
...----...
.......
.......
.......
...***...
..." Kamu mau tahu siapa yang paling aku cintai? Bacalah kata pertama. "...
...~🍁.o•O•o.🍁~...
Bulan menunjukkan sinar purnama nya yang begitu indah, bentangan langit hitam menjadi latar terbaik bagi bintang bersinar. angin malam bertiup dengan sangat lembut mencoba meraih helaian rambut sutra milk seorang wanita.
Dalam renungan malam, Tuan Putri tak bermahkota itu mencoba membingkai bulan purnama dan merekamnya pelan-pelan dalam pandangannya.
Gaun tidur berwarna putih, berkibar mengikuti nada angin. dengan sangat menawan, wanita itu memeluk dirinya---merapatkan pelukan selendang biru mencoba menjadikannya sebagi bagian dari karismatik nya pada malam ini.
Molie menghampiri Tuan Putrinya yang masih asik menatap rembulan tanpa berniat mengabaikannya. Seakan dia adalah replika dari sang rembulan, Lucy terlihat begitu cantik meski hanya diam sekalipun. dalam tarikan nafas dalam, Lucy mencoba kembali memikirkan sebuah saputangan yang Kendric gunakan untuk membalut lukanya beberapa hari lalu. corak dan bahan dari saputangan itu terlihat sangat persis dengan miliknya.
Tapi ini aneh, kenapa Kendric memilikinya? Apa benar saputangan itu hanya kebetulan persis saja. Tiga hari yang lalu, setelah kepulangan Kendric dan atas apa pada kejadian di pagi hari, Lucy meminta Sylvia untuk membersihkannya lalu mengantarkannya kembali jika sudah bersih. Tapi anehnya---dia di kabarkan bahwa Kendric mencari Sylvia untuk mengambil sendiri saputangan itu.
'Apa hanya perasaanku saja?'
Tok,, Tok,,
Kendric mengetuk pintu kaca yang menjadi penghubung antara balkon dan ruang kamar Lucy. Ia berjalan mendekati kekasihnya, memeluk tubuh mungil itu dari belakang sembari bersandar pada bahu kecilnya.
Seakan ia menjadi begitu obsesi, Kendric menjadi sensitif. Hanya sekedar, untuk berpisah sesaat saja sudah membuatnya kecanduan seperti ini, bahkan rasanya rindunya ini seperti sebuah penyakit yang sulit ia atasi. Lucy tidak akan menolak ataupun ragu dengan perlakuan Kendric yang terasa manja untuknya.
Ini sudah hari ketiga bagi Kendric untuk menyembuhkan lukanya. Walau tak separah waktu itu, luka cakaran itu mulai membaik dan kondisi Kendric juga semakin sehat. Lucy memutar tubuhnya, menatap lekat wajah karisma Mate nya.
Ada begitu banyak pertanyaan dalam benaknya mengnai---bagaimana bisa dia terlahir dengan wajah tampan yang sesempurna ini?
"Kau belum tidur? "
"Aku mengerjakan sedikit berkas di ruang kerjaku."
"Aku kan sudah bilang untuk mengambil cuti dulu, kau kan punya bawahan, untuk sementara andalkan sekertaris mu dulu."
"Bukannya kau tidak suka pemimpin yang hanya berdiam santai?"
"Ini kan berbeda, setidaknya sampai kau benar-benar sembuh."
"Kau jadi semakin banyak bicara ya akhir-akhir ini."
"Kenapa? Kau tidak suka aku cerewet?"
Kendric mengetuk kening Lucy, "tidak, aku justru senang jika setiap saat bisa mendengar suaramu. Kau yang sedang marah juga terlihat sangat imut."
"Kendric juga jadi semakin lihai dalam berkata ya, benar-benar manis sekali ucapan mu."
"Benarkah? Kalau begitu terimakasih."
"Aku tidak sedang memujimu." Lucy terlihat kesal sembari mengalihkan pandangannya yang malah terlihat semakin imut.
"Kini giliran ku yang bertanya, kenapakau masih belum tidur juga? Malam sudah sangat larut."
Lucy menundukkan wajahnya, ia terlihat memainkan tali berwarna coklat---sebagai penghias pakaian Kendric. "Aku tidak bisa tidur."
