya boleh bersikap lancancang menanyakan sesuatu hal?"


"Kau terlalu peka untuk situasi. Aku tidak akan menyangkal dengan semua asumsi mu dan siapa sosoknya karena sepenuhnya adalah benar. Karena kau sudah tahu, apa kau juga penasaran tentang ku? Tapi aku yakin kau telah mengetahuinya, mengingat kau dapat berinteraksi dengan para roh suci." Kendric melirik kumpulan Roh Undine yang bersembunyi ketakutan di balik Pria tersebut dengan sangat intimidasi.

__ADS_1


"Jadi, apa kau penasaran mengenai semesta ini? Jika kau mau aku bisa menunjukkan sesuatu hal di luar nalar manusia." Kendric berta seakan tengah menguji nya.


"Saya memang di berikan karunia lebih dari manusia yang lain. Tapi saya tidak mau menjadi serakah. Saya cukup percaya Semesta ini luas dan ada banyak kehidupan di berbagai alam nya. Karena Manusia mahluk yang berambisi kami bisa melewati hal yang telah di batasi, tapi akan lebih baik kaum kami tidak melewati batasan yang telah di buat. Jika saya tahu maka itu bukan lagi sebuah rahasia dunia."


Pria tua tersebut beranjak bangun dengan di bantu sebuah tongkat untuk menyanggahnya berdiri dan berjalan.


Kau benar, mahluk hidup punya porsinya masing-masing, menjadi serakah akan sangat tidak baik. Karena dunia kalian adalah tempat yang jauh lebih aman daripada dunia seperti kami. Langit lebih banyak menjunjung hikmat nya untuk bangsa manusia.


Meski begitu ada contoh manusia yang melewati batasan tersebut (Mate Seleni Thea). Hasilnya pun Carzie justru meneliti hal yang tidak seharusnya ia lakukan.


"Baguslah jika kau memahami porsian tersebut dan memilih tidak melewatinya."


"----Tapi karena manusia juga mahluk yang naif. Saya jadi ingin berpikir egois dengan keinginan saya."


"Keinginan?"


"Anda telah banyak melihat kematian dan kehidupan dari generasi kami sebagai seorang Dewa." Kendric tidak akan terkejut jika pria tua itu tahu siapa dirinya karena ia dapat membaur dengan roh suci dan roh kegelapan, pasti mereka yang memberitahukan nya.


"---Saya hanya berharap anda dapat mengabulkan keinginan saya untuk melihat sosok Dewi tersebut sebelum saya tiada nanti. Tapi karena manusia memerlukan keajaiban besar untuk dapat hidup lebih dari 100 tahun---Saya juga tidak akan terlalu berharap, dapat hidup hingga berusia 80 tahun itu sudah patut saya syukuri. Tapi saya percaya, esok adalah hari dimana anda akan bertemu dengan nya."


Kendric menghela nafas sembari menyilang kan kedua tangan nya di depan dada, "Manusia memang mengerikan. Perkataan mu begitu sangat yakin, bahkan aku saja tidak bisa menjamin nya."


Pendeta tua itu tertawa, "Tolong sampikan salam saya untuk beliau. Dan juga, terimakasih sudah mau mendengar cerita membosankan dari pria tua ini."


Kendric merasa seperti di bebankan oleh harapan seseorang yang sudah sangat meyakini sosoknya. Bahkan Manusia pun merindukan nya, lantas apakah Lucy sungguh benar bisa ia lihat di esok hari?


"Ha..., aku benci permbicaraan ini. Ucapan mu malah justru membuatku semakin berharap----dan juga takut." Takut bila di kecewakan bahwa ia masih harus menunggu lagi.


Kendric pun lantas berdiri kemudian melemparkan koin 10 sen menggantikan pria tersebut, seakan mengartikan Kendric mendoakan harapan nya terdengar oleh langit, meski ia tahu cara ini tidak akan bekerja.


"Terimakasih," Ujar pria itu sembari melihat bagaimana sosok rupawan itu menghilang begitu saja.


Tepat saat kepergian Kendric, seorang pengunjung mendatangi kolam koin kemudian mengambil koin yang tadi Kendric lemparkan.


"Nona anda tidak boleh mengam----Tidak mungkin, anda...," Pendeta tersebut terlihat terdiam memandang wanita pelita itu terlebih wajahnya yang tidak akan bisa ia lupakan. wanita itu mengarahkan jari telunjuknya di depan bibirnya seakan menyuruh pria itu untuk merahasiakan apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Aku akan mengambil koin ini, karena kurasa harapan mu dan dia telah tersampaikan dengan baik." Ujarnya dengan senyuman, kemudian angin berhembus menerbangkan beberapa daun maple yang tersisa dari pohon pohon disekitar.


...✧༺ 🍁 ༻✧...


__ADS_2