
Matahari terbenam di waktu yang begitu sangat memilukan bagi Kendric. Seakan ia pun kehilangan cahayanya---membiarkan malam mengambil alih dunia tanpa ada bulan yang menemani mereka kecuali ratusan rasi bintang, di langit permata.
Rasi bintang itu berubah menjadi manik-manik ikan dengan beragam jenis rupa, menyelami lautan angkasa ke seluruh dunia. Seakan menyampaikan pesan atas perginya sang bintang fajar dengan memberikan kehidupan baru untuk mereka sanjung setelah bencana Alabasta.
Kendric menangisi satu-satunya harapan untuknya bertahan. Memeluk serta menggenggam raga tak berjiwa itu dalam penyesalan nya. Apa sebegitu nya langit membenci hubungan mereka, tidak cukupkah alam menguji mereka dalam takdir Mate serta kesalahpahaman yang terjadi secara berulang-ulang.
"Ku mohon, kembalikan dia kepadaku---" Kendric mencium kening kekasihnya yang tak lagi terasa hangat.
Robert serta para Dewa yang menjadi pendukung di bawah kesetiaan Matahari. Membungkuk seakan turut sedih atas hilangnya sang Robin. Terlebih sosok bintang itu adalah kekasih Maharaja mereka, bukan kah sama saja Imorrtal kehilangan sang Maharani?
Tyrsha terbang mendekati Kendric dengan perasaan takut, ia tidak tahu bahwa sosok Maharaja yang begitu tinggi serta kejam itu bisa terluka dan sangat lemah disaat ia kehilangan Robin. Meski ia pernah melihat sosok Raja itu kehilangan Ibunya---tapi tidak terlihat sedikitpun air mata di kedua mata permata delima nya.
Tapi kini, ia sungguh merasa terluka, apalagi belum tentu ia bisa akrab dengan sosok Putri yang sangat hangat melebihi sosok matahari itu sendiri. Kristal jiwa yang ada di tiap tubuh roh suci bercahaya seakan menjadi bintang untuk menuntun kepergian sang Robin menuju tempat peristirahatannya di langit.
Kendric yang masih dalam amarah memadamkan semua cahaya dari api kristal pada roh suci. Dengan sangat tegas ia menyatakan penolakan untuk kematian kekasihnya, karena Kendric harus mempercayainya meski itu mustahil----Mate nya akan kembali.
"Apa kau sudah puas?" Ujarnya, saat melihat Molie, bukan! Tapi Aiden sosok Raja bagi para Roh suci itu mendekatinya.
"Saya tidak akan mensyukuri atas pencapaian apa yang saya inginkan, Baginda. Tapi sebagai sahabat Putri--saya sungguh meminta maaf harus menuntun nya ke akhir hidupnya yang sangat tidak indah untuk di kenang."
"Lantas apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menumbangkan pohon sialan itu? Atau menghancurkan seluruh dunia?!!"
"Anda hanya harus merelakan kepergian nya sebagai Robin terakhir Baginda---"
"Tutup mulut mu, Aiden! Aku tidak akan pernah memaafkan ataupun percaya pada apapun yang kalian sebut sebagai kedamaian! Alam sejak dulu memang sudah terlalu kejam untuk memerintah dan menentukan sesuatu hal!" Kendric menekan seluruh mahluk di sana dengan kemarahan nya.
"Aku Maharaja nya! Aku dapat mengatur takdir tapi kenapa hanya dia yang tidak bisa ku selamatkan!" Tekanan sihir yang Kendric berikan menuntut semua mahluk kedalam siksaan yang amat sagat menyakitkan. Seakan Kendric mengutuk, ia pun ingin berbagi rasa kehilangan ini kepada siapapun!
Di tengah keadaan canggung tersebut. Sebuah gerbang portal dimensi terbuka menampakan sosok Aletha bersama Welliam yang datang melihat situasi. Ia terkejut melihat Pohon Agung Yggdrasil yang selalu berada di alam peri muncul di permukaan Imorrtal.
Bahkan batu sejarah tertulis---tidak mungkin bagi Pohon Dunia untuk muncul meski itu perintah dari Maha Dewa, itu sebabnya kenapa Apolleon--ayah Kendric mencarinya hingga menerobos ke alam peri.
Tapi bukan tentang kemunculan Pohon dunia, sekarang yang paling membuatnya terkejut adalah pola sihir sang Maharaja yang terus menyerap mana kehidupan seluruh mahluk baik itu roh suci ataupun para Dewa yang ada di sana. Jika Kendric marah itu pasti berkaitan dengan Lucy.
"Welliam, kita harus meredakan emosinya."