Dari Kendric, perhatian Lucy teralihkan kepada Molie yang terlihat tidur meringkuk tubuhnya dengan ekor rubah nya yang begitu indah Ia mengelus sahabatnya dengan pelan guna memberikan rasa nyaman.
"Apa kau sangat menyukai bulan? "
"Tentu saja, setiap melihat bulan---rasanya dia seperti diriku. Terlihat Berharga tapi sayangnya dia kesepian." Guman Lucy tanpa di sadarinya, hal ini membuat Kendric sedikit terkejut dengan pengakuan tak langsung Lucy.
"Apa sekarang kau masih merasa kesepian? "
Lucy menoleh kearah Kendric yang terlihat cukup tersinggung. "Iya? "
"Apa setelah bersamaku, kau masih merasa sendiri? Atau aku terlalu mengekang mu?"
__ADS_1
Lucy membuat kesalahan, ia tidak bermaksud menyinggung Kendric. Kalimat itu lolos begitu saja terucap dari mulutnya. Lucy tidak mau membuat Kendric salah paham, ia segera bangun dan menghampiri Kendric.
"Bukan begitu. aku suka disini, aku juga merasa kau tidak mengekang ku. Yah, meski memang terkadang aku merasa kesepian---tapi itu karena, karena....Kendric tidak bersama ku."
Dapat Kendric lihat dari wajah Lucy yang tersirat rona malu, dan seakan ia memahami arti dari kata-katanya. Kendric pun justru tak mampu menahan euphoria kesenangan yang terlihat dari rona tipis pada wajahnya.
Bahwa ia paham, Lucy tidak suka jauh darinya dan perasaan rindunya pun terbalas karena mereka memiliki pikiran yang sama.
"Aku minta maaf, Kendric pasti merasa tersinggung. Yang ku maksud tadi, itu untuk diriku yang dulu. Seorang Putri menyedihkan yang hanya mampu merenungi kebodohannya. Tapi itu hanya masa lalu, sekarang setelah bertemu denganmu, aku seperti memiliki harapan baru----" Lucy terlihat malu untuk menyatakan isi hatinya bahwa ia senang dapat bersama dengan Kendric. "-----Jadi, jangan terlalu sering meninggalkanku sendirian."
Kendric kalah, ia benar benar sudah kalah dan menjadi goyah hanya untuk mendengar kalimat manis dari pengakuan Mate nya. Mereka yang bersabar dalam menanti kebersamaan, menjadikan malam ini sebagai jawaban bahwa itu tidak sia-sia, bahwa sang pencipta masih menginginkan kebahagian untuk keduanya.
Kendric menarik Lucy kedalam pelukannya, ia menahan kepala Lucy agar tidak bergerak untuk melihat wajahnya. Tentu saja ia akan menahannya, karena itu terlalu membahagiakan untuknya dan tak akan sanggup bila harus memperlihatkannya kepada Lucy.
Bisa di katakan, keberadaanya di mata Lucy semakin dalam dan perasaanya menjadi nyata bahwa Tuan Putri mungilnya dulu kini sudah menjadi Putri yang siap ia ikat dengan benang pernikahan.
"Kendric sesak." Lucy memberontak sebelum akhirnya ia berhasil lepas dari dekapan erat Kendric. "Kenapa kau terlihat senang? "
Kendric tak menggubris dia hanya tersenyum tipis tanpa menjawabnya.
Perhatiannya teralihkan kepada bulan purnama yang bersinar dengan sangat biru di langit malam. Sekejap ia terpikirkan sesuatu hal, kalau tidak salah ada sebuah tempat di wilayahnya yang memiliki lokasi pas untuk memandang bulan. Tempat itu juga adalah salah satu lokasi amannya dalam kabur sewaktu kecil.
"Lucy apa kau sungguh belum mengantuk? "
"Belum, ada apa? "
"Ayo kita keluar sebentar, berjalan-jalan saat malam hari juga bukan hal yang buruk. Kau suka melihat bulan bukan? "
Lucy memiringkan sedikit kepalanya sebagai respon kebingungannya. Kendric membenarkan selendang tidur yang yang membalut Lucy lalu mengangkat tubuhnya hingga menumbulkan respon kaget dari Lucy.
Kendric terbang keluar dari area istana nya dalam satu lompatan tinggi. Menghantam angin malam yang bertiup kencang, ini pertama kalinya bagi Lucy melihat seluruh bangunan Apollo dari atas dan sebelumnya ia tidak pernah terpikirkan untuk mencobanya padahal dia juga bisa terbang bebas seperti ini.
Langit malam terlihat begitu semakin dekat, bahkan rasanya Lucy dapat menggapai beberapa bintang yang sebenarnya memiliki ukuran jauh lebih besar daripada dirinya.
Kendric melompat merendah, berpijak pada dahan pohon hutan Maple yang berada di sisi utara Istananya. Kalau dari istana utama, hutan ini terbentang luas higga berjarak ratusan kilometer. Dan yang paling menakjubkannya, saat malam hari dedaunan Maple sulit terselimuti salju hingga bahkan terlihat bercahaya layaknya bintang.
Lucy belum pernah ke daerah ini dan juga seprtinya memang tujuan mereka berada di sebuah tempat yang jauh, apalagi di jamah oleh seluruh pelayan tanpa seizin Kendric. Lucy di turunkan pelan sesaat tujuan mereka telah sampai.
Pohon Maple yang memiliki ketinggian 10 meter menjadi penyanggah bagi kedua pasangan yang mencoba mengabadikan rembulan di atas pucuk dahan pohon tertingginya. Lucy menggosok pelan kedua tangannya mencoba untuk melawan dinginnya musim salju pada malam hari ini.
Kendric menyelipkan beberapa helaian rambut malam Lucy kebelakang daun telinga mungilnya. Melihat bagaimana angin mulai memainkan surai rambut sutranya yang lembut. Lucy terlihat sedikit gugup, ia meraih pakaian Kendric dan mencengkram kuat saat dirinya terfokus pada ketinggian pohon.
Sepertinya traumanya terhadap pohon masih akan tetap berlanjut, tidak perduli ia mencoba berusaha kuat, padahal dia tidak takut saat terbang tadi. Kendric yang menyadari kecemasan Lucy langsung merangkul pinggang rampingnya memberi isyarat bahwa dia akan baik-baik saja.
Kendric menuntun Lucy untuk duduk di atas dahan pohon yang saat ini mereka . Tanpa di beritahu, Lucy terasa terpanggil untuk menoleh----menatap lurus sembari terpana akan keindahan rembulan malam yang terlihat sangat-sangat luar biasa indahnya.
Saat ini mereka berada di ujung batas hutan Maple, dan keindahan alam yang membuat Lucy terkagum adalah sebuah rembulan biru terlihat begitu sangat jelas. Dengan pegunungan es serta hutan pinus yang berada di seberang danau sebagai bingkai sempurna dalam memajakan keindahannya.
Danau jernih yang tak pernah membeku meski musim dingin menjamah, menjadikannya sebagai cermin besar dalam memantulkan bayangan rembulan di atas permukaannya dengan sangat jelas.
Kendric suka dengan suasana damai ini, begitu sangat tenang saat ia melihat wajah harmonis dari kekasihnya. Pandangan kalbu itu perlahan menjadi berwarna saat merekam tindakan Lucy seperti ingin mencoba meraih rembulan besar itu meski jarak mereka masih sangat jauh. Sayang sekali dia tidak bisa memanggil seniman kesini untuk melukis paras Dewi nya.
"Apa kau sangat senang?"
"Ini luar biasa, aku belum pernah melihat rembulan sejelas ini dengan sangat dekat. Walau sebenarnya dari balkon kamar sudah cukup, tapi ini begitu sangat dekat. Aku jadi penasaran, apa ada sesuatu di rembulan sana hingga membuatnya terlihat sangat indah." Lucy masih terpana akan bentuk rupawan rembulan itu.
"Memangnya kau mengharapkan apa? "
"Emm, mungkin saja di sana terdapat tambang berlian. Kau tidak lihat, betapa bulan terlihat seperti bola kristal? "
"Kalau di pikir, di sana tidak ada tambang berlian, melainkan Istana yang hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari Kristal spirit."