"---Aku tahu dia itu kuat. Tapi, apa-apaan mana besar yang dia kerahkan itu." Gumam Welliam saat melihat kekuatan Kendric yang meluap tanpa terkontrol.
"Baginda!" Aletha berteriak mencoba menerobos mana kuat yang semakin berat untuk ia lawan.
__ADS_1
Kendric melirik sosok paling ia benci sebagai tangan kanan nya yang lain. "Beraninya kau menghadap ku, setelah apa yang kau perbuat Polemou!"
"Baginda, tolong tenangkan diri anda."
"Kenapa aku harus tenang? Kalian merenggutnya dari ku! Dan kau mengkhianati perintah ku, Aletha!"
"Saya tidak bermaksud melanggar sumpah kepada anda."
"Lantas apa yang kulihat ini?! Lucy tiba-tiba saja ada di Imorrtal lalu---" Kendric tak dapat melanjutkan kata-katanya yang merujuk pada kematian Mate nya.
Aletha serta Wellian tidak dapat bertahan dari tekanan yang di berikan Kendric, sehingga mereka mencoba menggapai cahayanya dengan sekuat tenaga. Terutama Aletha yang harus berlutut seakan memohon kepada sang surya untuk mengasihani mahluk remah seperti mereka di hadapan nya yang agung.
"Seperti perintah anda, saya menyampaikan kebenaran sosok Robin kepada Paduka Fedrick. Beliau juga sempat mengurung lucy tapi---Dewi Alice membantunya untuk sampai ke Imorrtal."
"Itu mustahil, karena aku menutup semua gerbang dimensi. Lagipula seorang Ibu tidak mungkin merelakan Putrinya sendiri."
"Saya bersumpah atas ucapan saya, Baginda. Tolong tenanglah."
"---Aku membawa pesan dari Ibuku mengenai Lucy untuk dirimu." Welliam angkat bicara.
Berpikir mencoba menimbang kan kembali dengan apa yang mereka ucapkan, hingga akhirnya sihir yang menekan mereka perlahan menghilang dan membuat siapapun kembali bernafas lega saat leher mereka sendiri tidak jadi di penggal oleh kemarahan Maha Dewa tersebut.
"Katakan!"
Benar, kalau dipikir ia masih hidup bukan? Kendric mencari keberadaan Octopus yang mungkin saja mencoba untuk melawan dengan kekuatan tersisa nya. Lagipula Lucy menitipkan kematian tua bangka itu kepadanya.
Kendric menatap wajah kekasihnya. Ia membaringkan nya di atas tanah berselimut rumput hijau, "Aku akan kembali, jangan coba-coba untuk membawanya ke Darkness World. Aku yang akan mengurusnya-----"
"Saya akan menjaganya sampai anda kembali."
"Aletha, sudah waktunya." mendengar perintah bahwa masa kejayaan yang sesungguhnya telah tiba bagi Imorrtal, sepertinya ia perlu tinggal di Imorrtal untuk beberapa waktu.
"Saya akan persiapkan semuanya, Baginda."
Kendric pergi melacak keberadaan mahluk paling meresahkan meski ia hanya bernafas. Benar, keberadaan nya adalah ancaman.
Tidak perlu waktu lama bagi Kendric untuk melacaknya. Di balik reruntuhan batuan curam, Octopus tengah mencoba melarikan diri. Wujudnya yang sudah menyerupai tengkorak hidup---berjalan tertatih di tiap sela bebatuan nya.
Kendric tidak suka menunggu lantas ia pun menjeratnya dan membuatnya menggantung di tengah udara. petir yang mengekang dirinya bagaikan rantai untuknya.
Ia menatap penuh ambisius dengan pikiran nya yang sudah sangat liar-----bagaimana jika dia memotong dan meremukkan kepala yang selalu punya banyak akal sesat itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa di bunuh!"
"Begitu?" Kendric berada di titik pitam kesabarannya. Ia memendam kebencian serta amarah lebih banyak dari siapa pun.
Ia yang selalu mempertanyakan kenapa sosoknya begitu lincah dari jeratan maut dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki saat ini. Tidak tahukah dia, pasti akan tiba saatnya hari penghukuman untuknya. Tapi Kendric tidak akan berbelas kasih, karena dia adalah mahluk melebihi sosok Monster (Krhanos) itu sendiri.
Kendric tertawa---entah menertawai akhir dari hidup Octopus atau menertawai dirinya sendiri yang selalu saja termakan oleh rencananya. Tapi apa ini saatnya dia harus bersedih? Tentu tidak! ia memang terluka dengan keputusan yg di ambil Lucy dan semua hal yang berhasil Octopus kendalikan.
"Aku tidak akan membunuhmu dengan mudah!"