Lucy buru-buru menoleh kearah Kendric dengan wajah yang terkejut dengan pengakuannya. "Selain Apollo ada satu wilayah lagi yang jauh lebih dekat dengan rembulan."
"Benarkah?"
" Wilayah itu adalah pemilik dari rembulan nya, sehingga jaraknya sangat berdekatan."
"Maksudmu di dekat bulan, ada pulau melayang seperti Apollo? " Kendric mengangguk, "sungguh? Apa istana kristal yang kau maksud juga ada di sana? Apa nama tempatnya?"
Kendric terlihat ragu menjelaskannya, "Wilayah itu bernama Selena Lighty atau bermakna permata bulan. Di sana, kau hanya bisa melihat satu bangunan yang berdiri sebagai Castel utamanya. Dan, seperti yang aku bilang, seluruh bangunan Istana Selena terbuat dari permata spirit yang dapat menyerap cahaya bulan sehingga terlihat seperti duplikatnya dan yang paling berkesan terdapat padang bunga Nemophila Menziesii. taman bunga biru yang mencerminkan langit---menyelimuti seluruh daratannya."
"Apa kita bisa pergi melihat?"
__ADS_1
" Aku minta maaf, saat keadaan di luar sudah mulai membaik aku akan membawamu melihatnya."
Lucy terlihat merenung sembari menunduk, "Kapan? " Lucy bergumam kecil, membuat celetukan lemah itu menarik perhatian. "Memangnya, apa yang sedang terjadi? Apa karena beberapa minggu yang lalu terdengar raungan misterius? "
"Darimana kau mengetahuinya?"
"Ada begitu banyak Maidery yang membicarakan itu sebagai topik hangat."
Kendric melirik dingin---lebih tepatnya menatap sekumpulan pelayan tak berguna yang sedang ia bayangkan. Apa dia potong saja lidah mereka yang suka bergosip?
Lucy tidak mau menjadi egois, dia akan menunggu hal itu dan mencoba tidak menaruh curiga bahwa Kendric----seakan akan sedang menyembunyikan sesuatu hal.
"Baiklah, aku akan menanti sampai Kendric sendiri yang mengajak ku." Lucy tersenyum mengurangi suasana yang sempat canggung. "Terimakasih," Jawab Kendric, membalas senyuman manis dari Mate nya.
Lucy menatap kembali rembulan, dia terlihat menikmati suasana tenang malam hari. Angin kembali memainkan rambutnya sehingga menambah karisma cantik dari sosok jelitanya.
"Lucy---" Kendric terlihat malu-malu dalam melanjutkan kata-katanya. Dia mengalihkan pandangannya mencoba mencegah untuk membuat Lucy sadar bahwa saat ini telinga Kendric memerah malu.
Perlahan tapi pasti. Kendric mengeluarkan sekotak kecil berwarna maroon berpita perak di atas penutupnya, sebuah hadiah yang sudah lama Kendric siapkan saat sebelum ia mendatangi kuil suci untuk menyusup.
"Aku tahu kau tidak suka hadiah yang berlebihan, dan Sylfia juga sudah banyak mengantarkan hadiah gaun dan beberapa permata seperti janjiku sebelum pergi. Tapi jika kau tidak keberatan, maukah kau menerima satu hadiah kecil ini? "
Memang sih, dua mingu lalu mereka sempat membahas masalah gaun dan beberapa perhiasan sebagai hadiah yang ingin Kendric berikan. Tapi hadiah yang Sylfia antar ke kamarnya selalu melebihi 10 unit permata dan kain dasar sutra berkualitas, sampai-sampai ruangan lemarinya terlihat seperti pameran berlian dan toko busana.
Walau 5 hari lalu Lucy meminta Kendric lewat surat untuk berhenti menambah koleksi gaun ataupun permata, bukan karena ia takut Kendric bangkrut karena harus memberikannya barang super mahal yang pasti, karena ia tahu seberapa sultan nya mahluk ini.
Tapi Lucy tidak mau menimbun harta yang tidak bisa ia kenakan dan hanya akan tersimpan sebagai pajangan di ruang lemarinya. Lucy tahu sejak surat permintaannya telah di terima, Kendric jadi ragu dan selau bertanya jika ingin memberikan sesuatu.
Lucy tersenyum melihat tingkah lucu dari Mate nya yang sangat manis untuk di juluki sebagai tiran dingin penggila darah pendosa, yah itu pun Lucy baru tahu dari beberapa pelayan juga.
Lucy meraih kotak itu dan membukanya. Sesaat Lucy nampak terkejut melihat hadiah apa yang di berikan Kendrick kepadanya. Pasalnya keluarganya tidak tahu bahwa Lucy sangat menyukai barang ini.
"Kendric, bukankah ini alat musik Kalimba?"
"Kau tidak suka?"
"Bukan begitu, alat musik ini adalah hal yang asing di Darkness World dan hanya tersedia di bumi. Bagaimana kau mendapatkannya."
"Itu aku men-----tunggu, kalau selama ini kau tidak pernah ke bumi. Bagaimana kau tahu?"
"Em, aku tidak terlalu ingat tapi dulu Molie pernah memperkenalkan alat itu kepadaku melalui ranting kayu yang ia bawa kepadaku saat kecil. partitur besi magis yang mengeluarkan serangkaian nada lembut, membuatku tenang. Tapi karena alatnya terbuat dari ranting kayu seadanya jadi semakin lama musiknya menjadi rapuh, aku juga tidak pernah bilang karena rasanya malu untuk mengatakannya."
"Kau tidak mau menyusahkan Ayahmu?"
"Bukankah Ayah akan langsung pergi ke dunia manusia jika aku bilang menginginkannya?"
"Bukankah itu bagus? "
"Tapi, ayah masih tidak suka berbaur dengan kaum pribumi. Manusia itu terlalu sensitif, sedangkan kekuatan bangsa demon bertolak belakang dengan aura yang di miliki manusia. Salah-salah bisa saja melukai mereka hanya karena emosi yabg tak terkendali. Aku juga sudah sangat lama membuang keinginanku untuk memilikinya lagi, tapi sebuah keajaiban kau memberikan benda ini."
"Tapi, bagaimana Kendric tahu mengenai ini?" lanjut Lucy.
Kendric terlihat kebingungan menemukan jawaban yang memuaskan, "Aku, aku bertanya kepada Molie mengenai hadiah yang paling kau inginkan."
"Kau kan bisa bertanya kepadaku."
"Kalau aku tanya jadinya bukan hadiah namanya."
Mendengar sautan Kendric di tambah wajah bingungnya membuat Lucy tertawa dengan sangat puas. Lucy berhenti tertawa sejenak ia memikirkan hal yang sama, saat melihat alat musik Kalimba yang terbuat dari kaca. Tapi bukan karena keindahan bentuk dari Kalimba nya melainkan dua daun Mapel kecil yang terdapat di dalam kaca itu, persis seperti sebuah simbol ikatan kasih mereka.
"Kendric,,"
Pnggilan sayang yang terucap manis mengalihkan perhatian Kendric dari nuansa alam. Ia menatap dengan sangat bingung saat Lucy dengan malu-malu menunjukkan sesuatu kepadanya.
Terdapat sebuah lipatan kain rapih yang Lucy berikan untuknya. Kendric meraih kain berwarna kuning gading itu, dan seketika ia tersadar apa yang ada di tangannya.
"Mungkin tak bisa di bandingkan dengan hadiah yang kau berikan. Tapi, aku juga ingin memberikannya kepadamu sesuatu hal yang berharga, dan tak ada bakat khusus yang kumiliki selain menyulam---"
Kalau di ingat, Darkness World memiliki tradisi manis bagi pasangan Mate, dengan memberikan saputangan sembari berkata.
"Aku ingin mencintaimu seutuhnya, sebagai pasangan Mate yang telah di kehendaki untuk menjadi kekasih di kehidupan abadi ku."
Selembar saputangan berwarna gading, dengan dua sulaman daun Mapel di ujung kainnya, dengan sedikit hiasan manis---nama Kendric yang terajut sebagai pemilik hati dari Putri menara emas.
"Kau sudah mengatakannya, sebagai sumpah mu yang memilihku sebagai mate mu. Jadi, jangan pernah mencoba pergi dariku ataupun sekedar menyesali apa yang kau katakan barusan. Karena kau sudah menjadi candu untuk ku ....,"
__ADS_1
...---, o🍁o ,---...