Hawa di sana berubah menjadi lebih menegangkan. Baik bagi Octopus ataupun para orang yang ada di sekitaran mereka. Gejolak yang Kendric ciptakan membangkitkan sihir lain yang hanya dapat di lakukan bagi keturunan Robin yang mampu mengendalikan Pohon dunia.
Octopus memiliki firasat buruk, maka ia pun berusaha memberontak. Tapi bukan nya lepas ia justru tersengat aliran petir, seolah ia sedang di ikat semakin kuat oleh rantai tersebut.
Kendric merentangkan kedua tangan nya dan seketika pola sihir bercahaya terang yang berada di punggungnya mengeluarkan enam helai sayap berwarna emas, dan dua belas pedang yang melayang di sekitaran Kendric seakan tengah melindunginya sebagai penjaga.
Gemuruh angin berkecamuk liar. Kendric mengendalikan akar-akar pohon dunia untuk melilit Octopus dengan sangat kuat seakan seluruh tubuh Octopus akan hancur. Kendric kembali memunculkan pedang Mahadewa nya tapi bedanya kali ini pedang itu menjadi sempurna setelah ia mengambil separuh pedangnya dari kuasa Federick .
Octopus mengertakkan giginya, ia benci dengan kekuatan maha dahsyat milik penguasa yang hanya bisa ia kagumi. Perasaan iri tersebut semakin memburu mentalnya dengan rasa takut. Kekuatan Kendric begitu berbahaya dan melebihi kebesaran Dewa Matahari sebelumnya.
"Aku mencabut hak reinkarnasi mu untuk tujuh kehidupan di alam. Aku menarik segala kebaikan dan memperhitungkan tiap detik dari dosa yang telah kau lakukan-----"
"ARGH!! Kepar*t. Lepaskan aku!!"
"----Aku mengutuk mu untuk terus hidup abadi di dalam ruang kehampaan dimana kau akan menderita tiap saatnya, selama kau menjarah kebahagian mahluk hidup selama ini. Octopus Registie Agriche, atas titah Maharaja mu, Kau tidak akan bisa lepas dari sihir gelap. Maka aku Kendric Athananisus Helios, mengurung mu dalam dimensi Kzahctæ mulai hari ini!"
Seakan alam merespon dan atas izin Yggdrasil langit malam di atas mereka menjadi pusaran galaksi bimasakti. Pedang Kendric yang memiliki peran paling tinggi dalam pengadilan menikam cukup dalam dada pria tua tersebut mengukir mark bunga lily berwarna emas, sebelum akhirnya seluruh tubuh dan jiwa Octopus terserap kedalam pusaran bimasakti.
Untuk di kurung selama hayat dunia dalam ruang kehampaan tanpa ada harapan untuknya bertahan hidup. Sehingga akal sehatnya akan terus memanjatkan doa kepada langit serta Mahadewa untuk segera di bunuh daripada hidup seperti tanpa tujuan dalam kesendirian.
"Ampuni aku, jangan lakukan itu mahade---ARG!!"
Langit kembali ke sediakala dimana pusaran galaksi tersebut menghilang. Kendric mengatur nafas dengan perasaan lelah setelah mengirim Octopus menuju dunia tanpa batas akhir. Karena itu memerlukan mana yang cukup besar bahkan bisa saja ia menukarnya dengan hela nafas yang ia hembuskan selama hidupnya.
Kendric kembali mendekati Mate tercinta nya. Untuk kesekian kalinya ia memeluk erat raga hampa tersebut dalam sandang penyesalan. Semua telah berakhir, hama paling meresahkan telah berhasil ia singkirkan dari dunia nya. Tapi hal itu juga merenggut cintanya dan mengakhiri harapan untuknya bertahan memimpin dunia. Karena bagi Kendric, hanya Lucy seorang tempatnya kembali. Sekarang apa?
Aletha yang berada di hadapan sang kaisar langit tak kuasa menahan sedihnya karena ia pun terluka dengan keputusan Lucy. Tapi ia yakin, selama apa yang dikatakan Dewi Alice adalah kebenaran maka ia ingin meyakini Kaisar nya untuk tetap berjuang menunggunya.
"Baginda, Maharani pasti akan kembali. Karena itu anda harus bertahan, tolong pimpin dunia ini sekali lagi. Kembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Imorrtal, dengan begitu dunia aman yangs selalu ingin anda ciptakan untuk nya akan terwujud saat dia kembali."
Aletha memberikan belati hitam yang tadi di gunakan Lucy untuk menghunus jantungnya sendiri. Kendric meraih belati tesebut dengan pikiran yang kosong, "Apa menurutmu dia akan kembali?"
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...